
Pagi ini Adira bangun terlambat. Ia mengucek-ucek matanya lalu melihat sekeliling. Tidak ada manusia lain selain dirinya. Adira beranjak dari kasur melangkah ke kamar mandi. Setelah mencuci muka, ia menyusuri setiap sudut apartement. Keadaannya begitu senyap. Ia berjalan ke arah dapur. Hidungnya mengendus aroma nikmat dari makanan yang tersaji di atas meja. Adira yakin makanan ini pasti Chris yang membuatnya.
"Tapi Chris kemana ya? Kok gak ada" Adira masuk ke kamar lagi, menuju balkon. Mungkin saja Chris ada di sana.
Namun ternyata sama saja. Chris juga tidak ada di sana. Adira pun meraih ponsel di atas kasur dan mendial nama suaminya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Adira berbaring tak bersemangat di atas kasur. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Tidak biasanya Chris pergi tanpa memberi kabar padanya. Dan tidak biasanya Chris pergi saat ia sedang tertidur. Kalaupun dalam keadaan mendesak, Chris selalu membangunkannya.
"Apa dia benar-benar marah?" ucap Adira lirih.
Adira bangkit dari kasur. Perasaannya tidak tenang. Chris tidak bisa dihubungi. Dan sekarang ia tidak tahu, suaminya itu ada dimana. Adira membulatkan mata begitu menyadari ada notifikasi dari aplikasi logo hijau yang tertera di layar depan ponselnya.
Aku keluar sebentar, ada urusan. Jangan buka pintu untuk siapapun. Aku akan segera kembali.
"Urusan apa? Kok kayaknya rahasia banget" gumam Adira penasaran.
Setelah mendapat kabar dari sang pujaan hati, tiba-tiba Adira merasa lapar. Untung saja Chris sudah memasak sesuatu. Jadi ia tidak perlu repot-repot lagi memasak dan tinggal makan saja.
"Hmm suamiku itu emang best" puji Adira tak henti tersenyum lepas sembari memindahkan lauk ke dalam piring.
...-------------...
Di sebuah kafe dengan konsep alam dimana sebagian bangunan berasal dari kayu, tampak dua orang pria sedang berbincang serius.
"Kamu yakin HP ini punya pria itu?"
"Yakin pak. Jika saja dia tidak kabur naik motor, saya pasti sudah menangkapnya pak. Dan HP ini saya temukan di lokasi saat saya memukulnya" tutur Rama menjelaskan kejadian saat ia melindungi Adira.
"Kamu sudah copy data dari HP ini?"
"Sudah pak. Saya akan menyelidiki setiap kontak yang berhubungan dengannya" ucap Rama.
Chris mengangguk pelan.
"Segera hubungi saya jika ada informasi terbaru. Saya akan memberi kamu bonus dua kali lipat jika kamu berhasil menemukan dalangnya. Terima kasih, Rama"
Chris melebarkan kaki meninggalkan kafe. Walaupun belum menemukan pelaku yang mengincar nyawa istrinya, tapi setidaknya sekarang ada secerca harapan. Tidak lama lagi ia akan tahu siapa orang itu.
Di tengah perjalanan pulang, Chris tidak sengaja melihat sebuah toko bunga. Ada banyak bunga dengan macam-macam jenis di sana. Dan juga bermacam warna. Ada warna merah, putih, kuning, ungu, dan warna lainnya. Semuanya tampak indah dengan wangi semerbak. Tanpa ragu, Chris memilih bunga mawar putih yang menjadi jenis bunga kesukaan istrinya.
Pukul sepuluh kurang, Chris tiba di apartement.
"Hmm" dehem Chris nyaring. Ia sengaja melakukannya untuk memberitahu Adira jika ia sudah kembali.
Saat ini Adira sedang menonton acara TV kartun Doraemon yang biasanya ditayangkan di hari minggu. Di zaman digital modern ini, cukup beruntung jika kita masih bisa menonton acara kartun di Televisi. Mengingat sekarang stasiun TV sedang berlomba-lomba menayangkan sinetron yang terkadang tidak ada edukasinya untuk penonton.
"Kamu sudah pulang?"
"Belum" sahut Chris malas. "Lalu aku apa, hantu?" lanjutnya dalam hati.
Adira mengerucutkan bibirnya hingga maju ke depan.
"Jutek banget sih. Wah mawar putih. Untuk aku ya. Sini" sambutnya sambil menjulurkan tangan dan tersenyum manis.
"Bukan" Chris menaruh bunga di atas meja dan berlalu ke dalam kamar.
Chris hampir saja mengagalkan rencananya sendiri. Ia seharusnya tidak menegur sang istri dan berpura-pura masih marah. Biar bagaimanapun Adira harus diberi pelajaran karena sudah melangggar aturannya.
Chris merentangkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua lengan sebagai tumpuan kepala, menggantikan peran bantal. Detik-detik berlalu namun Adira belum masuk juga. Chris mulai gelisah ingin keluar kamar. Tapi saat ini ia sedang pura-pura marah. Bisa ketahuan kalau ia keluar kamar dan menghampiri Adira.
Tapi aku ingin memeluknya, batin Chris gusar.
"Nah itu dia" Chris memejamkan mata begitu mendengar langkah Adira memasukki kamar.
Adira memandang intens wajah Chris lalu melambaikan tangan untuk memastikan apakah suaminya itu benar-benar sudah tidur.
"Cepat banget tidurnya. Tapi baguslah. Jadi aku bisa bebas memeluknya" ucap Adira riang.
Adira menaikki kasur, berbaring di sebelah Chris dan mengalungkan tangannya di perut berotot sang suami. Wajah mulusnya menempel manja di dada Chris. Tidak ada lagi jarak diantara sepasang suami istri itu.
Adira yang hanya pura-pura tidur dapat merasakan saat tangan Chris melingkar di punggungnya lalu menariknya dalam dekapan.
Jadi Chris tidak marah lagi.
Satu kecupan dalam menghampiri bibir berisi Chris. Adira ingin tahu, apakah Chris akan tetap diam jika ia menjadi istri liar di atas kasur.
Adira tersenyum seringai setelah mengecup bibir Chris untuk yang kedua kali. Suaminya itu tetap tidak bergeming. Adira sangat yakin, Chris hanya pura-pura tidur dan pura-pura marah.
Mau ngerjain aku ya.
Adira kembali mendaratkan bibirnya lalu mengigit kuat bibir bawah Chris.
"Awww, sakit" sontak Chris langsung membuka mata dan duduk.
Adira tersenyum puas.
"Tu kan cuman pura-pura tidur. Kamu gak marah lagi kan?"
"Masih" sahut Chris sembari menggosok bibirnya.
"Bohong. Itu kamu beli bunga mawar putih kesukaanku. Berarti kamu gak marah lagi. Tadi juga kamu meluk aku"
"Kamu pura-pura tidur?"
"Iya"
Chris mengalihkan pandangannya. Sekarang ia tidak bisa mengelak lagi.
"Udahlah, kamu itu emang gak bisa marah lama-lama sama aku. Iya kan...iya kan" Adira menarik gemas wajah Chris dan memainkannya seperti anak bayi.
"Apaan sih. Aku masih marah ya sama kamu" ucap Chris beranjak dari kasur.
Dengan sigap Adira mencekam lengan kokoh Chris.
"Mau kemana? Main yuk"
Chris memutar bola matanya, coba memahami kata main yang diucapkan sang istri.
"Main apa?" tanya Chris ingin memastikan pikirannya. Karena setahunya ia tidak bisa main begituan mengingat Adira sedang hamil.
"Ya main itu" Adira tidak mengatakan secara gamblang untuk membuat Chris semakin panas.
Chris menaikkan alis kanannya. Gairahnya mencuat begitu saja.
"Memangnya sudah boleh?"
Adira mengangguk malu.
"Aahhaa aku malu" Adira menarik selimut dan menutupi wajahnya.
Chris tertawa tertahan melihat tingkah menggemaskan istrinya. Ia menyingkirkan selimut kemudian menindih tubuh Adira.
"Kata dokter boleh tapi pelan-pelan" Adira kembali menutupi wajahnya. Kali ini dengan sepuluh jarinya. Ia sangat malu, kenapa bisa mengatakan kalimat gila itu.
Chris menyingkirkan tangan itu dari wajah wanita di bawahnya. Untuk beberapa detik keduanya saling menatap dalam diam.
"Jangan menatapku seperti ini. Aku semakin gugup" ucap Adira dengan rona di pipinya.
Dalam sekejab bibir Adira tidak terlihat, tenggelam ke dalam mulut pria di atasnya. Sentuhan lembut dan permainan mahir Chris membuat tubuh Adira panas seketika.
"Kamu bilang masih marah"
"Sekarang tidak"
"Kok bisa cepat banget berubah?"
"Entahlah"
Percakapan singkat itu semakin menambah keintiman mereka. Setiap bagian tubuh Adira tidak luput dari sapuan bibir kenyal Chris. Adira tahu, Chris sedang menahan sisi liarnya dalam bercinta. Namun permainan pria di atasnya tetap saja membuatnya terbuai dalam fantasi yang memabukkan. Hingga lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya.