Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Aku Harap Waktu Berhenti



Adira langsung merebahkan diri di atas kasur begitu masuk apartement. Tubuhnya sangat lelah sepulang dari belanja untuk keperluan kelahiran anaknya nanti. Chris pun dengan telaten memijit kaki istrinya yang sedikit membengkak. Entah itu efek dari belanja tadi atau karena waktu kelahiran anaknya yang semakin dekat. Chris tidak tahu pasti penyebabnya. Namun dari informasi yang ia dapat di internet, tertulis jika seorang wanita yang sedang hamil besar memang terkadang ada pembengkakkan terutama di area kaki. Mungkin Adira sedang ada di fase itu, pikir Chris.


"Kakiku pegal banget" keluh Adira merasa kaku pada kakinya terutama area tumit.


"Capek kan? Jadi mulai sekarang kamu gak usah keluar lagi. Mantap di rumah. Kalau ada yang mau kamu beli, biar aku saja" ucap Chris halus.


Adira mengangguk pelan sambil tersenyum haru. Ia istri yang beruntung karena memiliki suami siaga seperti suaminya. Yang selalu sabar menghadapi sifat manja dan keras kepalanya. Terkadang Adira melihat mimik suaminya yang menahan amarah saat menghadapi sikap cerobohnya. Tapi itulah kenapa Adira merasa istri yang beruntung. Chris mempunyai kesabaran yang tidak terbatas. Walaupun terkadang marah tapi itu tidak berlangsung lama dan Chris tidak pernah gengsi untuk meminta maaf lebih dulu. Dan semakin mendekati kelahiran anaknya, Chris semakin sabar dengan semua yang terjadi dalam pernikahannya terutama dengan sikap sensitif sang istri yang tiba-tiba saja bisa berubah 180 derajat dari yang tadinya tertawa gembira kemudian menjadi bermuram durja. Aneh tapi itu adanya.


...-----------------...


Pagi menjelang dengan sinarnya yang terang benderang. Langit tampak cerah dengan warna biru bersih tanpa awan putih yang menemani. Sarapan sudah siap di atas meja. Piring sudah dicuci. Sekarang tinggal menunggu Chris keluar kamar.


Tidak perlu menunggu lama, Chris keluar dengan auranya yang tidak terbantahkan. Keren dan penuh kharisma. Adira selalu menatap kagum dengan segala kelebihan fisik yang dimiliki suaminya. Tubuh proposional bak patung dewa yunani serta wajah tampan sebagai pelengkap, semua itu terkadang membuat Adira takut. Takut jika saja suaminya digoda wanita lain lalu suamipun tergoda.


Hah!


Adira menggelengkan kepalanya cepat, membuang segala prasangka buruknya.


"Kenapa geleng-geleng gitu?" tanya Chris heran seraya duduk menghadap meja makan.


"Aku takut"


"Takut kenapa?"


"Kamu itu keren. Bahkan sudah mau jadi ayah, kamu justru semakin keren" puji Adira dalam rasa takutnya.


"Apa yang kamu takutnya?" sambung Chris sembari berdiri mendekati Adira. "Kita sudah menikah. Dan sebentar lagi, kamu akan menjadi ibu dari anakku. Apa yang membuat kamu takut? Hmm" lanjutnya menyentuh kedua sisi bahu sang istri.


Adira menundukkan kepala sambil menggerakkan bibirnya ke kiri dan ke kanan.


"Hari ini Maya, Lisa, Farah mau kesini. Boleh kan?"


Chris mengankat pundaknya lalu menurunkannya sambil melepas nafas pendek. Ia sudah biasa dengan sikap Adira yang begini, tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.


"Boleh, tapi tidak boleh keluar"


"Ok suamiku" balas Adira riang seraya menyatukan jari telunjuk dan jempolnya hingga membentuk huruf O.


Chris tersenyum tipis dan terkesan memaksa. Sebenarnya, ia ingin Adira menceritakan apa saja padanya. Tapi Adira seakan memberi batas. Hal itu sedikit membuat Chris kecewa.


"Maaf" Adira memeluk Chris dari belakang. Ia sadar dengan kekecewaan suaminya itu.


"Untuk?"


"Karena aku tidak menjawab apa yang kamu tanyakan tadi?"


Dalam situasi haru itu, Adira merasa sedikit kesal. Karena perutnya yang besar, ia hanya bisa menyentuh punggung suaminya saja.


Nak, cepatlah keluar, batin Adira.


"Apa yang kamu takutkan?" Chris berbalik berhadapan dengan Adira.


"Aku tu takut kamu tergoda sama cewek lain. Apalagi kan sekarang aku gendut....


"Kamu gak gendut. Cuman perut kamu saja yang besar" sambar Chris.


"Masa sih? Ah gak...aku gendut. Kamu sengaja bohong kan biar aku senang. Padahal aku memang gendut" ucap Adira cemberut.


Keduanya pun mengatur posisi agar bisa berpelukan namun masih susah. Chris mencoba memeluk dengan posisi menyamping tapi terasa tidak nyaman. Keduanyapun kikuk seperti sepasang kekasih yang akan berpelukan untuk yang pertama kali. Kemudian tawa lepas memenuhi ruangan. Chris dan Adira menertawakan sikap konyol mereka. Ini lucu dan menggemaskan. Untuk berpelukan saja, mereka harus mengatur posisi senyaman mungkin.


"Begini saja" gantian Chris yang memeluk Adira dari belakang. "Lebih nyaman begini kan?"


Adira memutar kepalanya 30 derajat lalu senyum tersipu.


"Hmm ini lebih nyaman"


"Mau ciuman?" tanya Chris menggoda.


"Mau tapi leherku nanti pegal"


"Sebentar saja" dalam sekejab Chris melahap bibir candunya dengan penuh gairah.


Tak ingin istrinya capek berdiri, Chris pun menuntun tubuh Adira duduk di kursi lalu melanjutkan cumbuan panasnya.


Aku harap setelah anak kita lahir, waktu berhenti berputar. Aku tidak ingin ada perpisahan. Karena sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan hidup tanpa kamu. _Chris_


...------------------...


Adiraaaa


Teriak Maya, Lisa, Farah serempak. Mereka menyerobot masuk meskipun sang pemilik belum memberi izin. Adira yang sudah hafal dengan sifat ketiga temannya itu hanya bisa tersenyum. Dan sesuai dugaan, mereka langsung berhamburan di sofa. Menghidupkan Televisi, memakan cemilan di dalam toples, dan lompat-lompat sesuka hati mereka.


Haaaa


Adira hanya menghela nafas. Namun bukannya marah, ia justru sangat bahagia melihat tingkah menyebalkan ketiga temannya itu. Adira senang bisa bertemu lagi dengan mereka. Ya, mendekati tanggal kelahiran, Chris meminta Adira untuk off dulu dari segala aktivitas di J.O Company. Dan sebagai istri, Adira tentu saja harus mematuhi perintah suaminya. Dan semenjak off dua minggu yang lalu, baru hari ini Adira bisa bertemu dengan ketiga temannya itu. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Adira saat ini. Setidaknya kehadiran mereka dapat mengusir rasa bosan Adira sebentar.


"Kalian mau nonton terus apa? Sini bantu aku siapin makanan" seru Adira yang tidak ingin repot sendiri.


Biasalah sifat manusia, ibarat kata kalau aku repot maka yang lain harus repot juga, haha.


Keempat sekawan itu berbincang sambil menikmati makan siang. Menceritakan apa saja, mulai dari urusan kantor sampai urusan pribadi. Dari berita fakta sampai gosip-gosip yang belum jelas kebenarannya.


"Ra, jujur masakan kamu makin enak loh" puji Lisa sangat menikmati makanannya.


"Kan dari dulu emang enak" balas Adira sewot.


"Mungkin maksud Lisa, sekarang masakan kamu tu lebih variatif. Dulu kan sebelum menikah, kamu masaknya tumis kangkung, sambal tempe tahu, ayam tepung, ya gitu-gitu aja. Sekarang kamu keren loh Ra, bisa masak makanan luar" timpal Farah ikut memuji.


"Betul banget" sahut Maya dengan mulut penuh dengan makanan.


"Kalian bisa saja. Bilang aja mau makan gratis lagi"


"Nah itu maksud kita Ra"


Ha haha ha


Derap tawa nyaring menemani makan siang empat sekawan itu. Sampai akhirnya keadaan apartement kembali sepi setelah Maya dan yang lain pulang.


Hai diary,


Aku datang lagi.


Kali ini aku akan menceritakan tiga wanita hebat yang sangat baik.