
Di ruang meeting, David mencerca Adira dengan beberapa pertanyaan mengenai desain untuk produk baru J.O Company yang dalam hal ini, Adira sebagai penanggung jawab tunggal. Ada satu dua pertanyaan yang membuat Adira sedikit kesulitan namun untungnya ia dapat menjawab semua rasa penasaran David dengan jawaban yang sangat memuaskan bagi karyawan yang menghadiri meeting. Semuanya bertepuk tangan serempak sebagai apresiasi atas kerja keras Adira. Jhon pun ikut dibuat kagum dengan hasil desain Adira yang nyaris sempurna sesuai dengan tema untuk produk baru mereka. Namun dari semua yang hadir, hanya ada satu orang yang tampak biasa saja.
Ya, itu David. Niat David sebenarnya dengan memberi Adira yang pertanyaan sulit ialah untuk mempermalukan karyawannya itu. Namun sialnya rencananya itu gagal karena Adira mampu menjawab semua pertanyaan dengan lugas dan tepat.
"Ok, kita sudah sepakat. Desain ini akan dijadikan cover untuk produk baru kita. Ayo kita lanjutkan ke tahap berikutnya. Dan saya harap, semuanya bekerja lebih keras lagi sampai produk ini dipasarkan ke masyarakat. Selamat siang semuanya" ucap David tersenyum, berusaha menurunkan egonya dan tetap bekerja profesional meskipun saat ini, ia ingin sekali membalas perbuatan Adira yang telah merenggut kebahagiaan putrinya.
Setelah David meninggalkan ruang meeting, satu persatu rekan sejawat Adira memberi selamat. Seketika rasa bangga dan haru menyelimuti relung hati Adira. Rasanya tidak percaya bisa sampai di titik ini dimana orang-orang mengakui keberadaan dan kerja kerasnya. Ternyata butuh waktu empat tahun lamanya untuk mendapatkan tepuk tangan meriah seperti tadi.
"Semua ini berkat kamu" syukur Adira sambil menatap foto Chris yang tersimpan dalam galeri ponselnya. "Thank you" lanjutnya tersenyum bahagia.
"Eh Ra, traktir dong. Sudah dapat pujian setinggi langit juga dari pak bos, masa diam-diam aja" sambar Farah tiba-tiba ada di sebelah Adira.
"Bener tu. Traktir dong" timpal Lisa.
"Harus itu" sambung Maya ikut bergabung.
"Saya juga ikut dong" sahut Jhon tak mau kalah.
Adira celingukan dengan senyum dipaksa.
"Tapi aku sudah....
"Gak mau tahu. Pokoknya harus traktir" potong Maya sigap karena menangkap gelagat penolakan dari Adira.
"Ok fine, aku traktir. Gak usah takut kalian. Tapi aku izin dulu sama Chris"
"Ajak saja suami kamu gabung sama kita"
"Kalau gitu, aku mau bawah Emilly juga?" kata Jhon.
Hah!
Sontak keempat wanita itu menganga penuh tanya. Jelas saja mereka terkejut mendengar Jhon bicara seperti itu. Memangnya ada hubungan apa diantara mereka berdua? Selama ini yang orang tahu, Emilly itu mantan tunangannya Chris yang kini telah menjadi suami Adira. Dan tiba-tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan, Jhon dengan entengnya bilang ingin membawah Emilly makan malam bersama. Hal itu menimbulkan pertanyaan besar. Kiranya adakah hubungan spesial diantara mereka?
...--------------...
Di sebuah restoran sederhana, Adira dan yang lainnya sedang berbicara santai sambil menunggu makanan datang. Sesekali Lisa yang mempunyai jiwa keingintahuan tinggi melirik Jhon dan Emilly yang duduk sejajar dengannya. Lidahnya gatal sekali ingin mengorek informasi mengenai status hubungan mereka.
Gak mungkin mereka hanya teman. Pasti mereka sudah pacaran, batin Lisa seraya mencuri pandang pada sepasang insan di sebelahnya.
"Ra, suami kamu gak jadi datang ya?" tanya Maya.
"Jadi kok. Ini lagi di jalan" Adira mengalihkan matanya ke pintu keluar masuk restoran. "Nah itu orangnya" sambungnya tersenyum simpul.
Ya Tuhan, suamiku ganteng sekali, puji Adira dalam hati.
Adira begitu kagum dengan wajah dan kharisma pria yang sedang berjalan ke arahnya. Cara Chris berjalan, tegap layaknya model catwalk. Tatapan tajam, tinggi, rambut klimis, siapapun yang melihat akan bergumam kagum. Adira merasa sangat beruntung karena dari begitu banyaknya wanita, ia yang terpilih menjadi istri seorang Chris Evraro.
"Hai" sapa Chris mengecup lembut pipi Adira. Lalu duduk di kursi kosong di samping sang istri. "Malam semuanya" ucap Chris tak lupa menyapa yang lain.
Chris melempar senyum mempesona dan refleks matanya tertuju pada wanita cantik yang ada di sebelah Jhon. Chris merasa wajah itu tidak asing walaupun ia belum pernah bertemu sebelumnya.
Deg!
Jantung Adira serasa berhenti beberapa detik. Ia menatap heran pada sang suami.
Bagaimana Chris bisa ingat dengan nama itu?
Bukankah setelah operasi, Chris melupakan semuanya termasuk dirinya?
Lalu kenapa Chris ingat dengan wanita itu? Yang tidak lain mantan tunangan suaminya.
"Sepertinya Emilly sangat membekas di hati kamu?" gumam Adira kecewa.
Adira seperti orang linglung. Matanya berkedip-kedip cepat menahan agar bulir panas di retinanya tidak keluar. Rasanya sesak sekali. Ini bukan soal cengeng ataupun cemburu. Tapi tentang siapa yang sebenarnya ada di lubuk hati terdalam Chris. Dirinya atau Emilly?
"Iya aku Emilly. Kamu ingat aku? Aku pikir kamu lupa karena operasi itu" tutur Emilly antusias. Ia yang tadi sempat khawatir Chris tidak akan mengingatnya, kini sedikit merasa lega. "Jhon bilang kamu lupa semuanya"
Chris langsung menoleh pada Adira. Melihat raut datar dan sorot mata sedih wanita di sampingnya membuat hatinya berdenyut lirih. Ia sendiri tidak mengerti. Kenapa dengan mudahnya ia bisa mengenali Emilly?
"Hmm aku ke kamar kecil sebentar ya" pamit Adira dengan wajah ditekuk.
Suasana makan malam pun berubah canggung. Mereka tahu apa yang Adira rasakan. Pastinya sangat sakit saat orang yang dicintai, ternyata lebih mengingat orang lain.
"Selama ini aku berusaha agar Chris ingat denganku? Tapi kenapa justru Emilly yang dia ingat. Hah...ini sangat memuakkan. Jangan nangis Adira jangan nangis" Adira menggetarkan kakinya di depan kaca namun tetap saja airmatanya berhasil lolos membasahi pipi.
Sepanjang perjalanan pulang, Adira diam seribu bahasa. Ia tidak menanggapi ucapan pria di sebelahnya sama sekali bahkan menolehpun tidak. Chris yang sudah berusaha membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana hanya bisa pasrah. Ia tahu betul sifat sang istri. Jika terus diganggu, Adira bisa lebih marah dari ini.
"Aku minta maaf" entah sudah berapa kali Chris mengucapkan kalimat yang sama. Sampai di apartementpun, Adira tetap tidak mau bicara.
"Berapa lama? Satu hari, dua hari, seminggu, atau sebulan" lanjut Chris. Ia selalu tidak tahan jika sang istri mendiamkannya seperti ini.
Adira hanya berlalu ke kamar dan selang beberapa saat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berganti menit kemudian, Adira keluar dengan handuk tebal yang membungkus tubuhnya. Chris pun menghampiri Adira yang sedang memilih baju tidur.
"Adira"
"Hmm"
"Adira"
Adira menghela nafas lalu berbalik menghadap Chris.
"Ada apa?" tanyanya lesu.
Chris menarik pinggang Adira hingga menempel dengan tubuhnya. Tangan panjangnya menyelusup masuk ke ceruk sang istri. Lalu memutar jari-jarinya di daun telinga Adira. Chris berusaha menggoda Adira dengan harapan kekecewaan wanitanya itu akan sedikit memudar.
"Jika aku tidak mau. Apa kamu akan memaksa?" tanya Adira tanpa ekspresi.
Chris mengankat pundaknya lalu menurunkannya sambil membuang nafas perlahan.
"Coba kamu pikirkan ini. Tidak ada yang salah dengan ingatanku. Aku tidak bisa memilih, mana yang harus aku ingat dan mana yang harus aku lupakan. Atau bisa juga, aku tidak ingin melupakan kenangan itu tapi keadaan yang membuatnya begitu. Aku sekarang milik kamu, suami kamu. Dan tidak ada yang bisa membantah itu. Mana menurut kamu yang lebih penting. Kenangan yang seharusnya tidak aku ingat atau hubungan sakral kita?" ujar Chris dengan tatapan dalam. Ia kemudian menguraikan diri dari Adira lalu pergi keluar kamar.