Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Lipstik Merah



"Tidak sama. Kamu ada disini" Chris meraih tangan Adira dan meletakkan di dada miliknya. "Dan dia tidak ada disini" lanjut Chris dengan suara deefnya.


Mata keduanya bertemu saling memandang intens dalam diam. Selang beberapa detik. Adira menurunkan pandangan pada bibir yang sering membuatnya kehabisan nafas. Perlahan tangannya melucuti jas yang Chris kenakan. Kemudian membuka kancing kemeja putih Chris satu persatu. Dada bidang yang kencang serta otot perut yang menonjol seketika terpampang nyata di depan mata Adira. Salivanya susah payah ia telan seraya meraba bagian atas tubuh Chris. Matanya menyoroti sepasang netra pria di hadapannya dengan mulutnya sedikit terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun kini bibirnya keluh. Adira kemudian mengigit kuat bibirnya dan memejamkan mata. Ia sangat gugup.


Chris kembali tersenyum tipis dengan sikap salah tingkah wanita yang telah melucuti pakaiannya. Ia pun mengankat tubuh seksi itu lalu membaringkannya di kasur. Di bawah Chris Adira tidak bisa kemana-mana. Ia meresapi setiap sentuhan pria di atasnya. Dengan lembut Chris mengelus pipi panas Adira. Matanya menatap dalam lalu mengecup hangat kening itu. Turun ke bawah, kedua pipi Adira tak luput dari cumbuan memabukkannya. Chris kemudian memasukkan ujung hidung Adira ke dalam mulutnya. Hal itu menciptakan sensasi ngilu wanita di bawahnya. Adira bergerak gelisah. Memejamkan matanya sesaat sambil mengigit ujung bibirnya.


Dadanya naik turun tak teratur. Jika Chris dapat mendengar detak jantungnya, Adira yakin pria itu akan tertawa. Puas mengecup setiap inci wajah tak berdaya Adira, Chris lalu memainkan tangannya di atas daging kembar menantang itu.


"Buka mata kamu" bisik Chris dengan suara seksi menggodanya.


Kemudian memberi sedikit tekanan dalam permainannya yang membuat Adira seketika membuka mata. Dari sorot mata itu, Chris dapat melihat ada kekhawatiran namun meminta sesuatu yang lebih. Ia meremas dengan gerakan memutar dan memainkan daging kecil yang menjadi puncak daging tumbuh yang kini sudah mengeras. Refleks Adira membusungkan dadanya merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Dengan telaten Chris melepaskan kancing kemeja Adira. Kini kulit mulus itu hanya dibungkus bra warna hitam. Chris kembali memainkan tangannya disana. Tubuh wanita di bawahnya menggeliat liar setiap kali ia menghisap bagian atas daging kenyal itu.


"Chris sakit" lenguh Adira begitu merasakan ada benda tumpul yang memasuki tubuhnya.


Wajahnya meringis menahan sakit yang luar biasa. Bibirnya ia gigit kuat seraya mencekam seprei di bawahnya. Chris pun mendaratkan bibirnya di kening Adira lalu turun ke bibir untuk menenangkan wanita di bawahnya. Ia membenamkan kejantanannya di dalam sana tanpa melakukan gerakan dulu.


Dalam sekejab kejadian itu kembali melintas. Adira merasa seperti ada sesorang yang berlarian di kepalanya.


"Please jangan sekarang" mohon Adira dalam hati. Ia tidak ingin sakitnya kambuh lalu merusak suasana saat ini.


"Adira kamu kenapa?" tanya Chris khawatir.


"Sakit banget, kepalaku" keluh Adira menggeliat hebat.


"Jangan" larang Adira saat Chris akan mencabut kejantanannya. Detik kemudian ia mengecup brutal bibir pria yang telah berhasil merenggut kegadisannya.


Chris mengurai tubuhnya lalu menghapus keringat yang membasahi kening Adira.


"Masih sakit?" tanya Chris cemas.


Adira hanya menunduk malu. Pipinya merah padam. Ia lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecilnya. Tingkah menggemaskan itu membuat Chris tertawa tertahan. Senyumnya mengembang lebar. Chris mulai bergerak naik turun melanjutkan permainannya yang tadi sempat tertunda. Semakin cepat Chris bergerak makan semakin keras pula Adira melenguh. Suara keduanya saling bersahutan sensual. Beberapa kali Adira berteriak merasakan ada yang keluar dari tubuhnya.


"Aahhhh" teriak panjang keduanya secara bersama. Tubuh Chris ambruk di atas Adira dengan kulit mengkilap dibasahi keringat.


Nafas mereka tersengal tak beraturan. Setelah stabil, Chris mengecup lembut kening itu lagi lalu menarik selimut menutupi tubuh tak berbusananya dengan Adira.


Matahari pagi datang menyapa menyinari sepasang insan yang masih terlelap. Panasnya yang menyengat masuk melalui dinding kaca yang tidak ditutupi tirai. Cahaya itu menyerang wajah Adira membuatnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia memutar wajahnya 30 derajat mendapati Chris di belakangnya. Tangan pria itu melingkar di pinggangnya. Sepertinya Chris memeluknya semalaman. Adira tidak ingat setelah pertarungan semalam. Tubuhnya sangat lelah dan langsung tertidur. Ia pun berbalik arah memandang wajah tampan berkharisma di hadapannya. Adira membelai lembut wajah Chris dengan rasa tidak percaya. Setelah memendam perasaan selama 3 tahun, ia bisa sedekat ini dengan Chris.


Tiba-tiba Chris bergerak. Adira pun segera berbalik badan. Seketika Chris tersenyum tipis. Tangannya ia kalungkan lagi di pinggang kekasih pujaannya itu. Kemudian mengecup hangat pundak Adira.


"Kamu sudah bangun?" tanya Adira berdebar.


"Dari tadi"


Mata Adira membelalak sembari mengambil posisi sebelumnya. Kantuknya yang tersisa langsung hilang.


"Dari tadi. Berarti kamu sudah bangun duluan terus tahu aku nyentuh kamu begini?" ucapnya membelai wajah Chris memperagakan apa yang dilakukannya beberap menit yang lalu.


"Hmm" angguk Chris.


"Isshh nyebelin banget sih" balas Adira malu. Ia pun mencubit geram dada bidang yang semalam membuatnya terpana.


Chris menarik tubuh Adira hingga menempel dengannya. Dan hampir saja bibir keduanya bertemu jika Adira tidak cepat mengurai wajahnya.


"Kenapa?" tanya Chris heran merasa Adira menghindari bibirnya.


"Aku takut sakit lagi"


"Kalau begitu tidur saja" ajak Chris tersenyum simpul seraya membenamkan wajah Adira dalam dekapannya.


Tim divisi 1 dan crew yang lainnya tampak sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk peluncuran produk terbaru J.O Company yang telah selesai melakukan proses shooting iklan. Hari ini tiba waktunya produk terbaru mereka akan di perkenalkan secara luas ke masyarakat. Tak lupa hadir juga Bryan Agrata sebagai brand ambassasor dalam moment penting itu.


"Pak sebaiknya ini diletakkan dimana ya pak?" tanya Lisa meminta saran.


" Disana saja. Letakkan di pinggir ya agar tidak ganggu orang lewat" saran Chris.


Chris mengedarkan matanya mencari keberadaan Adira. Sejak tadi ia tidak melihatnya.


"Bryan mau ngomong apa sih? Buruan, semuanya lagi sibuk" ucap Adira tak sabar. " Aku juga masih ada yang harus dikerjakan. Penting gak? Kalau gak penting, nanti saja bicaranya. Udah ya aku turun dulu" lanjutnya buru-buru.


"Susstt diam dulu. Tenang jangan panik" Bryan menutup mulut Adira dengan jari telunjuknya.


Bryan menatap intens wanita yang telah mengambil ciuman pertamanya. Tanpa diduga Bryan tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Dengan sigap Adira mengelak dan mundur beberapa langkah.


"Kamu mau ngapain sih?" tanya Adira terlihat shock.


"Aku suka sama kamu, Adira. Sejak hari itu aku tidak bisa melupakan kamu. Aku selalu berharap bisa ketemu kamu lagi agar bisa mengatakan ini" ungkap Bryan penuh ketulusan.


Adira tercengang tak percaya. Bisa-bisanya Bryan mengingatnya selama itu. Ia saja sudah lupa. Ciuman tak disengaja itu tidak berarti apa-apa baginya. Itu hanya ketidaksengajaan. Hanya itu.


"Bryan, gini ya aku gak nyangka kamu menganggap penting kejadian itu. Saat ini...


"Itu ciumam pertama kamukan? Apa itu tidak penting untuk kamu?" potong Bryan.


"Tapikan itu gak sengaja. Ya udah aku gak mikirin itu kok. Aku gak ngerain apa-apa juga" Adira melangkah maju berdiri berhadapan dengan kawan semasa sekolahnya dulu. "Bryan aku menghargai perasaan kamu tapi aku sudah memilih seseorang dan aku sangat mencintainya. Aku harap kamu mengerti. Kamu pasti bisa dapatin yang lebih baik. Aku turun duluan ya" pamit Adira setelah memberi pengertian pada Bryan. Ia tidak ingin memberi pria itu harapan. Karena itu Adira mengatakan perasaannya yang sebenarnya agar Bryan tidak berharap.


Adira melebarkan kaki menuju lift. Seketika langkahnya terhenti begitu melihat Chris berdiri tepat di depan lift yang tertutup.


"Kok pak Chris disini?" tanya Adira berdiri disamping atasannya itu.


"Jadi dia pemilik ciuman pertama kamu?" tanya Chris balik.


Adira membisu sambil memainkan jari tangannya.


"Kenapa jari kamu begitu? Panik ya?" sambung Chris sengaja mengintimidasi.


"Cemburu ya?" ucap Adira balik bertanya.


Chris tersenyum miring lalu tertawa kecil tertahan.


"Kalau iya kenapa?"


"Ya gak papa. Cemburukan tanda cinta" Adira segera menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya yang membuat sebagian pipi meronanya tertutupi.


"Gak usah di tutup. Kamu cantik kalau lagi senyum"


Pujian Chris semakin membuat Adira bersorak dalam hati. Ingin rasanya berteriak lepas meluapkan bahagianya saat ini.


"Hah...sayang lagi di kantor" keluh Chris membuang nafas pendek.


"Kenapa memangnya?" tanya Adira tidak begitu paham.


"Lemot banget. Itu bibir kamu membuatku panas. Lain kali kalau di kantor jangan pakai lipstik warna merah lagi"


Chris dan Adira masuk begitu lift terbuka. Di dalam kotak besi itu keduanya hanya bisa senyum-senyum sendiri tanpa bisa bersentuhan. Bahaya kalau sampai kebablasan karena ada cctv yang mengintai.