Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kecupan balasan



Hari ini tim divisi 1 sedang disibukkan dengan agenda persiapan mencari bintang iklan untuk peluncuran produk baru nanti. Adira yang diberi kekuasaan penuh oleh Jhon untuk mencari bintang iklan itu. Serasa kepalanya akan pecah, Adira tidak tahu harus mencarinya bintang iklan itu kemana karena ia tidak punya koneksi kesana. Ruang lingkupnya hanya sebatas Maya, Lisa, dan Farah saja. Ia tidak mengerti dunia entertaint. Adira tidak mengerti kenapa Jhon begitu percaya padanya padahal ia sudah menolak untuk tanggung jawab ini.


"Gimana Ra kamu sudah punya gambaran belum siapa bintang iklannya?" tanya Maya mendekat.


"Sumpah aku bingung banget. Artis saja aku gak banyak tahu. Ini disuruh cari bintang atlit lagi. Kepalaku pusing banget, asli" ucap Adira sambil menghentakkan kepalanya di meja.


Produk baru yang akan diluncurkan J.O Company ialah produk minuman sehat yang berkhasiat menambah stamina tubuh agar lebih kuat dan tidak mudah lelah. Karena itu untuk menarik minat pasar, perusahaan ingin menggaet atlit muda yang saat ini sedang digandrungi guna meningkatkan ketertarikan pembeli untuk produk mereka.


"Ra, aku punya solusi buat kamu"


"Apa Sa?" sahut Adira tak terlalu antusias. Biasanya ide yang diberikan Lisa ujung-ujungnya berakhir konyol.


"Kamu tahukan atlit basket yang lagi heboh sekarang"


"Siapa memangnya?" Adira benar-benar kolot soal ini karena ia jarang buka sosmed dan di rumahnya juga tidak ada Tv jadi ia tidak tahu apa yang lagi viral di masyarakat.


"Ya ampun Ra, masa gak tahu. Itu loh atlit basket namanya Bryan Agatar"


Adira membenarkan duduknya yang tadi membungkuk. Rasanya nama itu tidak asing.


"Bryan Agatar? Sumpah aku gak tahu Sa. Terus ide kamu apa?" tanya Adira penasaran dengan maksud Lisa sebenarnya.


"Kebetulan Bryan itu temannya pacar aku. Aku bisa minta Darrel untuk bujuk si Bryan ini agar mau jadi bintang iklan produk baru kita"


"Ya ampun Sa. Kok sekarang kamu ada gunanya sih"


"Kurang asem kamu Ra. Dari dulu aku itu memang sangat berguna cuman kadang suka miring aja otakku" ucap Lisa meledek dirinya sendiri yang kemudian disambut gelak tawa Adira juga Maya dan Farah yang sejak tadi ikut mendengar obrolan serius kedua temannya itu.


Tak ingin menunda waktu. Adira segera mengajukan proposal kepada Jhon mengenai bintang iklan yang dipilihnya sebelum masuk ke tahap kedua dimana setelah disetujui Jhon maka proposal akan diserahkan kepada Chris untuk ditinjau ulang dan tahap terakhir baru ke bagian tertinggi yaitu David Jo pemilik perusahaan. Dan biasanya jika sudah di acc Chris maka untuk langkah selanjutnya akan lebih mudah.


...-----------------------...


Ini sudah lewat satu hari setelah Adira mengajukan proposal dan sekarang proposalnya sedang di tinjau oleh David Jo. Tim divisi 1 menunggu dengan harap cemas. Terutama Adira, ia cukup khawatir karena jika ditolak maka ia tidak tahu lagi harus mencari kemana bintang iklan yang pas. Sedangkan Chris terlihat sangat tenang. Ia bekerja seperti biasanya dan tidak tampak sedang menunggu sesuatu.


Tak lama, Adira segera bangun dari duduknya begitu melihat Chris menerima panggilan telpon. Ia yakin itu pasti David Jo yang menelpon.


"Baik. Terima kasih banyak pak" Chris segera keluar dari ruangannya begitu sambungan telpon terputus. Ia melangkah ke area tim divisi 1 dimana Adira, Jhon, Maya, Lisa, dan Farah sedang menunggunya.


"Gimana pak?" tanya Adira tak sabar.


Chris mengangguk pelan kemudian senyum perlahan.


"Pak David menerima proposalnya. Dia setuju dengan bintang iklan yang kamu pilih" sampai Chris bangga dengan kinerja Adira dan kawan-kawan.


"Hmm pak, sebenar bintang iklan itu atas saran dari Lisa. Dia yang menyarankan Bryan Agatar untuk jadi bintang iklan produk baru kita" jelas Adira tak melupakan jasa Lisa teman karibnya.


Dengan penuh percaya diri dan rasa bangga untuk dirinya sendiri, Lisa melangkah maju berdiri ditengah memamerkan dirinya. Hal itu tentu saja mengundang tawa di tim divisi 1.


3 hari kemudian,


Sesuai jadwal, hari ini Bryan Agatar akan memulai shoot pertama untuk produk anyar J.O Company. Adira menyiapkan dirinya dengan pakaian terbaiknya karena bagaimanapun ia harus membuat bintang iklannya terkesan. Bukan untuk menarik perhatian tapi Adira ingin dirinya terlihat competent di mata orang lain bahwa dirinya cukup baik.


"Adira kamu sudah siap?" tanya Chris mengubah posisi dasinya.


"Siap banget pak" ucap Adira penuh semangat.


"Ayo kita ke aula. Yang lain sudah disana" ajak Chris berjalan duluan.


Chris dan Adira segera masuk begitu lift terbuka.


"Pak"


"Ya"


"Sini saya benerin dasinya" ucap Adira menawarkan diri.


Matanya fokus membenar posisi dasi Chris. Adira tidak berani menatap atasannya itu karena ia akan semakin gugup. Apalagi saat ini, Chris sangat keren dengan setelan jas warna merah marunnya. Tanpa Adira sadari, Chris tidak lepas menatapnya. Lalu tiba-tiba Chris menangkup wajah Adira. Ia tidak tahan ingin melesatkan bibirnya di daging kenyal berwarna merah merona itu.


"Pak" Adira menjauh sebelum sempat Chris menciumnya.


Adira pun merasa tidak enak hati melihat wajah kecewa pria di hadapannya. Namun Adira merasa sudah seharusnya ia bersikap seperti ini. Ia tidak ingin menjadi duri dalam hubungan Chris dan Emilly.


Setelah 15 menit menunggu, akhirnya bintang iklan mereka datang.


"Selamat pagi pak Bryan" sapa Chris ramah seraya menyodorkan tangannya. "Saya Chris Evrano yang bertanggung jawab penuh untuk project ini. Dan ini Jhon, Maya, Lisa, Farah, masih ada satu cuman dia lagi ke kamar kecil" ucap Chris memperkenal masing-masing rekan timnya yang turut berkontribusi dalam project iklan.


"Terima kasih pak. Semoga kerjasama ini berjalan lancar" balas Bryan berharap.


Tak perlu menunggu lama, shoot percobaan langsung di mulai karena memang sebelum Bryan datang semua alat sudah dipersiapkan.


"Oh, shoot nya sudah di mulai" Adira segera bergabung. Ia memperhatikan seksama Bryan yang sedang memperagakan produk. "Kok kayak pernah lihat ya" gumam Adira coba mengingat. Namun ia tidak mengingat apapun.


"Cut" seru sutradara. "Istirahat sebentar. Jam satu kumpul lagi" lanjutnya.


Disaat yang lain berhamburan keluar mencari makanan, Adira masih di aula sembari memungut botol minuman yang berserakan di lantai.


"Hai"


Adira menegakkan kepalanya. Bryan sedang berdiri di dekatnya.


"Kita belum kenalan" lanjut Bryan memanjangkan tangannya ke depan Adira.


"Oh iya benar. Tadi saya ke..."


Adira langsung terdiam. Darimana Bryan tahu nama lengkapnya? Padahal Adira merasa ia baru pertama kali bertemu dengan pria di hadapannya.


"Kok kamu tahu nama saya? Kitakan belum kenalan. Tahu darimana?" tanya Adira bingung.


Bryan diam sesaat. Ia menundukkan wajahnya kemudian tersenyum tipis.


"Tadi pak Chris bilang" jawab Bryan berbohong.


"Oh gitu. Terima kasih ya pak Bryan sudah bersedia menjadi bintang iklan kami"


"Bryan saja. Sepertinya kita seumuran" sambar Bryan.


Adira mengangguk setuju.


"Bagaimana mungkin dia bisa melupakan kejadian istimewa itu? Dia tidak mengingatku sama sekali" gumam Bryan berlalu meninggalkan aula.


Ke rooftop sekarang.


Lagi-lagi Chris meminta Adira ke rooftop.


"Ada apa sih di rooftop? Kenapa pak Chris selalu memintaku kesana?" ucap Adira malas setelah membaca pesan dari Chris.


...--------------...


"Hemm. Ada apa pak Chris minta saya kesini?" Adira melangkah ke arah Chris yang berdiri di balik pagar pembatas.


"Kamu pasti penasaran kenapa saya selalu minta bertemu disini"


Kali ini Adira tidak terkejut. Sepertinya Chris tahu semua apa isi kepalanya.


"Gak juga. Pak Chris mau bicara apa?"


"Sepertinya kamu mudah akrab dengan orang baru" ucap Chris ambigu.


"Maksudnya?" Adira memutar bola matanya. "Oh pak Chris ngintip ya pas saya lagi bicara sama Bryan. Cemburu?"


Chris tersenyum memaksa.


"Cemburu? Kamu pikir saya anak ABG. Apaan tu cemburu?" sangkal Chris ragu. Sepertinya ia memang cemburu. Ia tidak suka cara Bryan menatap Adira tadi.


"Terus pak Chris mau ngomong apa? Bicara sekarang saja pak. Bentar lagi waktu istirahatnya habis"


"Ucapan kamu hari itu membuat saya tidak bisa tidur nyenyak"


Adira masih tidak mengerti. Ucapan yang mana?


"Tentang?" sahut Adira.


"Yakin gak suka saya lagi?"


Adira mengulum bibirnya. Ia harus merevisi lagi apa yang harus ia sampaikan sebelum menjawab.


"Yakinlah. Udah gak ada yang mau di omongi lagikan pak. Kalau begitu saya permisi pak. Masih banyak yang harus saya kerjakan"


"Berhenti disitu"


"Diam jangan bergerak" sambung Chris lantang.


Chris mensejajarkan dirinya berdiri di depan Adira.


"Apa lagi si pak?"


"Karena bibir gak boleh jadi disini saja" Chris mengecup lembut kening Adira. "Katanya gak suka lagi. Harusnya biasa saja. Kenapa mukanya tegang gitu?" lanjutnya tersenyum nakal.


Adira membalas dengan mencium ujung bibir Chris.


"Pak Chris juga kagetkan. Tegang jugakan. Siapa yang gak tegang di cium cowok tam..."


"Tampan maksudnya? Sepertinya kamu terlalu sering memuji saya" sambar Chris yakin.


"Sudahlah. Ini di kantor jadi pak Chris jangan menyentuh saya sembarangan. Saya takut ada yang lihat terus mikir yang aneh-aneh. Bisa-bisa saya dicap wanita perebut calon suami orang"


Chris menarik tangan Adira membawanya ke sudut yang tidak terlihat orang lain.


"Disini tidak ada yang melihat kita. Gimana?" Chris menempelkan kedua tangannya di dinding bermaksud mengurung Adira agar tidak bisa kabur.


"Gimana apanya?"


"Boleh saya mencium kamu?"


Adira menarik nafas lalu membuangnya.


"Pak saya sudah bilang. Kencan kita sudah berakhir. Saya bukan pacar pak Chris lagi. Jadi pak Chris tidak bisa melakukannya"


Hanya dengan satu hentakan, pinggang Adira menempel datar di dinding kemudian Chris melesatkan kecupan rindunya. Layaknya semangkuk sup hangat, Chris menghirup bibir Adira hingga tertarik ke dalam mulutnya.


"Pak Chris hentikan" pinta Adira mendorong pelan lengan kekar pria di hadapannya.


Sama seperti sebelumnya. Kepala Adira pusing seketika setelah bibirnya di libas habis oleh Chris.


"Saya melakukan ini agar saya tidak sakit" ucap Adira mendaratkan kecupan balik penuh gairah di bibir Chris.