
Embun belum mau berlalu meninggalkan pagi. Hawa dingin menembus menusuk kulit. Air masih menggenang bekas hujan semalam. Adira malas beranjak dari kasur nyamannya. Selimut tebal yang menghangati tubuhnya tak ingin ia singkirkan. Ia benar-benar tidak ingin bangun. Tidurnya masih kurang karena semalam bergadang sampai jam 3 pagi. Dan sekarang harus bangun lagi untuk berangkat kerja.
Dengan langkah gontai dan mata yang masih terpejam, Adira meraih handuknya kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepanjang penjalanan ke kantor, Adira tak henti tersenyum membaca pesan-pesan manis yang dikirimkan Lisa, Maya, dan Farah. Sudah 3 tahun ini, ia merasa hari kelahirannya adalah hari yang sangat spesial. Ini semua berkat ketiga teman-teman karibnya itu. Hidupnya menjadi lebih berwarna tidak terlalu membosankan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Terima kasih semuanya. Kadonya jangan lupa ya" balas Adira di grup Obrolan Apa Aja. Tak lupa ia menyertakan emoticon love di akhir pesannya.
Begitu sampai di meja kerjanya, sebuah kue tart berukuran sedang menyambut kehadiran Adira.
"Surprise" Suara serentak bergema. Maya menghampiri sambil membawa kue.
"Sehat selalu ya"
"Bahagia selalu"
"Dan sukses selalu" ucap Lisa, Maya, Farah saling menimpal.
"Ooh sayang semuanya" Adira membentangkan lebar tangannya kemudian ketiga temannya itu menghambur dalam pelukan. Sebuah pemandangan yang sangat menentramkan hati.
"Ra, buruan tiup lilinnya ntar mati. Sebelumnya make a wish dulu ya"
"Thank you semuanya" ulang Adira berterima kasih setelah meniup lilin.
Entah memang waktu yang cepat berlalu atau Adira yang terlalu sibuk berkerja hingga lupa waktu. Tak terasa sudah hampir jam 2. Adira melihat ke arah ruangan Chris. Dari jendela yang tidak tertutup tirai, nampak jelas Chris tidak ada disana. Sejak pagi atasannya itu belum datang juga.
"Pak Chris kemana ya? Apa hari ini dia cuti?" tanya Adira dalam hati. "Kerjaanku makin lambat kalau pak Chris gak datang. Mana semua berkas ini belum di tanda tangan pak Chris lagi"
Pak Chris dimana?
Di lantai 1. Sebentar lagi saya ke atas.
Adira melepas nafas lega begitu membaca pesan balasan Chris. Ia tidak sabar ingin bertemu atasan killernya itu.
"Antar berkasnya ke ruangan saya, sekarang" ucap Chris buru-buru saat melewati meja kerja Adira.
Tok! Tok! Tok!
"Ini berkas yang harus pak Chris tanda tangan dan ini hasil desain saya untuk produk baru kita bulan depan pak" jelas Adira menyerahkan beberapa berkas kepada Chris.
Mata Chris memeriksa mendetail tumpukan berkas di atas mejanya. Tak lama ia pun menandatangi berkas itu sesuai arahan Adira. Kini ia tinggal mengecek rancangan desain yang dibuat Adira.
"Apa ini?"
"Itu desain produk untuk bulan depan pak"
"Ini apa?" tanya Chris lagi meninggikan nada bicaranya.
"Maksud pak Chris?"
"Kamu bilang ini desain. Gambar amatir begini, kamu bilang desain. Siapa yang mau beli produk kita kalau cover depannya begini? Mana ada yang akan tertarik" Chris menghentak kasar berkas desain di tangannya.
"Tapi saya melakukan sesuai yang pak Chris mau"
"Terus kamu mau menyalahkan saya untuk desain buruk ini" sahut Chris mendelik.
"Bukan gitu pak maksud saya" sangkal Adira cepat.
"Ini salah saya?"
"Tidak pak. Ini salah saya" sahut Adira sedikit menunduk.
"Terus ngapain masih disini?"
"Kalau boleh saya tahu dimana letak salahnya pak agar bisa saya perbaiki desainnya?" tanya Adira dengan suara bergetar.
Chris mendengus kesal.
"Tidak pak. Saya permisi dulu pak"
Chris menyandarkan punggungnya lalu menengadahkan kepala. Memutar kepalanya ke kiri memandang Adira dari balik dinding kaca ruangannya. Sebenarnya desain Adira tadi tidak terlalu buruk. Hanya perlu di perbaiki di beberapa sisi saja. Tidak seharusnya ia marah-marah seperti itu. Chris menyesali sikapnya merasa bersalah untuk perkataannya tadi.
"Harusnya aku tidak perlu marah sama Adira. Dia seharusnya tidak perlu kena imbas hanya karena masalah pribadiku" sesal Chris mengingat sikap buruknya beberapa saat yang lalu.
Ke ruangan saya, sekarang.
Adira segera bergegas setelah membaca pesan dari Chris. Ia tidak tahu apa lagi salahnya. Apa ini masih ada kaitannya dengan desainnya yang ditolak atau mungkin ada kesalahan lainnya.
"Ada apa pak Chris minta saya kesini?" Adira berdiri sedikit jauh dari meja atasannya itu. Ia teringat dengan kejadian satu tahun yang lalu dimana Chris melempar desain buruknya tepat di wajahnya.
Chris bangkit dari duduknya. Berdiri di sisi meja bagian depan dan menyilangkan tangannya di dada. Matanya menyoroti intens wanita dengan wajah tertunduk di hadapannya.
"Kamu mau hadiah apa dari saya?"
Adira menatap bingung.
"Selamat ulang tahun" sambung Chris menjawab rasa penasaran Adira.
"Hah pak Chris ingat ulang tahunku" gumam Adira tidak percaya.
Adira mengambil nafas sebentar. Mengumpulkan puing keberaniannya.
"Janji pak Chris akan kasih apapun yang saya minta?"
"Hmm"
"Berkencanlah denganku tiga kali. Kita pacaran"
Pupil Chris refleks mengecil mendengar permintaan nyeleneh bawahannya itu.
"Baiklah" jawabnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Kamu yang memulainya. Jadi jangan baper. Saya sedang merencanakan pernikahan dengan Emilly. Saya bisa menyakiti kamu kapan saja"
"Saya yang ada disini. Jadi jangan membicarakan orang lain saat kita sedang bersama. Itu aturan pertamanya" Adira menghentikan pergerakannya begitu bibir ranumnya tiba tepat di depan bibir Chris.
"Aku yang harus memulainya lebih dulu jika ingin berciuman. Dan harus izin dulu" sambung Adira mengatakan aturan kedua.
"Kalau begitu minta izin sekarang"
"Maksudnya?"
"Kamu mau mencium saya kan?" ucap Chris mengedipkan matanya menggoda.
Adira membuka sedikit mulutnya. Apa yang ingin dikatakan terhenti begitu saja. Ia malu jika harus meminta izin untuk berciuman.
"Peraturannya di rubah saja. Harus saya yang mencium duluan. Dan tidak perlu izin"
"Tidak setuju" tolak Chris tegas. "Harus izin dulu sebelum berciuman. Atau saya yang cium duluan. Mari lakukan kencan ini dengan penuh gairah" Chris menarik pinggang Adira masuk diantara kedua belahan kakinya.
Kini tubuh ramping itu menempel di dada bidangnya. Chris mengankat wajahnya menggambar wajah menawan dihadapannya dalam ingatan. Senyumnya manis dikulum melihat wajah Adira yang tampak tegang.
"Pak, yang lain bisa melihat kita" ucap Adira berbisik lirih.
Seakan mengerti dengan kode Adira, Chris langsung meraih remot kontrol yang tergeletak tidak jauh dari dirinya. Kini dinding kaca itu telah tertutupi tirai.
"Kamu harus minta izin dulu jika mau mencium saya" ucap Chris sembari memandang bergairah bibir merah muda di hadapannya.
" Pak" mengambil jeda sesaat sambil memainkan jempolnya di bibir Chris. "Tidak untuk sekarang" goda Adira berbisik. Ia lalu mendorong pelan ujung pundak atasannya itu dan segera berlalu pergi.
Chris hanya bisa tersenyum simpul menghadapi sikap Adira yang semakin nakal. Namun Chris merasa sikap agresif Adira sekarang hanya sekedar ingin menjawab rasa keingintahuan gadis itu saja. Tentang bagaimana rasanya berciuman? Bagaimana rasanya saat melakukan skinship dengan lawan jenis? Juga tentang bagaimana rasa berhubungan dalam konteks dewasa?
"Adira, apa kamu melakukannya hanya ingin menjawab rasa penasaran kamu saja? Saya harap saat kita bersentuhan, kamu benar-benar menikmatinya" ucap Chris mengira sambil memandang Adira dari balik dinding kacanya.