Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Aku Terlalu Mencintainya



Semilir angin bertiup dari arah tenggara menyelinap masuk melalui celah baju yang berongga. Paha mulus Adira yang hanya dibungkus rok di atas lutut menjadi sasaran empuk angin yang semakin kencang bertiup. Ya, dari rooftop ini angin memang lebih terasa dinginnya. Berada di ketinggian tidak membuat nyali Adira ciut. Ia justru sangat menikmati pemandangan di bawahnya. Dari sini ia bisa melihat betapa sibuknya jalanan yang dipadati para pengendara juga pejalan kaki. Itu sudah menjadi rutinitas di pagi hari. Dimana orang-orang tergesa-gesa berlarian dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka berkejaran dengan waktu demi datang tepat waktu ke tempat kerja. Ada juga ibu-ibu yang buru-buru berangkat ke pasar untuk menjajakan jualan agar tidak kehilangan pelanggan. Semuanya punya kesibukan masing-masing.


Adira menengadahkan wajahnya menghadap langit. Menjelang pukul 08.00 am langit tampak cerah dengan warna biru muda. Bersih tanpa sampah berserakan seperti di bumi. Adira sangat menimakti suasana ini. Ia suka kopi hangat yang sebagian sudah diseduh. Suka udara dingin dari rooftop, fresh dan membuat hati damai.


"Hmm andai saja kamu ada disini?" harap Adira berandai Chris ada bersamanya.


Walaupun menyisakan luka yang teramat dalam namun Adira tidak bisa munafik pada dirinya sendiri, sampai saat ini hanya nama Chris yang bersemayam di hatinya. Adira tidak mengerti apa ini yang dinamakan cinta buta. Karena setelah tahu kesalahan fatal Chris, ia tetap tidak bisa berhenti memikirkan pria itu.


"Siapa?"


Adira tersentak saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari arah belakang. Suara berat dan aroma tubuh orang di belakangnya tidak asing. Adira pun berbalik dan benar saja, seseorang itu Chris pria yang selalu memenuhi kepalanya.


"Jangan dekat-dekat" Adira menyingkirkan lingkaran tangan Chris dari pinggang rampingnya. "Kamu kok ada disini? Setahu aku selain karyawan, tidak boleh ada orang luar kesini?"


Chris memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dasarnya. Ouftitnya hari ini tampak serasi dengan warna atasan dan bawahan senada. Setelan jas. Chris berpenampilan seperti karyawan kantoran yang siap bekerja.


"Pak David memintaku kembali. Dia bilang tidak bisa menemukan pengganti yang cocok setelah aku mengundurkan diri. Boleh aku minta kopinya" Chris merebut gelas kopi di tangan Adira.


"Apaan sih langsung main serobot. Kembalikan kopi aku" Adira berusaha merebut kopinya namun perbedaan tinggi yang cukup kentara membuatnya susah meraih kopinya lagi apalagi Chris sengaja mengankat tangannya. Hal itu membuat Adira harus berjinjit agar dapat menyamai tingginya dengan Chris.


"Kembali'inkopi aku. Kamu banyak uang. Beli sendiri kalau mau" Adira melompat agar bisa menggapai tangan Chris namun keseimbangan tubuhnya hilang kendali. Ia hampir saja jatuh jika saja Chris tidak sigap menangkapnya.


"Kamu sendiri yang menempel padaku. Lagian minum kopi bekas bibir kamu lebih nikmat" lagi-lagi Chris mengedipkan satu matanya. Kedipan maut yang bisa membuat para wanita gerah. Ia kemudian mereguh perlahan kopi ditangannya hingga menimbulkan bunyi khas.


Adira tertegun. Pesona pria di hadapannya, benar-benar memabukkan. Dipadukan dengan setelan jas merah marun seperti ini semakin menambah kharisma pria yang akrab disapa Chris itu. Entah kenapa jantung Adira selalu berdebar kencang setiap kali mendapati tatapan dalam dari pria ini padahal ini sudah sering. Adira merasa seakan dirinya kembali jatuh cinta.


"Sudah puas melihatku" suara ngebass Chris seketika membuyarkan lamunan Adira.


Ini sangat konyol. Jangankan Chris. Semua orang yang melihat juga tidak akan percaya jika aku membencinya. Kenapa sulit sekali menjauh dari pria kejam seperti dia?, batin Adira gusar.


"Kamu tidak akan bisa membenciku apalagi membuatku menderita seperti ancaman kamu kemarin. Kamu itu terlalu mencintaiku" ucap Chris yakin dan sangat percaya diri. Pemilik sepasang retina yang selalu menatapnya penuh cinta itu tidak akan mampu mengubah rasa cinta menjadi rasa benci. Chris yakin tidak lama lagi, Adira akan luluh dan menerimanya kembali.


"Terserah kamu mau berpikir apa" balas Adira melengos pergi.


"Jangan lupa kamu masih punya hutang padaku" pekik Chris.


Hutang!


"Hutang apa? Aku tidak pernah pinjam uang sama kamu" pikiran Adira mengawan coba mengingat apakah ia pernah pinjam uang pada Chris.


"Kita masih punya sisa enam kali kencan. Dan sepertinya di kencan kedua, kamu harus tidur di ranjangku lagi" Chris melebarkan kakinya mendekat lalu berdiri berhadapan dengan Adira.


"Itu kadoku. Kamu sudah berjanji memberikannya. Sekarang aku ingin kadoku" Chris menenggelamkan kepalanya di ceruk Adira lalu menggigit nakal daun telinga gadis yang kini kaku seperti patung.


"Ahh" desah Adira sambil mundur satu langkah. Seketika bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin tak lagi terasa. Yang ada hanya hawa panas menyerang relungnya sekarang. "Gak akan" lanjutnya lantang dan segera berlalu meninggalkan rooftop.


Chris pun tersenyum miring setelah Adira pergi.


"Itu akan terjadi. Jika tidak hari ini, mungkin besok" Chris mengelus dadanya coba meredam hasratnya. Entah kenapa setiap kali bersama Adira, seketika gairahnya menjadi menggebu-gebu. Seakan hanya Adira yang bisa membangkitkan sisi gelap kelakiannya.


...------------------...


"Adira, desain yang aku suruh buat sudah selesai belum?" tanya Jhon merapat ke meja kerja Adira.


"Sudah hampir selesai pak. Tinggal detail-detailnya saja. Saya ada copy'annya di komputer. Pak Jhon mau lihat" semenjak Chris mengundurkan diri, segala tanggung jawab Chris dulu dipegang Jhon. Apapun yang dilakukan, Adira harus melapor terlebih dahulu pada Jhon karena hasil akhir ada di tangan Jhon sebelum diserahkan pada David selaku pemilik perusahaan.


Jhon menarik kursi roda lalu duduk di sebelah Adira. Keduanya seksama mengecek apakah ada yang kurang pas atau tidak cocok. Karena desain baru ini akan digunakan untuk produk baru J.O Company berikutnya.


"Hemm" dehem Chris sengaja saat melihat kedekatan Adira dan Jhon. "Kalian sedang apa?"


"Oh pak Chris sudah datang"


Sontak Adira melihat ke arah Jhon. Dari ucapannya sepertinya Jhon sudah tahu jika Chris kembali bekerja hari ini.


"Maaf Adira, aku tidak memberitahu kamu. Pak Chris hari ini kembali bekerja disini. Jadi mulai sekarang kamu harus melaporkan apapun itu pada pak Chris. Termasuk desain untuk produk baru kita. Dan selamat datang kembali pak Chris" ucap Jhon menyambut hangat kehadiran Chris kembali di J.O Company. Meskipun ada sedikit khawatir, Jhon tetap berusaha bersikap profesional. Jika ingin menuruti hatinya, sebenarnya Jhon tidak ingin Chris kembali karena dengan kembalinya Chris akan semakin menyulitkannya untuk mendapatkan hati Adira.


Adira merenung lama. Tentunya kehadiran Chris akan membuat benaknya bergejolak lagi. Hati yang tidak tenang sudah pasti akan menggangu fokusnya dalam bekerja.


Tuhan, kenapa kamu membawaknya kesini lagi?


Tok! Tok! Tok!


"Masuk"


Krekkk


"Ada apa pak David minta saya kesini?"


"Menikahlah dengan Emilly"