Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Di Antara Dua pilihan



Baru 3 hari di rumah sakit, Chris mulai merasa bosan. Ia ingin secepatnya keluar. Ingin bekerja lagi. Dan yang paling penting, Chris tidak sabar ingin segera memulai segala persiapan untuk pernikahannya nanti. Senyumnya merekah menciptakan rona di wajah. Chris benar-benar bahagia karena setelah menunggu lama, akhirnya Adira mengiyakan lamarannya sebulan yang lalu. Tepatnya tiga hari yang lalu di malam pertama ia menginap di rumah sakit. Adira mengutarakan kesiapannya untuk menjadi istri seorang pria tampan bernama lengkap Chris Evraro.


* 3 hari yang lalu. Di malam hari.


"Ayo kita menikah?" Adira tampak serius dengan ucapannya.


Chris memutar bola matanya mencari keseriusan dari sorot mata gadis yang setengah berbaring di atasnya.


"Aku sedang sakit. Dan ini bukan sakit biasa. Kamu gak rugi menikah dengan pria penyakitan seperti aku?"


"Kalau begitu tidak usah menikah" Adira sedikit kecewa dengan pertanyaan Chris yang seakan meragukan cintanya. Menikah bukan seperti bisnis yang harus memikirkan untung dan rugi. Menikah itu menyatukan dua hati dan dua rasa menjadi satu. Jika menikah memikirkan untung rugi maka itu bukan pernikahan tapi kesepakatan.


Adira pun beranjak namun dengan sigap Chris mengenggam jemarinya.


"Aku hanya takut kamu tidak bahagia menikah denganku. Aku tidak mau kamu kerepotan mengurusku nanti" ujar Chris menarik tangan Adira pelan agar duduk di sampingnya.


"Jika kamu takut dengan semua itu, sebaiknya kita tidak usah menikah saja. Karena aku tidak pernah memikirkan semua yang kamu takutkan. Aku ingin menikah dengan kamu karena aku mencintai kamu. Aku ingin hidup bersama kamu. Kita punya anak dan menua bersama. Bukankah kamu hanya mau aku punya anak dari kamu? Karena itu menikahlah denganku" Adira mengulum bibirnya lalu menunduk sejenak. Matanya terasa panas dan perlahan menitihkan bulir airmata.


"Hah...kamu sangat menyebalkan. Masa perempuan melamar laki-laki" canda Adira tersenyum pilu sembari menyeka airmatanya.


Chris tertawa kecil mendengar keluhan gadis cantik di hadapannya. Adira mungkin lupa jika sebulan yang lalu ia pernah melamar sang kekasih lebih dulu. Hanya saja setelah itu banyak masalah yang datang dan lamaran itu menguap begitu saja. Adira tak kunjung memberinya jawaban hingga sampailah di malam ini.


Tangan Chris mengusap wajah Adira menghapus airmata yang tidak ingin berhenti. Dadanya sesak menyaksikan tangisan lirih gadis di hadapannya.


"Aku minta maaf. Kamu sering menangis karena aku. Hah...baiklah ayo kita menikah"


"Kok gitu ngomongnya? Kayak gak ikhlas gitu. Kesannya kamu dipaksa untuk menikahi aku. Gak romantis banget" timpal Adira merengut masam.


"Terus aku harus gimana ngomongnya? Sekarang aku tidak boleh keluar buat beli bunga. Ohh...kalau begitu begini saja" kedua lengan kekar Chris menyelusup ke ceruk Adira lalu mengulum bibir bawah gadis yang kini berada dalam belenggunya. "Malam ini tidur disini saja" ucap Chris memberi jeda cumbuannya sebentar.


"Memangnya disini boleh? Kan ini di rumah sakit" sahut Adira mengatur nafasnya.


"Boleh, kan hanya tidur. Memangnya kamu berpikir apa?" tanya Chris sengaja menggoda Adira.


Seketika pipi Adira merona. Sepertinya Chris sengaja menjebaknya dengan pertanyaan ambigu seperti itu. Adira pun tersipu malu sambil menutup wajahnya.


"Iihh kamu itu ya nyebelin banget" ucap Adira geram seraya menyubit kesal perut berotot Chris.


Keduanya tertawa tertahan agar tidak menganggu pasien yang lain. Saling memandang dalam dengan senyuman kebahagiaan. Lalu tertidur dalam pelukan hangat di atas ranjang yang sama.*


Adira merekatkan sepuluh jari-jarinya kemudian menggeliat panjang. Ia meregankan otot-otot persendiannya yang kaku karena hampir tiga jam lamanya tidak beranjak dari kursi. Adira seperti dikejar target dan tidak mau berhenti sebelum pekerjaannya benar-benar selesai. Bahkan di saat yang lain istirahat untuk makan siang, Adira tetap saja berkutat dengan berkas-berkas di hadapannya.


"Ahh capek banget" keluhnya menguap lebar.


Adira melirik arloji yang melingkar di tangannya. Tak terasa waktu berangsur petang. Ia mengedarkan mata dan ternyata sebagian karyawan yang lain sudah pulang. Termasuk ketiga teman akrabnya. Ya, sejak hari itu Adira sudah jarang bergabung dengan Maya, lisa, dan Farah. Setelah memberitahu hubungannya dengan Chris, ketiga temannya itu seakan menjauh dan menjaga jarak darinya.


Mungkin mereka jijik? Entahlah, saat ini Adira tidak tahu seperti apa penilaian ketiga temannya itu pada dirinya.


"Aku sangat merindukan kalian" ujar Adira memandang sendu tiga meja kerja kosong yang berjejer rapi di sebelah kanan meja kerjanya.


"Kami juga sangat merindukan kamu"


Sontak Adira menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang manis. Tak lama dari itu, suasana haru menyelimuti pelukan mesra 4 sekawan yang sempat cekcok seminggu yang lalu.


"Maafin aku Ra. Aku gak bermaksud ngomong gitu. Kamu tahukan hubungan aku dengan si brengsek itu berakhir karena apa? Tapi Lisa sudah jelasin semuanya. Dan sekarang aku tahu kamu tidak salah atas berakhirnya hubungan pak Chris dengan tunangannya. Kamu maukan Ra maafin aku" ucap Farah menyesal.


"Gak mau. Kecuali dengan satu syarat" sahut Adira dengan raut pura-pura marah.


"Apa?" timpal Lisa.


Wajah Farah tampak tegang.


"Traktir aku nasi goreng bi Iyem"


"Nyebelin" sambar Farah cemberut.


Tawa lepas menyeruak memenuhi ruangan. Adira dan ketiga temannya kembali berpelukan hangat melepas segala kerinduan dan menghilangkan semua kesalahpahaman.


...-----------------...


Di sebuah kedai yang tidak terlalu ramai, Adira dan ketiga temannya berbincang-bincang sambil menikmati menu masing-masing. Seperti yang dimintanya pada Farah, malam ini Adira mendapatkan makanan gratis alias ditraktir. Dan menu nasi goreng komplit menjadi menu andalan Adira setiap mampir ke kedai bi Iyem.


"Eh Ra cicip dong makanan kamu" Lisa langsung mengembat telur ceplok Adira meskipun belum ada izin dari pemiliknya. Hal itu membuat Adira merengut kesal.


Lisa memang selalu seperti itu. Ia seperti pencuri jika meminta makanan orang lain. Katanya lebih baik ambil duluan karena bisa saja permintaannya di tolak mentah-mentah.


"Aku juga minta Ra cuminya" pinta Farah.


Padahalkan dia yang traktir. Kenapa jadi ikutan minta?, batin Adira tidak terima potongan cuminya diambil.


"Farah, Lisa boleh. Berarti aku juga boleh ya. Aku mau dong Ra udangnya satu. Kan masih ada tiga tu. Nah aku minta satu"


Adira hanya mengangguk pasrah. Sudah nasibnya punya teman pada gesrek semua. Namun walaupun begitu Adira selalu bersyukur memiliki teman sebaik mereka yang tidak pernah pergi meninggalkannya dalam keadaan apapun.


Di tengah makan malamnya yang hampir selesai, tiba-tiba Adira mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


📞 Baiklah saya akan segera kesana.


"Aku balik duluan ya"


"Ra, tunggu. Bareng saja pulangnya" pekik Maya nyaring.


Adira tidak menggubris dan tetap berlari keluar kedai.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin memberitahu Chris. Dia belum pulih" gumam Adira cemas sembari meremas buku-buku tangannya.


Adira bingung karena ia harus datang sendiri. Si penelpon tadi memintanya untuk datang sendiri jika ingin ibunya selamat. Sedangkan Chris, malaikat penolongnya sedang sakit dan Adira tidak mungkin melibatkan pria itu dalam hal ini. Sekarang siapa yang akan membantunya?


"Pak tolong lebih cepat lagi ya" pinta Adira pada sopir taksi yang ia tumpangi.


Di kamarnya, Chris mulai gelisah sambil melirik jam yang terpasang di dinding. Sudah jam tujuh malam tapi Adira belum datang juga. Setahu Chris, hari ini Adira tidak mengambil lembur. Harusnya Adira sudah sampai sebelum jam enam sore. Apalagi hari ini hari Jum'at. Dan jika mengikuti aturan J.O Company, di hari Jum'at karyawan bisa pulang lebih cepat yaitu jam 16.00 pm.


Chris coba menghubungi Adira sejak tadi tapi tak kunjung diangkat. Hal ini semakin membuat Chris khawatir.


"Siapa kalian? Jika kalian menculik saya karena uang maka kalian salah. Aku tidak punya uang. Lepaskan saya" teriak wanita bernama Sandra.


"Diam" bentak salah satu pria berpakaian serba hitam dan memakai masker.


Seketika Sandra menutup rapat mulutnya.


"Sebentar lagi anak kamu datang. Sal, coba kamu keluar. Kalau dia sudah datang langsung seret kesini" titah pria yang berteriak pada Sandra tadi.


Sesusai perintah, begitu sampai tangan Adira ditarik paksa. Tubuhnya didorong kuat hingga tersungkur ke lantai. Sebuah surat berisi kalimat yang sama disodorkan padanya.


"Tanda tangan surat ini"


Pria kasar itu menarik kasar tangan Adira agar segera menandatangani surat. Namun Adira masih bersikukuh tidak akan memberi tanda tangannya. Ia tidak akan pernah meninggalkan Chris.


"Adira tanda tangan saja surat itu. Kamu tidak peduli sama ibu?"


"Ibu tidak tahu isi surat ini"


"Tidak penting apa isi surat itu. Keselamatan ibu lebih penting"


Adira melebarkan pupil matanya memandang sang ibu dengan perasaan marah. Di saat seperti ini, wanita yang ia panggil ibu itu masih saja bersikap egois hanya mementingkan diri sendiri.


"Adira, ayo angkat teleponnya. Kamu dimana?" ucap Chris gelisah. Ia mondar mandir sambil mendial nama Adira kembali.