Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Saya tahu semuanya



Chris duduk melamun mengingat memori terakhir percakapannya dengan Adira.


*"Pak Chris sudah punya tunangan" cegah Adira saat Chris akan mengecup bibirnya. "Bukankah kita tidak seharusnya sedekat ini?" lanjutnya enggan menatap sepasang netra di hadapannya.


"Satu cincin tidak akan bisa mengikatku. Saya punya hak penuh atas diriku. Saya yang menentukan dimana saya akan tinggal..."


"Bicara yang jelas. Saya tidak mengerti maksud pak Chris" sahut Adira tak sabar.


Chris memainkan ujung jemarinya di leher Adira lalu mengendus nafas terengah.


"Saya ingin kita terus seperti ini, Ra"


"Lalu Emilly?"


"Jangan pergi dan tetaplah di sisi saya" balas Chris berbeda dengan jawaban yang ingin Adira dengar.


Adira menurunkan tangan Chris dari lehernya. Ia sangat tidak puas mendengar jawaban itu.


"Apa di mata pak Chris saya begitu mudah?"


Chris menggelengkan kepalanya.


"Pak Chris sangat menyebalkan. Mulai sekarang tolong jaga jarak dengan saya" Adira berbalik dengan rasa kecewa.


Chris mengeram marah. Biar bagaimanapun sulit berada di posisinya. Di satu sisi, ia harus memenuhi tuntutan orangtuanya. Dan di sisi lain, ia tidak bisa berbohong jika ia telah jatuh hati dengan bawahannya itu. Chris merasakan cinta yang berbeda saat bersama Adira. Ia bebas mengekspresikan segalanya dan tidak meragukan apapun.


"Apa rasa penasaran kamu sudah lunas?"


"Maksudnya?" tanya Adira tidak mengerti.


"Bukankah kamu penasaran dengan rasanya berciuman lalu saya memberikannya. Kamu ingin tidur besama, saya menurutinya. Sekarang kamu ingin pergi. Apa kamu tidak penasaran lagi? Kita masih punya kencan ketiga. Jika masih ada yang membuat kamu penasaran, kita lakukan di kencan ketiga" ucap Chris menggebu. Matanya berkilat merah.


Adira mematung. Kepalanya coba mencerna apa yang Chris katakan. Jadi selama ini Chris menganggapnya apa? Semua yang Chris katakan tidak pernah ada dalam pikirannya.


Plaakkk


Satu tamparan mendarat di wajah Chris. Adira sangat kecewa. Ia tidak menyangka Chris akan bicara begitu.


"Dengarkan saya pak. Saya tidak pernah berpikir seperti yang pak Chris katakan. Pak Chris pernah tanya, sejak kapan saya menyukai pak Chris? 3 tahun yang lalu saat pak Chris membantu saya yang hampir jatuh dari tangga. Saya sudah menahan perasaan saya selama itu pak. Dan bisa-bisanya pak Chris bilang saya hanya penasaran. Mulai sekarang jangan...."


Chris menarik paksa kepala Adira lalu melesatkan kecupan panasnya di bibir merah mudah itu lagi. Adira pun memberontak berusaha melepaskan diri dari dekapan Chris.


"Pak" Adira menggerakkan wajahnya sembarang.


Saat ini Chris seperti hewan buas yang sangat ingin menerkam mangsanya. Penolakan Adira tak ia gubris sedikitpun.


Hingga tubuh keduanya terjatuh di sofa yang berada di area tengah apartement Chris.


Tangan kokoh Chris tetap mencekam kuat kedua sisi punggung Adira agar gadis dalam kurungannya itu tidak bisa kabur darinya.


"Pak, aah" Adira tidak lagi melawan. Kepalanya berdenging nyaring. Ia tidak dapat mengontrol rasa sakit di kepalanya.


Ini sudah yang ke berapa kalinya. Walaupun ia sudah tahu tapi Chris tetap saja panik saat melihat kondisi Adira seperti ini. Ada rasa tidak enak hati di benaknya. Chris tidak ingin Adira berpikir, jika ia memanfaatkan kelemahan Adira untuk menyentuhnya.


"Tidak ada cara lain Ra?" ucap Chris khawatir. Ia masih belum turun dari atas tubuh Adira.


Adira menggeliatkan tubuhnya sembari memijit pelan pelipisnya. Melihat Adira semakin kesakitan, Chris kemudian memutar posisinya menjadi di bawah Adira.


"Ra, saya minta maaf tapi apa benar tidak ada cara lain?" tanya Chris menyelipkan rambut Adira di balik telinga.


"Saya tidak tahu pak" Adira menurunkan tubuhnya hingga menempel lekat di atas Chris. Ia tidak menemukan cara lain. Hanya ini cara satu-satunya yang ia tahu untuk menghilangkan rasa sakitnya.


Adira pun bergerak liar disana kemudian memautkan bibirnya di bibir yang menjadi obat sakitnya kini*


"Kamu itu sulit, Adira. Jika mudah, aku tidak akan menyimpan rasa ini sendiri" ucap Chris lirih sambil memandang Adira dari balik dinding kaca ruangannya.


Adira menguap lebar. Semalam ia hanya tidur 5 jam karena harus merevisi ulang desain yang ditolak Chris seminggu yang lalu. Jika sesuai rencana maka desain yang Adira rancang akan dipakai untuk cover produk baru bulan depan.


"Jangan lupa ya, setelah makan siang kamu sama Farah ikut saya" ucap Jhon mengingatkan lagi.


"Oh iya ya. Saya hampir lupa pak. Untung desainnya sudah selesai. Sekarang tinggal di serahin saja sama pak Chris"


"Sudah kelar desainnya. Coba saya lihat" Jhon duduk di sebelah Adira.


Mata Jhon mengedar mengecek desain yang Adira rancang.


"Hah, masa sih pak. Semalam saya ngerjain ini sampai jam 01.00. Masa harus revisi lagi. Pak Chris itu jadi orang kejam banget sih" Adira menempelkan wajahnya di meja kerjanya. Ia lelah sekali.


Jhon tersenyum tipis melihat tingkah Adira yang seperti anak kecil. Ingin rasanya ia mencubit gemas pipi mulus Adira.


"Mau saya bantu?"


"Serius pak. Mau bangetlah" sahut Adira antusias.


Adira mendengar seksama semua penjelasan Jhon mengenai desainnya. Ia berdecak kagum dengan cara Jhon saat menilai setiap detail desain. Sangat mudah dicerna juga diikuti.


"Permisi pak. Saya mau serahin desain untuk cover produk baru kita" ucap Adira menyodorkan berkas ke depan Chris.


"Good" puji Chris puas setelah melihat desain yang Adira beri. "Setelah makan siang, kamu ikut saya"


"Kemana pak? Saya sudah ada janji sama pak Jhon dan Farah"


"Kemana?"


"Kami mau pergi ke pusat perbelanjaan pak. Mau obsevasi seberapa antusias pembeli terhadap produk baru kita nanti" ucap Adira menjelaskan tujuannya pergi bersama Jhon dan Farah nanti.


"Kalau begitu saya ikut. Saya penasaran dengan cara kerja kalian di lapangan"


Jhon memandang menyelidik Chris yang berjalan di sebelahnya. Tidak biasanya Jhon


mau turun langsung ke lapangan. Apalagi ini bukan menjadi bagian dari pekerjaan Chris.


"Inikan bukan pekerjaan pak Chris. Kenapa ikut kesini?" Jhon merasa Chris sengaja ikut untuk mengawasinya dan Adira agar tidak berdekatan. Selama ini Jhon curiga jika Chris memyimpan rasa untuk Adira.


"Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan perusahaan maka itu termasuk pekerjaan saya. Saya yang akan mengambil keputusan untuk apa yang harus saya lakukan" jawab Chris penuh wibawa.


Bunyi dua mobil bertabrakan terdengar nyaring. Seketika warga berkerumun menuju lokasi kecelakaan. Adira yang melihat dengan jelas saat kedua mobil bertabrakan segera mengalihkan pandangannya. Ia menempelkan wajahnya di dada Chris yang berdiri di sebelahnya.


"Kamu kenapa?"


Adira tak bersuara. Ia mencekam kuat kemeja yang dikenakan Chris.


"Pinjam dada pak Chris sebentar" suara Adira sedikit bergetar.


Chris bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Adira. Namun terlihat Adira seperti orang ketakutan.


"Baiklah. Kamu bisa menggunakan tubuh saya untuk bersembunyi, kapan saja" ucap Chris mendekap Adira.


Suara riuh itu berkurang. Tak banyak lagi warga berkumpul dan korban kecelakaan juga telah di bawah ke rumah sakit. Perlahan Adira mengankat wajahnya dan mendapati Chris tepat di depannya.


"Pak Chris sengaja ya peluk saya. Ambil kesempatan banget" ucap Adira mengelas.


"Kamu yang memeluk saya duluan"


"Mana ada gitu. Saya cuman nempelin wajah saya di dada pak Chris"


"Terus mau debat disini?"


"Gak"


"Dasar wanita tidak pernah mau kalah" gumam Chris menenteng tangannya di pinggang.


Adira diam sejenak. Matanya menyoroti wajah tampan di hadapannya. Ia heran, Chris tidak bertanya kenapa ia melakukan itu?


"Memangnya pak Chris tidak penasaran kenapa saya sembunyi di dada pak Chris?"


"Kenapa memangnya?" sambung Chris.


"Saya takut melihat kecelakaan"


"Oh" respon Chris singkat.


"Oh aja. Pak Chris gak mau tahu apa, kenapa saya takut melihat kecelakaan?"


"Itu hal yang wajar. Rata-rata perempuan takut melihat kecelakaan"


"Gitu ya" sahut Adira menganggukkan pelan kepalanya. Ternyata Chris tidak penasaran sama sekali dengan dirinya. Apa itu artinya Chris sama sekali tidak tertarik padanya? Adira menarik nafas lalu melepaskannya lagi. Ia kecewa tapi ia tidak bisa marah.


"Saya tahu Adira. Saya tahu semuanya" ucap Chris dalam hati seraya memandang Adira dalam.