
Di tengah malam tepat pukul 12.00 ponsel Adira terus berdering membuat Chris yang tidur di kasur yang sama dengan Adira terbangun. Ia meliuk sebentar dengan mata sedikit terbuka. Kemudian bangkit mencari sumber suara yang menganggu tidurnya. Matanya tertuju pada tas Adira yang tergeletak di atas nakas.
Tak lama senyum Chris mengembang lebar di wajah bantalnya. Bunyi nyaring itu ternyata alarm yang sengaja dipasang Adira sebagai pengingat untuk hari lahirnya. Ya tepat hari ini Chris resmi menginjak usia 29 tahun. Setelah mengembalikan ponsel Adira ke tempat asalnya, Chris kembali berbaring di sebelah gadis yang belum bisa memaafkannya itu. Satu kecupan dalam melesat di kening mulus Adira.
"Terima kasih" ucap Chris haru lalu menarik selimut menutupi dirinya dengan sang kekasih. Lebih tepatnya mantan pacar. Ya meskipun Chris tidak pernah menganggap hubungannya dengan Adira sudah putus namun ia tetap menghargai keputusan sepihak itu.
Pagi menyapa bersama hawa dinginnya. Bekas hujan semalam nampak jelas mengenangi lubang-lubang kecil jalanan. Adira menggeliat sambil menguap lebar. Udara dingin yang masuk dari sela pintu terbuka membuat ia kembali menarik selimutnya. Hangatnya selimut serta empuknya kasur membuatnya enggan cepat beranjak.
"Sepertinya ini bukan kasurku. Kasurku tidak seempuk ini" gumam Adira panik. "Wangi ini. Aku kenal" Adira membuka penuh matanya. "Lagi-lagi aku bangun disini" sambungnya seraya melangkah keluar kamar.
Samar Adira mendengar suara ketukan dari dapur. Itu pasti Chris yang sedang memotong sesuatu, pikir Adira.
"Sebaiknya aku langsung pergi saja" ucapnya tak ingin pamit pada Chris terlebih dahulu.
Namun....
"Hmmm" dehem Chris keras.
Adira sedikit terkejut saat berbalik. Sejak kapan Chris ada di belakangnya? Padahal ia sudah sangat pelan melangkah.
"Sifat kamu yang ini tidak pernah berubah. Selalu pergi tanpa pamit" sambung Chris menenteng tangannya di pinggang kemudian mendekati Adira yang berdiri di ambang pintu.
"Baiklah. Aku pamit"
Krekk
Krekk
Pintu yang baru saja terbuka kembali tertutup rapat. Tangan Chris bergerak sigap menahan tangan Adira agar tidak pergi meninggalkannya. Adira pun langsung menarik tangannya. Ia berdiri menghadap pintu dengan posisi Chris di belakangnnya.
"Kamu tidak melupakan hari inikan?" tanya Chris dengan suara bassnya.
"Tentu saja"sahut Adira dalam hati.
"Sampai kapan?" timpal Chris maju selangkah mengikis jarak antara dirinya dengan gadis yang memenuhi seluruh hatinya.
Adira tidak bergeming. Ia tidak bergeser apalagi berbalik.
"Aku capek. Kamu tahu aku sekarang tidak bisa percaya apapun yang kamu katakan. Bahkan perasaan kamu, aku juga tidak percaya. Aku bingung kamu beneran tulus atau cuma ekting. Selama ini kamu terus pura-pura di depanku seolah tidak terjadi apa-apa. Kamu bersikap seperti orang tidak bersalah. Apa tujuan kamu mendekati aku? Cinta? Atau kamu hanya ingin menutupi kesalahan kamu dengan cara mendekati aku? Kamu sebenarnya....
"Bukankah kamu seharusnya memberiku kado? Hari ini ulang tahunku" sambar Chris sebelum sempat Adira menyelesaikan kalimatnya.
"Aku serius" mata Adira membelalak tajam. Ia lalu berbalik melihat Chris.
"Sama seperti kamu, aku minta kado kencan. Bedanya aku minta kencan selama seminggu. Kamu harus setuju karena ini ulang tahunku" sahut Chris mengabaikan tatapan marah gadis di depannya. Senyuman tenang menghiasi wajah penuh harapnya.
"Kamu sangat menyebalkan"
Krekk
Adira berlari kencang begitu pintu terbuka. Pria itu benar-benar membuatnya menjadi anak durhaka. Setelah tahu semua keburukan Chris, ia tetap saja tidak bisa berhenti menyukai pria tampan itu. Bukannya menjebloskan pembunuh ayahnya ke penjara tapi justru ia semakin ingin memiliki pria jahat itu. Hati dan pikirannya tidak sinkron berjalan di jalan yang berbeda.
"Selamat tahun ayah. Maaf aku tidak bisa datang" ucap Adira menatap sendu foto dirinya bersama sang ayah. "Aku harus bagaimana yah? Aku terlalu menyukainya, sampai aku tidak tahu cara membencinya. Selamat ulang tahun, Chris" sambungnya menutup album foto.
...---------------------...
Next part,
"Chris kamu apaan sih?"
Wajah pucat Chris menyeringai buas. Ia menarik kasar kedua tangan Adira lalu mengankatnya ke atas. Memberi tanda merah di leher jenjang Adira kemudian mengigit kecil di sela tautan bibirnya. Sementara itu Adira tidak menyerah memberontak. Tangannya yang dikunci rapat oleh cengkraman Chris, tidak bisa membuatnya bergerak bebas. Ia menghentakkan kaki sebagai usaha terakhir namun Chris tidak bergeming. Pria itu justru semakin bringas.
Adira mulai kehabisan tenaga. Ia menyerah dengan membuka matanya perlahan dan menatap mata terpejam milik pria yang sedang melahap bibirnya.