Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Kata Maaf Tertahan



Kondisi tubuh Chris terlihat semakin lemah. Bibirnya pucat dan tangannya gemetar tidak kuat mengendalikan stir mobilnya. Kepalanya berdenging nyaring serasa gong yang dipukul lantang. Setelah berjuang keras agar kondisinya tetap stabil, Chris sampai juga di sebuah rumah sakit yang cukup ternama. Ia langsung saja menemui dokter khusus yang sebelumnya sudah diberitahu jika dirinya akan datang. Dokter pria yang berusia sekitar 40 ke atas itu dengan ramah mempersilahkan Chris berbaring sejenak sembari ia menyiapkan alat.


Entah obat apa yang diberikan dokter, kini Chris merasa sudah baikan. Tubuhnya tidak gemetar lagi dan jari-jarinya tampak kembali kokoh siap mengenggam apa saja.


"Dok, bagaimana kondisi saya? Kenapa tadi tiba-tiba kepala saya sakit? Sebelumnya saya belum pernah merasakan sakit seperti itu" ungkap Chris menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya beberapa jam yang lalu.


"Kankernya mulai menjalar ke bagian yang lain" dokter diam sejenak sambil menarik nafas gelisah.


"Sebaiknya segera dilakukan tindakan operasi agar kankernya tidak menyebar. Karena jika terus ditunda maka kesehatan pak Chris akan semakin menurun" sambung dokter menyampaikan tindakan final yang harus Chris jalani.


Chris menunduk dengan mata terpejam. Ia takut bahkan sangat takut. Sebulan yang lalu dokter mengatakan jika dilakukan tindakan operasi maka kemungkinan besar sebagian ingatannya akan hilang. Tidak apa-apa jika ada kenangan yang hilang tapi bagaimana jika kenangan yang hilang itu tentang Adira. Chris di vonis dokter mengidap kanker otak stadium awal.


Membayangkan jika setelah dilakukan tindakan operasi ia akan melupakan Adira sudah sangat membuat Chris frustasi. Apalagi jika itu benar terjadi.


"Saya mengerti dok tapi saya tidak bisa melakukan operasi sekarang. Ada seseorang yang harus saya jaga. Tolong beri saya obat terbaik dok. Saya janji setelah urusan saya selesai, saya akan segera melakukan operasi" ujar Chris penuh harap. Rautnya tampak memohon agar dokter mengatakan hal baik padanya.


"Obat tidak untuk menyembuhkan. Obat yang pak Chris minum hanya untuk mengurangi rasa sakitnya saja. Selain operasi jika mau, pak Chris bisa melakukan kemoterapi" saran dokter memberikan solusi kedua pada Chris.


Namun Chris lagi-lagi menolak. Ia tahu tindakan kemoterapi membutuhkan waktu yang panjang dan rutin. Dengan segala kesibukannya di kantor, ia belum bisa melakukannya. Apalagi sekarang hubungannya dengan Adira sedang renggang. Chris harus mengejar Adira lagi agar mau memaafkannya. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan sang pujaan hati.


...--------------------...


Adira duduk melamun di balik meja kerjanya. Matanya menatap kosong komputer di depannya. Sebuah berkas yang harus diserahkan pada Chris membuat Adira berat beranjak. Sempat terbersit di benaknya untuk membuka lagi kasus tabrak lari ayah tercinta tapi kenapa sulit sekali melakukannya. Semalaman ia berpikir tapi tetap saja hatinya tidak tega membawah Chris masuk ke jeruji besi.


Tok! Tok! Tok!


"Ini laporan distribusi bulan kemarin pak. Untuk data lengkapnya, saya sudah kirim ke email pak Chris" ujar Adira menyerahkan laporan ke tangan Chris.


"Bisa kamu jelaskan saja isi laporannya. Banyak hal lain harus saya selesaikan" pinta Chris menatap layar laptop miliknya.


Adira diam sejenak. Tidak disangka ia dan Chris berada di situasi yang begitu canggung seperti saat ini. Sampai detik ini, Adira tidak bisa memaafkan pria di depannya bahkan mungkin selamanya tidak bisa. Sikap pengecut Chris yang menjadi penyebab kematian ayahnya membuat Adira marah. Lebih dari itu Adira sangat kecewa. Rasanya ingin lari saja tapi royalitasnya dipertanyakan jika ia pergi begitu saja.


"Bisa pak. Saya jelaskan dari sini saja"


"Duduk" titah Chris tegas.


"Baik pak"


"Bukan disitu, disini" sambung Chris menggeser kursi ke sebelahnya.


Chris dengan seksama mendengarkan paparan gadis yang duduk di sampingnya. Sebenarnya ia bisa mengecek sendiri isi laporan namun hanya ini cara agar ia bisa dekat lagi dengan Adira. Mata Chris tak henti memandang dalam wajah cantik gadis di dekatnya. Wangi khas yang berasal dari tubuh Adira menenangkan pikirannya. Chris bahagia bisa menatap Adira dari jarak sedekat ini lagi. Setelah tahu semuanya, Adira tidak mau lagi bicara dengan Chris tentang apapun selain untuk urusan pekerjaan. Ia benar-benar memutuskan hubungannya dengan Chris.


"Pak Chris dengar sayakan?"


"Tentu saja"


"Saya sudah selesai pak. Saya permisi"


"Tunggu. Jika aku sakit, apa kamu akan memaafkanku?"


Adira mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti arah pertanyaan Chris. Kenapa tiba-tiba bicaranya aneh? Apa ini trik khusus agar hatinya luluh? Tidak-tidak! Sejak dulu, Adira berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memaafkan orang yang telah menabrak ayahnya. Jika saja hari itu Chris tidak kabur dan membawah ayahnya ke rumah sakit, mungkin kekecewaannya tidak sedalam ini. Ia bisa saja memberi maaf dan menganggap kecelakaan ayahnya nasib sial.


Chris pun tersenyum lirih. Ucapan Adira seperti belati yang menghujam ulu hatinya. Entah sampai kapan Adira menganggapnya tidak ada. Namun selama apapun, Chris akan selalu memberi waktu untuk Adira untuk memaafkannya lalu mencintainya lagi.


"Sepertinya dia sangat kecewa. Apa tadi aku terlalu kejam ngomongnya?" tanya Adira dalam hati.


Bingung, bimbang, marah, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Adira tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Kenapa selalu berpikir untuk memaafkan Chris? Ia sangat merindukan pelukan hangat dari pria berbadan kekar itu. Di saat tidak tentu arah seperti sekarang, Chris lah yang selalu ada untuknya memberi saran dan jalan keluar terbaik. Namun masalah pelik yang sedang ia hadapi saat ini disebabkan oleh pria yang sama, pria yang selalu mampu membawahnya keluar dari masalah. Lalu bagaimana caranya keluar dari lubang masalah yang membuat hatinya luka?


...----------------------...


Hujan dari sore tadi tidak kunjung berhenti. Beberapa karyawan J.O Company terjebak di dalam gedung tidak bisa pulang. Maya dan Farah beruntung karena pulang lebih dulu. Tinggal Adira, Lisa, dan Chris yang masih tinggal dari tim divisi 1. Sedangkan Jhon sudah 3 hari ini mengambil cuti kerja.


"Kalian belum pulang?" sapa Chris berdiri tepat di belakang Adira.


"Lagi nunggu pacar saya jemput pak" sahut Lisa.


"Kamu Adira?" timpal Chris dengan suara lembutnya.


"Belum" Adira tidak menoleh sedikitpun.


Lisa menjadi kikuk berada diantara atasan dan temannya itu. Perasaannya seketika tidak enak begitu melihat raut kusut Adira.


"Sepertinya mereka bertengkar" gumam Lisa bergeser sedikit menjauh. Tak lama ponselnya berdering.


📞 Ya udah aku turun sekarang. Tunggu sebentar.


Lisa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Ra, aku pulang duluan ya"


"Aku nebeng ya. Pacar kamu bawah mobilkan?"


Lisa menggaruk ujung bibirnya sembari melihat ke arah Chris. Anggukan Chris membuatnya paham apa yang harus dilakukan. Tentu saja menolak permintaan Adira untuk pulang bersamanya.


"Aduh Ra sorry ya. Kali ini kamu gak bisa ikut soalnya setelah ngantar aku, Darrel mau buru-buru pergi. Katanya dia ada urusan lain. Udah ya aku pulang. Bye"


"Tapi Sa hujannya belum berhenti. Sa...Lisa" pekik Adira namun langkah temannya itu terlalu lebar. Dalam sekejab tubuh Lisa hilang dari pandangannya.


Adira mengusap wajahnya. Diam mematung dengan tangan kiri sebagai penopang wajahnya. Ia yakin, Lisa sengaja meninggalkannya berdua dengan Chris.


"Mau aku antar pulang?" tawar Chris tersenyum senang dengan kepeka'an Lisa.


"Gak perlu. Saya akan menunggu disini sampai hujannya berhenti"


Waktu terus berjalan tanpa bisa ditunda apalagi dicegah. Hingga jarum jam berada di angka 20.00 pm, hujan tak kunjung reda. Adira pun ketiduran dengan wajah menempel di atas meja kerjanya.


"Dasar tukang tidur. Dia selalu tidur dimana saja" Chris jongkok mensejajarkan wajahnya dengan gadis yang sedang terlelap di hadapannya. Ia mengelus wajah kenyal itu sambil memperhatikan setiap tarikan nafas Adira.


Chris kemudian pergi ke ruangannya dan memakai jaket panjangnya lalu menyilangkan tas selempangnya di pundak. Ia kembali kepada Adira lalu mengankat bridal tubuh langsing itu membawahnya ke dalam mobil.