
Di saat Maya, Lisa, dan Farah sedang bercanda ceria, hanya Adira sendiri yang terlihat termenung panjang seperti orang sedang memikirkan sesuatu. Matanya berputar memperhatikan dua gadis yang duduk di depan dan satu lagi duduk di sampingnya. Adira deg degan dan sedikit takut jika membayangkan reaksi ketiga temannya nanti.
Kalau aku cerita sekarang, apa reaksi mereka? Apa mereka akan bilang aku pelakor? Atau mereka akan menjauhiku? Tidak mau lagi berteman denganku? Bagaimana kalau mereka jadi benci padaku? Hah, batin Adira lelah.
"Aku mau cerita sesuatu" kata Adira dengan mimik datar.
Seketika perbincangan terhenti. Maya, Lisa, Farah mengalihkan mata mereka pada Adira.
"Cerita apa? Serius banget kayaknya" ucap Farah setelah mereguh es jeruk miliknya.
"Aku tidur dengan Chris"
Maya menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulut. Hal itu membuatnya kena serangan batuk mendadak.
"Hah! Pak Chris maksud kamu? Serius Ra?" tanya Maya sambil menepuk pelan dadanya.
Adira hanya menganggukkan kepala dengan wajah tertunduk.
"Oh jadi kabar pak Chris putus dengan tunangannya karena orang ketiga itu benar. Dan gilanya, orang ketiga itu kamu Ra. Gak benar kamu Ra. Pelakor" kata Farah menghakimi sembari menenteng tas selempangnya dan bersiap mau pergi.
"Farah, mau kemana kamu? Adira bukan pelakor ya. Teman macam apa kamu" cegat Lisa dan tidak terima dengan hujatan Farah.
Farah menggertakkan giginya sambil tersenyum sinis.
"Oh jadi kamu sudah tahu. Dan kamu biarin dia jadi pelakor" sambung Farah semakin panas.
Plakkk
"Farah cukup ya. Omongan kamu itu sudah keterlaluan" timpal Maya setelah menampar keras wajah Farah.
"Cukup" ucap Adira sembari berdiri " Aku cerita karena aku gak mau ada yang disembunyiin dari kalian. Aku menganggap kalian teman bahkan lebih dari itu. Bagi aku kalian itu saudara. Jadi jangan bertengkar karena aku. Dan terserah kalian mau menganggap aku apa setelah ini" Adira mengeluarkan satu lembar uang merah.
"Ini untuk bayar makanan aku" sambungnya meletakkan uang di atas meja. Dengan perasaan kecewa, Adira pergi meninggalkan ketiga teman karibnya itu.
"Dasar cewek gila. Dia tetap tidak lupa membayar makanannya walaupun sedang marah. Kenapa dia selalu konyol seperti itu?" gumam Farah tersenyum dalam hati.
Setelah Adira pergi, Farah sedikit melunak. Ia bukannya marah apalagi membenci Adira. Hanya saja ia teringat apa yang di alaminya dulu. Hubungannya yang sudah terjalin selama 3 tahun bersama sang kekasih harus kandas karena orang ketiga. Itu sebabnya, Farah selalu terbawah emosi jika sudah berbicara tentang orang ketiga. Ia sangat membenci orang ketiga atau kata populernya saat ini, Pelakor.
Setelah pulang dari makan malam yang berakhir kisruh, Adira menyusuri sebuah gang seorang diri. Berjalan mengendap sambil sesekali menoleh ke belakang. Adira gelisah merasa ada yang mengikutinya. Bahkan ia sudah curiga sedari turun dari taksi. Perasaan was-was dan siaga mengiringi setiap langkahnya. Di tambah lagi suasana gang yang tampak sepi mencekam dan minim pencahayaan lampu jalan membuat jantung Adira berdebar tegang.
Malam ini Adira ingin menemui ibunya. Di tangannya di dalam kantong kresek putih ada bermacam-macam makanan ringan dan beberapa buah-buahan untuk sang ibu.
Semakin mendekati penginapan, Adira semakin takut. Ia dapat mendengar langkah seseorang di belakangnya semakin mendekat. Adira pun berhenti sesaat lalu merogoh ponselnya dari dalam tas. Ia menekan simbol kamera dan pura-pura berkaca. Dan benar saja dari tangkapan kamera ponselnya, ada seseorang bersembunyi di belakangnya yang hanya kepalanya saja terlihat.
Dalam keadaan panik yang masih ia tahan, tiba-tiba terbersit ide di kepalanya. Adira mendial nama Chris dalam kontak ponselnya kemudian berlari sejauh mungkin.
Melihat Adira berlari, orang berpakaian serba hitam dengan topi warna senada serta wajah yang ditutupi masker ikut berlari mengejar Adira.
π Adira kamu dimana?
π Chris, aku dikejar orang.
Chris bisa mendengar dengan jelas nafas Adira tersengal.
π Kamu dimana sekarang?
Adira terus berlari tanpa arah. Ia menoleh ke setiap sudut berharap ada sebuah nama jalan yang bisa diberitahu pada Chris. Namun dengan minimnya pencahayaan serta posisi dirinya yang sedang berlari membuat penglihatan Adira samar.
π Aku gak tahu.
π Adira dengarkan aku. Aku sudah memasang GPS di HP kamu jadi pastikan HP dalam keadaan hidup. Aku sekarang menuju ke lokasi kamu.
π Chris, orang itu semakin dekat. Aku gak kuat lagi lari. Aahh.
Setelah teriakan panjang Adira, tiba-tiba sambungan terputus.
πAdira...Adira kamu dengar aku.
Chris melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sesekali ia menekan panjang bel mobilnya sebagai isyarat pada pengendara lain agar memberinya jalan. Dan jika di lihat dari GPS, ia semakin dekat dengan lokasi Adira.
"Siapa kamu? Salah saya apa? Saya tidak kenal kamu. Kenapa kamu mau membunuh saya?" teriak Adira memberontak. Adira meliukkan badan berusaha melepaskan ikatan tali di kedua pergelangan tangannya namun berakhir sia-sia karena lilitan itu terlalu kuat.
"Diam" bentak si penculik. Ia mengambil kursi dan seutas tali lalu mengikat tubuh Adira di kursi.
"Jika saja kemarin kamu menandatangani surat ini maka ini tidak akan terjadi lagi. Gara-gara kamu saya harus bekerja lebih keras. Sekarang tanda tangan ini"
"Gimana saya mau tanda tangan. Tangan saya diikat. Lepaskan saya dulu" Adira merasa sedikit lega. Ia menemukan celah. Jika ikatannya dibuka maka ia punya kesempatan untuk kabur.
"Haha, saya tahu apa yang kamu pikirkan. Jangan berpikir untuk kabur dari sini" si penculik tidak sepenuhnya menuruti ucapan Adira. Ia hanya melepaskan ikatan tangan saja tanpa melepaskan tali yang melingkari bagian atas tubuh Adira.
"Tapi kalau di lihat sedekat ini, kamu cantik juga" lanjut si penculik tersenyum ngeri seraya menyentuh dagu gadis di hadapannya. Ia pun mendekatkan kursi yang didudukinya agar bisa memandang wajah Adira lebih dekat.
Adira pun langsung membuang muka.
"Gak usah macam-macam sama saya. Atau saya akan membunuh kamu" ancam Adira mendelik tajam.
Sontak si penculik tertawa lebar.
"Bagaimana caranya kamu membunuh saya, hah? Kamu saja terikat begini. Aku yang akan membunuhmu" ucap si penculik mengeluarkan pistol dari balik jaket hitamnya. Lalu menempelkan ujung pistol tepat di tengah kening Adira. "Lebih baik kamu tanda tangan surat ini. Setelah itu kita akan bersenang-senang. Atau kita pemanasan dulu" sambungnya sambil menurunkan pistol dan meletakkannya di atas kursi.
Seketika Adira menutup matanya rapat begitu pria dengan perkiraan umur sekitaran 30 tahun ke atas itu membuka baju.
"Chris, kamu dimana? Tolong aku" mohon Adira dalam hati. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.
Si penculik menurunkan celananya buru-buru. Ia tidak sabar ingin merasakan kehangatan tubuh polos gadis yang tidak dapat berkutik di depannya.
Bugggg
Tiba-tiba pria yang masih memakai masker itu runtuh ke lantai.
"Bajingan. Aku akan membunuhmu" umpat Chris kasar.
Dengan segenap kekuatannya, Chris memukul menendang pria bertelanjang dada itu tanpa ampun. Chris tidak memberi kesempatan sedetikpun pada si penculik untuk melawan hingga tidak bergerak lagi.
"Adira, kamu tidak apa-apa?" tanya Chris khawatir sembari melepaskan ikatan tali di tubuh Adira.
Pelukan erat penuh ketulusan menyatukan tubuh keduanya. Namun baru beberapa menit dan ternyata semua belum berakhir. Pria itu kembali berdiri tegap dengan benda panjang di tangannya. Dengan sigap, Chris memutar posisi pelukan hangatnya. Dan hanya berselang detik sebuah balok kayu menghantam kepala Chris dengan sangat kuat.
"Chris" ucap Adira dengan linangan airmata yang turun begitu saja. Bibirnya bergetar tak sanggup bicara saat darah segar mengucur melewati pelipis pria yang teramat dicintainya itu.
Gertakan gigi berbunyi ngeri. Mata Adira mengelas tajam. Ia mengalihkan pandangan pada sebuah pistol yang yang tadi sempat terlempar ke sudut ruangan. Adira tidak tahu cara menggunakan pistol dengan baik. Ia hanya pernah melihat orang menembak melalui tontonan televisi. Tangan Adira bergetar hebat saat mengacungkan pistol pada si penculik. Selama hidupnya tidak pernah terpikirkan untuk membunuh seseorang namun demi keselamatan Chris, ia akan melakukannya.
Dengan tatapan seram, Adira pun menarik pelatuk namun tembakannya tidak tepat sasaran. Peluru mengenai kaki kanan si penculik yang tentu saja membuat bajingan itu mengerang kesakitan. Belum puas, Adira berjalan mendekat kemudian menembak kaki kiri si penculik.
"Chris, bertahanlah" Adira memboyong tubuh tak berdaya Chris keluar.
...---------------...
Pria berbadan atletis dengan tinggi 187 cm perlahan membuka matanya dan menelisik ruangan yang setiap bagian dinding dilapisi cat warna putih susu. Chris merasakan sesuatu yang aneh di kepalanya. Kain putih melingkar disana. Pelan-pelan ia mengingat kejadian semalam. Terakhir yang ia ingat, kepalanya dihantam benda keras saat berusaha melindungi Adira.
Sekarang Adira dimana?, batin Chris.
"Sudah bangun. Kepala kamu gimana? Sakit?" seperti biasa Jhon datang tiba-tiba seperti hantu. Entah ia masuk darimana karena Chris tidak mendengar suara pintu dibuka.
"Hantu kamu ya? Tiba-tiba ada"
Jhon hanya terkekeh kecil. Ia ingin meledek balik tapi tidak tega begitu melihat kondisi temannya itu. Matanya menatap iba wajah Chris yang tampak pucat.
"Chris, Adira sudah tahu tentang penyakit kamu"
Chris mengankat pundaknya lalu menurunkannya lagi.
"Sekarang dimana Adira?"
"Tidak tahu. Dia langsung pergi setelah mendengar penjelasan dari dokter"
...-----------------...
Cuplikan next part,
"Apa yang papa lakukan?"
"Aku tidak tahu berapa banyak waktu yang kita punya. Tapi, izinkan aku menemani kamu sampai akhir"
"Chris, tinggalkan Adira. Jangan membawahnya mati bersamamu"