
Plakkk
Chris merasa panas di area pipinya.
"Jangan lagi kamu bilang kalau kamu gak akan menikahi Emilly. Perusahaan papa masih berdiri sampai saat ini karena bantuan pak David" larang papa Chris menentang keputusan putra tunggalnya itu.
"Saya tidak peduli pa. Sudah cukup pa. Saya berhak mengatur hidup saya sendiri. Saya tidak akan menikahi Emilly" ucap Chris menekankan kalimat terakhirnya.
Tiba-tiba tubuh paruh bayah itu merosot ke lantai sambil memegang dadanya. Inilah yang Chris takutkan. Papanya punya riwayat sakit jantung turunan. Beberapa minggu yang lalu sudah dilakukan pengecekan dan dokter bilang kondisi jantung Alex sudah normal. Namun tetap saja harus dijaga agar tidak kambuh.
...---------------...
Seperti makan siang sebelumnya, hari ini pun kantin terlihat riuh dengan pekerja. Ada yang bicara sesama rekannya setelah makan siang. Ada yang sedang antri mengambil makan siang. Ada juga yang sedang lahap menyantap makanan seperti Adira dan teman-temannya saat ini.
"Rasanya udah lama ya kita gak makan bareng begini" ucap Maya.
"Hooh" sahut Lisa.
"Kita bertiga sih baru kemarin gak makan siang bareng. Ya sering absen tu Adira. Dia selalu nolak kalau diajak makan bareng" sambung Farah mengarahkan matanya pada Adira yang lagi fokus mengunyah makanan.
"Kalian tahu sendirikan, aku sibuk. Pak Chris selalu nanya soal desain itu. Sekarang desainnya sudah selesai. Dan kita bisa makan bareng lagikan"
"Termasuk hari minggu sibuk juga ya, Ra" sambar Lisa.
"Enggak sibuk banget sih. Cumankan hari minggu mumpung libur jadi aku pilih tiduran doang di rumah. Kalau jalan sama kalian pasti aku gak punya waktu istirahat"
"Oh maksudnya kita ganggu ni?" sahut Farah.
"Ya enggaklah. Kalian teman-teman terbaikku yang paling aku sayang. Kalian itu gak pernah ganggu. Beneran deh"
"Tapi bohong" sambung Maya bercanda.
Seketika gelak tawa menyeruak di tengah obrolan itu. Adira hampir saja tersedak karena tawanya yang terlalu lebar dan paling nyaring. Namun tak ada yang tahu di balik tawa itu, ia menyimpan luka dalam. Apapun yang terjadi, Adira hanya ingin menunjukkan tawanya bukan airmata. Ia ingin orang mengingatnya sebagai pribadi yang periang bukan sosok wanita lemah yang suka menangis sendirian di kamar kala tidak ada yang melihat.
"Hmm boleh gabung gak?" tanya Jhon hadir.
"Boleh dong" jawab Maya mengiyakan.
Baru saja mau duduk, tiba-tiba Chris datang dan langsung menduduki kursi kosong yang ada di sebelah Adira. Hanya ada satu kursi lagi di seberang Farah. Dengan perasaan gondok, Jhon akhirnya duduk disana.
"Pak Chris ngapain sih duduk disini. Kan masih ada kursi kosong?" Adira menunjuk kursi berselang dua baris dari posisinya.
"Ra, kamu kok kurang ajar banget ngomong begitu sama pak Chris. Lagian kursi itukan kosong. Ya biarinlah pak Chris duduk disana. Ribet banget sih" kecam Farah tak suka dengan sikap Adira yang tidak menghargai Chris selaku atasan mereka.
"Terus kamu marah sama aku?" balas Adira mendelik.
"Bukan marah Ra. Cuman sikap kamu itu gak sopan. Pak Chris kan atasan kita. Jaga sikap kamu" ujar Maya membantah tuduhan Adira.
"Sudah-sudah jangan ribut disini. Mungkin dia lagi banyak hutang makanya marah-marah terus" ucap Chris tersenyum kecil sambil memandang wajah masam wanita di sampingnya.
"Apaan sih pak. Gak lucu. Aku balik duluan ya"
"Loh itu makanan kamu belum habis Ra" ucap Lisa berusaha mencegah.
"Udah kenyang. Permisi pak Jhon" pamit Adira menyebarkan senyum manisnya pada Jhon yang tampak belum menyentuh makanannya sedikitpun.
Maya, Lisa, Farah hanya bisa menatap bingung dengan sikap Adira. Adira sangat beda. Tidak bisanya Adira bersikap tidak sopan seperti ini. Apalagi pada Chris. Biasanya Adira selalu kaku dan patuh jika sudah berhadapan dengan Chris. Adira yang mereka tahu adalah Adira yang selalu menghargai orang lain, baik kepada yang lebih tua atapun yang lebih muda darinya.
"Pasti pak Chris ngasih tugas yang aneh-aneh lagi ya sama Adira. Dia jadi sewot gitu" tanya Lisa menyelidik. Chris hanya tersenyum memaksa. Tentu saja tidak mungkin mengatakan sebenarnya yang terjadi antara dirinya dan Adira.
Adira melirik arloji yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu istirahat 20 menit lagi. Ia malas kembali ke meja kerjanya. Terlalu membosankan untuk memulai pekerjaan lebih awal disaat masih mempunyai jam istirahat. Adira ingat ada ruangan kosong yang tidak terpakai di dekat gudang. Sampainya di tempat itu, Adira segera merebahkan dirinya meringkuk di sebuah kursi panjang. Kursi itu tampak pas untuk tubuhnya yang ramping.
"Hah, kenapa akhir-akhir ini aku merasa capek banget?" Adira menghidupkan AC, ia merasa gerah. "Sepertinya aku tidak bisa berhenti menyukai pak Chris. Tadi saja hatiku masih berdebar begitu pak Chris duduk di sebelahku. Farah benar, harusnya aku gak boleh bersikap seperti itu. Biar bagaimanapun sejak awal pak Chris sudah memperingatiku agar jangan baper. Pak Chris gak salah. Aku yang salah karena menyukai pria yang sudah bertunangan. Ya, aku yang salah" tak terasa Adira tertidur di kursi panjang itu. Hawa dingin dan sejuk dari AC membuatnya sangat nyaman dan betah.
"Adira kemana ya? Kok gak balik-balik" ucap Farah khawatir.
"Iya ya kemana dia? Kamu sih tadi pake marah segala" celetuk Lisa.
"Siapa yang marah sih. Aku cuman nasehatin doang. Bukannya bagus ya nasehatin teman yang salah biar benar lagi" balas Farah tak terima dengan ucapan Lisa.
"Sudah-sudah kok malah ribut sih"
"Ada apa ini? Kenapa kumpul begini? Bukannya kerja" sambar Chris yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Ini pak dari selesai makan siang tadi, Adira belum balik juga. Di telpon gak di angkat. Takutnya dia kenapa-kenapa pak kan tadi perginya sambil marah" jelas Maya takkala khawatir dari yang lain.
"Tenang saja. Dia pasti balik. Tunggu saja"
Chris kembali ke ruangannya kemudian mendial nama Adira. Sama seperti yang dikatakan Maya tadi. Adira juga tidak menjawab panggilannya. Chris berjalan ke arah lift menuju rooftop. Seingatnya Adira suka menyendiri disana.
Tidak ada siapapun di rooftop. Chris turun lagi ke bawah. Tiba-tiba saja ia teringat gudang yang menjadi tempat first kiss nya dengan Adira. Tibanya disana, Chris mengecek setiap sudut sambil memanggil nama Adira namun hasilnya sama saja. Adira tidak ada di gudang. Kembali Chris mendial nama yang sama. Dan samar, Chris mendengar bunyi ponsel. Ia menelpon lagi begitu panggilannya mati secara otomatis. Bunyi itu semakin jelas saat Chris berada di depan ruangan kosong yang sudah setahun ini tidak dipakai.
Krekk
Benar saja Adira ada di dalam sedang tidur. Chris berjongkok tepat di depan Adira. Ia memandang dalam wajah lelah itu. Menyingkirkan rambut yang menutup wajah Adira lalu membelainya lembut. Entah karena sudah terlalu mengenal atau memang sudah saatnya ia bangun, sentuhan Chris membuat Adira bangun. Adira mengusap matanya lalu menguap lebar.
Seketika mulutnya langsung tertutup rapat begitu tahu ada Chris di dekatnya.
"Pak Chris kok tahu saya disini?" tanya Adira terkejut.
"Saya mencari kamu"
"Buat apa cari saya? Memangnya saya anak hilang sampai harus dicari segala" sahut Adira ketus.
Chris tersenyum simpul. Celetukan spontan inilah yang membuatnya selalu bahagia jika sedang bersama Adira. Ia juga mengagumi kecantikan Adira yang tetap mempesona walaupun baru bangun tidur.
"Kenapa sih pak senyum-senyum gitu bikin saya takut?" Adira memutar tubuhnya sembari melihat ke atas mengecek apakah ada cctv di ruangan ini.
"Tidak ada cctv disini" ucap Chris yang selalu tahu maksud tindakan Adira.
Adira menatap tidak suka. Kenapa Chris begitu mengenalnya? Bahkan untuk hal kecil seperti ini saja, Chris tahu.
Chris pun duduk di sebelah Adira. Kakinya terasa pegal karena cukup lama dalam posisi jongkok.
"Saya permisi pak"
"Duduk disini dulu" pinta Chris mengenggam jemari Adira. "Bisa buka tirainya?" sambungnya menunjuk ke arah jendela di depannya.
Cahaya senja kemerah-merahan langsung tersaji indah begitu Adira membuka tirai. Ia bergerak mundur dan duduk di samping Chris.
"Pinjam bahu kamu sebentar" Chris menempelkan kepalanya di bahu Adira.
"Pak Chris kenapa, sakit?" tanya Adira khawatir karena tidak biasanya Chris terlihat rapuh seperti ini.
"Tidak"
"Terus?"
"Diam saja. Gantian, saya tidur sebentar. Kamu jangan kemana-mana" titah Chris memejamkan mata.
Ada banyak tanya di benaknya. Adira merasa Chris dalam masalah yang rumit. Entah itu karena pekerjaan atau hubungannya dengan Emilly. Satu yang Adira sesalkan, ia tidak dapat membantu pria yang disukainya itu.
"Pak, apa pak Chris begini karena saya?" gumam Adira menduga. "Apa pak Chris merasa terbebani dengan perasaan saya?"