
Adira menyusuri jalan setapak perbukitan. Perjalanan yang cukup melelahkan namun menjadi suatu kepuasan yang tak terhingga begitu menggapai puncak. Udara perbukitan yang bersih serta nyanyian daun pohon yang tertiup angin seketika membayar tuntas rasa lelah itu. Adira membentangkan tangan sambil menutup mata rapat, meresapi angin sejuk yang menusuk kulit. Benar kata seseorang, setidaknya sempatkan waktu untuk memanjakan diri sendiri di suatu waktu. Dan jangan biarkan kesibukan kerja serta permasalahan hidup membawahmu terjebak ke dalam tempat yang sempit hingga membuatnya lupa akan luasnya dunia luar. Adira melepaskan sepatu yang dikenakannya lalu melangkah perlahan menikmati lembutnya reremputan hijau yang ada di bawah kakinya.
Beberapa bulan ini, masalah demi masalah terus menerus menyerang hingga rasanya rasa kasihan itu hilang. Ya, Adira merasa sedang tidak menjadi dirinya sendiri dan tidak merasa kasihan dengan keadaan dirinya. Adira yang ceria. Adira yang tidak akan larut dalam kesedihan panjang hanya karena masalah perasaan. Dan kini saatnya untuk kembali dan keluar dari rasa yang menyesakkan itu.
"Hmm tempat ini bagus banget. Aku jadi lebih tenang sekarang" ucap Adira lega sembari mengendurkan pundaknya yang tegang.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan kalau ketemu Chris? Aahh aku malu bertemu dengannya?" sambungnya loyo jika mengingat perlakuan tak terpujinya pada sang suami.
Adira sangat menyesal telah mendiamkan Chris selama tiga hari ini. Itu sifat yang tidak pantas dicontoh. Namun di satu sisi, Adira merasa sangat beruntung mempunyai teman seperti Maya dan Lisa yang sudah menyadarkannya dan menasehatinya akan pentingnya menghargai suami serta mengingatkannya akan tugas seorang istri.
Mendekati pukul 03.30 pm, Adira pun menuruni bukit. Ia harus pulang dan masak makan malam untuk Chris.
"Pokoknya kamu gak boleh sakit hati lagi, Ra. Kalaupun Chris gak makan masakan kamu, ya sudah biarin. Nanti tonjok saja kepalanya" celoteh Adira bawel pada diri sendiri. Lalu Adira terkekeh geli dengan sikap konyolnya itu.
Kebetulan hari ini hati sabtu, hanya bekerja setengah hari. Adira sangat senang karena ia punya waktu untuk diri sendiri atau istilah kerennya me time serta sekarang ia bisa pulang cepat untuk melayani sang suami. Sebelum sampai rumah, Adira menyempatkan waktu belanja ke pasar untuk membeli bahan yang akan dimasak nanti.
...---------------...
"Masak apa?" Chris tiba-tiba datang dan memeluk Adira dari belakang.
Sontak pundak Adira bergedik karena sebelumnya ia tidak mendengar langkah kaki yang mendekat padanya.
"Masak makanan kesukaan kamu" ucap Adira memanjakan suaranya lalu berbalik badan menatap wajah tampan sang suami.
"Keliatannya enak tu. Aromanya saja enak banget" puji Chris sembari mengendus aroma khas yang keluar dari makanan yang sedang mendidih di kompor.
"Iyalah enak, kan aku yang masak, istri kamu" sahut Adira mengulum bibir.
"Oh ya? Tapi sepertinya lebih enak ini" Chris menarik dagu Adira lalu melesatkan kecupan hangat yang memabukkan.
Dalam sekejab Chris langsung menguasai wanita dalam dekapannya sekarang. Ia memainkan bibirnya lalu menggigit geram bagian bibir bawah Adira agar mau membuka mulut. Begitu terbuka, Chris langsung memasukkan lidahnya ke dalam sana. Keduanyapun saling bertukar saliva dengan gairah yang bergelora.
"Hmm, saya tanya kamu masak apa?"
Bahu Adira terangkat sedikit kemudian mengedipkan cepat matanya. Ia menggaruk lehernya kikuk. Ternyata sentuhan itu hanya khayalannya saja.
Ya ampun, Ra. Kok ngayalnya sampai ke situ sih, batin Adira tersipu malu.
"Kenapa melamun? Masak apa?" tanya Chris lagi sambil berjalan mendekati Adira.
"Oh...ini...aku masak kwetiau seafood. Jhon bilang kamu sering beli ini di luar. Kamu mau cicip gak? Soalnya aku merasa, rasanya masih ada yang kurang"
Chris mengambil sedikit kwetiau di dalam penggorengan. Ia diam sesaat sambil merasakan makanan di dalam mulutnya.
"Tambahkan kecap manis sedikit"
Adira menuruti saran suaminya dan benar saja setelah ditambah kecap manis, kini rasa kwetiaunya lebih pas dan siap disantap.
"Gimana pekerjaan kamu?" tanya Adira membuka pembicaraan lebih dulu di tengah makan malam mereka.
"Good. Semuanya berjalan lancar"
"Apa kamu kesulitan?" lanjut Adira bertanya.
"Lumayan. Tapi banyak yang membantu. Semuanya berjalan baik. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu" Chris kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Baguslah" ucap Adira samar sambil menganggukkan kepala. Ia bingung harus membicarakan hal apa lagi. Sejak tadi hanya ia yang bertanya lalu Chris menjawab seadanya saja. Ini bukan seperti obrolan sepasang suami istri tapi ini seperti wawancara seorang moderator dan narasumber.
Tahan Adira. Gak boleh ngambek. Sabar, batin Adira.
Setelah makan malam, seperti biasa Adira langsung membersihkan piring kotor. Ia tidak suka melihat piring kotor yang menumpuk di wastafel. Sedangkan Chris tampak sibuk menatap layar laptop di ruang kerjanya.
Pukul 21.40
Adira uring-uringan di atas kasur. Ia bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan. Adira kemudian meraih ponsel di atas nakas. Sudah selarut ini, tapi Chris belum juga masuk kamar.
Krekk
Chris mengankat kepalanya begitu pintu terbuka.
Chris melepaskan kacamatanya lalu mendongakkan wajah. Matanya membulat seketika, menatap intens sosok wanita yang berdiri di hadapannya. Tubuh mulus dan molek Adira membuat Chris tidak berkedip. Apalagi saat ini Adira hanya mengenakan baju tidur tipis dengan tali sejari. Dengan pakaian menerawang ini, Chris dapat melihat buah dada Adira yang menjulang tanpa dibungkus bra. Chris pun teringat dengan perkataan Maya beberapa hari yang lalu, jika biasanya, cewek itu kalau tidur sering tidak memakai bra.
Kenapa malam ini dia sangat cantik dan menggoda?, gumam Chris sambil menelan saliva susah payah.
"Kenapa melihatku begitu? Ada yang salah?" Adira meraba dadanya memastikan tidak ada yang salah dengan dirinya.
"Kenapa berpakaian seperti ini?"
Adira menyipitkan matanya. Ia menangkap gelagat aneh dari raut wajah sang suami.
"Mungkin ini saatnya?" ucap Adira ambigu sambil memainkan tangannya di dada Chris yang hanya ditutupi kaos oblong.
"Sa...sa...saat apa?" sambung Chris kikuk.
"Berdiri" titah Adira.
Dengan patuh, Chris langsung berdiri.
Adira pun tertawa kecil saat melihat kening Chris berkeringat.
"Kamu berubah banget setelah operasi. Bukan hanya perasan kamu untuk aku yang hilang. Tapi sepertinya nafsu kamu juga hilang" Adira menjinjitkan kaki lalu mengecup bibir Chris dengan penuh kelembutan.
"Lanjut besok saja kerjanya. Kamu harus istirahat" nasehat Adira sebelum kembali ke kamar.
Chris hanya melongo sampai Adira menghilang di balik pintu. Dahinya refleks mengerut. Kini kepalanya berpikir keras dengan perkataan Adira tadi. Ia tidak dapat fokus bekerja setelah itu.
"Kamu salah Adira" kata Chris dalam hati sambil memandang sang istri yang sedang tidur. "Aku sudah lama menahannya"
Chris melucuti kaos oblongnya mempelihatkan dada bidang yang menggoda. Tanpa menghiraukan Adira yang sedang tidur, Chris menarik kuat pinggang Adira lalu menindih tubuh ramping itu.
Adira pun bangun dan terkejut karena Chris tiba-tiba saja melahap bibirnya di saat kantuk masih bergelayut di ujung mata. Mau tidak mau, Adira harus mengikuti permainan Chris.
"Chris sebentar" pinta Adira agar sang suami berhenti mengecup lehernya.
"Why? Bukankah ini yang kamu mau?"
Sontak mimik wajah Adira berubah kecut. Adira mencoba mencari sesuatu dari sorot mata pria di atasnya. Kenapa Chris bicara seperti itu? Apa ia melakukan ini karena terpaksa?
"Jawab dengan jujur. Kamu melakukan ini karena kamu mau atau karena peran kamu sebagai suami?" tanya Adira serius.
"Karena aku mau"
Deg!
Chris bilang aku bukan saya.
"Tunggu" cegah Adira begitu Chris akan mencium bibirnya lagi. "Apa kamu deg degan?"
"Iya, aku sangat gugup. Karena itu aku tidak membangunkan kamu"
"Tunggu dulu" Adira menahan bahu Chris lagi.
"Apa lagi?" sahut Chris gelisah.
"Sejak kapan?" Adira penasaran kapan Chris menaruh perasaan lagi padanya.
"Bisakah kita melakukannya dulu? Setelah itu akan aku jawab semua"
Adira tersenyum simpul. Tak lama menganggukkan kepala.
...-----------------...
Tiba-tiba Adira mengeluarkan semua makanan yang ia makan tadi. Adira mondar mandir keluar masuk kamar mandi. Perutnya tidak enak dan selalu ingin memuntahkan sesuatu.
"Kamu sakit?" tanya Chris khawatir.
Adira hanya menggelengkan kepala. Wajahnya pucat dan tubuhnya tampak lemah.