
"Aku mau hamil" ujar Adira sembari menyeka sisa keringat di kening Chris setelah pertempuran panas mereka.
"Aku juga"
Seketika Adira melongo dengan tatapan aneh.
"Memangnya cowok bisa hamil?"
Refleks Chris mengelus wajahnya. Ia menutup matanya sambil tertawa geli. Istrinya ini memang sangat lemot tapi menggemaskan.
"Maksudnya, aku juga mau kamu hamil. Bukan akunya yang mau hamil. Gemasin banget sih" Chris tidak tahan untuk menarik pipi kenyal sang istri.
"Aww sakit. Hmm gimana biar aku cepat hamil, kita main lagi saja" tawar Adira nakal.
"Ya...kalau aku ok saja. Cuman kamunya kuat gak?"
"Kuat kok. Kuat banget malah. Kamu kali yang gak kuat" sahut Adira menantang.
Refleks alis kanan Chris tertarik ke atas menampakkan senyum devilnya.
"Nantangin? Baiklah, aku akan membuat kamu menjerit sepanjang malam sampai kamu tidak bisa berjalan pagi besok" Chris menekan bahu Adira lalu menindihnya.
"Ayo lakukan. Buat aku hamil" ucap Adira sangat bersemangat.
Hanya dengan satu hentakan kuat, Chris berhasil menyatukan tubuhnya dengan sang istri. Chris dengan brutal melahap bibir Adira sebelum sempat wanita yang kini ada dalam belenggunya bicara lagi. Adegan bercinta itupun berlangsung panas dan penuh gairah. Kulit mereka yang saling bersentuhan lengket menciptakan kepuasan masing-masing.
...--------------...
Para karyawan menundukkan kepala sejenak sebagai rasa hormat pada David selaku pimpinan perusahaan. David membalas dengan senyuman hangat pada mereka yang memberi salam. Namun senyum menawannya seketika sirna ketika ia melewati sosok Adira. Matanya mengelas tajam pada karyawannya itu. Sampai saat ini, David tidak bisa menerima putri kesayangannya dicampakkan begitu saja oleh Chris. Sebagai orangtua, ia ngin putrinya selalu tersenyum bahagia bersama pria yang dicintai tapi nyatanya impian sederhana itu menguap bagai debu setelah Adira hadir dalam kehidupan Chris.
Chris begitu tergila-gila pada Adira dan menolak mentah-mentah lamaran David untuk putrinya. David menyimpan dendam di hati namun putrinya Emilly telah dengan tegas memintanya agar tidak menganggu rumah tangga Chris. Namun David sudah bertekad, ia tidak akan tinggal diam meskipun sang putri sudah melarangnya agar jangan bertindak kotor. David tahu, Emilly pasti sakit hati meskipun putrinya itu tidak bicara secara gamblang.
Wanita itu yang telah menghancurkan impian Emilly. Kamu jangan merasa menang dulu. Saya membiarkan kamu tetap bekerja di sini karena saya sudah punya sesuatu untuk kamu, batin David tersenyum ngeri.
"Ini pak kopinya" dengan santun Jeny meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja kerja Chris.
Jeny tersenyum manis dengan warna bibir merah menyala.
"Terima kasih Jeny" ucap Chris tanpa melihat karyawan wanitanya itu. Matanya tampak sibuk memperhatikan komputer yang sedang menyala di hadapannya.
Jeny tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil terus memandang bos tampannya itu.
Chris lalu mendongak heran.
"Ada apa lagi?" tanya Chris.
"Pak Chris mau saya pesankan apa untuk makan siang nanti?"
"Gak ada. Istri saya sudah menyiapkan bekal, ini" sahut Chris sambil menepuk kotak bekalnya.
Raut wajah Jeny berubah kecut. Entah kenapa, ia tidak suka melihat senyum bahagia Chris saat bosnya itu memamerkan kotak bekal yang disiapkan sang istri.
"Oh gitu. Kalau begitu, nanti siang boleh tidak saya makan siang bareng pak Chris disini?"
Chris diam sebentar lalu mengangguk setuju.
"Boleh saja kalau kamu mau" bagi Chris tidak ada masalah jika Jeny ingin makan bersamanya. Toh juga hubungannya dengan Jeny sebagai atasan dan karyawan sudah cukup akrab. Apalagi selama ini, Jeny banyak membantunya dalam hal apapun. Chris menjadi tidak tega menolak permintaan karyawannya ini .
Mata Adira fokus pada dua objek yang ada di depan mata dan di meja kerjanya. Tangannya harus hati-hati menempelkan berbagai ornamen kecil ke desainnya ini. Jika sampai salah coret maka ia harus mengulangnya lagi dan itu akan banyak membuang waktu.
"Gimana Ra? Susah desainnya?" tanya Jhon berdiri di belakang Adira.
"Lumayan pak. Karena banyak ornamen pelengkapnya jadi lumayan susah pak. Apalagi ornamennya harus pas dengan desain utamanya" Adira menghembuskan nafas kemudian melebarkan pupilnya agar dapat melihat dengan jelas desain yang sedang ia rancang.
"Jangan terlalu diforsir. Kamu masih banyak waktu. Sekarang sudah jam 12.00, sebaiknya kamu makan dulu"
"Nanti saja pak" tolak Adira.
Spontan Adira menarik tangannya dari mouse.
Oh iya. Aku belum menelpon Chris. Dia sering telat makan siang, gumam Adira.
Adira meraih ponselnya.
"Maaf, bisakah pak Jhon pergi dari sini. Saya mau menelpon suamiku" ucap Adira tidak enak hati.
Mulut Jhon terbuka sedikit lalu tersenyum miris. Bisa-bisanya bawahan mengusir atasan. Jhon pun pergi dengan perasaan dongkol.
"Ah lebih baik aku video call saja deh. Biar dia gak bisa bohong. Ntar bilangnya mau langsung makan tapi malah kerja terus" Adira membuka aplikasi hijaunya lalu menekan nama Chris.
Namun tidak lama setelah terhubung, Adira mematikan sambungan video call. Hatinya berdebar keras begitu melihat office girl itu lagi, sedang duduk di sebelah Chris.
"Apa mereka makan siang bareng lagi?" tanya Adira membatin.
Di sisi lain, Chris tidak dapat menghabiskan makan siangnya saat Adira memutuskan sambungan begitu saja. Chris yakin, Adira pasti salah paham melihat Jeny ada di sebelahnya. Di tambah lagi setelah berulang kali menelpon, Adira tidak menjawab teleponnya. Chris dibuat cemas dengan situasi ini.
Pukul 16.50
📞 Kamu sudah pulang?
📞 Ya. (jawab Adira singkat)
📞 Tunggu sebentar. Aku jemput kamu.
📞 Gak usah. Aku mau pulang sendiri.
📞 Jangan kemana-mana.
📞 Chris please, biarin aku pulang sendiri.
📞 Pulang kemana?
📞 Ke rumah kita. Aku janji langsung pulang ke rumah. Hanya saja aku mau pulang sendiri.
📞 Baiklah. Aku menunggu kamu di rumah. Jangan berpikir yang aneh-aneh sebelum mendengar penjelasanku.
...-----------------...
Sepanjang perjalanan, Adira berusaha mengontrol pikiran dan perasaannya. Ia dengan keras membuang prasangka buruk yang berlarian liar di kepalanya. Adira tidak mau dugaannya yang belum tentu kebenarannya ini dapat merusak hubungannya dengan sang suami lagi, seperti satu minggu yang lalu.
Benar kata Chris, aku harus dengar penjelasannya dulu, batin Adira.
"Siapa tahu wanita itu yang keganjengan sama suami orang. Maklum suami aku kan gantengnya di atas standar. Ahh...tapi kenapa harus makan bareng gitu sih?" ujar Adira merengut sambil menghentak pelan kepalanya ke kaca mobil.
Tak butuh waktu lama, taksi yang Adira tumpangi berhenti di gedung apartement Chris. Adira memasukki gedung lalu menekan tombol naik pada lift.
Lift terbuka dan Adira pun masuk. Namun saat lift akan menutup, tiba-tiba seseorang menyerobot masuk. Orang itu berpakaian serba hitam. Kepalanya di balut topi dan wajahnya di tutupi masker dengan warna senada. Pria itu mundur satu langkah, berdiri di belakang Adira.
Adira bergedik ngeri melihat gelagat mencurigakan orang di belakangnya. Apalagi saat ini di lift hanya ada dirinya dan pria misterius itu. Adira teringat akan kejadian na'as itu. Sosok dan penampilan pria di belakangnya sama persis dengan orang yang berusaha membunuhnya.
Pria itu mengeluarkan pisau tajam dari saku jaketnya namun dimasukkan kembali begitu tiba-tiba lift terbuka.
"Hah" Adira melepas nafas lega. Setidaknya sekarang ia tidak perlu khawatir karena kini ada wanita lain bersamanya di dalam lift.
Tepat di angka enam belas, lift terbuka lagi. Di lantai inilah, apartement Chris berada. Adira menyusuri lorong seorang diri dan lorong yang ia lewati tampak sepi dan senyap. Tapi itu bukanlah masalah karena Adira sudah sering dengan situasi begini.
Awalnya Adira tidak menyadari ada seseorang yang membututinya. Namun langkah itu semakin jelas. Adira yakin ada orang lain di belakangnya. Sementara pria yang bertemu dengan Adira di lift tadi tampak sangat hati-hati mengikuti mangsanya.
Dengan gerakan cepat, Adira berbalik badan agar dapat menangkap basah orang yang mengikutinya namun tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Adira pun melebarkan kaki lalu berlari kecil. Sialnya apartement Chris berada paling ujung. Ia mulai ketakutan, saat tahu memang ada yang mengikutinya.
Sudah semakin dekat namun mendekati belokan tangga darurat, tangan Adira mendadak ditarik seseorang dengan sangat kuat. Mulutnya langsung dibekap agar tidak mengeluarkan suara.