Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kembali seperti dulu



Di apartementnya tampak Chris dan Adira sudah berganti pakaian. Membaluti tubuh dingin mereka karena sapuan air hujan tadi. Chris mengenakan kimono polos warna hitam dan Adira dengan kimono warna putihnya. Keduanya terlihat canggung satu sama lain seperti orang yang baru kenal. Setelah berganti baju, Chris pergi ke dapur untuk memasak makan malam dirinya dan Adira.


Sedangkan di kamar, kepala Adira terus memikirkan ucapan Chris di tengah hujan tadi.


Tidurlah dengan saya?


Tidur seperti apa yang Chris maksud?


"Maksudnya gimana ya? Bukankah aku dengan pak Chris sudah pernah tidur bareng. Apa mungkin? Ahh" pipi Adira merona. Ia tertunduk malu. Saat ini Adira sangat deg degan dan hatinya terus berdebar.


Tok! Tok! Tok!


"Ra, kamu sudah selesai ganti pakaiannya?" pekik Chris mengetuk pintu lagi.


Krekk


"Sudah" jawab Adira mengeluarkan kepalanya duluan.


"Kita makan dulu ya. Kamu juga sudah laparkan?"


"Hah..kok pak Chris ngomongnya makan dulu. Memangnya sudah makan mau ngapain lagi?" gumam Adira. Kepalanya tidak dapat berpikir bersih.


"Malah bengong. Mau makan gak?"


"I..ya iya mau pak" balas Adira terputus-putus.


Adira memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya. Jantungnya tetap berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah kenapa dalam pandangannya saat ini, Chris terlihat lebih tampan dan seksi. Atasannya itu memang sudah tampan dari dulu tapi malam ini lebih lagi. Ditambah rambut Chris yang masih basah serta bibir merah mudah yang tampak lembab membuat Adira semakin panas. Ia tidak bisa fokus menikmati makanannya.


"Cepat habisin makanannya ntar dingin. Jangan lihatin saya terus" ucap Chris memecah lamunan Adira.


Adira tersentak. Lagi-lagi Chris begitu peka. Padahal pria itu sedang menunduk tapi tetap saja tahu jika ia sedang di perhatikan.


Setelah makan malam,


Chris membelai lembut rambut Adira yang setengah kering. Matanya seperti enggan berpaling menatap wanita yang berbaring di sampingnya dengan sangat dalam. Jemarinya yang panjang dan kekar perlahan turun ke area wajah mengelus pipi halus itu. Saat ini Adira seperti patung. Ia tidak bergerak kemanapun. Hanya matanya yang berputar gelisah. Dan begitu jari itu menyentuh bibirnya, Adira tidak bisa hanya diam saja. Seperti ada aliran listrik yang menyengat dirinya, Adira membuka begitu saja mulutnya seakan meresapi sentuhan itu. Semakin lihai bermain, kini leher Adira tidak luput dari belaian telapak tangan Chris yang lebar.


"Pak" Adira segera duduk.


Chris menarik bahu Adira hingga kembali berbaring di sebelahnya. Dada Adira bergerak naik turun. Ia gugup sekali. Ini lebih mendebarkan daripada ketahuan guru saat menyontek.


"Pak" Adira menahan bibir Chris menggunakan kelima jarinya. "Handphone pak Chris bunyi" lanjutnya melirik ponsel Chris yang ada di atas nakas.


Chris membuang nafas kesal. Matanya mendelik geram. Kenapa benda kurang ajar itu harus bunyi di waktu yang tidak tepat seperti sekarang?


"Emilly" ucap Chris pelan.


Namun walaupun terdengar sangat kecil, Adira masih bisa mendengar cukup jelas nama yang diucapkan Chris.


"Saya angkat telpon dulu" ucap Chris keluar kamar.


Adira memandang langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Seketika rasa sesak memenuhi dadanya. Ia semakin tidak mengerti, hubungan apa yang sedang ia jalani bersama Chris. Ini sudah terlalu jauh. Dan Adira sudah terlanjur terjebak dalam hadiah yang ia inginkan. Dari sekedar ingin, kini ada rasa memiliki.


"Bagaimana caranya agar aku bisa berhenti menyukai pak Chris? Aku capek sekali" sambungnya memejamkan mata.


Chris kembali ke kamarnya. Cukup lama ia bicara dengan Emilly melalui sambungan seluler. Ada sedikit perdebatan dalam percakapan tadi. Sekarang Chris kembali dibuat pusing. Emilly minta agar pernikahan mereka di percepat menjadi tahun ini bukan lagi tahun depan.


Chris meminilisir pergerakannya agar tidak menganggu tidur Adira. Ia berbaring di samping Adira yang sudah terlelap. Menarik selimut tebal yang berkumpul di ujung kasur kemudian menutupi tubuhnya dan Adira agar terjaga dari dinginnya malam.


"Maafkan saya" ucap Chris mengelus lembut pipi Adira kemudian mengecup hangat kening itu.


Keesokan paginya, Chris tidak mendapati Adira di sebelahnya saat bangun. Ia pun segera meraih ponselnya dan menelpon Adira namun tidak ada jawaban. Chris segera bergeges ke kamar mandi sebelum pergi ke kantor. Ia yakin akan bertemu Adira disana.


Adira temui saya di rooftop, sekarang.


Adira segera ke rooftop setelah membaca pesan dari atasannya itu.


"Ada apa pak Chris minta saya kesini?" tanya Adira yang baru saja tiba.


"Kenapa gak bangunin saya? Sayakan bisa antar kamu pulang?"


Adira tersenyum miring.


"Jadi pak Chris minta saya kesini cuman mau nanyain itu?" balas Adira terdengar ketus.


"Cuman?"


"Iya, cuman. Saya pikir ada hal penting yang mau pak Chris bicarakan makanya saya kesini. Kalau tidak ada yang mau pak Chris tanyakan lagi, saya permisi dulu pak. Saya punya banyak kerjaan"


"Kamu belum jawab pertanyaan saya" sambung Chris menghentikan langkah Adira.


Chris berjalan mendekati Adira.


"Ada apa lagi? Kenapa sikap kamu aneh?" tanya Chris tidak mengerti dengan perubahan sikap Adira yang tiba-tiba. Bukankah semalam baik-baik saja.


"Memang seperti inilah sikap saya. Pak Chris saja yang tidak mengenal saya dengan baik. Hmm setelah saya bangun, saya sadar ternyata pak Chris itu hanya mimpi. Lucu kan? Saya minta hadiah kencan tiga kali dan pak Chris dengan mudah mengabulkannya" Adira berhenti sejenak seraya mengigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. "Hmm mungkin gak sih pak Chris hanya main-main dengan saya. Karena saya begitu menyukai pak Chris jadinya pak Chris memanfaatkan keadaan. Dan saya dengan gampangnya terlena lalu tenggelam terlalu dalam. Saya tidak tahu caranya untuk keluar dari sana karena terlalu dalam"


Adira melepas nafas berat sebelum menyambung ucapannya.


"Pak kencan 3 kali kita sudah selesai. Itu artinya saya akan kembali seperti dulu. Anggap saja kita tidak pernah sedekat itu, seperti kemarin. Pak Chris sudah bertunangan dan akan segera menikahkan? Jadi lupakan saja tentang perasaan saya. Sekarang saya tidak menyukai pak Chris lagi. Dan pak Chris harus percaya dengan yang saya katakan" Adira segera berlalu. Ia merasa lega setelah menyampaikan semua uneg-uneg kepada sasarannya langsung.


Mata Chris memandang dengan sorot mata yang sulit di jelaskan. Chris menghardik dirinya sendiri karena tidak bisa bebas mengutarakan perasaannya. Karena ketidakmampuannya itu, lagi-lagi ia menyakiti Adira.


"Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu mengatakannya dengan mata seperti itu. Andai saya bisa bicara jujur, saya akan mengatakannya setiap hari. Saya memiliki perasaan...."


"Pak Chris disini. Pak David datang. Dia nunggu kamu di bawah" sambar Jhon memotong ucapan Chris.


"Thanks Jhon" balas Chris turun ke lantai dua dimana ruang kerjanya berada.


Jhon memasukkan tangannya ke saku. Ia tak memalingkan pandangannya hingga Chris menghilang dari penglihatannya. Bukan bermaksud sengaja menguping percakapan Chris dan Adira tadi. Seperti sudah digariskan. Jhon tanpa sengaja mendengarnya. Kini ia tahu ada hubungan lain antara Chris dan Adira di luar hubungan rekan kerja.


"Maaf Adira bukannya saya tidak simpati tapi saya sedikit bahagia hubungan itu sudah berakhir. Mungkin ini sudah saatnya. Meskipun sulit tapi saya akan bertanggungjawab dengan perasaan saya. Saya akan meluluhkan hati kamu, Adira" gumam Jhon tersenyum tipis.