Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Rasa Peduli Dan Kecewa



Sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di depan pintu utama gedung J.O Company. Untuk beberapa detik dua orang di dalamnya hanya duduk diam di sana.


"Thank you" ucap Adira.


Chris memegang pergelangan tangan Adira.


"Kamu masih marah?"


Adira mengangguk pelan.


"Terus aku harus ngapain? Aku sudah minta maaf. Jadi aku harus gimana?" jujur Chris tidak bermaksud menyinggung perasaan istrinya. Ia hanya terkejut dengan apa yang Adira ceritakan. Ia tidak tahu jika dulunya pernah bertunangan dengan Emilly.


"Kita bicara di rumah saja. Sekarang aku harus turun" kata Adira tanpa melihat wajah Chris.


"Baiklah. Coba kamu lihat ke sana" Chris mengacungkan telunjuknya ke seseorang yang berdiri di sudut gedung J.O Company.


Adira memicingkan mata, menangkap objek yang ditunjuk Chris. Ia tidak mengerti apa maksud Chris sebenarnya.


"Namanya Rama. Aku memintanya untuk menjaga kamu....


Adira membuka mulutnya dan Chris dengan sigap menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri. Seketika mulut Adira mengatup tidak jadi protes.


"Jangan protes. Jika kamu menolak ini, maka kamu harus berhenti bekerja" ancam Chris tegas.


Adira menurunkan jari Chris dari mulutnya.


"Tapi aku bukan anak kecil. Lagian disini ada banyak orang. Ada Lisa, Maya, Farah, dan ada pak Jhon juga. Mereka semua baik. Mereka pasti akan menjagaku. Jadi aku rasa kamu tidak perlu melakukan ini" ujar Adira keberatan. Ia tahu Chris sangat mengkhawatirkannya tapi menyuruh orang khusus untuk menjaganya, itu terlalu berlebihan. Adira merasa ia bukan orang yang penting hingga harus dijaga seketat itu.


Chris membuang nafas pendek sambil memijit lembut area matanya.


"Apa susahnya nurut? Apa susahnya menghargai usaha aku untuk menjaga kamu? Apa ini yang kamu mau? Kita berdebat setiap hari?"


Adira membisu dan menundukkan wajah. Ucapan Chris menyerap cepat di kepalanya. Ia bisa merasakan kekecewaan dari tutur suaminya. Ada perasaan kesal dan marah namun Chris berusaha keras menahan itu. Adira bisa merasakan itu. Tapi ia tidak mau Chris terlalu mencemaskan dirinya. Adira ingin semuanya berjalan seperti biasa tanpa harus merasa takut.


Adira menarik wajah pria di depannya dan mendaratkan kecupan dalam. "Aku minta maaf. Aku hanya tidak mau kamu terlalu mencemaskanku. Aku tidak mau situasi kita membuat kamu tidak fokus bekerja" ungkap Adira menyampaikan keresahannya.


"Jangan merasa tidak enak. Kamu akan selalu menjadi prioritas pertamaku"


Kedua sudut Adira tertarik ke atas memperlihat senyum manisnya yang menawan.


"I love you"


"I love you more" sahut Chris tersenyum tipis. Chris dan Adira turun dari mobil. Keduanya berpelukan sejenak sebelum berpisah.


Mobil Chris melaju perlahan meninggalkan area gedung J.O Company. Chris tidak menyadari jika sejak ia menghentikan mobilnya tadi, ada seorang pria penuh wibawa mengenakan setelan jas mahal sedang memperhatikannya.


"Kalian tidak bisa bahagia seperti itu setelah menghancurkan kebahagiaan putri saya" ucap David marah setelah sempat melihat Chris dan Adira berpelukan mesra.


Begitu sampai di ruangannya, amarah David semakin menggebu. Senyum bahagia Adira dan Chris membekas di kepalanya. Ia tidak terima melihat sepasang suami istri itu tersenyum bahagia seperti tadi. Apalagi sekarang Adira sedang mengandung. Kebahagiaan mereka akan semakin bertambah setelah anak itu lahir. Hal itu semakin membuat David kesetanan dan melempar apa saja yang ada di dekatnya. Wajahnya bringas dengan tatapan tajam seperti cakar Elang.


"Sepertinya aku tida bisa mengulur waktu lagi. Aku harus melakukan sesuatu" sebuah ide licik terbersit di kepala David.


Adira bekerja seperti biasanya. Tadinya ia pikir, pekerjaannya akan menumpuk seperti gunung tapi kecemasannya itu hilang seketika. Untung saja ia mempunyai sahabat seperti Maya, Lisa, dan Farah. Ya, ketiga wanita baik itu dengan suka rela mengerjakan pekerjaan Adira selama cuti kerja. Kini Adira tidak terlalu kerepotan dan dapat bekerja lebih santai.


"Eh Ra, kita makan di luar yuk" ajak Farah antusias.


" Kemana?"


"Warung bi Iyem. Udah lama kan kita gak ke sana?"


"Iya Ra. Kita udah lama juga loh gak makan bareng" timpal Lisa.


Adira belum memberikan jawaban.


"Bener tu Ra. Ayolah ikut kita" sambung Maya.


Adira merenung. Ia ingat dengan larangan Chris agar tidak keluar dari gedung J.O Company kecuali untuk urusan pekerjaan dan itupun harus ditemani orang suruhan Chris. Tapi ia rindu kebersamaan dengan ketiga temannya itu. Ia juga ingin kumpul di warung bi Iyem dan makan menu favoritnya di sana.


"Ok. Ayo kita di warung bi Iyem"


Yeahhh


Sorak mereka serempak.


Nanti aku bilang saja, kalau anaknya ngiler mau makan di warung bi Iyem, gumam Adira menyusun rencana untuk membohongi Chris.


Adira dan ketiga temannya tak henti tertawa setelah mendengarkan lelucon dari Lisa. Mereka berbincang bebas tanpa sekat sembari menunggu makanan datang.


Dari jarak dua meter terlihat ada sosok pria berpakaian serba hitam memakai topi dengan warna senada sedang memperhatikan meja yang ditempati Adira. Ia sengaja duduk di sudut yang terdapat tanaman hias sebagai pembatas agar Adira tidak menyadari keberadaannya. Pria itu segera berdiri saat melihat seorang pelayan membawah semangkuk sup hangat berjalan ke arah meja Adira. Ia berjalan tepat di belakang pelayan itu. Hanya berjarak dua langkah lagi, tiba-tiba pria itu mendorong pelayan di depannya.


Adiraaa


Teriak Maya.


"Aaah" ringis Rama saat semangkuk sup hangat menyiram perutnya.


Pria berpakaian serba hitam itu langsung berlari meninggalkan warung. Ia sadar jika sekarang Adira dijaga. Rama pun segera mengejar pria itu tanpa peduli dengan perutnya yang melepuh.


Sedangkan Adira terlihat masih shock dengan apa yang barusan terjadi. Ia tidak menyangka, ternyata pria itu semakin berani. Bahkan di tempat seperti ini pun, pria itu tetap mengincarnya.


"Bu Adira tidak apa-apa?" tanya Rama dengan nafas ngos-ngosan.


"Kamu Rama ya?"


"Iya"


"Itu perut kamu gimana?"


"Saya baik-baik saja bu. Bu Adira?"


"Saya baik-baik saja. Sekarang kita ke rumah sakit buat obatin perut kamu" Adira khawatir. Ia sangat hafal dengan sajian sup di warung bi Iyem. Sup selalu disajikan dalam keadaan panas. Bahkan saat komponen-komponen di dalam sup sudah habis, kuah sup masih panas.


"Tidak perlu bu. Nanti saya obatin sendiri. Bu Adira lanjutkan saja makannya"


"Udah, gak usah merasa gak enak. Sekarang kita ke rumah sakit. Maya, Lisa, Farah, aku balik duluan ya" pamit Adira berjalan lebih dulu, diikuti Rama dari belakang.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Adira meminta sesuatu yang berat untuk Rama turuti. Adira meminta agar Rama tidak menceritakan apa yang terjadi tadi pada Chris. Adira tahu ia salah dan Chris pasti akan memarahinya habis-habisan. Rama hanya mengangguk, tidak mengiyakan juga tidak menolak.


...--------------...


"Gimana pekerjaan kamu hari ini? Pasti kamu kerepotan ya?" tanya Chris seraya membantu Adira menyiapkan makan malam.


"Gak juga. Aku dibantu Maya, Lisa, Farah, jadi aku santai kerjanya. Kamu?"


"Seperti biasa. Hmm ada yang mau kamu ceritakan gak?"


Deg!


Jantung Adira berdebar keras. Kenapa Chris bertanya begitu?


"Cerita apa? Gak ada" balas Adira gugup.


"Misalnya tentang sup panas tadi siang" sahut Chris.


Sial. Ternyata dia cerita sama Chris, gumam Adira geram.


"Oh itu. Sayang gini....


"Apa?" Chris menyilang tangannya di dada dengan sorot mata serius.


"Sayang, aku kan lagi hamil. Gak tahu, tiba-tiba saja aku kangen masakan bi Iyem. Kalau gak dituruti ntar anak kita ngiler loh" tutur Adira berbohong sesuai rencana yang telah disusunnya.


Chris memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan tersenyum miring.


"Adira, kamu istri aku. Aku mengenal kamu. Aku tahu kamu sedang bohong" ujar Chris kecewa.


"Sayang, dengerin aku dulu....


"Bisakah sekarang kamu yang mendengarkan aku? Bisa kan! Aku selalu berusaha untuk membuat kamu aman. Tapi sepertinya kamu tidak peduli....


Chris tidak melanjutkan ucapannya. Ia berlalu, masuk ke kamar.


Hah!


Adira menghela nafas. Ia duduk lesu dan menempelkan wajahnya di meja makan. Pikirannya kacau tak beraturan. Kenapa masalah demi masalah selalu menghinggapi pernikahannya?


"Sebenarnya masalah ini tidak akan ada jika saja aku bisa menjadi istri yang baik. Chris, maafin aku" sesal Adira menyadari kesalahannya.


Tok! Tok! Tok!


Adira tersentak dan tersadar dari lamunan panjang. Ia mendongak. Orang yang mengetuk meja makan ialah suami tampannya.


"Kamu mau tidur disini?" ucap Chris seraya duduk di sebelah Adira.


Adira seperti orang kebingunan. Bukankah Chris lagi marah?


"Bisa ambilin aku nasi. Aku lapar" pinta Chris.


"Oh iya" Adira masih tidak mengerti dengan sikap Chris. "Aku sayang sama kamu" ucap Adira merayu. Ia ingin mengetes apakah suaminya itu masih marah.


Chris tersenyum simpul.


Aku juga, sahut Chris dalam hati.


Makan malam itu berjalan senyap. Hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan piring yang saling bersahutan. Chris masih ingin memberi istrinya itu pelajaran dengan mendiamkannya. Sedangkan Adira yang tadinya sempat menduga jika Chris tidak lagi marah padanya, kini tidak berani bersuara setelah melihat wajah dingin suaminya.