Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Tetap Tersesat Atau Pulang!



Tiga bulan berlalu, kondisi Chris semakin membaik. Sudah tiga bulan lebih juga papanya mendekam dalam penjara. Kini Chris yang mengambil alih sebagai CEO perusahan milik papanya. Sedangkan Adira tetap bekerja di J.O Company. Walaupun dibekali kemampuan di atas standar namun pasca operasi, Chris harus mengasah lagi dan belajar dari awal tentang sistem manajemen perusahaan. Bagaimana cara berbisnis yang baik? Bagaimana mendapatkan keuntungan dalam skala besar? Serta bagaimana meminilisir kerugian semini mungkin? Semua itu harus benar-benar Chris pelajari lebih cepat mengingat saat ini Djaya Group berjalan tanpa pemimpin.


Waktu Chris banyak dihabiskan di perusahaan. Chris banyak berubah setelah aktif lagi di dunia perkantoran. Namun sikap dinginnya pada Adira masih sama saja. Tidak banyak bicara dan kalaupun bicara seperlunya saja. Itu tidak terlepas atas ingatan Chris yang masih kosong tentang Adira. Makin kesini Chris makin meragukan Adira karena sudah berjalan bulan, ia masih tidak mengingat satupun tentang sang istri. Bahkan moment pernikahan yang menjadi moment sakral kehidupan seseorang, Chris juga tidak mengingatnya.


"Pagi pak Chris. Ini kopi pesanan pak Chris" sapa manis seorang office girl sambil menyodorkan secangkir kopi hangat ke hadapan Chris.


"Thank you Jeny" sejak pertama menginjakkan kaki di kantor, Jeny adalah salah satu orang yang cukup membantu Chris dalam beradaftasi.


Jeny yang sudah bekerja sejak Alex memimpin, menjadi bagian penting di perusahaan ini. Walaupun hanya office girl tapi dari sekian banyak pekerja, Jeny adalah salah satu yang paling Alex percaya. Itu karena sifat jujurnya dan tidak banyak tingkah saat di depan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya. Dalam kata lain, tidak mencari muka.


"Siang ini, pak Chris mau saya pesankan apa?"


Chris diam sejenak lalu mengarahkan mata pada kotak bekal yang ada di ujung meja. Bekal itu Adira yang menyiapkan.


"Oh pak Chris bawah bekal?"


"Pesankan saya makanan yang kemarin saja" jawab Chris tersenyum tipis.


"Baik pak" angguk Jeny.


Pukul duabelas siang kurang lima menit, makanan siang Chris pun datang. Chris segera menekan tombol power yang ada di ujung kanan laptop. Istirahat sejenak dari aktivitas untuk menyantap makan siangnya. Perutnya harus diisi sesuatu agar cacing di dalam sana tidak berteriak yang nanti akan menganggunya bekerja.


"Selamat makan siang pak" ucap Jeny ramah.


"Hmm Jeny boleh temani saya makan"


Jeny memutar bola matanya kemudian mengangguk setuju. Jeny keluar sebentar untuk mengambil bekal makan siangnya lalu kembali dan duduk di sebelah Chris. Ini bukan yang pertama kalinya. Sudah tiga kali Chris meminta Jeny untuk menemaninya makan siang.


"Kamu bawah apa?" tanya Chris penasaran dengan bekal yang Jeny bawah.


"Pastinya tidak seenak makanan pak Chris. Namanya juga anak kosan. Pak Chris mau sayur santan?" tawar Jeny.


Chris mengangguk mau. Sudah lama juga ia tidak makan makanan bersantan. Di tengah makan siang itu, seseorang mengetuk pintu lalu menyerobot masuk meskipun belum ada sahutan dari dalam. Chris sempat ingin marah namun seorang wanita yang berdiri di depannya saat ini, cukup membuat Chris terkejut.


Adira, batin Chris.


"Oh kamu lagi makan. Ehmm ini...


Adira tersenyum kecut pada Jeny yang duduk di sebelah suaminya.


"Saya Jeny bu, office girl di sini. Pasti bu Adira ya, istrinya pak Chris" kata Jeny menebak.


Adira mengangguk bingung. Kenapa seorang office girl bisa makan bersama dengan suaminya? Di ruangan ini pula. Belum terjawab rasa penasarannya. Adira kembali dirundung pertanyaan besar saat melihat makanan yang Chris makan. Itu bukan makanan yang ia siapkan tadi pagi. Adira mengedarkan mata mencari kotak bekal berwarna merah. Ternyata benda itu tergeletak di atas meja kerja Chris..


Jantung Adira langsung berdenyut pilu.


"Oh itu...kotak bekalnya aku bawah lagi ya" Adira buru-buru pergi dengan menenteng kotak bekal yang ia siapkan untuk sang suami yang ternyata tidak disentuh sama sekali. Dan justru Chris lebih memilih makanan buatan orang lain.


Di dalam taksi online yang ia tumpangi, Adira menggoyangkan kakinya rutin serta membuang nafas pelan. Matanya terasa panas dengan hati bergejolak.


"Gak boleh cengeng Adira. Jangan nangis" ucap Adira menguatkan diri sendiri.


"Chris itu sangat mencintai kamu. Dia hanya lupa saja. Bukan berarti Chris tidak mencintai kamu" Adira berperan dengan batinnya. Sudah berusaha menahan airmatanya namun tetap saja bulir bening dan panas itu memaksa keluar dari celah ujung matanya.


Adira masuk ke kamar lalu melangkah ke arah balkon. Gemerlap lampu jalan, hiruk pikuk kendaraan, cahaya bulan serta bintang-bintang yang bertebaran di langit cukup menghiburnya malam ini, mengisi ruang dadanya yang kosong.


"Ayah" ucap Adira sendu.


"Disini dingin. Masuk ke dalam" Chris menaruh selimut di punggung Adira.


"Kamu sudah pulang? Kok aku gak dengar?" Adira berbalik lalu tersenyum manis. Kepulangan Chris adalah waktu yang paling ia tunggu.


"Jelas gak dengarlah. Kamu melamun" sahut Chris dengan raut tak ramah.


"Sudah makan?"


"Sudah"


"Oh sudah tapi aku belum makan. Aku sengaja nunggu kamu biar kita bisa makan bareng. Gimana kalau kamu temanin aku makan?" mata Adira berbinar dan sangat berharap Chris mengangguk mau.


"Saya mau mandi. Kamu bisakan makan sendiri?"


Adira menunduk kecewa. Ia sangat merindukan Chris yang dulu. Chris yang selalu memanjakannya dan tidak akan membiarkannya kelaparan. Adira merasa Chris yang sekarang sangat berbeda seperti dua orang dalam satu wajah.


...-----------------...


Chris memandang setiap sudut kamar begitu keluar dari kamar mandi. Ia melebarkan kaki ke arah balkon tapi Adira tidak ada disana. Chris pun keluar kamar menuju dapur dan Adira juga tidak ada disana. Ia kembali ke kamar meraih ponselnya di atas kasur.


Sambungan terhubung dan selang detik terdengar bunyi khas di sekitar Chris berdiri. Itu adalah bunyi yang berasal dari ponsel Adira.


"Malam-malam begini, dia kemana? HP nya gak dibawah lagi"


Di taman belakang apartement, Adira menengadahkan wajah ke langit. Hatinya terasa kosong melompong. Biduk pernikahan romantis yang ia idamkan selama ini, sangat jauh dari bayangannya. Tidak ada gelak tawa yang meramaikan tapi hanya ada keheningan. Ya, hanya keheningan.


Adira melirik jam tangannya. Baru pukul 09.15 pm. Dalam perjalanan menuju apartement, tiba-tiba Adira teringat dengan sosok gadis bernama Jeny yang ia temui tadi siang. Laju kakinya terhenti seketika. Ia bertanya-tanya adakah hubungan spesial antara suaminya dan gadis itu? Makan bersama! Bukankah itu hubungan yang cukup akrab?


"Hah! Kepalaku pusing" keluh Adira lelah. "Aku tidak mau pulang" Adira berbalik badan. Ingin pergi saja namun seseorang menarik kuat lengannya.


"Mau kemana?" tanpa Adira sadari, Chris sudah lama memperhatikan gerak geriknya.


"Sejak kapan kamu disini?"


"Sudah lama. Pulang"


"Aku tidak mau pulang. Kepalaku pusing" ujar Adira merasa tidak enak badan.


"Kalau pusing pulang, tidur. Bukannya kelayapan di luar" sahut Chris ketus.


Adira mencengkram rambutnya sambil meringis.


"Lepasin tangan aku. Kamu pulang sendiri saja. Aku tidak mau pulang"


Ayah, apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan ini? Aku sangat mencintainya. Tapi aku mulai merasa capek. Saat ini aku sedang tersesat dalam labirin yang sempit dan gelap. Namun meskipun sadar sedang tersesat, aku tetap tidak mau pulang. Aku takut dan kesepian. Tapi, aku masih saja ingin bersamanya. Kenapa aku begitu egois pada diriku sendiri?