
"Ra, kamu datangkan ke pesta ultah perusahaan?" tanya Farah yang sudah memastikan dirinya akan datang.
"Entahlah. Aku masih sibuk banget ni. Ini aja aku masih nyalin datanya. Setelah itu harus di print terus baru diserahin kepada pak Chris. Sedangkan pak Chris saja sampai sekarang belum balik ke kantor. Aku harus nunggu pak Chris dulu. Gimana coba pekerjaan aku bisa cepat cepat selesai?" Adira menggelengkan kepalanya sambil mengedip-ngedipkan mata. Tangannya tidak punya daya lagi mengetik kata yang tersisa. Adira merasa ada bintang-bintang yang berputar di atas kepalanya. Ia pusing karena pekerjaannya belum kelar juga padahal ia sudah sangat tekun mengerjakannya.
"Ya gak seru Ra kalau kamu enggak datang" sahut Lisa.
"Ya terus gimana donk. Lagiankan kita gak di wajibkan datang juga. Jadi gak papalah. Daripada aku kena semprot pak Chris lagi" Adira meregangkan otot tangannya hingga menimbulkan bunyi khas. Persendiannya terasa kaku semua.
"Datang saja. Saya gak akan semprot kamu" timpal Chris tiba-tiba hadir seperti hantu.
Lisa memperhatikan Chris dan Adira bergantian. Ia berpikir curiga melihat teman dan atasannya itu saling bertukar senyuman. Adira tersenyum malu dengan warna pipi merona. Sedangkan Chris tersenyum dikulum seakan ingin menyembunyikan sesuatu. Chris pun berlalu ke ruangannya meninggalkan pertanyaan besar di benak Lisa.
Sebentar lagi ada hadiah datang untuk kamu. Jangan lupa dipakai nanti malam.
Senyum Adira semakin lebar setelah membaca pesan yang Chris kirim. Ia tidak sabar dengan hadiah yang Chris maksud. Apa itu gaun? Sepatu atau yang lainnya? Entahlah apapun itu Adira pasti menerimanya dengan tangan terbuka lebar.
Adira pun memberi emoticon hati untuk membalas pesan itu. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya kini dengan kata-kata. Dan di ruangannya Chris tak henti tersenyum memandang balasan dari Adira. Itu seperti balasan ala anak sekolahan yang baru mengenal cinta. Alay tapi menggemaskan. Singkat tapi cukup membuat hatinya berdebar.
"Kenapa dia lucu sekali?" ucap Chris menutup aplikasi hijaunya sambil tersenyum tipis. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di hotel berbintang ternama dimana pesta di adakan, terlihat satu persatu tamu undangan berdatangan. Semunya tampak wah dengan stylenya masing-masing. Ada yang berpenampilan sederhana tapi elegant. Ada juga yang berpenampilan mewah dan mahal. Ada juga yang berpenampilan sekedarnya saja tapi tetap enak di pandang. Semuanya terlihat cantik dan tampan. Namun tetap saja akan selalu ada sosok yang paling menonjol dari semua tamu yang hadir.
Saat waktu baru saja menunjukkan pukul 19.00 dimana acara inti akan segera di mulai. Tiba-tiba saja muncul sosok wanita yang begitu cantik dengan gaun konsep princessnya. Semua mata tertuju pada wanita itu.
"Itukan Emilly, pacar pak Chris" Adira melirik gaun yang dikenakannya lalu kembali melihat ke arah Emilly yang sedang berjalan menuju center acara. Emilly layaknya putri dalam cerita dongeng, cantik mempesona. Semua tertarik padanya.
"Lihatnya gitu banget. Iri ya"
"Pak Jhon. Tiba-tiba kok ada disini seperti hantu saja" ledek Adira terkejut. "Siapa juga yang iri. Jelas cantikan saya kok" sambungnya percaya diri.
"Itu bagus. Kamu harus puji diri kamu cantik agar orang lain juga melakukan hal yang sama. Karena kalau kamu saja tidak percaya diri lalu bagaimana orang bisa percaya sama kamu" jelas Chris menatap Adira intens. Sedangkan Adira tetap fokus mengagumi kecantikan Emilly.
"Kamu cantik, Adira" puji Jhon dalam hati.
Sontak Adira menatap Jhon menyelidik. Tidak biasanya Jhon bicara panjang seperti ini.
"Tumben pak Jhon nasehatin saya. Biasanya juga gak peduli"
"Panggil Jhon saja. Inikan di luar kantor. Lagian umur kita cuman beda 3 tahun"
"Tetap saja lebih tua pak Jhon. Aneh kalau panggil nama. Setidaknya saya harus memanggil kakak. Kak Jhon"
"Terima kasih dek Adira" balas Jhon malas.
"Sama-sama kak Jhon"
Jhon dan Adira tertawa kecil dengan sikap konyol keduanya. Setelah hampir 3 tahun kerja dalam perusahaan dan divisi yang sama, baru kali ini mereka bisa ngobrol seakrab ini di luar urusan pekerjaan.
"Eh Chris. Kamu kok disini?" tanya Jhon.
"Ganggu ya?"
"Gak gitu pak. Pak Jhon ehmm maksud saya kak Jhon, kami tadi....
"Kak Jhon. Sejak kapan kalian jadi kakak adek?" Chris makin terganggu dengan panggilan akrab Adira untuk Jhon.
"Barusan saja" sambar Jhon. Sorot mata Jhon seakan mempertanyakan pertanyaan Chris yang menurutnya terlalu ikut campur. Bukankah wajar teman sekantor ngobrol di luar jam kerja. Lalu kenapa Chris seakan tidak suka melihat kebersamaannya dengan Adira?
"Kepada Chris Evrano silakan ke atas panggung karena acara pertunangannya akan segera di mulai"
Sontak suara lantang itu membuat Adira dan Chris serempak melihat ke arah Emilly yang berdiri di pusat pesta. Chris terkejut karena ia tidak diberi tahu sebelumnya tentang pertunangannya dengan Emilly. Ia sendiri belum pernah membicarakan soal tunangan.
Bagai tersambar petir, Adira sulit percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Chris tidak memberitahunya apa-apa. Bahkan tadi pagi saat mereka sarapan bersama, Chris tidak bicara tentang pertunangan sedikitpun.
Adira memandang Chris nanar. Kenapa Chris bisa setega ini padanya? Adira sadar ia bukan siapa-siapa. Kencan mereka kemarin hanya sebatas hadiah saja tapi bukankah ia tetap harus diberitahu untuk rencana sepenting ini. Tunangan bukanlah hubungan yang sepeleh. Akan ada jenjang yang lebih tinggi setelahnya.
Adira mengusap wajahnya lalu menutup mulutnya. Sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa kecewanya. Namun kedua pria di sampingnya tentu saja masih bisa melihat kekecewaan yang Adira rasakan. Itu terlihat jelas dari jemari Adira yang bergetar dan bibirnya yang tertutup rapat.
"Adira" ucap Chris lembut. Ingin sekali ia memeluk wanita yang berdiri di sampingnya dengan sangat erat.
"Kepada Chris Evrano silakan ke depan" sekali lagi titah itu mengusik telinga.
Chris merasa dijebak. Namun sekali lagi ia tidak dapat menolak. Dengan hati penuh penolakan, Chris melangkah kepada Emilly yang sedang menunggunya. Tak lama setelah cincin melingkar di jari masing-masing, ramai para tamu bersorak agar sepasang insan yang baru saja bertunangan itu melakukan kissing. Sebelum melesatkan bibirnya di bibir Emilly, Chris melihat ke arah Adira sekejab. Ia tidak tahu kenapa hatinya sangat menolak pertunangan ini. Padahal tidak ada masalah apa-apa antara dirinya dan Emilly. Dan hubungan mereka juga baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang ia ragu?
"Ada apa dengan kamu Chris? Bukankah kamu mencintai Emilly? Tapi kenapa kamu terus mengkhawatirkan Adira? Bahkan kamu tidak tahan melihatnya bersedih seperti itu" tanya Chris dalam hati.
Chris menatap dalam netra di depannya. Ia meyakinkan hati jika Emilly lah yang berhak ada di sisinya. Ia pun mengalungkan tangannya di pinggang Emilly kemudian mendaratkan kecupan lembut di bibir wanita yang kini resmi menjadi tunangannya.
Di sisi lain, Adira merasa lemas di sekujur tubuhnya melihat adegan mesra di depan matanya. Cincin itu sudah melekat di tempatnya. Pria yang disukainya itu sudah terikat dengan wanita lain. Kini apa ia masih bisa melanjutkan kencan ketiganya?
"Kamu sengaja menjebak saya?" tanya Chris tak sabar begitu pesta selesai.
"Jebak apanya sih. Kita sudah membicarakan ini" balas Emilly tak terima dengan tuduhan Chris.
"Tapi malam ini pesta ulang tahun perusahaan bukan pesta pertunagan kita. Kamu gak bilang apa-apa"
"Itu karena kamu sibuk terus dengan pekerjaan kamu. Aku pernah bilangkan mau menikah. Dan kamu bilang terserah aku. Aku minta sama papa agar pertunangan kita dilakukan bersama dengan ulang tahun perusahaan dan papa setuju. Aku mau kasih surprise untuk kamu. Apa aku salah? Kenapa kamu sepertinya menolak pertunangan kita? Apa ada wanita lain di hati kamu? Kamu mencintai wanita lain?"
Chris membawa Emilly ke dalam dekapannya. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya bagai ombak yang terombang-ambing di tengah lautan. Namun yang pasti saat ini, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Adira. Ia ingin lari dari tempat ini dan membawa Adira pergi bersamanya.
"Jangan menangis karena saya, Adira" pinta Chris dalam hati.