
Adira menambah kecepatan langkah kakinya dua kali lipat. Ia semakin dekat namun begitu mendekati belokan tangga darutan, mendadak tangannya di tarik kuat oleh seseorang. Mulutnya langsung dibekap agar tidak mengeluarkan suara. Adira hanya bisa melotot lebar dengan jantung berdebar kencang.
Susstttt
Orang itu mendesis memberi isyarat pada Adira untuk tidak bersuara.
Sedangkan orang yang membututi Adira tadi terlihat kebingunan mencari keberadaan sang mangsa. Padahal ia hanya menoleh ke belakang sebentar tapi gadis yang diincarnya tiba-tiba menghilang. Pria berpakaian serba hitam itu memasukkan kembali pisau yang ada dalam genggamannya ke saku jaket. Lalu berbalik badan dan pergi dengan perasaan marah karena tidak berhasil menghabiskan buruannya.
Ha...haha...haha
Adira mengambil nafas sebanyak-banyaknya sesaat setelah pria yang mengejarnya pergi. Benar-benar situasi yang sangat menegangkan hingga jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya.
"Lisa, kamu kok disini?" tanya Adira dengan nafas yang belum teratur.
"Ra, siapa orang itu? Kenapa dia mengejar kamu?" tanya Lisa balik.
"Enggak tahu" Adira menggeleng kepala cepat. Ia juga tidak mengerti kenapa ada orang yang ingin mencelakainya. Padahal selama ini Adira merasa tidak punya musuh. Seingatnya ia tidak pernah menyakiti apalagi melukai orang lain. Lalu kenapa muncul lagi orang yang ingin menyerangnya setelah kejadian kelam dimana papa Chris berusaha merenggut nyawanya dulu.
Tidak mungkin orang itu suruhan papanya Chris. Dia kan sedang dipenjara, batin Adira berpikir keras.
"Untung aku lihat kamu dikejar tadi? Kalau tidak, sudah habis kamu Ra. Aku lihat dia bawah pisau"
"Terima kasih banyak, Sa. Gak tahu deh kalau gak ada kamu. Mungkin aku...ah sudahlah. Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu disini?"
"Aku...
"Kita ngobrolnya di apartement saja" sambar Adira.
"Gak usah. Aku cuma mampir sebentar. Ini" Lisa menyodorkan USB pada Adira. "Aku yakin USB ini sangat penting karena kamu pernah bilang kalau semua data desain kamu ada di sini. Besok kamu harus menyerahkan desainnya kepada pak Jhon kan? Jadi aku pikir, kamu membutuhkan USB ini untuk menemani kamu begadang malam ini" ujar Lisa terkekeh kecil.
Adira langsung menyeruak memeluk Lisa. Tak henti-hentinya ia bersyukur memiliki teman sebaik Lisa, Maya, dan Farah. Saling mendukung dalam keadaan senang maupun sedih dan saling menuntun ke arah yang lebih baik. Berkat nasehat ketiga temannya jugalah, kini hubungannya dengan Chris semakin baik dan kokoh.
"Thank you banget, Sa. Hmm...baik banget sih kamu, Sa" puji Adira dengan bibir manyun menggemaskan.
"Ya udah kamu masuk duluan. Aku takutnya orang itu balik lagi"
"Oh iya, Sa. Aku minta kamu jangan ceritain tentang ini sama Chris ya. Aku gak mau dia kepikiran" pinta Adira sungguh-sungguh.
...---------------...
Chris melirik waktu yang tertera di sudut kiri atas ponselnya. Sudah hampir jam tujuh malam tapi Adira belum pulang juga. Sembari menunggu istri tercinta datang, Chris mulai menata nasi serta lauk pauk di atas meja. Semuanya terlihat sangat menggugah selera dan siap disantap.
"Hai" sapa Adira dengan intonasi lemah.
Chris berbalik badan melihat pemilik suara yang menyapanya. Ia melangkah menghampiri wanita cantik yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa dengan suara kamu, sakit?"
Adira diam sejenak sambil menundukkan wajah. Ia bingung harus mengatakan yang mana dulu. Memberitahu Chris tentang apa yang baru saja ia alami? Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Meluapkan kecemburuannya tentang kebersamaan Chris dan Jeny tadi siang. Apa itu harus dipertanyakan? Pada akhirnya, Adira memendam semua itu sendiri. Ia tidak tega menambah beban pikiran sang suami. Chris baru menjadi seorang CEO menggantikan papanya di Djaya Group. Banyak yang harus Chris pikirkan. Suaminya itu juga masih dalam tahap belajar. Jika ia mengajak sang suami bertengkar sekarang, maka itu akan memecahkan fokus Chris. Resikonya semua bisa saja menjadi berantakan.
"Hai, kok diam? Ada apa? Hmm" tanya Chris sambil mengelus pipi Adira.
"Gak papa. Aku lagi capek saja. Soalnya aku harus nyerahin rancangan desainku besok. Sedangkan aku merasa desainnya masih belum sempurna" ujar Adira cemas.
"Ya sudah kita makan dulu. Nanti aku coba bantu"
"Hmm. Sekarang makan dulu. Kalau perut lapar, mana bisa mikir. Duduk. Aku sudah masak makanan kesukaan kamu" Chris menarik kursi untuk Adira dengan senyum menawan, layaknya seorang raja yang memperlakukan spesial permaisurinya.
Sikap Chris itu membuat Adira tersanjung. Terkadang terbersit di benaknya, mungkin suaminya itu sudah mengingat semuanya. Hanya saja sekarang sedang pura-pura tidak ingat. Ya, terkadang Adira mengkhayal begitu. Walaupun pada kenyataannya, pria yang ada di hadapannya sekarang adalah Chris dengan kenangan yang baru. Biarpun sekarang Chris bersikap hangat dan romantis seperti dulu namun Chris ini tetaplah Chris yang baru meskipun dengan wajah yang sama.
Selesai makan dan mandi, Adira langsung membuka laptopnya. Matanya fokus pada objek warna warni yang ada di laptop. Tangannya bergerak ke kiri dan kanan memainkan mouse touch.
"Apa yang harus aku bantu?" tanya Chris memberi pelukan hangat dari belakang.
"Menurut kamu desain ini bagus gak?"
"Terlalu banyak warna. Jadinya terlihat kurang elegant" sahut Chris memberi pendapat.
"Tapi produk baru kami ini pasarnya untuk anak-anak. Jadi aku pikir dengan desain warna warni gini bisa membuat mereka makin tertarik" celah Adira mengutarakan pikirannya.
"I know but it's too crowded" Chris mengambil kursi lalu duduk di sebelah Adira. "How about this?" sambungnya mengambil alih laptop dan mulai menuangkan ide cermerlangnya pada desain Adira.
Menit demi menit berlalu. Adira pun kini terlelap tidur dengan wajah menempel di meja. Tepat pukul 22.45 pm, Chris akhirnya bisa menyelesaikan desain. Ia meregangkan otot tangan dan pundak yang kaku. Setelah itu, Chris mengankat tubuh Adira ke atas kasur.
"Aku tahu, ada yang kamu sembunyikan" Chris membelai lembut ujung kepala Adira sambil menatap sendu. "Tidak apa-apa jika kamu tidak mau cerita sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap" sambungnya sambil mencium kening sang istri.
Keesokan harinya di pagi yang dingin, tiba-tiba Adira berteriak histeris. Chris yang baru saja selesai mandi langsung menghambur keluar.
"Why? Ada apa?" tanya Chris panik. Handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya terlihat tidak terikat sempurna.
Mulut Adira menganga tak percaya setelah melihat hasil desain suaminya semalam.
"Kenapa kamu teriak?" tanya Chris lagi.
"Sayang, asli ini desainnya bagus banget. Ya ampun, kok bisa sekeren ini sih. Ahh mau teriak lagi" Adira baru saja membuka mulutnya namun Chris langsung menyambar.
"Jangan" larang Chris cepat. "Daripada kamu teriak, lebih baik bikinin aku mie tumis saja" pinta Chris yang tiba-tiba saja ingin makan mie.
"Siap pak bos. Tapi....
Adira berlenggok manja ke hadapan Chris. Matanya terpana dengan perut rata dan dada bidang sang suami. Apalagi saat ini tubuh Chris hanya dibalut handuk putih. Ini membuat Chris terlihat semakin seksi di mata Adira dan mungkin di mata wanita lain juga.
"Ta...tapi apa?" tanya Chris gagap.
"Gimana kalau kita main dulu. Kita gak pernahkan main pagi-pagi" ajak Adira dengan tatapan liar menggoda.
Adira mendorong tubuh Chris ke kasur. Detik berikutnya ia sudah ada di atas tubuh seksi itu. Chris hanya tersenyum pasrah dan membiarkan tubuhnya di raba sensual oleh wanita di atasnya. Pelan tapi pasti, Adira mengecup teratur setiap bagian tubuh Chris di mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Kecupannya menetap lama di bibir padat berisi sang suami. Hisapan dan cumbuan saling bersambut seirama. Saling bertukar saliva yang tentu saja semakin memercik api birahi.
" Oh iya aku lupa. Jam sembilan kan aku ada meeting. Sayang gak jadi ya" Adira segera berdiri lalu merapikan pakaian kerjanya.
"Hah! Terus aku gimana? Sudah bangun ini" kata Chris gelisah.
Adira mencium bibir Chris sebentar.
"Sayang, sorry banget ya. Kalau kita melakukannya sekarang, aku bisa telat meetingnya. Kamu tahukan, pak David itu paling gak suka sama karyawan yang gak on time. Aku juga minta maaf, aku belum bisa masak mie untuk kamu. Tapi aku janji setelah pulang kerja, aku akan buatin kamu mie yang paling enak. Dan pasti permainan yang lebih panas" ucap Adira sambil mengedipkan mata kirinya. "Aku berangkat duluan ya"
"Tunggu. Stop disitu. Lima menit" Chris bangkit dari kasur lalu memakai setelan jas yang telah disiapkan Adira saat ia mandi.
Meeting sialan. Gara-gara dia, aku harus menahannya sampai nanti malam, ujar Chris membatin.