Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Keinginan Kejam



Chris membuka matanya tepat waktu. Ia dengan sigap menahan pisau tajam yang jika terlambat sedetik saja akan menembus dadanya. Wajahnya mengeras merah menahan tekanan dari dorongan pisau dalam genggamannya.


"Adira" panggil Chris mengernyitkan dahi. Ia berharap Adira berhenti mendorong pisau.


Darah segar mengalir dari sela jari-jari Chris. Begitu banyak hingga menodai kasur. Di satu sisi Adira terlihat tercengang dengan perilakukannya sendiri. Ia seperti orang yang baru tersadar dari lamunan panjang. Tatapannya kosong seperti ada sesuatu yang sengaja mendorongnya untuk melakukan hal mengerikan ini.


"Adira" ucap Chris mengulangi kata yang sama.


"Chris" Adira langsung melepaskan pisau begitu melihat darah yang terus keluar. Dalam keadaan panik, Adira mengutuk dan menyesali perbuatannya.


Chris melempar pisau sembarang. Ia lalu duduk di sisi kasur seraya menekan pergelangan tangannya. Darah merah menyala semakin deras mengucur.


"Chris, kita ke rumah sakit sekarang"


"Tidak perlu" tolak Chris mendorong Adira kasar. Luka di tangan Chris mengangah lebar.


Adira bangun kembali mendekati Chris.


"Aku antar kamu ke rumah sakit dan aku akan bayar semuanya"


"Kamu pikir ini saatnya bicara tentang uang. Sebanyak apa uang kamu, hah?" teriak Chris nyaring dengan sorot mata menyala.


Adira seperti orang linglung. Ia tidak tahu apapun yang keluar dari mulutnya. Semuanya terdengar salah dan tidak masuk akal. Ia sungguh tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya pada Chris. Bagaimana mungkin ia bisa melukai pria yang dicintainya itu? Ini terlalu mengerikan.


"Darahnya semakin banyak yang keluar. Please, kita ke rumah sakit sekarang" mohon Adira tidak tahan melihat luka di tangan Chris yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


Tak lama Adira menangis frustasi karena Chris terus menolaknya. Pria itu tidak mau disentuh olehnya. Setiap kali ia mendekat, Chris langsung mendorongnya menjauh.


"Pergi dari sini" usir Chris dengan ekspresi dingin.


Chris kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


📞 Emilly, bisa kamu kesini.


Deg!


Rasanya seperti ditumpuk benda dengan muatan berat saat mendengar nama cantik itu keluar dari mulut pria yang bertahun lamanya ia sukai. Bibirnya terasa teramat keluh. Baru kali ini dadanya begitu sesak diabaikan oleh seseorang yang sangat berarti. Adira pun perlahan bangkit dengan pipi basah karena airmata.


Mengusap asal wajahnya lalu mengambil kunci mobil Chris yang ada di atas nakas. Chris hanya melirik tidak mengerti apa yang dilakukan Adira. Hatinya saat ini diliputi awan mendung. Rasanya menyedihkan saat wanita yang sangat dicintai berusaha untuk membunuhnya.


"Ayo kita ke rumah sakit" Adira menarik paksa tangan berotot Chris. "Aku saja yang menyetir" sambungnya menyeret Chris keluar kamar.


Chris hanya bisa patuh. Cengkraman erat wanita di depannya tidak bisa membuatnya berkutik.


Tok! Tok! Tok!


Emilly berulang kali mengetuk pintu setelah sebelumnya menekan bel panjang namun tetap saja tidak ada respon dari dalam. Emilly cemas karena tadi jelas-jelas Chris memintanya untuk datang. Ia takut terjadi sesuatu pada Chris karena suara Chris di telpon tadi terdengar buru-buru.


"Kalau Chris di dalam, gak mungkin dia gak bukain pintu. Kan dia yang minta aku kesini" Emilly mondar mandir di depan pintu apartement Chris sembari menempelkan ponselnya di telinga dan berharap Chris menjawab panggilannya.


Setelah hampir satu jam lebih menunggu, akhirnya sang pujaan yang ditunggu datang juga. Namun seketika senyum manis di wajahnya menguap begitu melihat Adira muncul dari belakang Chris. Sama seperti Emilly yang tidak suka dengan kehadirannya, Adira pun juga merasakan hal yang sama.


"Dia seperti kutu. Dasar benalu" hardik Adira dalam hati tidak suka melihat Emilly yang tersenyum manis pada Chris.


"Chris tangan kamu kenapa?" tanya Emilly khawatir saat melihat tangan Chris diperban.


"Tangannya luka karena aku. Sekarang Chris butuh istirahat" jawab Adira ketus.


Chris hanya tersenyum tipis dengan sikap posesif Adira.


"Kamu tidak boleh masuk" larang Adira menghadang Emilly begitu pintu terbuka.


"Apaan sih. Gila kamu ya"


Adira tidak menghiraukan racauan Emilly. Dengan kekuatan penuh, ia membanting pintu tepat saat Emilly mau menyerobot masuk.


Adira merogoh obat dari dalam tasnya. Ia menjelaskan pada Chris bagaimana cara menggunakan obat itu agar jahitan di telapak tangan Chris cepat kering. Chris pura-pura tidak mendengar, ia tidak merespon balik perkataan Adira. Ia justru fokus menonton acara bisnis di televisi dan sengaja mengabaikan gadis yang tampak sibuk mengkhawatirkan kondisi dirinya.


Tiba-tiba saja Adira merebut remot kontrol dari tangan Chris lalu menekan tombol power. Seketika Tv yang sedang menyala mati. Adira kemudian menangkup wajah Chris agar menatapnya.


"Aku sudah menjelaskan semuanya. Kamu mengerti?"


"Bukankah seharusnya kamu minta maaf? Tanganku hampir putus" sahut Chris menatap intens gadis yang berdiri di hadapannya.


Adira diam sejenak. Jika minta maaf bisa menghapus luka di tangan Chris maka ia akan meminta maaf seribu kali. Namun itu tentu saja tidak bisa. Adira malu karena maaf tidak akan menghapus luka yang ada di dalam hati Chris. Itu luka sebenarnya.


"Memangnya perlu? Aku minta maaf"


"Itu minta maaf atau ngajak berantem?" sambar Chris. "Hanya itu?"


Adira bermaksud hanya ingin mengecup bibir Chris singkat untuk meyakinkan ucapannya. Namun Chris dengan penuh gairah menarik pinggang Adira hingga duduk dalam pangkuannya. Ia melahap habis memasukkan bibir ranum Adira ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, Adira menepuk pelan punggung Chris agar memberinya ruang bernafas.


"Kamu marah?"


"Wanita yang aku cintai mau membunuhku. Apa aku tidak boleh marah?" sambung Chris memandang dalam sepasang netra yang sangat dekat dengannya.


"Aku membenci kamu"


"Aku tahu" sahut Chris.


"Aku ingin menyakiti kamu"


"Lakukan saja" sambar Chris.


"Aku ingin membuat kamu menderita" lanjut Adira mengutarakan keinginan kejamnya.


"Baiklah" sambung Chris cepat.


"Kamu tidak takut?"


"Sedikit" jawab Chris mengedipkan matanya nakal.


Adira pun beranjak dari pangkuan Chris dan menguraikan cumbuan hangat itu dari bibirnya.


"Aku mau pulang. Kamu tidak perlu mengantarku dan jangan memaksaku" Adira hampir saja jatuh saat Chris melempar kunci mobil tiba-tiba.


"Pakai saja mobilku. Ini sudah malam. Susah cari taksi. Terima saja jika tidak mau aku paksa" ujar Chris masih duduk di tempatnya semula.


Adira mengangguk setuju. Kali ini ia tidak bisa keras kepala. Waktu sudah menunjukkan angka 22.15 pm, memang susah mendapatkan taksi di jam malam seperti ini.


"Oh ya satu lagi, jangan menyebut namanya di depanku. Aku tidak suka"


"Aku tahu kamu tidak suka. Karena itu aku memanggilnya. Aku suka melihat kamu cemburu" ucap Chris dengan senyum dan lirikan menggoda.


"Dasar, kepedean banget sih" sahut Adira mengalihkan pandangan kesalnya.


Aku tahu kamu tidak bermaksud membunuhku. Apa kamu sangat menderita saat melihatku? Jujur, aku tidak bisa menebak apa yang kamu rasakan.


...------------------------...


Menikmati mentari pagi di rooftop adalah kenikmatan tersendiri bagi Adira. Dari tempat tinggi ini, ia bisa melihat betapa indahnya langit dengan warna biru awan putihnya. Ditambah lagi pemandangan mewah gedung pencakar langit di hadapannya, semua ini berkah baginya. Sapuan semilir angin yang lembut sangat menenangkan kalbu. Apalagi ditemani segelas Caffucino yang hangat, ini nikmat yang tiada duanya. Kegiatan santai ini sudah dua minggu ini rutin Adira lakukan sebelum memulai pekerjaan. Ia bahkan sengaja datang lebih awal ke kantor hanya untuk kenikmatan aktivitas kecil ini.


"Hmm andai saja kamu ada disini?" harap Adira berandai Chris ada bersamanya.


"Siapa?"


Seseorang tiba-tiba memeluk Adira dari belakang.