
Menjelang minggu ketiga setelah Chris keluar dari rumah sakit pasca operasi besar, pelan tapi pasti keadaan Chris semakin membaik. Chris mulai mau berbicara lebih banyak dan menemui orang lain. Hari ini sesuai rencana dua hari yang lalu, Adira akan membawah Chris keluar untuk jalan-jalan menikmati suasana di luar apartement. Mungkin udara luar akan membuat Chris semakin baik dan proses pemulihanpun akan semakin cepat.
Di dapur, Adira terlihat sibuk memasukkan bekal-bekal makanan ke dalam kotak plastik. Ia hari ini akan berlibur bersama Chris ke suatu tempat terbuka yang dulu pernah ia kunjungi bersama sang suami sebelum menikah. Adira juga telah menelpon ketiga temannya dan Jhon untuk ikut liburan bersama. Ia sengaja melakukan itu agar Chris menemukan suasana baru tidak meluluh harus berdua dengannya. Apalagi Jhon kan teman Chris sejak remaja, setidaknya banyak kenangan atau cerita yang bisa Jhon sampaikan pada Chris nanti. Dengan begitu, mungkin ingatan Chris perlahan akan kembali.
"Ini gimana pakainya?"
Adira menoleh pada Chris yang sedang berkaca di depan cermin. Ia tertawa kecil begitu berhadapan dengan sang suami.
"Ada yang lucu?" sambung Chris mengerutkan dahi.
"Kamu gak salah pakai dasi? Kita kan mau liburan bukan ke kantor. Beneran kamu mau pakai jas?" tanya Adira memastikan.
"Memangnya kenapa? Salah?" sahut Chris menarik tangan Adira agar segera membenarkan posisi dasinya.
"Ya...gak salah sih. Tapi ini terlalu resmi. Kita kan mau have fun, liburan. Lagian kan aku sudah siapin pakaian untuk kamu. Itu" Adira mengerucutkan bibirnya dan mengarahkan pada pakaian yang tergeletak di atas kasur. "Kamu gak mau pakai itu saja?" sarannya.
Chris memandang dalam Adira yang sedang memakaikan dasi di lehernya. Wangi dari rambut basah Adira menusuk hidungnya. Sentuhan singkat tangan halus Adira yang tidak sengaja mengenai wajahnya membuat jantungnya berdebar keras. Perasaan ini muncul untuk pertama kalinya setelah hampir satu bulan tinggal bersama. Percikan rasa yang masih terurai kusut perlahan mengurai lurus. Chris merasa hatinya semakin terikat dengan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.
"Saya suka jas ini dan saya malas harus ganti pakaian lagi" ucap Chris dengan suara ngebassnya.
"Mau aku gantikan?" tawar Adira antusias.
"Apa kamu sebelumnya selalu agresif seperti ini?" timpal Chris.
"Gak juga. Terkadang kamu yang lebih agresif" balas Adira tersipu malu.
"Tapi lebih sering kamu. Itu maksudnya?"
Adira menghela nafas panjang hingga kedua pipinya mengembung bulat seperti bola. Tampak menggemaskan dan imut. Ia melangkah ke arah kasur lalu mengantung kembali pakaian yang sebelumnya disiapkan untuk Chris ke dalam lemari. Saat Adira berbalik, tiba-tiba Chris ada di belakangnya. Chris menempelkan tangan kanannya di lemari. Matanya menelisik binar di mata indah Adira.
"Ada apa? Kenapa melihatku begitu?" tanya Adira gugup.
"Kamu nangis?"
Sudut bibir Adira tertarik ke atas memperlihatkan senyum miringnya. Raut sedihnya beberapa detik yang lalu seketika sirna begitu saja. Mungkin ini sepeleh tapi ia menyukai cara Chris menggodanya. Tidak aktif tapi membuat panas.
"Nangis? Nangis karena apa?" Adira tertawa geli sambil menatap intens mata pria di hadapannya.
"Baguslah. Jangan menangis. Saya tidak suka melihat orang menangis. Bisa kita pergi sekarang?" Chris keluar kamar lebih dulu dan menenteng tas berisi bekal yang telah Adira siapkan tadi .
...-----------------...
Sampainya di tempat tujuan, ternyata Maya, Lisa, Farah, dan Jhon sudah sampai lebih dulu. Mereka tersenyum manis seperti menyambut tamu undangan khusus. Chris yang memang tidak mengetahui keempat orang itu akan datang terlihat kebingunan. Samar terlintas di kepala Chris, menatap wajah Jhon tidak asing.
"Hai Chris. Kita bertemu lagi" sapa Jhon santai.
"Sorry, saya belum bisa mengingat kamu" sahut Chris merasa tidak enak hati. "Mereka siapa?" sambung Chris menoleh ke arah Maya dan kawan-kawan.
Adira maju satu langkah berdiri di sebelah sang suami.
"Ini Maya. Ini Farah. Dan ini Lisa. Kita berenam satu divisi di perusahaan J.O Company dan kamu atasan kita. Di kantor kamu itu terkenal galak, dingin, terus....
"Bisa pelan-pelan tidak jelasinnya?" sambar Chris memotong ucapan Adira.
Suasana menjadi hening seketika. Semua tampak canggung begitu Chris mempelihatkan sisi dinginnya. Namun itu tidak berlangsung lama. Canda Jhon yang mengocok perut berhasil mencairkan suasana. Mengisi waktu liburan, mereka memainkan beberapa permainan kanak-kanak. Kali ini Lisa mengusulkan untuk bermain petak umpet. Semuanyapun setuju dan orang pertama yang menjadi penjaga tiang ialah Adira.
"Cari mereka kemana ya? Mana tempat ini luas banget lagi" keluh Adira menggaruk pelipisnya.
Menit demi menit berlalu. Satu persatu, Adira berhasil menemukan Maya, Lisa, Farah, Jhon, dan kini tinggal Chris yang belum ketemu. Namun hampir setengah mencari, Chris belum ketemu juga. Adira mulai panik mengingat kondisi Chris belum pulih sepenuhnya. Ia takut Chris tersesat dan tidak tahu jalan kembali.
"Sebaiknya kita berpencar" saran Jhon. Ia pun membagi arah untuk mencari Chris.
Adira berlari kesana kemari. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Wajahnya dibasahi keringat namun Chris tidak ada dimanapun. Jhon, Maya, Lisa, dan Farah, yang ikut mencari sampai detik ini belum juga menemukan jejak Chris yang seakan hilang ditelan bumi.
"Chris kamu dimana?" Adira tidak tahu harus mencari kemana lagi.
Adira kembali mencari dan berlari semakin jauh. Dalam situasi panik, ia tidak memperhatikan situasi di dekatnya saat ini. Bahkan tidak menyadari ada dua pasang mata pria bertubuh besar dan tinggi yang sedari tadi mengincarnya.
"Hai cewek" sapa seseorang dengan tatapan nakal.
"Siapa kalian?" Adira mundur perlahan. Matanya mendelik sembari mengatur nafasnya.
Dengan sigap, Adira mengambil langkah seribu. Tubuhnya yang ringan membuat Adira bisa berlari lebih cepat dari kedua pria itu. Adira berhenti sejenak setelah memastikan tidak ada orang yang mengejarnya. Namun disaat sedang mengatur nafas, tiba-tiba lengannya ditarik dari arah samping lalu mulutnya ditutup dengan telapak tangan seseorang yang menariknya.
"Sussstttt" desis orang itu.
Mata Adira terbelalak melihat pria yang menolongnya.
"Bryan" gumamnya.
Setelah memastikan keadaan sudah aman, Bryan menurunkan tangannya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Adira mengangguk mengiyakan.
"Kamu kok ada disini?" tanya Adira heran.
"Aku memang sering jogging disini. Siapa dua orang itu? Kenapa mereka mengejar kamu?"
Adira menggeleng tidak tahu.
"Aku harus cari Chris sekarang"
Adira melangkah buru-buru. Kakinya tidak sengaja menabrak batu di bawahnya. Adira kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir saja jatuh namun Bryan dengan siaga menangkap Adira. Dalam posisi sedang tatap menatap, tiba-tiba terdengar suara deheman nyaring.
"Chris" Adira langsung mengurai diri dari Bryan.
Chris berbalik badan lalu pergi begitu saja dengan ekspresi datar dan tatapan dingin, benar-benar misterius. Sulit mengartikan perasaan pria itu saat ini.
...--------------------...
"Chris, dengerin aku. Bryan hanya teman aku, gak lebih. Dia teman aku....
"Saya tidak peduli. Mau dia teman kamu, pacar kamu. Kamu dengarkan apa yang saya katakan, saya tidak peduli" ujar Chris menekankan setiap perkataannya.
Bagai disambar petir di siang bolong, badan Adira lemas seketika. Chris sangat tega mengatakan itu. Adira pun pergi meninggalkan Chris sendiri di apartement.