
Tepat pukul 06.00 am terdengar bunyi nyaring alarm HP yang tergeletak di atas nakas. Layaknya robot yang telah di setel waktu, Adira langsung terbangun begitu saja. Ia pun buru-buru meraih HP dan mematikan alarm agar tidak membangunkan pria di sebelahnya. Semalam sebelum tidur, Adira sudah mengatur alarm HP nya agar berbunyi di waktu yang diinginkan. Adira sengaja melakukan itu karena ia ingin bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal spesial untuk Chris.
5 menit pertama, Adira belum bergerak dari kasur. Ia diam sejenak untuk mengumpulkan pecahan-pecahan nyawa yang entah ada dimana. Setelah itu, Adira beranjak dari kasur dan menyingkap sebentar horden yang menutupi dinding kaca. Tampak di luar apartement cuaca sangat tidak bersahabat.
"Hujannya deras banget. Huu dingin banget" gumam Adira sambil mengankat pundaknya sesaat.
Di dapur bersih itu, Adira mulai mengeluarkan bahan-bahan seperti wortel, telur, daun bawang, dan bahan pelengkap lainnya. Ia akan memasak telur dadar padang yang menjadi salah satu menu andalan sang suami saat mampir ke rumah makan padang. Memang menu ini bukan menu favorit Chris yang utama. Tapi cukup sering Adira melihat Chris memesan menu ini saat makan siang. Itu waktu Chris masih bekerja di J.O Company.
Sambil bersenandung ria, Adira memotong wortel menjadi bagian kecil. Dilanjutkan memotong daun bawang lalu menambahkan potongan cabai agar ada sensasi pedas dari masakannya. Resep ini, Adira dapatkan dari mbak google yang super baik. Bagaimana tidak baik karena apapun yang ingin dicari ada di sana, hehe.
Setelah mencampur semua bahan menjadi satu, barulah Adira mengocok telur agar tercampur merata. Sembari menunggu telur matang sempurna, tak lupa Adira memasak nasi. Gak lucu kan kalau ada lauk tapi gak ada nasi.
"Hah! Kok sudah terang banget" ucap Adira kaget seraya mengintip dari balik jendela. "Bener ya, udah terang banget ini. Jam berapa sih?" Adira pun pergi ke kamar.
"What, kok sudah jam delapan. Padahal belum sampai satu jam aku masak" Adira terlihat bingung. Ia yakin semalam menyetel alarm jam 06.00 am.
Tanpa sepengetahuan Adira, Chris sebenarnya telah menyetel ulang alarm HP. Ia tega membiarkan sang istri bangun terlalu pagi hanya untuk menyiapkan makanan untuknya.
"Pagi"
"Astaga" sahut Adira refleks saat tiba-tiba Chris menyapanya. "Kamu sudah bangun?"
"Belum"
Seketika mata Adira mengelas tajam. Mana ada orang tidur bisa ngomong.
"Sini" titah Chris samping menepuk kasur.
Adira menurut patuh. Ia masuk ke dalam selimut yang sama. Dan tentu saja tubuhnya langsung tenggelam dalam dekapan Chris. Dan seperti biasa, Chris dengan rasa laparnya tidak akan membiarkan bibir Adira menganggur. Cumbuan hangat di pagi hari berlangsung panas dan mengairahkan. Seperti vacum cleaner penyedot debu, bibir Adira menempel lekat di bibir sang suami. Saling berbalas bibir hingga menimbulkan bunyi kecapan dari kecupan sepasang suami istri itu.
"Oh iya telurku" Adira mendorong keras dada bidang Chris. Dan segera berlari kecil ke dapur.
Dan benar saja, Adira mencium bau gosong dari telurnya.
"Yahh...telurku" dengan sigap Adira membalikkan telur. "Huuu" sambungnya sedikit lega karena ternyata gosongnya hanya sedikit dan masih bisa dimakan.
"Kenapa? Telurnya gosong ya?" tanya Chris tanpa rasa bersalah. Tangannya bergerak nakal melingkar di pinggang sang istri.
"Hmm ini gara-gara kamu. Masih pagi juga udah main cium sana cium sini" tuduh Adira cemberut. "Tu kan telurnya gosong. Untung saja masih bisa dimakan. Kamu gak papa kan kalau telurnya sedikit gosong?"
"Apapun yang kamu masak pasti aku makan. Asal jangan racun saja" sahut Chris bercanda.
Adira tersipu malu dengan senyum simpul. Mendadak pipinya merona. Entah sampai kapan, ia akan salah tingkah seperti ini? Padahal pria berotot di hadapannya telah sah menjadi suaminya tapi tetap saja ia selalu berdebar saat Chris mengeluarkan kalimat simple tapi manis seperti itu.
"Kenapa nunduk? Muka kamu merah lagi. Salting ya?" ledek Chris menggoda.
"Ihh apaan sih. Siapa juga yang salting. Masa salting sama suami sendiri"
"Kalau kamu salting sama cowok lain, aku akan memukul orang itu sampai babak belur" sahur Chris tersenyum tipis tapi dengan sorot mata serius.
Deg!
Jantung Adira semakin berdebar keras.
Ini gila sih. Masa aku jatuh cinta sama suamiku lagi, batin Adira.
"Udah ah, lepasin tangan kamu dari pinggang aku. Aku mau masak satu menu lagi. Sekarang buruan kamu mandi, terus kita sarapan"
Beberapa menit kemudian....
Chris keluar dari kamar dengan setelah jas warna navy. Dilengkapi jam tangan serta rambut disisir klimis, semakin membuat kharisma Chris meledak-ledak.
"Hmm kamu kok keren banget sih" puji Adira resah.
"Bagus dong. Itu artinya kamu wanita yang beruntung"
"Aku gak suka kamu keren gini"
Adira tiba-tiba khawatir. Bagaimana jika di luaran sana, ada cewek yang berusaha menggoda suaminya?
"Kenapa? Katanya keren. Terus sekarang kamu bilang gak suka"
"Gimana nanti kalau ada cewek yang naksir kamu? Kamu itu ganteng, keren, tubuh kamu bagus, dan sekarang kamu CEO juga. Aku dulu pernah nonton drakor, yang pemeran cowoknya tampan dan CEO kayak kamu gini. Terus banyak cewek yang tertarik. Terus cowok itu jadi terpengaruh dan akhirnya mereka pacaran dan....
Chris menangkup wajah Adira lalu mendaratkan ciuman lembut. Seketika ucapan Adira terpotong.
Kemudian kembali mengecup bibir sang istri singkat. "Masih takut?"
Adira tidak dapat berkata-kata lagi. Ini terlalu romantis. Pengakuan Chris terdengar sangat meyakinkan dan sentuhan itu begitu menenangkan kalbu. Sikap pria seperti ini tentu saja akan membuat hati yang beku seketika meleleh.
Adira sendiri tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba ia merasakan takut yang berlebihan begitu. Padahal selama ini suaminya itu memang selalu keren bahkan pakai baju apa saja terlihat keren. Tapi kenapa hatinya gelisah dan takut sang suami akan digaet wanita lain. Mungkin ini yang dinamakan sindrom ibu hamil? Perasaan menjadi lebih sensitif.
...----------------...
Secangkir kopi instan hangat menemani Chris yang sedang memandang kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Sesekali ia tertawa kecil mengingat kekhawatiran serta sikap manja Adira tadi. Itu sangat menggemaskan dan sampai sekarang, terus membuat hatinya berdebar tidak karuan.
"Sekarang aku percaya dengan yang Jhon katakan. Sebelum operasi, aku memang sangat mencintainya" ucap Chris berbisik lirih.
"Selamat pagi pak" sapa Jefry.
"Pagi Jefry" Chris berjalan ke arah sofa. "Kamu tahukan alasan saya memanggil kamu ke sini?"
"Iya pak. Saya akan jelaskan" Jefry duduk di sebelah Chris untuk menjelaskan perihal selisih laporan keuangan dua bulan yang lalu.
Kedua pria itu terlihat seksama memperhatikan file yang tertera di layar laptop. Selang beberapa menit, Chris mengangguk pelan sambil mencerna penuturan Jefry.
"Hmm ok. Sekarang saya mengerti. Jef, kamu lanjutkan saja. Pantau mereka terus. Jika ada informasi baru langsung laporkan kepada saya. Dan ingat harus hati-hati, jangan sampai ketahuan" ujar Chris menerangkan misi rahasia mereka.
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi pak"
"Jefry, bisa kamu bantu saya sekali lagi?"
"Kapanpun pak" sahut Jefry selalu siaga.
Di apartement, Adira mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Mulai dari bersih-bersih, cuci piring, hingga mencuci pakaian kotor. Ya, mulai hari ini dan sampai tiga hari ke depan, Adira hanya akan berleha-leha di rumah saja. Ia mendapat izin cuti dari kontor setelah kemarin mengalami kejadian yang cukup membahayakan kehamilannya.
Pukul sebelas siang, Adira akhirnya bebas dari pekerjaan rumah. Tubuhnya yang lelah bersandar di kursi sofa yang empuk.
"Hah capek banget. Ternyata gini ya kalau lagi hamil, mudah capek" Adira memejamkan mata, mengatur nafas, dan istirahat sejenak. Namun itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba seseorang di luar mengetuk pintu.
"Siapa ya?" gumamnya sembari melangkah ke daun pintu. Adira coba mengintip dari lubang kecil tapi tidak ada siapa-siapa di depan pintu.
"Gak ada orang. Jam segini Maya, Lisa, Farah, pasti lagi sibuk-sibuknya. Ngapain mereka ke sini? Kayaknya gak mungkin deh mereka ke sini. Kalau Chris, kan dia tahu passwordnya, ngapain ngetuk pintu? Buka gak ya?" ucap Adira ragu. Ia khawatir dan teringat dengan seseorang yang mengejarnya waktu itu.
Di tengah perseteruan batinnya, pintu kembali diketuk. Adira coba mengintip lagi tapi tetap tidak ada orang.
"Siapa?" pekik Adira memberanikan diri.
"Makanan" sahut orang dari luar.
Adira bingung dan semakin curiga karena ia merasa tidak memesan makanan.
Sedangkan orang di luar dengan pakaian serba hitam tampak tidak sabar menunggu pintu dibuka.
Tiba-tiba ponsel Adira berdering.
"Tunggu sebentar ya" pekik Adira pada orang di luar. Ia pun masuk ke kamar.
📞 Ya sayang.
📞 Pesananku sudah datang?
📞 Oh jadi kamu yang pesan makanan.
Refleks dahi Chris berkerut. Ia memesan bunga bukan makanan.
📞 Uda dulu ya. Aku mau buka pintu. Kasian dia nunggu dari tadi.
Sambungan terputus.
📞 Hallo, Ra....Adira.
Chris meraih kunci mobilnya, bergegas pulang. Iya yakin menyuruh Jefry mengirimkan bunga bukan makanan. Dan Jefry adalah orang yang sangat teliti. Dia tidak mungkin salah. Lalu siapa orang yang mengantar makanan itu?
Krekkk