Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Selama Ini Bukan Pacaran?



Samar Adira mendengar riuh anak kecil berlarian disekitarnya dan membuat tidurnya yang baru terlelap terganggu. Hal itu juga seketika menghentikan aksi Jhon yang akan mencium Adira diam-diam. Sesaat Adira lupa jika Jhon ada di sebelahnya. Ia melenggang pergi begitu saja tak menghiraukan Jhon tertegun di belakangnya.


"Hemm" dehem Jhon.


Adira mengucek matanya lalu memutar badan. Mulutnya mengangah membentuk huruf O. Ia merasa malu. Apalagi saat ini Jhon sedang menatapnya kesal. Bisa-bisanya ia mengabaikan pemilik pundak yang menjadi tumpuan kepalanya tadi.


"Eh ada kak Jhon. Maaf kak lupa. Buru-buru soalnya harus balik ke kantor" ucap Adira merasa tidak enak.


"Memangnya aku tidak balik ke kantor juga. Bahuku pegal banget ni" Jhon menggerakkan bahunya memutar sembari menatap intens gadis cantik di depannya.


Dengan senyum memaksa, Adira berjalan mundur duduk di sebelah Jhon. Ia tertunduk malu dengan kedua tangan disilang layaknya murid yang siap menerima hukuman. Keduanya diam beberapa saat kemudian tertawa lebar seolah mengerti isi kepala masing-masing. Adira sempat merasa aneh dan coba mengingat ke belakang sejak kapan ia bisa seakrab ini dengan Jhon. Selain Chris, Jhon salah satu rekannya di kantor yang ia anggap cukup sulit untuk diajak bicara. Wajah Jhon dan Chris sama dinginnya. Tapi setelah mengenal keduanya lebih dekat, Adira merubah lagi penilaiannya. Mereka tidak sedingin itu.


...------------------...


Chris melempar ponselnya sembarang. Ia kesal sejak tadi menghubungi Adira tak satupun dijawab bahkan sampai sekarang pesannya tak kunjung dibaca. Ia kemudian bangun dari tidurannya, meraih kunci mobil di nakas bergegas ke rumah Adira. Jika hanya menunggu dirumah, ia mungkin tidak bisa tidur malam ini sebelum mendapat kabar dari kekasih pujaannya itu.


Di lain tempat, Adira tampak memandang lama layar ponselnya. Pesan dari Chris satu persatu melintas di layar depannya. Ia bingung harus membalas apa. Saat ini pikirannya berada di pertengahan jalan. Antara maju atau mundur. Jika maju maka akan ada hati yang tersakiti dan jika mundur sudah pasti hatinya yang akan merana.


"Aahhhh" teriak Adira frustasi dibalik bantalnya. "Kenapa cinta serumit ini sih?" bantal yang tidak bersalahpun menjadi pelampiasannya.


Tok! Tok! Tok!


"Adira, buka pintunya" teriak Chris nyaring sambil mengetuk daun pintu.


Adira tersentak. Ia memilih tetap diam ditempatnya tak beranjak dari kasurnya untuk memastikan dulu suara itu memang milik Chris.


"Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya" suara Chris semakin nyaring.


Itu beneran suara Chris. Adira pun segera keluar kamar menghampiri pria itu sebelum pintunya rusak.


Krekk


"Kamu. Ngapain malam-malam kesini? Ganggu banget"


"Kamu sengajakan gak jawab telponku, pesanku juga" ucap Chris geram.


"Ngomong apa sih? Gak jelas banget. Datang-datang langsung ngegas" matanya mendelik seram. Hatinya masih panas mengingat ucapan Maya tadi siang. Ditambah tadi ia juga melihat langsung Emilly bergelayut manja di pundak Chris.


Adira menutup pintunya lalu berjalan ke halaman rumah. Ia bingung bagaimana harus bersikap. Ingin marah tapi sama siapa? Sama Emilly, tapi wanita itu memang berhak atas diri Chris. Sama Maya yang membahas soal pelakor tapi sindiran itu benar adanya. Memang dirinya saat ini menjadi orang ketiga dalam hubungan Chris dan Emilly. Sama Chris tapi Adira merasa dirinyalah yang salah. Dialah yang selama ini kekeh mengejar Chris, menggoda dan bergelayut tidak tahu malu.


"Ada apa? Kamu sudah baca pesanku kan? Kenapa tidak dibalas?" tanya Chris lembut. Ia tetap memilih diam jika sebenarnya tadi ia melihat Adira di kafe Adora. Chris yakin gadis di depannya sedang marah padanya. "Kamu marah?"


"Gak. Marah untuk apa?"


"Tapi suara dan wajah kamu seperti orang marah"


"Gak. Aku gak marah"


"Kamu marah"


"Enggak. Udah dibilangi aku gak marah. Maksa banget sih" sambar Adira masam.


"Ya udah kalau gitu aku pulang" Chris melangkah perlahan meninggalkan halaman.


"Udah gitu aja. Aku lagi marah kamu pergi" ucap Adira meninggikan suaranya.


"Katanya gak marah" kelah Chris mengulum bibirnya untuk menahan senyumnya.


"Ya udah pergi sana" mood Adira semakin rusak. Biasanya Chris selalu peka. Tapi kali ini atasannya itu terlihat lambat. Entah sengaja atau memang kepekaannya sudah berkurang.


"Maaf" ucap Chris tulus seraya mencekam tangan Adira.


"Untuk?"


"Tadi aku melihat kamu di kafe Adora. Aku tahu kamu marah"


Adira menghempas kasar tangan Chris. Matanya membelalak merasa dipermainkan.


"Kamu tahu aku marah tapi masih nanya. Kamu pikir aku semudah itu" Adira berusaha keras mengontrol emosinya agar tidak lepas kendali. "Kamu tahu tadi Maya bilang...dia bilang semoga tidak ada pelakor dalam hubungan kamu dengan Emilly" lanjutnya menjulurkan lidah sebentar untuk membasahi bibirnya yang kering. "Aku terus kepikiran dengan kata-kata itu. Apa sebaiknya kita putus saja? Salah...mana bisa putus. Kita saja tidak pernah pacaran. Iyakan?" Adira tidak tahu lagi harus bicara apa lagi. Ia pun akhirnya mengatakan kalimat diluar rencana. Dan tentu saja ucapannya itu akan menjadi bahan candaan pria di hadapannya.


Chris tercengang tidak habis pikir dengan kalimat terakhir Adira barusan.


"Apa, kita tidak pernah pacaran? Jadi selama ini kamu pikir kita apa? Kita berciuman, tidur bareng, makan pagi bareng, terus kamu bilang kita tidak pacaran. Kamu sehat?" Chris menempelkan telapak tangannya di kening Adira.


"Sehat. Sehat banget malah. Kenapa kamu tidak terima? Pernah memangnya kamu nembak aku terus ngajak pacaran gitu. Pernah, pernah gak? Gak pernahkan?" Adira menenteng tangannya di pinggang sambil membusungkan dada maju kepada Chris. Lagi-lagi ia bicara yang tidak seharusnya diutarakan.


Chris mengusap keningnya sambil tertawa kecil. Bahunyapun ikut bergetar. Gadis di hadapannya sangat menggemaskan. Haruskah ia melakukannya seperti yang Adira mau? Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga tidak perlu melakukan hal alay itu untuk berpacaran.


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" bibir Adira mengerucut ke depan. Rasanya ingin sekali memukul kepala pria di depannya.


"Gaya seperti itu untuk anak bocah yang baru pacaran. Masa aku harus nembak kamu dulu. Kamu tahu berapa usiaku?"


"Masalahnya ini yang pertama buat aku. Aku baru pacaran sama kamu" ucap Adira keceplosan. Sebenarnya ia ingin menyimpan fakta ini dari Chris. Ia tidak ingin dianggap gadis polos karena belum pernah pacaran.


Sontak Chris mengangah puas dan merasa menang. Ternyata dirinyalah yang pertama.


"Kamu salah dengar. Maksudku yang tidak pernah pacaran itu temanku" sambung Adira gelagapan coba mengelah.


"Teman yang mana?" sahut Chris menekan.


"Itu...teman akulah. Udah ah malas. Kamu pulang saja. Aku mau tidur"


Dengan sigap tangan Chris menarik pinggang Adira. Kemudian mendekatkan wajahnya namun Adira segera mendorong Chris sebelum sempat bibirnya diserbu. Chris menyelusupkan kedua tangannya di ceruk Adira namun kembali Adira mendorong kuat.


"Gak usah cium-cium. Kamu bukan pacar saya"


Chris pun tersenyum simpul. Ini terlalu manis membuatnya semakin bergairah. Sekali lagi Chris mencoba mengecup bibir candunya itu namun lagi-lagi ia didorong keras.


"Tembak aku dulu. Baru boleh cium" Adira merasa ada saraf di kepalanya yang terputus. Ia terus mengatakan hal aneh.


Kali ini Chris tidak dapat menahan tawanya. Seketika tawanya pecah. Setelah beberapa saat perutnya keram karena tidak bisa berhenti tertawa. Sedangkan Adira memandang Chris tajam layaknya ujung cerulit yang siap menukik musuh. Melihat Chris yang tidak berhenti menertawakan dirinya, Adira pun bergerak menuju pintu. Namun tiba-tiba Chris menarik lagi tangannya.


Dalam sekejab Kening keduanya menyatu. Tangan Chris membelai lembut wajah mulus itu.


"Mau menjadi pacarku?"