
Cahaya pagi menyapu masuk ke ruangan Chris yang terlihat masih kosong tanpa penghuninya. Sudah pukul 09.00 am namun pria tinggi berbadan atletis itu belum datang juga. Adira menunggu dengan gelisah. Ia tidak hentinya memandang ruangan Chris yang tidak ditutupi tirai. Ia sudah tidak sabar sekali ingin mempertanyakan perihal dasi itu. Walaupun sudah 100% yakin dasi itu milik Chris tapi Adira ingin bertanya secara langsung. Kenapa dasi itu ada pada Chris? Apa Chris tahu makna dibalik dasi sobek itu? Kenapa Chris menyembunyikan kebenaran darinya? Masih banyak lagi yang ingin Adira tanyakan. Semuanya sudah ada di ujung kepalanya. Saat ini ia cemas dan juga takut. Bagaimana jika memang Chris sudah tahu semuanya? Dan selama ini hanya pura-pura.
"Ra, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin, kamu kayak ketakutan gitu. Mikirin apa sih?" Maya menggeser kursinya dekat kepada Adira.
"Aku gak papa May. Mungkin karena akhir-akhir ini aku kurang tidur. Udah kamu balik kerja sana. Gak usah mikirin aku"
"Beneran gak papa?" sambung Maya tidak yakin.
Adira mengangguk tegas sembari mendorong pelan kursi Maya kembali ke tempatnya.
Di lain tempat, Chris tampak sendu memandang seonggok batu nisan di hadapannya. Ia mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh di atas makam. Menaburkan bunga mawar merah dan melati putih lalu menyiramkan air.
"Maafkan saya. Saya terlalu takut mengatakan semuanya. Banyak yang saya takuti. Salah satunya yang paling saya takutkan, putri bapak akan membenci dan meninggalkan saya" Chris tersenyum lirih. Ia tidak dapat menutupi binar di matanya.
* Beberapa jam yang lalu
Chris sedang bersiap-siap ingin segera pergi ke kantor. Ia berdiri di depan kaca untuk mengecek lagi penampilannya. Semua tampak sempurna. Outfit serba hitam semakin menambah kharismanya. Chris tersenyum kecil begitu secara tiba-tiba wajah Adira yang sedang tersenyum melintas di kepalanya. Ia membayangkan bagaimana Adira akan sangat terpesona dengan penampilannya hari ini. Gadis cantik itu paling suka jika Chris mengenakan celana dasar yang dipadukan dengan atasan rompi. Chris tidak sabar lagi ingin bertemu kemudian mendapati tatapan nakal Adira.
Setelah memastikan semuanya oke, Chris pun segera keluar kamarnya sambil menenteng tas hitam berukuran tidak terlalu besar. Namun langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Ia ingat semalam Adira masuk ke ruangan itu. Chris masuk ke dalam ingin mengecek kotak kecil yang ia taruh di atas meja.
"Kenapa dasinya tidak ada disini?*
Chris mengusap lembut batu nisan. Disana tertulis jika pemilik batu nisan lahir tepat di tanggal hari ini. Hati Chris serasa teriris membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Hari yang saya takutkan tiba. Dia sudah tahu semuanya" ujar Chris dengan debaran tak karuan. "Selamat ulang tahun pak. Apapun yang terjadi, saya janji akan menjaga Adira " ucap Chris seraya berdiri lalu pergi meninggalkan makam.
Ada yang harus aku tanyakan. Kita bicara di rooftop.
Nanti saja setelah pulang kerja. Sekarang aku lagi banyak kerjaan.
Chris menutup aplikasi hijaunya setelah membalas pesan dari sang pujaan hati. Ia memandang Adira sesaat dari dinding kaca lalu duduk untuk memulai pekerjaan. Chris tahu apa yang akan Adira tanyakan. Ia sengaja menunda waktu agar bisa bicara lebih santai. Karena jika bicara sekarang, Chris yakin Adira tidak bisa bekerja dengan baik.
Tepat pukul 17.00 pm satu persatu pekerja mulai berhamburan keluar kantor. Ini sudah waktunya pulang, istirahat dari pekerjaaan yang membuat pikiran penat. Di basement dimana puluhan mobil terparkir, Adira terlihat berdiri di dekat salah satu mobil. Tentu saja mobil itu milik Chris.
"Kamu sudah lama menunggu disini?" tanya Chris tiba-tiba yang berhasil membuat Adira terkejut. "Kamu melamun?" sambungnya membuka pintu mobil.
"Aku mau bicara"
"Masuk mobil dulu" sambar Chris masuk lebih dulu.
Adira tidak tahu Chris akan membawahnya kemana. Sepanjang perjalanan dadanya bergemuruh dengan pikiran bercabang layaknya ranting pohon. Adira bingung mana yang harus ditanyakan lebih dulu. Niatnya maju mundur urung tersampaikan. Mulutnya seperti di lem yang mempersulitkannya untuk bicara. Sampailah di sebuah taman yang gemerlap dengan cahaya lampu.
Chris dan Adira melangkah seirama sambil memautkan jari-jari. Genggaman itu nampak erat. Namun tiba-tiba Adira menarik tangannya dari genggaman Chris. Adira merogoh tas selempangnya lalu mengeluarkan sebuah dasi.
"Dasi ini punya kamukan? Aku punya sobekannya" ucap Adira membentang dasi di tangannya.
"Dari mana mendapatkannya?"
"Iya"
Adira tertunduk lesuh. Matanya berkedip cepat. Rasanya berat bertanya lagi.
"Kamu tahu tentang dasi ini? Dasi ini milik...
"Milik orang yang sudah menabrak ayah kamu" sahut Chris berlagak tenang.
Plakk
Tamparan keras mendarat bebas di wajah tampan Chris. Adira mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar kehabisan kata. Apa yang ia curigakan benar. Chris sudah tahu sejak awal. Adira merasa dibodohi. Selama ini ia mencari tak tentu arah seperti orang gila. Dan ternyata tersangka itu ada di dekatnya, kekasihnya sendiri.
"Kenapa hari itu kamu tidak menolong ayah? Jika kamu tidak kabur maka ayah tidak akan kehabisan darah. Dia mungkin bisa di selamatkan" racau Adira menangis histeris. Tak hentinya Adira memukul dada bidang pria di depannya.
Chris menggertakkan giginya. Ia menengadahkan kepala berusaha menahan airmatanya agar tidak luput dari tempatnya. Lagi-lagi ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya jika di hari na'as itu juga turut ayahnya di dalam mobil. Chris tidak bisa mengatakan jika iya hanya duduk di sebelah ayahnya. Ayahnyalah yang memegang kendali stir. Tapi apapun alasannya, Chris merasa dirinya tetap bersalah karena tidak berani membuka fakta yang sebenarnya. Penyakit jantung ayahnya mengharuskan Chris untuk tetap diam.
"Aku baru masuk kuliah. Jika aku tidak pergi maka masa depanku akan hancur" ucap Chris yang semakin memicu kemarahan Adira.
Sekali lagi Adira melayangkan tangannya ke wajah Chris. Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin pria yang begitu ia kagumi ternyata hanyalah seorang pecundang.
"Egois. Pengecut" hardik Adira dengan mata menyala.
"Adira" ucap Chris lembut sambil menangkup wajah Adira.
"Gak usah sentuh-sentuh aku. Mulai sekarang kita putus. Aku gak mau punya hubungan dengan seorang pembunuh"
Chris berdiri mematung. Kata pembunuh yang Adira lontarkan seakan mencekik lehernya. Seketika kata-kata yang akan diucapkan tertahan di tenggorokannya. Percuma, karena apapun yang ia katakan tidak akan bisa meluluhkan hati Adira yang sedang berkobar.
"Aku menyesal menyukai pria kejam seperti kamu" ucap Adira berlari kencang meninggalkan Chris.
Tubuh Adira menghilang di tengah malam yang kelam. Chris hanya bisa memandang nanar dalam kebisuan tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aahh" Chris tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar, ia goyah. "Aarggh" sambungnya kesakitan dengan denyitan kuat di kepalanya.
Wajah Chris berubah pucat pasih. Dengan sisa tenaga, ia berjalan gontai menuju mobil.
...-------------------------...
Next part,
"Sebaiknya segera dilakukan tindakan operasi agar kankernya tidak menyebar. Karena jika terus ditundah maka kesehatan pak Chris akan semakin menurun"
Tok! Tok! Tok!
"Adira" Chris menarik keras raga ramping itu dalam dekapan eratnya. "Aku sangat merindukan kamu"