Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Mimpi



Krekkk


Sebuah rakitan bunga mawar putih terpampang di depan mata Adira begitu pintu terbuka. Sontak kening Adira berkerut karena tadi yang menyahut pertanyaannya mengatakan jika orang itu pengantar makanan. Lalu kenapa jadi berubah bunga?


"Maaf, ini bunga untuk siapa ya?" tanya Adira bingung.


"Untuk bu Adira"


"Dari?"


"Dari Chris Evraro. Silakan diterima bu dan tolong tanda tangan di sini"


Adira melongo semakin bingung. Memang sih tadi di sambungan telpon Chris tidak bilang kalau pesanan itu berupa makanan. Tapi tadi jelas-jelas orang di luar itu pengantar makanan.


"Maaf bu bisa diterima bungannya?" pinta si pengantar bunga lagi.


"Oh iya maaf. Tanda tangan disini ya?"


Adira pun menerima bunga itu meskipun ia masih tidak mengerti dan ragu.


*Beberapa saat yang lalu


Pria berpura-pura sebagai pengantar makanan dan berpakaian serba hitam itu sudah bersiap-siap mengeluarkan pisau dari balik jaket kulitnya. Rencana yang ia susun sudah sangat matang. Pisau tajamnya akan menanjap di perut Adira begitu pintu terbuka. Namun sayangnya rencana itu harus gagal lagi. Dari jarak dua meter, ia melihat seorang pria berjalan menuju kamar apartement Adira sambil membawah bunga. Tidak ingin ketahuan, pria itu pun buru-buru bersembunyi di tangga darurat.


"Sial gagal lagi. Kurang aja" hardik pria itu kesal. Padahal ini waktu yang sangat tepat karena Adira hanya sendiri di apartement. Ya, sebelum melancarkan aksinya, pria itu sudah memperhatikan situasi dulu. Ia juga sudah diberitahu oleh atasannya jika mangsanya itu hanya sendirian di apartement. Itu alasannya kenapa ia sangat marah saat lagi-lagi datang orang yang mengagalkan rencananya.


Melihat situasi tidak aman untuk dirinya, pria itupun segera pergi meninggalkan lokasi melalui tangga darurat.*


...------------------...


"Adira...Adira" teriak Chris cemas.


Chris mengitari setiap sudut ruang namun sang istri tidak ada dimanapun. Samar-samar ia mendengar suara air mengalir dari dalam kamar utama dimana kamar itulah ia sering memadukan kasih bersama wanita yang dicintainya itu. Chris melangkah perlahan memasukki kamar dengan perasaan berdebar. Ia mulai berpikir yang macam-macam.


Tok! Tok! Tok!


"Ra, kamu di dalam?"


"Iya, kamu sudah pulang. Kok cepat banget" Adira meninggikan suaranya agar tidak kalah dengan bunyi air yang mengalir.


"Ngapain?" tanya Chris lagi.


"Mandi"


"Bukannya pagi tadi kamu sudah mandi?" sahut Chris.


Adira mematikan shower. Kemudian mengeluarkan kepalanya lebih dulu.


"Aku tadi habis bersih-bersih. Badan aku lengket. Lagian kan gak enak kalau nanti kamu mau menciumku, terus akunya bau keringat" goda Adira sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Ciss dasar. Istri nakal" sambung Chris menenteng tangan di pinggang. Bisa-bisanya ia berlari seperti orang gila sedangkan Adira lagi mandi dan masih sempat-sempatnya menggoda dirinya.


"Buruan mandinya. Ada yang mau aku tanyakan"


Setelah mendengar penjelasan Adira, Chris menerka-nerka kiranya siapa sosok pria berpakaian hitam yang mengincar keselamatan istrinya. Namun sayangnya ia sama sekali tidak punya gambaran. Tentu saja kendala utamanya ialah ingatannya yang belum pulih. Jika saja ingatannya tidak hilang, mungkin ia bisa memecahkan teka-teki ini.


Sekarang keselamatan Adira sedang terancam. Sudah dua kali orang itu datang, itu artinya memang Adira sedang diincar. Aku harus secepatnya menemukan orang itu, batin Chris gusar.


Malam itu Chris terlihat gelisah. Ia tidak bisa tidur meskipun sudah memaksa memejamkan mata. Pikirannya mengawan memikirkan kejadian tadi siang. Chris berpikir jika saja si pengantar bunga datang terlambat, mungkin nyawa Adira sudah lenyap. Apalagi saat itu tidak ada dirinya. Tenaga Adira tentu saja tidak akan kuat melawan. Ditambah lagi Adira sedang mengandung anaknya. Arrgh Chris menggeleng frustasi dengan pikiran-pikiran buruk yang berputar di kepalanya.


Chris beranjak dari kasur dan melangkah ke arah balkon. Ia berdiri di sana sambil menengadahkan kepala ke langit. Kecintaannya pada gemerlap bintang serta rembulan malam tidak berubah walaupun operasi telah merenggut ingatannya. Setelah beberapa menit, perlahan perasaannya sedikit lebih tenang.


"Sayang, kamu kok di sini?" entah sejak kapan Adira bangun. Sekarang wajahnya menempel di punggung lebar sang suami.


"Aku gak bisa tidur"


"Kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu? Kamu boleh cerita kalau mau" Adira menarik wajah Chris agar melihatnya.


"Aku khawatir orang itu akan datang lagi. Sedangkan kamu tidak bersamaku 24 jam. Kamu juga sedang hamil. Bagaimana kalau dia datang saat aku tidak ada?"


Adira menaikkan bahunya lalu menurunkannya lagi. Inilah yang ia tidak mau. Chris pasti kepikiran lalu khawatir yang berlebihan.


"Sayang, gini ya. Aku sudah gede, bukan anak kecil. Aku bisa melindungi diri aku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir. Aku juga pasti akan jaga anak kita" ujar Adira lembut, berusaha menenangkan sang suami.


"Berjanjilah kamu akan menjaga anak kita. Aku ingin melihatnya lahir ke dunia. Kita akan membesarkannya bersama-sama sampai menjadi anak yang hebat" harap Chris sambil mengelus lembut perut Adira.


"Ya, anak ini pasti akan lahir. Aku janji. Dia akan menjadi anak yang hebat seperti papanya" sanggup Adira tersenyum haru.


Chris meraih tubuh Adira dan memeluknya erat.


Dalam pelukan nyaman itu, Adira terniang kembali mimpi yang ia alami beberapa saat yang lalu. Di dalam mimpi itu, ia melihat Chris sedang berlari bersama anak kecil di area rerumputan hijau. Chris dan anak itu tertawa bersama sambil menikmati sepotong ice cream masing-masing. Anehnya hingga mimpi berakhir, Adira tidak melihat dirinya di sana.


Tanpa terasa, airmata Adira menitih begitu saja. Bagaimana jika mimpi itu menjadi kenyataan? Apa ia tidak akan ada di masa depan Chris dan anaknya nanti?


Tuhan, apapun yang terjadi nanti, tolong selamatkan anak ini. Suamiku sangat menginginkannya. Tolong jaga dia untuk Chris, batin Adira lirih.


...-------------------...


Setelah melewati serangkaian perdebatan, akhirnya Adira setuju untuk ikut sang suami ke kantor. Sebenarnya ia tidak mau, mau ngapain coba di sana? Tapi mau tidak mau Adira harus ikut karena Chris merasa calon ibu dari anaknya itu tidak akan aman di apartement sendirian. Orang itu bisa datang kapan saja dan apapun bisa terjadi. Keputusan Chris sudah bulat dan cara satu-satunya untuk memastikan keselamatan sang istri ialah dengan membawahnya kemanapun ia pergi.


"Aku merasa seperti anak TK deh. Mesti ditungguin sampai pulang sekolah" keluh Adira begitu masuk ke ruangan Chris. "Sayang, apa ini gak terlalu berlebihan? Sekarang aku harus ngapain di sini? Clingak clinguk kayak orang gak punya tujuan. Kamu kok jahat banget sih ngurung aku di sini" tutur Adira malas dengan sikap posesif sang suami. "Kalau kayak gini, mending aku gak usah cerita" sambungnya kesal.


Chris melepaskan jas hitamnya lalu duduk di kursi singasana.


"Sudah gak usah banyak ngeluh. Lagian kenapa sih, nemanin suami kerja kok gak mau. Istri yang baik itu harus nurut apa kata suami" Chris tersenyum tertahan sebelum menyeruput kopi yang telah tersaji di atas meja. Sedangkan Adira menahan rasa geram dan kesalnya.


Adira mondar mandir kebingunan. Waktu terasa lambat berjalan. Ia bosan, sepanjang hari hanya melihat Chris sibuk bersama laptop.


"Bisa gak duduk saja? Kamu mondar mandir gitu, ganggu fokus saya kerja"


"Aku lagi gak ganggu kok. Aku kan lagi nemanin kamu kerja. Kan aku istri yang baik" ledek Adira dengan mimik wajah menyebalkan. Rasanya ia ingin sekali memukul kepala sang suami.


"Aishh" desis Chris yang juga sedang menahan kekesalannya. Ia tahu Adira sengaja melakukan itu untuk menganggunya.


Chris kembali bekerja. Dan Adira sudah duduk manis di sofa.


"Sayang" panggil Adira lembut.


"Hmm"


"Lihat sini" Adira meratakan tubuhnya di atas sofa dengan posisi miring.


Chris tertawa kecil sambil melepaskan kacamata sesaat setelah melihat posisi tiduran sang istri yang menggoda.


"Ini kantor" ucap Chris mengingatkan.


"Terus, gak boleh? Takut ya?" tanya Adira menantang.


"Jangan merayuku sekarang. Gairahku mudah bangkit"


"Hmm panas ya di sini" keluh Adira tidak peduli sambil melepaskan kancing kemeja yang dikenakannya.


Chris tidak tahan melihat tingkah wanita di hadapannya. Ia pun bangkit dari kursi dan berjalan mendekat.


Saat Chris semakin dekat, Adira buru-buru mengaitkan kancing kemeja yang sempat ia lepas tadi.


"Sayang, aku ke toilet sebentar ya" dalam sekejap tubuh Adira menghilang di balik pintu.


"Sial" ucap Chris merebahkan diri di sofa. " Dia sengaja menggodaku lalu meninggalkanku begitu saja" lanjutnya tersenyum simetris.


Di toilet Adira mencuci tangannya yang tidak kotor. Ia sengaja kabur ke sini dengan perasaan puas. Hal itu terlihat dari pantulan wajahnya di kaca. Adira sedang tersenyum senang setelah berhasil mempermainkan hasrat sang suami.


Tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang aneh yang berasal dari pintu keluar masuk toilet. Seperti suara pintu di kunci. Adira berbalik dan seketika matanya melotot lebar.


Orang itu lagi!


Tanpa berpikir panjang, Adira meraih ponselnya dan mendial nama Chris yang berada dalam daftar panggilan paling atas.


Sambungan terhubung. Namun belum sempat ia bicara, orang berpakaian serba hitam itu menyerang hingga ponsel Adira terjatuh.


"Chris tolong aku" teriak Adira histeris sebelum mulutnya dibekap.


Mendengar teriakan sang istri dari sambungan telepon, Chris langsung berlari menuju toilet.


Di toilet, Adira berusaha melawan. Ia menggerakkan kakinya sembarang. Sedangkan tangannya berusaha menarik sepasang tangan kekar yang mencekik lehernya.