
Sepasang insan yang baru saja melakukan pertempuran panas itu terlihat duduk bersandar dan saling berpelukan hangat.
Adira bersandar manja di dada kokoh sang suami. Tangan Chris pun tak mau kalah, menjadikan lengan panjangnya sebagai bantalan punggung Adira. Sesaat keduanya hanya diam sambil mengumpulkan nafas. Persetubuhan itu cukup banyak membuang energi keduanya. Apalagi Chris beberapa saat yang lalu bergerak sangat aktif hingga Adira kewalahan dibuatnya. Dalam adegan panas tadi benar-benar menguak tabir kelam seorang lelaki. Chris seperti orang yang lepas kendali yang tidak mengenal rasa capek. Ia meluapkan semuanya dan mempraktikkan segala kemahirannya dalam bercinta.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Sejak kapan?" tanya Adira sambil mengalungkan lengannya di perut Chris.
"Aku tidak tahu kapan persisnya. Aku ingin mengatakan ini. Aku tidak suka dengan sikap kamu tiga hari kemarin. Tapi aku tahu, kemarahan kamu karena kesalahanku. Aku pikir kamu sangat marah dan tidak akan memaafkanku lagi" Chris menatap Adira lekat. "Aku memikirkan cara untuk membuat kamu kembali. Tapi kamu selalu menghindariku. Aku bisa tidur nyenyak kemarin"
Adira menatap sang suami haru.
"Tapi jawaban kamu belum menjawab pertanyaanku" Adira justru bingung dengan jawaban Chris yang panjang lebar .
Chris melirik wanita di sampingnya dengan tatapan kesal. Suasana mengharu biru yang tercipta seketika sirna dalam hitungan detik.
"Lemot banget" ledek Chris menarik lengannya.
Bibir Adira mengerucut ke depan dengan pupil mata sengaja dikecilkan.
"Kamu barusan menghina aku?" Adira membenarkan duduknya dan tak lupa menutupi dada tanpa busananya dengan selimut.
Chris hanya menggelengkan kepala heran. Dari segitu panjangnya kata-kata yang sudah diutarakan, Adira masih tidak menemukan jawabannya. Memang tidak secara gamblang tapi setidaknya, Adira bisa menemukan inti dari ucapan Chris.
Apa sebelumnya dia memang lemot begini?, pikir Chris dalam hati.
"Pakai dulu celana kamu?" pekik Adira pada Chris.
"Gak perlu. Kamu juga sudah lihat" sahut Chris berjalan ke kamar mandi.
Senyum lebar mengembang di wajah Adira. Tingkah Chris tadi mengingatkannya pada saat ia dan suami tidur bersama untuk yang pertama kali. Hari itupun, Chris juga melenggang ke kamar mandi tanpa busana. Dan kebetulan juga dengan ekspresi yang sama, dengan rasa kekesalan.
"Hah...dia sangat seksi kalau begitu" puji Adira tersenyum gemas.
...-----------------...
"Hari ini kamu lembur lagi?"
"Kenapa?" tanya Adira balik.
"Gimana kalau kita nonton?"
Adira mengangguk setuju. "Tapi nanti aku langsung ke bioskop saja. Jadi kamu gak perlu bolak balik jemput aku. Ntar kamu capek"
"Walaupun aku sakit, aku akan tetap jemput kamu" sambar Chris dengan penuh pesona.
"iishh bucin banget. Boleh aku cium kamu?" goda Adira tersipu.
"Anytime. Ini milik kamu" Chris menarik leher sang istri lalu mengecup bibir candunya lebih dulu.
Sontak Adira mendorong Chris keras.
"Yeah. Kan aku yang minta. Kenapa kamu duluan?" Adira kesal karena ciumannya diambil.
"Apa bedanya sih kalau aku duluan?"
"Ya bedalah. Sudahlah...aku turun saja" ucap Adira cemberut.
"Jangan pergi" pinta Chris manja seraya mengusal wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Chris apaan sih. Manja banget kayak anak kecil" ucap Adira mencubit geram perut berotot Chris. "Udah ah aku harus kerja sekarang"
Jika boleh jujur, saat ini aku sangat bahagia. Ini seperti yang aku khayalkan. Dia manja seperti ini. Membujukku agar tidak pergi. Bersikap romantis dengan sikap yang terkadang membuatku terkejut. Lalu menyentuhku lembut. Aahh...ini benar-benar membuatku sangat bahagia. Semoga selamanya begini. _Adira_
📞 Jefry, ke ruangan saya sekarang.
Tok! Tok! Tok!
"Ya ada apa pak?" tanya Jefry berdebar karena tidak biasanya Chris memintanya datang dengan nada bicara seperti di telepon tadi.
Chris mengarahkan komputer pada Jefry.
"Coba kamu lihat ini. Ini kenapa selisihnya bisa beda jauh banget? Bulan kemarin hanya beda puluhan juta tapi kenapa bulan ini hampir ratusan juta selisihnya?" tanya Chris menuntut kejelasan.
"Bulan kemarin penjualannya turun drastis pak. Perusahaan Prima Group meluncurkan produk baru dengan kualitas hampir 90% sama dengan produk kita. Mereka juga menurunkan harga mencapai 40%. Dengan kualitas yang hampir sama dan harga produk di bawah kita, banyak pelanggan kita yang beralih kesana pak" jelas Jefry tenang dan cukup mendetail.
Chris mengangguk pelan dengan kanan tangan menopang dagu. Chris tidak asing dengan situasi ini. Ia juga sudah terbiasa menghadapi persaingan bisnis semacam ini. Hanya saja ia baru beberapa bulan bergabung di Djaya Group. Banyak seluk beluk manajemen perusahan yang belum ia pahami sepenuhnya. Chris masih perlu banyak belajar dan harus secepatnya belajar agar bisa keluar dari situasi pelik ini. Jika tidak, nilai penjualan akan semakin menurun. Jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan, Djaya Group akan mengalami krisis keuangan seperti beberapa tahun yang lalu.
"Ra, mau kemana? Buru-buru banget" tanya Farah.
"Mau nonton sama suami" jawab Adira sengaja mengedip-ngedipkan matanya seakan mengejek Farah yang sampai sekarang masih sendiri.
"Ciss dasar teman gak ada empatinya sama teman"
"Bukan gak empati sayang tapi kamu nya yang terlalu milih-milih. Mending kamu ke taman kota. Biasanya kalau malam minggu, banyak cowok-cowok nongkrong disana. Siapa tahukan ada yang nyantol satu. Gak bosan apa sendiri terus?" kata Adira bawel.
"Ribet banget sih. Udah...udah ah sana. Dengar kamu ngoceh, aku malah makin pusing" sambar Farah malas sambil melambaikan tangan agar teman resenya ini cepat menghilang dari hadapannya.
"Hmm pusing ya. Makanya buruan cari cowok"
"Ra, kamu ya nyebelin banget"
Dalam sekejab, Adira langsung mengambil langkah seribu sebelum Farah sempat menimpuknya dengan tas.
...----------------...
"Mbak tiketnya dua ya" ucap Adira santun.
Waktu yang Adira pilih pukul 19.00 pm. Sekarang baru mendekati 17.50 pm. Sembari menunggu, Adira membeli makanan dan minuman untuk mengisi perutnya.
Aku sudah ada di gedung bioskop. Waktu nontonnya jam tujuh. Jangan telat ya. Aku tidak mau ketinggalan awal cerita filmnya. _Adira mengirim pesan untuk Chris_
Detik demi detik berjalan. Sudah hampir jam tujuh. Sang operator pun sudah menyerukan jika gedung teater 2 sudah dibuka. Adira menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sambil sesekali membuang nafas pendek.
Kamu dimana? Filmnya sudah mulai. Aku masih di luar, nunggu kamu.
Berulang kali, Adira melirik pesan yang dikirim. Namun tidak ada yang berubah, masih centang dua warna abu-abu. Menandakan pesannya belum dibaca. Adira pun mencoba menelpon Chris tapi tidak diangkat.
.
.
.
Adira hanya terpana memandang orang satu persatu keluar. Film yang ingin ia tonton sudah selesai. Dengan langkah tak semangat, Adira keluar dari gedung. Matanya menatap kosong orang-orang yang berlalu lalang di depan mata. Kecewa, tentu saja kecewa.
"Kamu kemana sih? Kenapa pesanku belum dibaca? Ditelpon juga gak diangkat" ucap Adira lesu sembari melirik ponselnya.
Adira mulai melangkah ke arah jalan raya tanpa memperhatikan kepadatan kendaraan roda dua maupun roda empat di sisi kanannya.
"Aahhh" teriak Adira nyaring saat sebuah motor melaju cepat ke arahnya.