
Sore ini sebelum pulang, aku tunggu di rooftop.
Adira mengankat kedua pundaknya lalu membuang nafas perlahan. Ia tidak mengerti kenapa Chris selalu meminta bertemu dengannya secara pribadi. Pria itu punya kekuasaan untuk mendekatinya. Tentu saja dengan jabatannya yang lebih tinggi bisa memerintah Adira apapun dan kapan saja. Dan sebagai bawahan Adira tidak punya kekuasaan untuk menolak. Semakin intim berbicara maka akan semakin sulit bagi Adira menghilangkan perasaannya pada Chris. Apalagi jika atasannya itu sudah mengeluarkan sifat arogantnya yang suka memaksa. Bagai burung yang dikurung dalam sangkar, Adira tidak bisa bergerak kemana-mana bahkan ketika ia punya sayap untuk terbang, Adira tetap tidak bisa kabur. Chris selalu gagah dengan powernya. Apalagi hanya sekedar melawan tubuh kecil Adira. Itu bukan hal yang sulit.
Dan konyolnya sifat memaksa Chris bisa perlahan membuat Adira melunak dan berakhir dengan sentuhan yang memabukkan. Itu yang sangat Adira antisipasi. Sebisa mungkin Adira berusaha menghindari Chris. Namun sepertinya hal itu semakin sulit. Apalagi sekarang Chris sudah kembali berada dalam satu perusahaan dengannya. Adira masih mengingat dengan jelas kalimat menyesakkan itu. Alasan Chris kabur saat ayahnya sedang meregang nyawa, benar-benar tidak bisa diterima. Itu sangat egois dan kejam.
Hanya karena tidak ingin masa depannya hancur, dia dengan teganya meninggalkan ayahku. Kenapa dia menganggap nyawa orang lain tidak berarti?, batin Adira.
Kertas di tangan Adira kini telah berubah menjadi bulatan bola yang kasar. Mengingat setiap perkataan Chris membuat darahnya mendidih. Rasanya sulit menerima kenyataan pahit ini. Pria yang teramat dicintainya ternyata pembunuh ayahnya. Walaupun itu sebuah kecelakaan tapi andai saja saat itu Chris mau meredam sifat egoisnya, mungkin saja nyawa ayah Adira dapat ditolong.
"Hemm"
Chris berbalik badan begitu mendengar batuk kecil dari gadis yang sedang ditunggunya.
"Kamu sakit?"
"Gak. Cuma batuk sedikit. Ada apa? Bukankah lebih baik bicara di ruangan pak Chris saja?" Adira menyatukan kedua telapak tangannya. Sore ini angin dari atas rooftop benar-benar dingin dan kencang. Langitpun terlihat mendung dan sepertinya akan turun hujan.
Di musim pancaroba seperti sekarang, cuaca tidak bisa di tebak. Panas terik di siang hari, tidak menutup kemungkinan akan turun hujan di malam hari. Setiap orang harus selalu siaga dengan segala kemungkinan dalam cuaca yang tidak menentu seperti saat ini. Batuk, pilek, panas dingin adalah momok berbahaya bagi setiap orang yang memiliki kekebalan tubuh di bawah standar. Jika tidak hati-hati makan penyakit akan dengan mudah menyerang.
"Disini dingin banget" lanjut Adira mengulum bibirnya lalu menyilangkan tangannya di dada.
Tanpa bicara sepatah katapun, Chris melepas jas nya dan memakaikannya ke tubuh Adira. Jas itu tampak sangat tidak pas terlalu longgar namun itu justru memberi kehangatan yang sangat Adira butuhkan.
"Sekarang tidak terlalu dinginkan?"
"Hmmm" angguk Adira pelan. "Mau bicara apa?"
Chris diam sejenak sebelum membuka mulutnya. Sebenarnya ia ragu mengatakan ini pada Adira tapi hal ini sangat menganggu pikirannya. Ia bahkan tidak dapat menikmati makan siangnya tadi. Bahkan bekerjapun tidak enak.
"Pak David meminta aku untuk menikahi Emilly"
Deg!
Seperti biasa setiap kali Chris bicara serius. Jantung Adira selalu tidak aman. Adira tahu wajah serius Chris akan membuatnya mati kutu dengan mulut keluh.
"Oh" respon Adira cuek.
Chris melangkah agar lebih dekat dengan gadis yang berdiri di depannya. Ia lalu memasukkan kedua tangan Adira ke dalam saku jas kemudian diikuti dengan memasukkan tangannya juga ke dalam saku yang sama.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Adira tidak mengerti. Ia mencoba mengeluarkan tangannya namun Chris menarik tangannya lagi agar tetap ada di dalam saku.
"Dinginkan? Aku juga" Chris menempelkan keningnya di kening Adira sambil menarik nafas panjang. "Kamu tidak peduli?"
"Untuk apa aku peduli? Kita tidak punya hubungan apa-apa. Tidak perlu bertanya padaku. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau" ucap Adira ragu. Sebenarnya jika ingin jujur, Adira tidak rela Chris menikahi wanita lain. Tapi jika dengan sikap sok tidak pedulinya bisa menyakiti perasaan Chris maka Adira tidak akan segan melakukannya.
Chris mendesis marah sembari mengertakkan giginya. Ia menarik paksa leher jenjang Adira hingga sedikit lagi bibirnya bertemu dengan bibir dari gadis keras kepala di hadapannya.
"Aku minta kamu peduli. Kenapa susah menjelaskan sama kamu jika aku...
"Jika kamu apa?"sambar Adira dengan raut menantang.
"Jika bukan aku yang menabrak ayah kamu" gumam Chris tak berdaya, hanya bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya di dalam hati saja.
Chris memejamkan mata sebentar sambil membuang nafas berat. Ia tidak bisa cerita yang sebenarnya. Jika Adira tahu jika yang menabrak ayahnya adalah papa Chris maka Chris sangat yakin, Adira akan membuka kasus kecelakaan itu lagi. Ditambah lagi dengan kenyataan pahit jika ternyata papa Chris adalah pria yang menjadi selingkuhan mama Adira. Fakta ini terlalu rumit, kebetulan yang tidak masuk akal. Chris tidak bisa melihat papanya di jebloskan ke balik jeruji besi. Riwayat penyakit jantung papa Chris bisa kapan saja merenggut nyawanya jika mendapatkan kabar yang mengejutkan.
"Lepasin aku" Adira mengeluarkan tangannya dari saku kemudian mengembalikan jas merah marun yang dikenakannya pada Chris.
"Aku tidak harus peduli. Terserah kamu" jawab Adira berlalu.
Kamu sangat keras kepala, Adira. Jika aku mati, apa kamu juga tidak akan peduli?
Hujan turun tiba-tiba. Derasnya air hujan seakan menggambarkan suasana perasaan Chris yang sedang diselimuti awan hitam. Gadis yang dicintainya bersikap masa bodoh saat ia mengungkapkan rencananya untuk menikahi wanita lain, itu sangat membuat hati Chris sakit. Hujan turun semakin deras. Dan Chris tidak peduli dengan tubuhnya yang telah basah kuyub, ia tidak ingin beranjak dari tempatnya.
"Aku sudah menolaknya, Adira" ucap Chris sendu di tengah serangan air hujan yang menusuk kulit luarnya.
* 6 jam yang lalu
Chris segera bergegas menuju ruangan David setelah mendapatkan panggilan. Hatinya berdebar dengan apa yang akan disampaikan David nanti. Chris sangat memahami setiap tindakan bosnya itu. Jika bukan untuk sesuatu yang penting maka David tidak akan memanggil orang datang ke ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk" sahut suara dari dalam.
Chris pun menekan handle pintu setelah dipersilakan masuk.
"Maaf pak. Ada apa pak David meminta saya kesini?" tanya Chris sopan.
"Hemm gini Chris. Semenjak putus sama kamu, Emilly seperti orang stress. Dia jarang di rumah, sering ke club malam, sering minum alkohol, saya bisa ikutan stress lihatnya. Setiap kali saya tanya maunya apa. Dia cuman jawab mau kamu"
David mengambil nafas sejenak. Sedangkan Chris tampak seksama mendengar ucapan atasannya tersebut.
"Saya tidak tega melihat putri saya satu-satunya jadi seperti itu. Jadi saya mohon sama kamu Chris, menikahlah dengan Emilly"
"Maaf pak saya tidak bisa. Pak David sudah tahu alasannya" balas Chris singkat dan tegas.
"Iya saya mengerti. Kesalahan Emilly sangat fatal tapi apa kamu tidak bisa memaafkannya? Bukankah dulu sebelum masalah ini ada, kalian saling mencintai?"
"Maaf pak, tolong jangan paksa saya. Saya mencinta wanita lain...
"Gadis itu?" potong David.
Chris tertegun dengan tatapan curiga pada pria paruh baya di depannya. Ia tidak mau menjawab.
"Kamu bisa pergi sekarang" usir David halus.
"Baik pak. Maaf pak boleh saya menyarankan sesuatu"
"Apa?"
"Jika pak David tidak keberatan, coba dekatkan Emilly dengan Jhon. Dia pria yang baik. Saya yakin, Jhon bisa merubah Emilly"
Chris kembali diam. Tatapan misterius David membuat Chris tidak dapat menebak isi kepala pria penting dari mantan tunangannya itu. Ia hanya bisa menduga sembarang.
"Kita lihat saja nanti" jawab David ambigu.
"Kalau begitu saya permisi pak"
David merobek kertas putih di atas meja menjadi beberapa bagian kecil. Rahang wajahnya tampak mengeras tegang. Dan tatapannya begitu tajam memandang punggung lebar Chris yang menghilang di balik pintu.*
"Rahasia apa lagi yang kamu simpan? Kenapa selalu membuatku terkejut? Kamu pria paling brengsek yang pernah aku temui" umpat Adira berteriak histeris. Airmatanya mengucur deras.
"Jangan pergi. Jangan meninggalkanku, Adira" Chris merangkul pundak Adira tenggelam dalam dekapannya. Menangis bersama dalam buliran air hangat yang membasahi pipi.