Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kenangan Yang Hilang



"Hai" sapa Adira tersenyum manis sesaat setelah Chris bangun pasca operasi.


Chris menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi. Raut wajahnya seperti orang kebingunan. Matanya menelisik ruangan yang sekarang ia tempati. Pikirannya menerawang coba mengingat apap yang sebenarnya terjadi dengannya. Dan siapa gadis muda yang menyapanya.


"Kamu...siapa?" tanya Chris berusaha mengingat sesuatu.


Chris memijit lembut keningnya. Nyeri dan sakit bergelayut di ujung kepalanya. Kepalanya terasa sangat berat serta sekujur tubuhnya sakit semua.


"Aku Adira, istri kamu"


Chris tidah tahu apa yang sebenarnya Adira katakan. Otaknya belum bisa merespon lebih jauh. Beberapa kali Chris melepas nafas berat sambil memejamkan mata. Tubuhnya masih sangat lemah dan kepalanya pusing tanpa ujung seakan ada sesuatu yang berputar-putar di atas sana.


"Jangan banyak gerak dulu. Dan jangan terlalu banyak berpikir" kata Adira menangkup wajah Chris kemudian menatap mesra sepasang netra sang suami.


Chris membalas tatapan dalam gadis di hadapannya. Dalam benaknya tersirat satu pertanyaan. Apakah gadis ini benar istrinya?


Jika dia istriku, kenapa aku tidak ingat apapun? Bahkan tidak ada satu kenanganpun yang aku ingat tentangnya. Apa benar yang dia katakan?, batin Chris curiga.


Chris berdiri melamun di balik pagar pembatas. Setelah pulang dari rumah sakit, ia menjadi sosok yang lebih pendiam. Tidak banyak bicara dan berinteraksi dengan orang lain bahkan ia menolak teman-teman ataupun rekan kantor yang ingin menjenguknya. Chris tidak bisa percaya pada siapapun. Merasa semua orang sedang memanfaatkan dirinya dengan situasinya saat ini. Terutama Adira, gadis yang mengaku sebagai istrinya. Sampai sekarang Chris masih belum percaya dengan pengakuan sakral itu.


"Disini dingin. Masuk ke dalam saja ya" bujuk Adira seraya menutupi pundak lebar Chris dengan kain tebal.


Chris melengos dan berjalan lebih dulu. Ia membaringkan tubuhn di atas kasur dan tidak peduli dengan tatapan tajam sang istri di belakangnya. Sedangkan Adira hanya bisa meracau kesal dalam hati menghadapi sikap dingin Chris yang dingin seperti es.


"Hmm sabar Adira" ucap Adira menguatkan diri sendiri. "Kenapa dia menikahiku kalau ternyata dia tidak mengingatku sama sekali" lanjutnya geram.


Adira menarik kedua sudut bibirnya ke atas berusaha tetap tersenyum manis di hadapan Chris. Waktu baru menunjukkan pukul 08.30 pm namun tampaknya Chris sudah tertidur lelap. Semakin malam Adira semakin gelisah. Ia tidak bisa tidur.


"Bisa tidak jangan berisik"


Sontak Adira menoleh ke samping.


"Kamu belum tidur?"


"Gimana saya bisa tidur? Kamu bergerak terus, ganggu" protes Chris dengan posisi tubuhnya miring membelakangi Adira.


Senyum Adira mengembang lebar. Sikap dingin Chris saat ini sama seperti awal-awal pertemuan mereka. Killer, ketus, dingin, sikap Chris yang seperti itulah yang membuat semua orang dikantor segan padanya, lebih tepatnya takut.


Dengan manja Adira mengalungkan tangannya di pinggang sang suami memberi pelukan hangat. Chris pun menelentangkan tubuhnya menangkap manik gadis di atasnya. Perlahan Adira merendahkan wajahnya mendekatkan dengan bibir berisi sang suami.


"Kamu mau ngapain?"


Seketika Adira menghentikan aksinya.


"Mau cium kamu"


"Siapa yang ngizinin?" tanya Chris dengan nada dingin.


"Memangnya cium suami sendiri harus pakai izin?"


"Jangan memanfaatkan keadaan saya. Bisa saja kamu hanya mengaku-ngaku sebagai istri saya" tuduh Chris disertai ekspresi datar.


Mimik ceria Adira berubah kecut dalam hitungan detik.


"Aishh kamu masih saja menyebalkan" ujar Adira kesal sembari mengambil bantal guling lalu pergi keluar kamar.


Adira berbaring di sofa yang ada di ruang TV. Ia menyalakan TV dengan volume besar.


Jika saja Chris keadaannya tidak seperti sekarang maka sudah aku mengacak-acak wajahnya, pikir Adira dengan nafas menderu.


"Tahan Adira. Sekarang suami kamu itu dalam masa pemulihan" ucapnya duduk kembali. "Eh tunggu dulu. Tapi apa nafsunya juga hilang ya setelah melakukan operasi. Kan yang dioperasi kepalanya. Masa sih berpengaruh sama nafsu. Biasanyakan dia yang nyosor duluan. Ahhhh" teriak Adira frustasi sambil menendang kakinya sembarang seperti ikan yang tergeletak di daratan.


"Bisa dikecilin gak TV nya?"


Adira memutar kepalanya 45 derajat. Chris ada di belakangnya.


"Aku bukan pesulap. Mana bisa ngecilin TV" sahut Adira asal.


Chris menurunkan pundaknya yang tadi terangkat sambil membuang nafas pendek.


"Gak bisa. Aku gak kedengaran"


Adira menyilangkan tangannya di dada dengan perasaan dongkol. Matanya memandang lurus ke layar Televisi yang sedang menyala.


"Kamu budeg ya? Suara sebesar itu gak kedengaran"


"Iya...emang...emang aku budeg"


"Ya..ya terserah...terserah kamu" sahut Chris malas berdebat.


"Ya udah kalau terserah. Terus ngapain masih berdiri disitu?" timpal Adira.


"Ini apartement saya. Terserah saya mau berdiri dimana. Kamu yang seharusnya tahu diri" sambung Chris dingin.


"Oh gitu. Ya udah aku pergi saja dari sini"


Adira berjalan melewati Chris masuk ke dalam kamar kemudian memindahkan beberapa pakaiannya ke dalam tas berukuran sedang. Mulutnya tidak berhenti meracau sembari memasukkan alat-alat kecantikan miliknya.


"Dasar cowok brengsek. Dia memang selalu menyebalkan. Dari dulu sampai sekarang, sama saja" ungkap Adira benar-benar marah.


"Mau kemana malam-malam gini?" tanya Chris bersandar di badan pintu kamar.


"Bukan urusan kamu" jawab Adira ketus. Setelah memasukkan semua barang miliknya ke dalam tas, Adira segera keluar kamar.


"Saya suami kamu. Apapun yang kamu lakukan menjadi urusan saya. Buktikan kalau memang kamu istri saya" ucap Chris ambigu sambil masuk ke dalam kamar.


Seketika Adira mengulum senyum tersipu. Wajahnya merona merah layaknya udang rebus. Seketika tubuhnya menjadi panas. Jantungnya berdebar keras dan gugup seperti gadis remaja yang sedang menunggu pria pujaan hati.


"Ciss dasar, ternyata dia masih punya nafsu juga. Hmm baiklah kalau dipaksa" Adira menurunkan tas di tangannya lalu menyusul Chris dalam kamar.


Chris menepuk-nepuk kasur begitu Adira masuk dengan mata sedikit tertutup. Dan tentu saja dengan senang hati Adira berbaring bahagia di sebelah sang suami.


"Jangan berisik. Saya mau tidur" ucap Chris menarik selimut menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali kepala.


Adira menganga bingung.


"Hah...tidur? Tadi hmm...bukannya kamu bilang mau bukti kalau aku ini beneran istri kamu" kata Adira terputus-putus.


"Bukti apa maksud kamu?"


Adira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kekesalannya sudah di ubun-ubun. Rasanya kepalanya akan pecah. Tidak disangka efek operasi itu hampir merubah sifat kelakian Chris 180 derajat. Bagaimana mungkin Chris mengabaikan gadis cantik bertubuh molek seperti Adira?


Hmmm


Adira mengendus nafas sambil mengelus dada.


"Baiklah, tidur saja. Tidak perlu melakukan apa-apa. Dan jangan melakukan apa-apa" tegas Adira tepat di depan telinga Chris saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Dan seolah tidak terganggu dengan suara keras yang menusuk telinganya, Chris tetap bersikap cuek seperti sebelumnya.


Dan benar saja tidak berjarak lama, Chris kini sudah benar-benar terlelap. Adira yang belum bisa tidur tampak tidak bosan memandang wajah lelah sang suami di depannya. Ada perasaan tidak enak hati juga kasihan. Tidak seharusnya ia bersikap seperti tadi mengingat kondisi kesehatan Chris belum fit sepenuhnya.


"Kamu pasti bingung ya?" ucap Adira berbisik seraya membelai lembut wajah Chris. "Maaf, tadi aku seperti anak kecil marahnya. Hmm...tapi kamu harus percaya. Aku ini beneran istri kamu. Dan maaf aku mencuri bibir kamu seperti ini" Adira bergerak mendekat lalu menempelkan bibir mungilnya di bibir sang suami tercinta.


Chris yang sedari tadi hanya pura-pura tidur perlahan membuka matanya. Ia mensejajarkan wajahnya di hadapan Adira yang sudah tertidur. Entah kenapa, walaupun belum percaya tapi Chris merasa punya ikatan khusus dengan gadis cantik yang kini tidur bersamanya.


...---------------...


Adira berlari kesana kemari. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Wajahnya dibasahi keringat namun Chris tidak ada dimanapun. Jhon, Maya, Lisa, dan Farah, ikut mencari tapi jejak Chris seakan hilang ditelan bumi.


"Chris kamu dimana?" Adira tidak tahu harus mencari kemana lagi.


Dalam keadaan panik, Adira tidak memperhatikan situasi di dekatnya saat ini. Bahkan ia tidak menyadari ada dua pasang mata pria bertubuh besar dan tinggi sedang mengincarnya.


Tiba-tiba lengan Adira ditarik dari arah samping lalu mulutnya ditutup dengan telapak tangan seseorang yang menariknya.


"Sussstttt" desis orang itu.