
Chris memandang dari dalam ruangannya melalui dinding kaca. Ia memperhatikan Adira yang sejak tadi terus memainkan jarinya di bibir. Perasaan Chris sangat gelisah. Apa Adira sedang memikirkan ciumannya dengan Bryan kemarin? Ada rasa takut di benaknya, berpikir ucapan Adira benar adanya. Mungkinkah Adira benar-benar tidak menyukainya lagi? Benarkah Adira sudah berpaling darinya? Apalagi Bryan pemuda yang berprestasi, tampan, dan juga masih muda. Chris merasa Bryan mempunyai banyak kelebihan.
"Hah" Chris memijit pelan pangkal hidungnya, capek dengan pikirannya sendiri. "Kenapa aku begini? Jelas lebih keren aku. Adira sudah menyukaiku selama 3 tahun. Tidak mungkin secepat itu dia melupakanku" ujar Chris yakin jika Adira masih menyukainya.
Adira yang menyadari jika Chris sedang memandangnya merasa kikuk. Ia tidak risih cuman hal itu membuatnya tidak bisa fokus.
"Pak Chris ngapain sih lihat aku begitu? Aku jadi deg degan gini, huhh" ungkap Adira lalu membuang nafas.
Ini Bryan. Siang ini boleh temani saya makan?
Adira menghela nafas malas setelah membaca pesan yang dikirimkan Bryan ke aplikasi dengan logo hijaunya. Ia tidak suka dengan sikap Bryan yang sok akrab. Adira tahu pernah terjadi sesuatu antara dirinya dan Bryan tapi itu tidak sengaja. Dan setelah itu ia tidak merasakan apa-apa. Bahkan Adira sempat melupakan Bryan karena memang ciuman itu tidak disengaja dan tidak ada yang istimewa dari kejadian itu.
Di ujung sana, Bryan yang menunggu balasan Adira merasa resah. Ini sudah dua menit dan pesannya sudah centang biru tapi Adira masih belum membalas. Ia menekan simbol telepon.
📞 Ya pak Bryan?
📞 Kenapa hanya dibaca?
📞Maaf pak saya lupa.
📞 Lupa atau memang gak mau balas?
Adira membisu sambil mengulum bibirnya hingga basah karena salivanya.
📞 Ini sudah jam 11.30. Saya jemput kamu sekarang. Kamu di kantorkan?
📞 Iya tapi pak....
Adira mendengus kesal karena Bryan mematikan sambungan begitu saja sebelum sempat ia menolak. Tapi kalau dipikir-pikir, Adira tidak bisa menolaknya karena bagaimanapun Bryan bintang iklan perusahaan tempatnya bekerja. Bisa saja Bryan membatalkan kerjasama karena tidak suka dengan sikap Adira yang menolaknya. Atau bisa jadi, Bryan akan menyulitkan proses shooting karena sikap Adira yang dinilai kurang bersahabat.
"Ah sudahlah. Ini cuman makan siang kok" ucapnya membuang pikiran buruknya. Adira kemudian mengarahkan netranya ke ruangan Chris. "Kemarin saat aku pura-pura mencium Bryan, reaksi pak Chris biasa saja. Dia tidak marah apalagi cemburu. Orang bilang cemburu itu tanda cinta, berarti pak Chris tidak mencintaiku. Tapi tatapan pak Chris selalu beda saat melihatku. Dia bahkan mau aku ajak kencan. Makan bersama, pelukan, ciuman, tidur bareng, hanya belum itu saja" Adira memberi jeda sejenak sambil tersenyum getir. " Masa sih gak ada rasa sama sekali?" lamunannya buyar seketika begitu ada suara berat menyerukan namanya.
"Adira Kayra, bisa kita pergi sekarang?"
Adira mengarahkan matanya pada pria tinggi bertubuh atletis di sampingnya.
"Pak Bryan. Kok cepat banget sih pak? Perasaan baru lima menit. Terus pak Bryan kok bisa masuk kesini?" setahu Adira hanya karyawan J.O Company yang bebas keluar masuk ke area kerja karyawan.
Orang-orang yang melihat kehadiran Bryan yang menghampiri Adira langsung berbisik riuh. Dugaan dan rasa curiga muncul di kepala masing-masing. Terutama Lisa yang dikenal sebagai sosok yang selalu ingin tahu tentang orang lain. Kedekatan Adira dan Bryan menghidupkan lagi jiwa penyidiknya. Ini kejadian langkah baginya karena selama ia berteman dengan Adira, tidak pernah sekalipun ia melihat temannya itu bergandengan tangan dengan pria. Lisa yakin ada sesuatu antara Adira dan Bryan apalagi hari ini tidak ada jadwal shooting iklan. Bryan mengunjungi Adira secara khusus bukan karena urusan pekerjaan.
"Saya harus jawab yang mana dulu?"
"Jawab saja semuanya pak" sahut Adira mengelas.
"Kita berangkat sekarang saja. Nanti saya jawab pertanyaan kamu" Bryan menyeret paksa tangan Adira agar mengikutinya.
Bryan membawa Adira ke sebuah restoran mewah dan privat. Ia tidak ingin acara makan siangnya di ganggu dengan jepretan kamera. Dengan ramah Adira meladenin semua yang Bryan katakan. Mulai dari soal pekerjaan hingga menyerempet ke kenangan keduanya semasa remaja saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Suasana semakin mencair dan Adira tidak sungkan lagi dengan Bryan.
"Soal kemarin saya minta maaf pak. Tidak seharusnya saya....
"Saya justru bersyukur kamu melakukannya. Karena itukan kamu jadi ingat saya. Memangnya siapa yang mau kamu bikin cemburu?"
Pertanyaan Bryan membuat Adira tertegun. Ternyata Bryan memiliki kepekaan yang sama dengan Chris.
"Saya akan maafin kamu jika kamu bisa memanggil saya Bryan saja tanpa pak. Pak Bryan membuatku merasa tua. Bisa?" sambung Bryan memberi syarat untuk permintaan maaf Adira yang langsung disambut anggukan setuju Adira.
Begitu kembali ke kantor, Adira melihat ketiga temannya tampak murung. Awalnya Adira pikir itu hal biasa karena memang mereka lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan masing-masing. Tapi ini sudah cukup lama dan ekspresi mereka tetap tidak berubah. Sepertinya ada yang tidak beres.
"Kalian kenapa sih? Kok dari tadi lembek banget tu muka"
"Kamu gak tahu, Ra?"
"Gak tahulah. Kalian gak kasih tahu" sahut Adira mulai merasa tidak enak.
"Pak Chris di rumah sakit"
"Makanya jangan pacaran mulu" celetuk Farah.
"Siapa yang pacaran sih? Pak Chris kenapa?
"Tadi pak Chris nanyain kamu. Dia mau ngajak kamu cek lokasi buat iklan lusa. Tapi karena kamu pergi jadi pak Chris pergi sendiri. Disana katanya dia ketiban atap yang rapuh. Sekarang lagi dirawat di rumah sakit Harapan. Ini kami juga lagi nunggu kabar pak Chris gimana" jelas Maya detail.
Ia tidak bisa hanya menunggu disini. Adira pun segera bergegas menuju rumah sakit.
Hahhh huuhhh
Adira menarik nafas lalu melepasnya lagi sebelum masuk ke kamar tempat Chris dirawat.
Krekkkk
"Pak Chris gimana?" tanya Adira canggung lebih tepatnya merasa bersalah. Andai saja ia tidak pergi makan siang dengan Bryan. Mungkin Chris tidak mengalami hal seperti ini.
"Gimana apanya?" tanya Chris balik menahan sakit di bagian tangan kanannya. Dari semua bagian tubuhnya, tangan kanannyalah yang paling sakit. Mungkin karena tadi ia berusaha menahan reruntuhan agar tidak mengenai wajahnya.
Adira melangkah mendekati Chris lalu duduk di sisi ranjang.
"Keadaan pak Chris gimana? Apanya yang sakit?"
"Semuanya tapi yang paling sakit ini" jawab Chris meraih tangan Adira lalu meletakkan di dada bidangnya.
"Maksudnya? Pak Chris ada luka dalam gitu?" Adira membuka kemeja yang dikenakan Chris tanpa meminta izin pada pemiliknya. "Ini dada pak Chris gak papa kok" sambungnya tidak mengerti.
"Yeah" ucap Chris sedikit meninggikan nada suaranya. "Kenapa kamu membuka baju saya tanpa permisi? Kamu pikir saya cowok murahan, hah?" Chris mengelengkan kepalanya heran. Gadis di hadapannya sangat berani.
Chris mencekam kedua tangan Adira lalu menghempaskannya. Matanya menatap tajam seperti ujung kuku elang yang siap menerkam mangsanya.
"Kenapa sih pak natap saya begitu?"
"Jangan sentuh saya" ucap Chris yang langsung mengundang gelak tawa Adira.
Adira berusaha menahan tawanya namun tidak bisa. Rasanya aneh sekali mendengar kalimat itu dari cowok sekeren Chris.
"Kenapa ketawa?"
"Geli banget dengar pak Chris ngomong gitu. Jangan sentuh saya" Adira kembali tertawa setelah mengulangi kalimat Chris beberapa detik yang lalu. "Pak Chris itu cowok. Kalau saya ngomong begitu gak aneh dengarnya tapi lucu sih. Pak Chris cute banget pas ngomong gitu"
"Cute apanya? Ngapain kamu kesini? Bukannya lagi pacaran sama pemain basket?" tanya Chris mendelik. "Terus kemarin ciuman lagi di kantor"
Adira meredam tawanya. Ia memutar bola matanya mencari jawaban dari pertanyaannya di sepasang netra pria di hadapannya. Apa ini bisa dikatakan kecemburuan? Jelas sekali ekspresi Chris sangat tidak enak dipandang. Seperti orang marah.
"Itu hanya ciuman...
Tiba-tiba Chris menarik leher Adira dengan tangan kirinya.
"Itu bukan hanya ciuman. Untuk berciuman harus ada rasa. Saya...
"Itu artinya pak Chris ada rasa sama saya. Kita sering berciumankan?" tanya Adira balik memotong ucapan Chris.
Jarak yang begitu intim membuat keduanya dapat merasakan hembusan nafas lawan bicara. Chris tampak emosi mendengar jawaban gadis dalam relungannya kini. Ia kemudian mengelus tengkuk bebas Adira dengan lembut.
"Kamu bisa merasakannya sendiri" ucap Chris enggan berkata secara gamblang.
"Saya mau mendengarnya langsung dari mulut pak Chris" Adira memalingkan wajahnya ke bagian samping wajah Chris. Kemudian meniup perlahan dan mengigit nakal telinga Chris. Apa yang dilakukan Adira tentu saja membangkitkan gairah Chris dalam hitungan menit.
Namun fantasi liar yang baru dibangun itu hancur seketika begitu terdengar suara nyaring perempuan.
"Adira"
"Chris"