Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Sensitif



Adira menggeliat hebat seperti cacing kepanasan. Ia melakukan gerakan patah ke setiap persendiannya hingga menimbulkan bunyi khas. Sekujur tubuhnya terasa kaku layaknya orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan berat. Padahal kemarin ia hanya menemani Chris di kantor. Dan itu pun tidak melakukan apa-apa. Hanya mondar mandir dan sesekali berbaring santai di sofa. Tapi kenapa tubuhnya pegal sekali? Ia memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Awww" ringisnya merasa perih di bagian leher.


Adira meraba lehernya yang di lapisi perban. Dan barulah ia sadar jika kemarin sudah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Ia mengedarkan mata ke setiap sudut kamar begitu menyadari Chris tidak ada di sebelahnya.


"Chris kemana ya? Apa sudah ke kantor? Kok dia gak bangunin aku ya? Apa dia masih marah?" tanya Adira pada dirinya sendiri dengat raut lesu. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka.


Pagi ini Adira terlihat seksi dengan baju tidur tipis yang kenakannya. Dan tidak memakai bra karena memang setiap tidur, ia akan sesak dada jika memakai kain berlapis busa itu. Wajahnya juga tampak sangat alami tanpa make up. Cantik dan seksi untuk mendefinisikan penampilan Adira saat ini.


"Hmm kok perutku gak besar-besar sih. Kok masih rata ya" ucapnya bingung sambil berjalan keluar kamar.


Adira melangkah menuju dapur berharap mendapat makanan di sana. Dan ternyata lebih dari makanan yang ia dapatkan. Sosok pria tampan, seksi, dan mempesona ada di sana. Adira pun senyum-senyum mesem dan berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Kenapa kamu nunduk-nunduk gitu?" tanya Chris menghampiri Adira sambil membawah segelas susu ibu hamil. " Ini minum?" Chris tak lepas memandang intens tubuh menggoda Adira.


Tanpa banyak bicara, Adira meraih susu dari tangan Chris lalu meneguknya sampai habis dan tidak meninggalkan setetes pun.


"Seperti anak kecil. Minum susu saja belepotan gitu" ledek Chris saat melihat sisa susu di sekitar mulut Adira.


Adira mengankat tangannya namun Chris dengan sigap menepis tangan itu. Dengan penuh nafsu, Chris membersihkan sisa susu di area mulut Adira menggunakan bibir seksinya.


Adira tersentak. Tubuhnya tidak bergerak, diam mematung. Sebenarnya ini bukan hal yang asing. Tapi tetap saja ia dibuat tercengang atas tindakan mendadak Chris seperti ini.


"Kenapa diam?" tanya Chris mengurai cumbuannya.


"Hmm sudah bersih belum?" tanya Adira kaku.


"Apanya?"


"Bi...bibir aku?" sahutnya Adira terputus-putus.


Chris tersenyum tipis.


"Belum" balas Chris berbohong. Tentu saja Adira tahu suaminya ini sedang berdusta.


Adira meraba lehernya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gerah. Pipinya merona dan terasa panas.


"Kalau kamu mau, kamu boleh membersihkannya lagi" harap Adira tersipu malu.


Chris tidak kuat menyembunyikan tawa kecilnya. Bagaimana bisa wanita hamil di hadapannya terlihat sangat menggemaskan seperti ini.


"Dengarkan aku. Seluruh tubuh aku ini milik kamu. Kamu bisa menyentuhku kapan saja. Jadi jangan malu"


"Apaan sih, nyebelin banget. Kamu ngomong gitu, justru bikin aku malu" Adira mengerucutkan bibirnya. Melipatkan tangan di perut dengan raut masam.


"Jadi gak mau cium lagi ni?"


"Gak"


"Beneran?"


"Iya"


"Yakin?" Chris mencondongkan wajahnya ke depan Adira.


Hah...aku tidak tahan, gumam Adira.


"Nyebelin, nyebelin, nyebelin" ungkap Adira geram sembari menghentakkan kakinya di lantai.


Pertahanan Adira runtuh. Detik selanjutnya tentu saja kecupan panas itu terjadi. Bibir keduanya bertemu dan melekat erat seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bersua.


Setelah beberapa saat, bibir Adira tampak jontor dan merah. Gigitan dan tarikan dari bibir pria di hadapannya begitu keras dan liar. Jangan heran karena memang Chris ahlinya dalam hal panas seperti ini, haha. Adira masih mengatur nafasnya. Ia ingin menghirup udara sebanyak mungkin karena ia hafal betul dengan hasrat suaminya. Jika sudah terpancing maka sulit menghentikan pria seksi itu. Dan benar saja, Adira kembali dibuat gelagapan begitu Chris menyerang bibirnya dengan gerakan kilat seperti petir.


"Aku harus kerja" ucap Chris terengah-engah.


Adira hanya mengangguk. Ia belum bisa bersuara karena nafasnya belum teratur.


"Kamu tidak kerja?"


Seketika Adira menegakkan wajahnya. Keningnya berkerut.


"Buruan mandi. Aku akan mengantar kamu ke kantor"


Senyum Adira mengembang sempurna. Ia tidak menyangka, Chris masih mengizinkannya bekerja. Padahal setelah perdebatan semalam, Adira sudah pasrah jika sang suami benar-benar ingin ia berhenti bekerja.


"Hmmm kok suami aku baik banget sih. Udah baik, ganteng, seksi lagi" puji Adira seraya mencubit perut berotot Chris.


"Aku tahu. Aku memang sekeren itu" sahut Chris bangga.


"Isshh narsis banget sih"


"Udah buruan mandi. 5 menit"


"Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu bahagia, Adira" ucap Chris sendu sambil menatap nanar sang istri yang berjalan cepat ke arah kamar.


...----------------...


Sebuah lagu dari Gemini berjudul 'Know Me' menemani perjalanan sepasang suami istri itu. Adira asyik bersenandung mengikuti nada dari lagu yang sedang diputar.


"Sepertinya kamu sangat mencintaiku?"


"Maksudnya?" sambung Chris.


"Kamu tahu kan lagu ini salah satu lagu favoritku, makanya kamu menyetel lagu ini. Iya kan...hayo ngaku. Udah ngaku aja" ujar Adira sangat yakin.


"Kenapa kamu suka lagu ini?"


"Hmm ngalihin pembicaraan. Ya sudahlah gak papa. Aku nemu lagu ini pas aku lagi galau karena kamu"


"Kok aku?"


"Iya karena kamu. Kamu pasti gak ingat. Dulu saat kita masih pacaran, sebenarnya kami sudah tunangan. Di situ kamu susah nentuin pilihan. Terus....


"Tunggu dulu. Tunangan?" Chris memarkirkan mobilnya ke tepian jalan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan yang Adira katakan. "Memangnya aku tunangan sama siapa?"


"Emilly"


Chris memutar bola matanya. Ia berusaha mengingat sesuatu.


"Emilly yang waktu di kafe itu?"


"Iya"


"Kok bisa?"


"Kok bisa! Maksudnya? Kamu nanya gitu, kok bisa jadi aku yang nikah sama kamu, gitu?" Adira tidak suka dengan respon antusias sang suami.


"Bukan gitu maksudku?"


"Iya, maksud kamu gitu. Kamu itu ya selalu nyebelin" ucap Adira nyolot. Ia kemudian turun dari mobil dan langsung menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan.


Adiraaaa


Teriak Chris nyaring.


Chris berlari kencang dan menarik kuat lengan Adira. Jika saja ia tidak sigap, maka istrinya itu sudah terpental ditabrak mobil. Adira memang selalu ceroboh jika sedang marah. Tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Sangat keras kepala.


"Aahhhh" teriak Chris kesal.


"Bisa tidak jangan kayak anak kecil. Kamu mau mati? Kamu mau bunuh anak kita? Kamu mau membuat aku gila? Kamu bisa mati tadi kalau aku tidak cepat datang" ucap Chris menggebu penuh amarah. Chris mengacak rambutnya frustasi.


Adira hanya diam mematung dengan airmata yang menitih membasahi pipi. Pikirannya sedang kosong sekarang. Ia masih shock. Ditambah lagi ucapan Chris yang membuat hatinya sakit.


Adira tidak peduli dengan amarah sang suami. Ia mundur dua langkah lalu membalikkan badan dan pergi.


"Mau kemana kamu?" cegah Chris mencekam lengan Adira.


"Mau pergi"


"Kemana?"


"Gak tahu. Lepasin" rengek Adira tercekat dengan butiran air yang semakin deras keluar dari matanya.


"Balik ke mobil"


"Gak mau. Aku bilang gak mau. Dengar gak sih" Adira mengugah tangannya agar Chris melepaskannya.


"Mau kamu apa? Ini sudah jam berapa? Kamu bisa telat ke kantor. Aku juga. Mau semuanya jadi berantakan gitu?"


Adira menatap tajam. Dadanya semakin sesak.


"Yang kamu cemaskan bukan aku tapi anak kamu" ucap Adira pilu sambil meraba perutnya. "Saat aku hampir mati, yang kamu khawatirkan anak ini, bukan aku" Adira menyeka airmatanya.


"Kamu tidak pernah mengkhawatirkan aku. Kamu hanya peduli dengan anak ini. Kamu jahat. Kamu pria yang paling kejam yang pernah aku temui" sambungnya mengecam.


Chris menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengusap kasar wajahnya seperti orang stress. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang istri.


"Ya Tuhan" ucap Chris sembari berjongkok.


"Ngapain kamu jongkok di situ?" tanya Adira polos dan ekspresi datar.


Chris mendongak dan tersenyum jengkel. Pertanyaan itu seperti sedang meledeknya.


Jadi benar kalau wanita hamil itu jadi lebih sensitif, batin Chris geleng-geleng kepala.