Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Manis Tapi Memabukkan



Setiap inci bagian atasnya tidak luput dari sapuan lidah panjang Chris. Ia menjilati kulit Adira layaknya ice cream. Dingin namun menghangatkan. Mendapat serangan birahi bertubi-tubi membuat Adira bergelinjangan. Tubuhnya bergeliat seperti cacing kepanasan. Hanya suara rintihannya yang terdengar setiap kali Chris melancarkan aksinya menikmati lekukan tubuh indah wanita di bawahnya. Suhu dingin AC tak cukup membuat tubuh keduanya kedinginan seiring keringat Adira yang mengucur melewati area pelipisnya.


"Pak" ucap Adira begitu Chris akan melucuti celananya. Tangannya berusaha menghentikan Chris agar tidak menelanjangi dirinya.


"Kenapa? Kamu tidak mau?"


Adira menelan salivanya sudah payah. Matanya melihat dalam pria yang sedang menindihnya. Memutar bola matanya 360 derajat sembari merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Adira ragu. Ia masih belum yakin. Baginya ini seperti mimpi. Selama ini ia hanya menyukai sendiri, memendamnya perasaannya sendiri. Sempat terpikirkan olehnya jika ia tidak akan sampai pada kesempatan seperti ini. Baginya Chris layaknya raja yang duduk di dalam istana megah. Dan dirinya sebatas pelayan di luar istana. Tidak mungkin baginya bisa masuk ke dalam sana lalu melihat isi di dalamnya.


Timbul pertanyaan di benaknya dulu, bagaimana jika tiba-tiba raja itu datang menghampirinya dan mengharapkan cintanya. Dan lihat apa yang terjadi sekarang? Apa ini benar-benar akan terjadi padanya? Benarkah khayalannya dulu menjadi kenyataan?


"Saya tidak akan memaksa jika kamu tidak mau" sambung Chris menunjukkan sisi gentlementnya.


Adira masih membisu seraya mengulum bibirnya. Ia benar-benar deg degan sampai tidak bisa bicara.


"Bisakah pak Chris mengatakannya sekali lagi?" pinta Adira agar Chris mengatakan tiga kata manis itu lagi.


"Chris bukan pak Chris" ucap Chris masuk dalam ceruk leher Adira.


"Katakan dengan melihat saya" sambarnya sambil mencekam kuat kain sprei di bawahnya.


Chris tersenyum tipis seraya memicingkan matanya menangkap wajah tegang di hadapan.


"Saya mencin....


Belum selesai Chris mengucapkan apa yang ingin Adira dengar, tiba-tiba ponselnya berdering. Chris bergeser sedikit untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


"Emilly" gumam Chris.


Perubahan ekspresi Chris membuat Adira curiga. Apa panggilan itu dari Emilly? pikirnya.


Panggilan itu berakhir namun tak lama berselang, ponsel Chris kembali berdering. Dan Chris masih ragu merespon. Matanya beralih pada Adira yang belum beranjak dari bawahnya.


Timbul rasa kasihan dihatinya saat melihat mimik tertekan Chris. Adira pun mengangguk pelan sebagai isyarat agar Chris menjawab panggilan itu.


Setelah Chris keluar kamar, Adira meraih kemejanya serta tanktop hitamnya lalu memakaikan pakaian itu di tubuhnya. Ia berjalan ke arah balkon ingin menghirup udara segar. Namun tetap saja angin bertiup semilir tidak dapat menyejukkan hatinya yang kalut. Ia memikirkan berbagai kemungkinan. Benarkah hubungannya dengan Chris telah dimulai? Apa setelah ini, Chris akan menarik ucapannya? Jika memang benar, apa bisa hubungan ini berlabuh di tempat seharusnya? Atau justru sebaliknya, semuanya berakhir tragedi dan terbakar menjadi abu.


Disaat sedang berjibaku dengan pikirannya yang kacau, Chris datang dan memberi pelukan hangat dari belakang. Sepasang tangan kekar itu melingkar di pinggang ramping Adira.


"Sepertinya ini salah" ucap Adira berbalik menghadap Chris.


"Yang mana?" sahut Chris balik bertanya.


"Semuanya"


"Urutkan satu-satu" pinta Chris agar Adira memberitahunya letak salah itu.


Adira menundukkan wajahnya sambil menempelkan tangannya di dada Chris.


"Aku bingung" matanya berkedip intens. Adira mengigit bibirnya karena mendadak dadanya terasa penuh. Sebenarnya banyak yang ingin ia sampaikan tapi tidak tahu harus mulai darimana. Jujur, ia ingin memaki dirinya sendiri karena menjadi orang ketiga dalam hubungan Chris dan Emilly.


Tapi bagaimana? Mau dibuangpun, ia tetap menyukai Chris. Dan sekarang pria itu membalas perasaannya. Haruskah ia mengabaikan ibanya demi memuaskan perasaannya lalu dengan tega membuat hati wanita lain tersakiti.


"Aku takut" bibir Adira bergetar. Matanya berbinar-binar.


Chris menenggelamkan Adira dalam dekapannya. Membelai lembut rambut hitam tergerai itu kemudian mendaratkan kecupan lembut di kening Adira.


"Jangan memikirkan apapun. Yang harus kamu tahu, kamu tidak merebut siapapun. Kamu bisa berjanji padaku?" tanya Chris.


"Apa?"


"Jangan pernah menyerah untuk hubungan kita"


Adira mengangguk patuh. Setelah itu senyum manisnya kembali terurai. Kini ia merasa sedikit lega. Walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi di depan namun perkataan Chris membuatnya yakin jika kemungkin buruk yang sempat dipikirkannya akan bisa diatasi.


"Nah gitu dong senyum. Kan makin cantik" puji Chris mencolek gemas dagu Adira.


"Apaan sih pak. Colek-colek doang"


"Jadi maunya lebih ni. Lanjut yuk" ajak Chris menggoda dengan ekspresi nakalnya.


Adira melepas nafas pendek.


"Aku lapar tapi lagi gak nafsu makan nasi" Adira coba mengalihkan perhatian Chris karena sebenarnya ia belum siap. Membayangkan dirinya di masukin orang lain membuatnya bergedik ngeri. Ia mau melakukannya dengan Chris tapi tidak untuk saat ini.


"Terus mau makan apa? Nanti aku pesan"


"Kamu punya mie instan?" Adira yang tinggal seorang diri tidak asing dengan makanan cepat saji itu. Jika malas masak atau tidak ada bahan maka jalan pintasnya tentu saja mie instan.


Chris tidak melepaskan back hug nya. Ia mengikuti gerak gerik Adira yang sedang memasak mie. Hal itu membuat Adira risih karena sangat menganggunya. Ia menjadi tidak leluasa bergerak.


"Chris lepasin dulu. Tanganku susah gerak ni"


"Gak mau. Pokoknya aku mau seperti ini sampai kamu kelar masak. Katanya kalau lagi masak terus dipeluk seperti ini maka makanannya jadi lebih enak"


"Terori darimana tu? Mau nipu aku ya. Haha gak mempan" ledek Adira tertawa kecil.


Canda dan tawa menemani santap siang mereka. Chris tampak antusias karena ini masakan pertama Adira untuknya walaupun hanya makanan sederhana, mie instan. Di sela makan itu, ponsel Adira bergetar menandakan ada pesan masuk. Adira membuka aplikasi hijaunya mendapati nama ibunya di urutan paling atas.


Adira, anak ibu sayang yang paling cantik. Ibu lagi butuh uang sayang buat beli sesuatu. Ibu terus diledek, kata mereka ibu miskin gak mampu beli barang mahal. Kirim ibu uang ya sayang. Ibu bisa jatuh sakit dengar hinaan mereka. Kamu gak maukan ibu sakit?


Seketika mood Adira menjadi buruk setelah membaca pesan dari ibunya. Hanya jika butuh uang maka ibunya akan baik padanya. Setelah itu, ia akan dianggap tidak ada lagi.


"Kenapa? Muka kamu kenapa cemberut gitu? Pesan dari siapa?" tanya Chris penasaran melihat perubahan kontras raut wanita di depannya.


"Gak papa. Buruan habisin mie nya nanti keburu ngembang kalau sudah dingin" ucap Adira enggan memberitahu masalahnya. Ia tahu saat ini Chris pasti pusing tujuh keliling memikirkan hubungannya dengan Emilly. Sangat egois jika ia memberitahu masalah internalnya dengan sang ibu.


...---------------------...


Hari ini Adira kembali bekerja setelah kemarin mengambil cuti satu hari. Belum juga duduk, Adira sudah diserbu pertanyaan dari ketiga temannya.


"Ra, kemarin kamu kok gak masuk?" tanya Lisa paling antusias.


"Pak Chris juga gak masuk" sambung Farah.


"Jangan-jangan kejadian di rumah sakit memang benar ya. Kalian mau ciuman?" sambar Maya asal bicara.


Sontak Adira memutar kepalanya memperhatikan orang di sekitarnya.


"Bisa dikecilin gak sih ngomongnya. Kalau ada yang dengar terus salah paham gimana? Dengar ya kemarin itu setelah shooting kelar, aku sama Bryan pergi ke club terus aku mabuk terus aku pingsan. Pas bangun sudah jam 08.00 jadi aku ambil cuti karena kalau ke kantor pasti telat. Daripada aku kena SP mending cuti. Soal pak Chris, ya aku gak tahu kenapa dia gak masuk" jelas Adira menyelipkan sedikit kebohongan dalam ucapannya. Tidak mungkin baginya mengatakan yang sebenarnya. Bisa habis ia dijadikan bahan gunjingan karyawan yang lain.


Tangan Adira tidak berhenti menari di atas keyboard. Matanya perih menatap layar monitor di depannya. Inilah yang membuatnya malas mengambil cuti karena sudah pasti pekerjaannya menjadi menumpuk.


"Ra, bukannya kamu mesti minta tanda tangan pak Chris ya? Setahuku sebentar lagi pak Chris mau keluar" ucap Maya mengingatkan.


"Kok kamu tahu pak Chris mau keluar?" tanya Adira heran.


"Tadi aku ketemu pak Chris di pantry pas mau bikin kopi. Katanya kalau ada yang butuh tanda tangannya harus segera ke ruangannya karena jam 12.00 dia ada meeting di luar"


Tok! Tok! Tok!


"Pak saya minta tanda tangan pak Chris disini" kata Adira menyodorkan map biru ke depan Chris.


"Langsung. Gak ada penjelasan dulu" Chris membuka map biru itu.


"Maaf pak. Maya bilang katanya pak Chris jam 12.00 ini ada meeting di luar. Ini sudah jam 11.35 jadi saya mempersingkat waktu agar pak Chris tidak telat"


Chris tersenyum simpul. Perhatian kecil inilah yang selalu ia rindukan dari wanita yang berdiri tegap di depannya. Chris menekan remot kontrol. Tak lama setelahnya, dinding kaca yang mengelilingi ruangannya kini sudah ditutupi tirai. Ia pun beranjak dari kursinya berdiri berhadapan dengan Adira.


Chris maju perlahan dan terus maju membuat Adira tersudut dan harus mundur hingga tidak ada lagi ruang di belakangnya. Kini Adira bersandar pada meja kerja atasannya itu. Entah sejak kapan tangan Chris melingkar di pinggang ramping itu lagi. Adira layaknya burung yang terkena tembakan, tak berdaya melawan tuannya. Dengan keberanian yang belum terkumpul sepenuhnya, Adira coba menggoda. Ia mengankat pahanya lalu memainkan betis panjangnya di area kaki Chris.


"Pak, ini kantor. Kalau ada yang melihat gimana?"


"Kamu bertanya setelah menggodaku. Aku akan membuat kamu menyesal" ancam Chris menggebu. Tak perlu babibu, Chris melahap daging kenyal merah muda yang membuatnya kecanduan. Bagi Chris bibir Adira seperti minuman keras, manis tapi memabukkan.


Adira menepuk-nepuk punggung Chris. Kepalanya berdenging.