Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Musuh Bayangan



Chris membuka mata perlahan dengan rasa perih di punggung kanan belakangnya. Terlihat di bagian itu dibungkus perban putih untuk menutupi bekas tembak semalam. Ia mengalihkan mata ke arah jendela yang tirainya sudah dibuka. Cahaya pagi sedikit menyilaukan mata membuat Chris menyipitkan matanya seketika. Namun udara pagi yang sejuk menembus ketidaksopanan panas pagi yang masuk tanpa permisi.


"Baru bangun?" Jhon masuk menyapa.


"Dimana Adira?" tanya Chris langsung ke intinya saja.


"Santai dululah. Langsung on point saja" kelah Jhon berjalan mendekat. "Kalian berdua itu sangat merepotkan. Kalau mau mati jangan ajak-ajak aku. Mana dua-duanya pakai pingsan barengan. Capek bawah kalian berdua" sambung Jhon menyampaikan keluh kesahnya saat memboyong Chris dan Adira ke rumah sakit seorang diri.


"Terima kasih Jhon. Sekarang dimana Adira? Aku mau melihatnya"


Jhon melepaskan nafas sejenak sambil mengelas mata kesal. Lagi-lagi ia di abaikan. Bukan hal yang aneh. Ini sudah biasa baginya. Jika sudah menyangkut tentang Adira maka Chris tidak peduli apapun. Chris selalu tergesa-gesa untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan Adira.


"Dia ada di kamar sebelah. Sudah siuman, sekarang lagi istirahat"


Chris pun turun dari ranjang dan tidak menghiraukan larangan Jhon.


"Chris kamu disini saja. Kamu belum boleh banyak gerak. Kamukan baru siuman. Biar aku suruh Adira kesini"


"Aku baik-baik saja"


Tak butuh waktu lama hanya beberapa langkah, Chris sampai di kamar dimana Adira dirawat. Namun begitu masuk Chris tidak menemukan Adira. Hanya ada satu suster yang sedang melipat selimut.


"Sus, pasien di kamar ini kemana?"


"Oh dia sudah pulang. Mungkin satu jam yang lalu" jawab suster seadanya.


"Pulang! Memangnya kondisinya sudah baik sus?" tanya Chris gelisah.


"Sebenarnya pasien masih butuh perawatan. Tapi pasien memaksa mau pulang. Katanya dia ada urusan penting. Oh ya pak, sepertinya anda teman pasien. Tadi pasien pergi buru-buru dan dia meninggalkan ini" jelas suster sembari memberikan benda mati yang biasa digunakan untuk berhubungan dari jarak jauh pada Chris.


Chris kembali ke kamarnya dengan rasa frustasi. Rasanya kepalanya akan pecah dengan kebiasaan Adira yang tidak pernah berubah dan selalu bertingkah seenaknya, pergi tanpa pamit.


"Selalu begini. Sitt" umpat Chris emosi sambil memukul pelan ujung ranjangnya.


"Ada apa?" sambar Jhon.


"Adira pergi. Aku tidak tahu dimana dia sekarang"


"Coba aku telpon dulu" sambung Jhon seraya merogoh ponselnya dari saku.


"Percuma. HP nya ada disini" ucap Chris menunjukkan ponsel yang ada dalam genggamannya. " Bajingan itu dimana?"


"Dia berhasil kabur. Jika tidak memikirkan keselamatan kalian, aku sudah menangkapnya" sesal Jhon tidak dapat menangkap orang yang menculik Adira.


...--------------------...


Di kamar apartementnya tidak ada yang bisa Chris lakukan selain menunggu. Ia hanya dapat menduga-duga dan terus berdoa agar Adira baik-baik saja. Kejadian semalam adalah bukti nyata jika ada seseorang yang mengincar nyawa Adira. Rasa cemas memenuhi sanubari Chris. Bagaimana jika orang itu datang lagi? Dan mengincar nyawa Adira kembali.


Chris mencoba mengingat ke belakang. Sejauh ia mengenal Adira, gadis itu tidak pernah terlibat cekcok dengan orang lain selain ibunya sendiri. Adira tidak pernah neko-neko dan selalu ramah pada siapapun. Rasanya mustahil, seseorang yang tidak banyak tingkah bisa punya musuh. Di saat Chris sedang berpikir keras, tiba-tiba bel berbunyi membuyarkan lamunannya.


Dengan rasa malas, Chris bangun dari rebahannya melangkah menuju daun pintu.


Sebuah senyuman manis menyapa begitu pintu terbuka. Senyuman yang sangat dirindukan bagi pemilik rumah.


"Ngapain kesini?" tanya Chris dengan lirikan menusuk.


"Galak banget sih" sahut Adira menyerobot masuk.


Seakan merasa rumah sendiri, Adira melenggang bebas dan duduk di sofa yang ada di ruang Televisi. Adira memejamkan mata disana setelah meregangkan sejenak otot persendiannya yang kaku.


"Pergi dari sini" usir Chris sambil menendang pelan betis Adira.


"Apaan sih. Gak mau. Aku mau disini" tolak Adira mengecurutkan bibirnya. Hal yang biasa ia lakukan untuk mencairkan wajah dingin pria yang saat ini sedang berdiri di sisi kanannya.


Adira kemudian berbaring di sofa dan tidak peduli dengan seruan Chris yang tetap kekeh ingin mengusirnya. Chris pun menarik lengan Adira namun dengan sigap Adira menarik balik tangan Chris hingga jatuh di atas tubuhnya.


"Sekarang masih mau mengusirku?" Adira mengedipkan nakal salah satu matanya.


Kedipan nakal gadis di bawahnya tentunya membuat sisi kelakian Chris dipaksa bangun. Ia menangkap sorotan meminta gadis yang sedang ditindihnya. Namun selang beberapa saat, Chris segera berdiri disertai senyum miringnya.


Ada apa dengannya?


Kenapa dia mengusirku?


Apa dia marah?


Pertanyaan-pertanyaan itu berlari liar di kepala Adira. Ia tahu sikapnya selama ini keterlaluan. Dan salah membenci orangnya. Rasa sakit dan bencinya yang salah hampir saja merenggut nyawa Chris dengan tangannya sendiri. Mengingat betapa kejamnya Ia malam itu membuat Adira malu dan merasa bersalah. Jika saja Chris tidak tangkis mengelak maka pisau itu sudah menembus dada Chris. Dan kini tubuh Chris ditembus peluru karena menyelamatkannya. Mengingat semua itu semakin membuat Adira dihantui rasa bersalah. Ia tidak tahu caranya minta maaf yang baik agar Chris mau memaafkannya.


"Jadi kamu mau aku pergi?"


"10 menit lagi papaku kesini" sahut Chris sendu. "Kamu yakin bisa melihatnya?"


Deg!


Adira menjulurkan lidah membasahi bibirnya yang kering. Ia belum siap untuk melihat kedua kalinya pria yang menjadi selingkuhan ibunya dulu. Pria sama yang telah menabrak ayahnya sampai meninggal.


Adira berdiri setelah berpikir lama. Ia melangkah tidak rela menuju pintu. Adira takut terbawa emosi saat melihat papa Chris nanti. Ia takut lepas kendali lalu meluapkan segala uneg-uneg pada pria yang secara tidak langsung membuat ayahnya depresi.


"Aku masih mau disini. Aku takut pria itu mengikutiku lagi" ucap Adira khawatir. Tangannya tertahan di gagang pintu.


Disaat Adira masih ragu membukakan pintu tiba-tiba terdengar bunyi bel. Sontak Adira melotot takut. Apa itu papa Chris?, batinnya.


"Jangan dibuka" cegah Chris menyentuh tangan Adira.


"Mungkin itu papa kamu"


"Aku tahu karena itu jangan dibuka" Chris memutar badan Adira menghadapnya.


Dua pasang retina itu saling menatap intens dalam kebisuan ditemani hening. Pancaran cahaya senja yang masuk melalui dinding kaca memancarkan warna indah ke dalam ruangan yang hanya dihuni sepasang muda mudi itu. Chris pun mengenggam pergelangan tangan Adira kemudian menuntun gadis itu masuk ke dalam kamar pribadinya. Bunyi bel yang semakin intens tidak dihiraukan seakan tidak peduli dengan seseorang yang ada di luar.


Dengan penuh kelembutan, Chris membaringkan tubuh Adira di atas kasur empuk beralaskan seprei putih halus miliknya. Chris memandang intim gadis di bawahnya lalu melucuti bajunya memperlihatkan perut kotak-kotak serta dada bidangnya yang selama ini rajin dijaga. Melihat pemandangan seksi mempesona di hadapannya membuat Adira susah payah menelan salivanya. Perlahan Chris merendahkan tubuhnya hingga tubuhnya menempel dengan gadis di bawahnya.


"Chris" Adira membuang wajahnya ke samping begitu pria bertubuh tinggi di atasnya ingin mengecup bibirnya.


"Kenapa?"


Adira ragu membuka mulutnya. Beberapa kali ini berusaha bicara namun apa yang ingin diucapkan tetap tertahan di tenggorokannya.


"Ada apa? Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa" ucap Chris memutar bola matanya mencari sesuatu dari sorot mata penuh kecemasan gadis di bawahnya.


Adira menarik nafas panjang lalu melepasnya cepat. Tiga kali ia melakukan hal yang sama. Sekarang Adira merasa lebih plong dan tenang. Ada pria kuat yang akan menjaganya. Dan pria itu saat ini sedang bersamanya. Untuk saat ini Adira tidak perlu takut apapun.


"Tidak apa-apa. Nanti saja bicaranya" ucap Adira seraya menarik wajah Chris lalu memulai cumbuan lebih dulu.


Permainan bibir dan pergulatan panas penuh hasrat tak terelakkan. Suara-suara birahi yang sensual memenuhi seisi ruangan. Adira tidak bisa menahan erangan setiap kali benda tumpul yang memasukki tubuhnya menghentaknya kuat. Tubuhnya menggeliat hebat dengan segala sentuhan lembut pria di atasnya. Chris begitu mahir menservis dirinya hingga puncak kenikmatan itu datang berulang kali. Peluh yang membasahi tubuh menciptakan kilatan seperti minyak pada tubuh sepasang insan yang sedang bersetubuh itu. Waktu yang telah berganti malam datang tak terasa. Keduanya masih terbuai dalam gerakan serta permainan yang mengaduk-aduk birahi.


...--------------...


Saat ini Adira dan Chris berada dalam selimut yang sama dengan tubuh tanpa busana. Adira bersandar manja di dada Chris sambil memainkan ujung jemarinya di dada sang kekasih.


"Tadi pagi kamu kemana?" tanya Chris membelai lembut rambut panjang Adira.


"Sebelum aku menjawab pertanyaan kamu. Aku mau mengatakan sesuatu. Boleh?"


"Katakan saja"


"Saat aku disekap, pria itu menyuruh aku menandatangani sebuah surat. Di dalam surat itu tertulis, aku harus pergi jauh dari kehidupan kamu. Jika tidak, aku dan ibuku akan dibunuh" ungkap Adira mengenang isi surat yang sempat ditawarkan padanya.


Sontak Chris mengernyitkan dahi seraya menatap Adira di sampingnya.


"Karena itu tadi aku pergi sebentar menemui ibuku. Aku memintanya sembunyi di tempat yang aman. Chris aku takut orang itu serius dengan ucapannya" sambung Adira dengan bibir sedikit bergetar.


Chris mengalungkan tangannya di punggung polos Adira membenamkan wajah kekasihnya itu ke dalam dekapan hangatnya. Sekarang Chris sadar, bukan Adira yang punya musuh tapi dirinya.


"Siapa bajingan itu? Aku yakin dia tidak sendiri. Pasti ada yang menyuruhnya" gumam Chris berpikir keras.


"Kamu tenang saja. Ada aku disini. Aku akan menjaga kamu. Tidak akan ada yang menyakiti kamu" ucap Chris mengecup lembut ujung kepala Adira. "Sekarang tidurlah"