
"Selamatkan istri saya dok. Dia hidup saya. Jadi tolong selamatkan istri saya" ucap Chris pilu.
Adira di bawah ke ruang operasi. Chris dan yang lainnya menunggu di luar dengan perasaan khawatir mencekam. Doa tak hentinya dipanjatkan untuk keselamatan Adira dan bayinya.
Di tempat lain, Rama dan Jhon berhasil menangkap orang yang membuat Adira celaka. Setelah tiba di kantor polisi, kedua penjahat itu diinterogasi dengan beberapa pertanyaan. Salah satunya tentang motif mereka mencelakai Adira. Namun hampir satu jam dicerca pertanyaan, kedua penjahat itu tak bergeming. Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan dari mereka. Jawaban yang mereka sampaikan juga tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Polisi masih ragu meskipun mereka tampak yakin dengan jawaban yang diutarakan.
Mau tidak mau cara kasar dilakukan para aparat untuk membuat kedua penjahat itu mengaku.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian?" desak salah satu polisi sambil menginjak kuat jemari penjahat itu.
"Ampun pak ampun" mohon si penjahat agar polisi berhenti memukulnya.
Polisi satunya lagi mengeluarkan sebuah pistol untuk menekan si penjahat agar berbicara.
"David Jo Sanjaya. Dia yang menyuruh kami" si penjahat pun bersimpuh dan memohon agar diberikan ampunan.
Setelah mendapat pengakuan dari kedua penjahat, polisi pun langsung bertindak cepat mencari keberadaan David Jo Sanjaya. Hari yang kurang beruntung bagi aparat karena setelah ditelusuri ke rumah mewah David, ternyata CEO J.O Company itu sedang berada di luar negeri. Polisi pun bertanya kepada satpam dan art yang menjaga rumah David. Dari keterangan yang mereka dapat, David mempunyai putri tunggal bernama Emilly.
📞 Hallo. Ya benar, saya Emilly.
"Apa pak? Papa saya gak mungkin berbuat seperti itu pak" ucap Emilly shock setelah polisi memberitahunya jika papanya ikut terlibat dalam kejadian yang membuat istri mantan tunangannya sedang bertaruh nyawa di ruang operasi sekarang.
Emilly memberi jawaban seadannya atas pertanyaan polisi yang dilontarkan padanya. Ia sama sekali tidak tahu jika papanya bertindak sejauh ini. Ada perasaan marah, kecewa, dan yang paling besar, Emilly merasa paling bersalah dengan kejadian ini. Ia yakin papanya berbuat begitu karena sakit hati melihat putrinya ditinggal begitu saja oleh Chris.
"Papa tidak seharusnya melakukan itu" gumam Emilly lirih. "Maafin aku pa" sambungnya lemas.
David memang dikenal sosok yang tegas dan keras. Tapi Emilly sangat mengenal papanya. Di balik sifat keras itu , Emilly bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar yang selalu diberikan sang papa padanya. Hanya saja, Emilly masih sulit percaya jika papanya menjadi gelap mata karena dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Papanya bersalah dan harus mendapat hukuman.
...---------------...
Lampu yang ada di atas pintu ruang operasi menyala, pertanda jika proses operasi sudah selesai. Tak lama, terdengar suara tangisan bayi. Maya, Lisa, Farah yang tetap setia menunggu, seketika mata mereka berbinar haru setelah mendengar tangisan bayi. Begitupun dengan Chris, bahunya bergetar seiring dengan tangisnya yang tidak bisa ditahan lagi. Anak yang dinantikannya sudah lahir ke dunia.
Sekitar 15 menit setelah operasi selesai, seorang suster keluar sambil menggendong seorang bayi yang masih merah. Suster itu melangkah ke ruangan bayi untuk meletakkan bayi yang ada dalam gendongannya di sana.
"Suster itu anak saya?" tanya Chris sebelum suster melangkah lebih jauh.
"Iya pak. Sekarang bayinya harus dibawah ke ruangan bayi dulu. Pak Chris boleh ikuti saya"
"Terus istri saya gimana sus keadaannya?"
Suster tidak menjawab. Ia berjalan terus menuju ruangan bayi.
Melihat suster yang membisu membuat benak Chris bergemuruh hebat. Chris pun bertanya-tanya kenapa dokter yang membantu kelahiran istrinya masih belum keluar juga dari ruang operasi. Perlahan ia menekan handle pintu pintu lalu masuk ke sana.
Seketika tubuhnya lemah tak berdaya begitu melihat tubuh Adira yang terbujur kaku di atas ranjang operasi.
"Dok, gimana keadaan istri saya?" airmata Chris kembali mengalir membasahi pipi.
Dokter menggelengkan kepala sebelum bicara.
"Maaf pak. Kami tidak bisa menyelamatkan bu Adira"
Chris menangis sejadi-jadi. Meraung nyaring hingga ruang operasi yang tadi senyap, kini dipenuhi suara tangisan.
"Kenapa dok? Sudah saya bilang selamat istri saya" ucap Chris tercekat.
"Ini permintaan bu Adira pak"
Chris menegakkan wajah. Tersirat pertanyaan besar dari sorot matanya. Ia tidak mengerti ucapan wanita berseragam putih di depannya.
* 2 jam yang lalu
Saat tiba di ruang operasi, Adira tiba-tiba mencengkram tangan dokter yang akan mengoperasinya. Dengan rasa sakit yang semakin intens, Adira menyampaikan permintaan terakhirnya.
"Dokter, selamatkan anak saya" pinta Adira penuh harap.
"Kami akan berusaha untuk menyalamat keduanya bu"
"Gak dok, saya mendengar apa yang dokter bicarakan dengan suami saya tadi. Aahh" jerit Adira menahan rasa sakit. "Tolong selamatkan anak ini dulu dok. Hah" Adira menurunkan kepalanya dan membuang nafas panjang. "Saya sudah berjanji pada suami saya dok untuk melahirkan anak ini. Jadi saya mohon dok, selamatkan anak kami"
Dokter bersiap untuk melakukan operasi.
"Dok, saya mohon selamatkan anak ini" mohon Adira menyayat hati.*
7 tahun kemudian....
"Papa" teriak seorang anak kecil berseragam merah putih.
"Upph anak papa" sambut Chris memeluk putri kecilnya. "Lain kali jangan lari kayak gitu lagi. Papa tidak mau kamu jatuh" ucap Chris khawatir, tidak ingin putri kesayangannya terluka.
"Ok papa" anak kecil itu tersenyum ceria.
"Pintar anak papa. Sekarang kita pulang. Tapi sebelumnya kita beli ice cream dulu"
"Yeahhhh" teriak si gadis kecil sambil mengankat tangannya ke atas.
Malam semakin larut. Dan putri kecilnya juga sudah tidur. Chris melebarkan kaki ke arah balkon. Dari sini, ia dapat melihat dengan jelas gemerlap bintang di langit dan cahaya rembulan yang indah. Di tempat ini pula, ia sering menghabiskan waktu bersama Adira, wanita yang sangat dicintainya dan sampai sekarang bersemayam abadi di dalam sanubarinya.
Chris menengadahkan kepala melihat langit. Hanya butuh beberapa menit saja bagi kedua bola matanya mengeluarkan airmata. Ya, sampai sekarang, dadanya selalu sesak setiap kali mengenang kebersamaan dengan istri tercinta yang kini telah pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta.
"Kenapa kamu sangat kejam? Pergi tanpa pamit. Bukankah aku sering bilang, pamit dulu jika ingin pergi" Chris menundukkan wajah sambil menyeka airmatanya. "Aku sangat merindukan kamu, Adira" ujarnya terisak.
Keesokan harinya, seperti rutinitas biasanya, Chris disibukkan dengan segala kebutuhan putri kecilnya di pagi hari. Memasak sarapan, menyiapkan bekal, memandikan putrinya, Chris melakukan itu sendiri meskipun di rumah ada asisten rumah tangga yang siap membantunya 24 jam. Namun Chris tidak mau semua keperluan anaknya dilakukan oleh art. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk memantau pertumbuhan anaknya dari usia dini hingga kelak menjadi wanita dewasa. Chris tidak mau melewati setiap moment pertumbuhan putrinya.
"Ayo sayang kita berangkat sekarang" ajak Chris seraya mengenggam jemari kecil anaknya.
"Tapi pa, hari ini Adira tidak bisa berangkat sekolah sama papa" ucap Adira polos.
"Loh kenapa gitu?" Chris berjongkok mensejajarkan tinggi dengan putrinya.
"Karena kami yang akan mengantar Adira ke sekolah" sahut Maya ditemani Lisa dan Farah.
Chris tersenyum lebar. Ia sedikit terkejut melihat ketiga teman istrinya itu. Entah sudah berapa lama Chris tidak bertemu dengan mereka.
"Boleh kan?" lanjut Lisa.
Chris mengangguk setuju.
"Pak Chris saya menemukan ini pas bersih-bersih gudang kemarin" bi Irma menyodorkan sebuah buku diary yang telah usang.
Ingatan Chris kembali ke masa 7 tahun yang lalu. Ia ingat betul, sampul depan diary di tangannya sama dengan diary yang dibeli Adira waktu itu.
"Chris, kami berangkat duluan ya. Adira pamit dulu sama papa" ucap Farah.
"Iya sayang, hati-hati. Tolong jaga Adira" ucap Chris menoleh kepada ketiga wanita dewasa di hadapannya.
Chris duduk di sofa lalu membuka diary usang di tangannya. Dan ternyata benar, diary ini punya Adira. Chris masih sangat mengenal tulisan wanitanya itu.
Lembar demi lembar, Chris membaca isi diary. Hingga sampailah di lembar yang membuatnya menangis tersedu.
Hai, Chris Evraro,
Sekarang aku akan menulis kisah kamu dan Adira Karya. Ya benar sekali, kisah kita. Operasi itu sudah membuat sebagian ingatan kamu hilang termasuk tentang kita. Karena itu akan menulis dari awal pertemuan kita. Sebenarnya aku melihat kamu jauh sebelum aku masuk ke J.O Company. Hari itu kamu menjadi salah satu motivator di sebuah event. Aku langsung terpesona dengan kharisma yang kamu miliki. Suara kamu saat berbicara dan cara kamu berjalan, walaupun singkat tapi aku memperhatikan kamu sedetail itu. Lalu dua bulan setelah itu, aku diterima bekerja di J.O Company.
Ternyata kamu sangat menyebalkan. Suka marah-marah. Selalu memberiku banyak tugas. 5 hari dalam seminggu aku selalu lembur sampai larut malam. Itu semua karena kamu.
Tiba-tiba Chris merasa sakit di kepalanya. Tubuhnya menggeliat dan memukul pelan kepalanya. Itu berlangsung beberapa menit lamanya. Kepala Chris berdenging semakin nyaring. Hal tak terduga terjadi, pecahan-pecahan kenangan yang dulu hilang tak bersisa, kini mulai berkumpul lagi. Kenangan pertama yang terlintas di kepala Chris ialah pertemuan pertamanya dengan Adira.
Kepala Chris berhenti berdenging. Ia melanjutkan membaca diary.
Aku seperti orang stress setiap datang ke kantor. Itu semua karena pekerjaan yang kamu berikan. Anehnya aku tidak mau berhenti dan tetap mengikuti kamu. Itu karena sejak pertama aku melihat kamu, aku sudah jatuh hati padamu.Tiga tahun lamanya aku memendam rasa sendiri sampai hari itu tiba.
Hah!
Sebenarnya aku malu menulis ini.
Hari itu kamu menciumku untuk yang pertama kali. Hmm ciuman itu sama sekali tidak romantis. Karena kamu menciumku di gudang. Dan tubuhku hari itu penuh dengan debu. Kamu memaksa dan tetap menciumku meskipun aku menolak. Kamu pasti tidak mengingat moment ini kan?
"Tapi akhirnya, kamu menikmati ciuman itu" sambung Chris tersenyum getir. "Aku ingat. Aku ingat semuanya" Chris menepis genangan airmata yang ada di dalam kelopak matanya.
Hubungan kita di mulai saat itu. Kamu suka memaksa dan aku selalu berusaha menolak. Namun akhirnya, aku yang kalah dan terbuai dengan sentuhan kamu di tubuhku. Hubungan kita berjalan rumit dan panjang. Lalu hari yang membuatku sangat marah tiba. Kamu menyembunyikan berita yang sangat besar. Kamu tidak memberitahuku jika kamu sedang sakit.
Aku singkat saja. Aku takut kamu bosan membaca ini.
Chris tersenyum kecil.
Hari yang sangat menyakitkan itu tiba. Aku terbangun dari masa kritis dan ibu memberitahuku jika aku sudah sah menjadi istri Chris Evraro. Dalam sekejab pernikahan impianku sirna.Ternyata aku tidak salah. Kamu memang sangat menyebalkan.
"Aku minta maaf. Maafin aku" sesal Chris sesak dan merasa bersalah. Ia tidak tahu pernikahan impian seperti apa yang Adira impikan.
Tapi aku tidak pernah menyesal menjadi istri kamu. Jadi kamu jangan merasa bersalah. Kenapa itu hari yang menyakitkan? Karena kamu bangun tanpa mengingatku. Kamu melupakan semua kenangan kita. Hah...rasanya saat itu, aku ingin sekali menghantam kepala kamu dengan batu agar kamu mengingatku.
Chris membuka lembaran berikutnya.
Akhirnya kabar yang kita tunggu datang juga. Aku hamil. Aku melihat wajah kamu sangat bahagia hari itu. Senyum kamu lepas seperti sayap burung yang mengepak bebas.
Kamu sangat menanti kelahiran anak kita. Aku dapat merasakan itu. Kamu pernah memintaku berjanji, agar aku memiliki anak dari kamu saja. Aku akan menepati janji itu.
Aku persingkat lagi ya.
Semakin mendekati hari persalinan, mimpi itu semakin sering datang. Di dalam mimpi itu, aku melihat kamu sedang berlarian di taman dengan gadis kecil. Kamu terlihat sangat bahagia. Kalian tertawa sambil menikmati ice cream. Namun sayangnya tidak ada aku di sana. Aku tidak tahu, apa maksud mimpi itu? Tapi aku mulai berpikir, mungkin sesuatu yang besar akan terjadi.
Sayang, saat ini aku sedang menangis. Aku takut setiap kali mengingat mimpi itu. Bagaimana jika mimpi itu beneran terjadi? Apa yang harus aku lakukan?
Sayang, berjanjilah kamu akan hidup dengan baik jika aku tidak ada.
Chris pun menangis sejadi-jadinya sambil memeluk diary. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa sakit hatinya saat ini.
Aku yakin kamu akan menjaga putri kecil kita dengan sangat baik. Karena itu aku tidak akan meminta kamu untuk membuat janji.
Sayang, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Menangislah sebentar saja. Lalu hiduplah dengan tertawa.
Oh iya. Kamu selalu bilang, pamit dulu jika mau pergi. Tapi aku tidak bisa pamit secara langsung sama kamu. Jadi aku akan pamit di sini saja. Aku akan pergi. Dan jika kamu membaca ini. Itu artinya, aku tidak akan pernah kembali. Tapi aku tidak akan pergi sepenuhnya dari kehidupan kamu. Aku akan meninggalkan hatiku di sini.
Sayang, aku pamit ya. Jangan marah lagi ya.
Aku sangat mencintai kamu.
_Adira_
"Aku juga...aku sangat mencintai kamu, Adira Karya" Chris kemudian berdiri setelah mengatasi tangisannnya. Perasaannya kini lebih plong.
Terima kasih, karena mengingat ucapanku. Terima kasih sudah berpamitan sebelum pergi. Aku akan hidup dengan baik, seperti yang kamu mau, batin Chris sambil menatap langit.
...----------...
Di perjalanan menuju gedung sekolah putrinya, Chris mendapatkan panggilan telepon yang berhasil membuat jantungnya berhenti beberapa detik. Maya mengabarkan jika Adira hilang saat sedang bermain di taman. Dan sekarang putrinya sedang dicari.
Di tempat lain, Adira berlari kencang menuju sebuah motor. Ia ingin membeli ice cream yang dijajakan pemilik motor itu. Namun karena tidak melihat jalanan di bawahnya, Adira tidak sengaja menginjak sebuah lubang yang tidak terlalu dalam. Tampak ada goresan merah di lutut Adira.
"Aww" ringis Adira merasakan sakit di area lututnya. "Papa, tolong Adira" rengeknya mulai menangis.
"Sayang kamu kenapa?" seorang gadis mendekati Adira.
"Adira jatuh"
"Oh jatuh. Sini kakak bantuin ya" gadis itu membawah Adira ke tepian taman. "Wah lutut kamu kamu gak papa. Cuman tergores dikit saja. Jangan nangis lagi ya"
"Beneran kak?" tanya Adira khawatir.
"Iya tidak apa-apa sayang. Mama papa kamu mana? Kok kamu sendiri?"
Adiraaa
Sontak Adira dan gadis itu menoleh pada si pemilik suara.
"Papa" Adira segera menghambur ke pelukan Chris.
"Sayang kamu kemana saja? Papa khawatir banget sama kamu"
Chris mengelus-elus lengan putrinya.
"Lutut kamu kenapa?"
"Tadi Adira jatuh pa. Lutut Adira tergores. Tapi kata kakak itu, lutut Adira tidak apa-apa pa" ucap Adira sambil mengacungkan telunjuk pada gadis yang menolongnya.
Gadis itu berjalan mendekat dengan hati yang berdebar tak karuan. Tiba-tiba dadanya terasa teramat sesak. Ia tidak tahu kenapa hatinya terus berdebar kencang saat melihat wajah pria yang kini berdiri di depannya. Gadis itu menatap Chris dalam dan intens.
"Sebenarnya pria ini siapa? Kenapa hatiku berdebar seperti ini? Dan kenapa semakin lama melihatnya, mataku semakin panas" ucap si gadis dalam hati. Ia membuang muka sejenak untuk menyeka bulir di sudut matanya.
Sebenarnya hati siapa yang ada di dalam tubuhku?
Selesai....