Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Miliki Anak Dari Aku



Sinar mentari pagi memaksa menerobos masuk melalui celah gordeng dan menusuk tepat di kedua mata Adira yang masih terlelap.


Adira perlahan membuka matanya dan memperhatikan ruangan yang ditempatinya sekarang. Ruangan berbentuk kotak yang sudah tidak asing. Untuk kesekian kalinya Adira terbangun di tempat tidur yang sama. Bukan tempat tidur miliknya tapi milik pria yang semalam menyentuhnya.


Adira menggeliat, nyawanya belum berkumpul sepenuhnya. Sepuluh jarinya dikaitkan kemudian menciptakan bunyi khas. Rasanya jari-jari tangannya kini lebih ringan. Terpaan angin dari pendingin ruangan membuat Adira kembali memejamkan mata. Tidak mau beranjak apalagi mandi. Ia memiringkan badannya ke sisi kanan dan baru menyadari jika Chris tidak ada di sampingnya.


Samar Adira mendengar suara dari luar kamar. Suara itu juga tidak asing. Ini suara yang biasa ia dengar setiap kali terbangun di atas tempat tidur Chris. Senyuman tipis setipis kertas seketika menyemai di wajah bantal Adira. Ia tahu apa yang sedang dilakukan pujaan hatinya itu.


"Masak apa lagi dia?"


Rasanya ingin seperti ini terus. Setiap pagi bangun di ranjang pria yang selalu bertarung nyawa untuk melindunginya. Mendengar bunyi pantulan panci. Mencium aroma masakan. Memeluk erat dari belakang. Lalu mencium mesra pundak lebar Chris. Seperti yang saat ini yang sedang Adira lakukan. Ia bergelendot manja di tempat ternyamannya.


"Aku lapar" kata Adira kembali mengecup kulit bagian belakang Chris yang tidak dibungkus sehelai benangpun.


Chris berbalik badan. Mencubit gemas pipi kenyal Adira lalu menarik kedua sisi rahang Adira hingga bibir merah muda itu mengerucut ke depan. Ciuman kuat penuh nafsu melekat lengket di bibir Adira. Gadis cantik dan imut ini terlalu menggemaskan, Chris tidak tahan membiarkan bibir ranum kesukaannya menganggur lama. Bunyi keciplak dari persatuan bibir keduanya terdengar nyaring dan membuat siapapun menelan ludah jika melihatnya. Kemudian larut ke dalam sentuhan penuh gairah mereka.


"Chris" Adira mengurai pelukan Chris membuat bibirnya terlepas dari pautan maut pria berbadan kekar di depan matanya. "Sekarang aku semakin lapar" sambungnya manyun sambil mengelus perutnya yang belum di isi sesuatu.


Chris mengigit bibir bawahnya gatal. Matanya menyipit menelisik sorot mata gadis muda di hadapannya. Sebenarnya ia juga belum makan apapun tapi manisnya bibir Adira membuatnya lupa dengan rasa lapar itu.


"Duduklah disana. Sebentar lagi masakanku masak" kata Chris mengarahkan telunjuknya pada meja makan yang tidak berada jauh dari posisinya saat ini.


Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin. Perlakukan Chris membuat Adira speechless. Ia diperlakukan dengan sangat lembut. Baik batin maupun lahir. Chris layaknya pengganti cinta pertamanya. Sosok ayah kembali Adira temukan dalam diri Chris. Rasanya tidak ingin saat-saat seperti ini cepat berlalu. Jika diberi hadiah permintaan maka Adira akan meminta mesin penghenti waktu. Ia ingin menghentikan waktu agar moment manis ini tidak akan pernah hilang.


"Kamu kok gak pakai baju? Gak dingin apa?" tanya Adira sembari berjalan menuju meja.


"Kan ada kamu yang panasin" timpal Chris asal.


"Dih apaan sih. Mesum banget" ledek Adira duduk manis. Matanya tidak bosan memandang punggung Chris.


"Tapi kamu sukakan?" timpal Chris balik sembari menyodorkan Roti bakar dan Omelet kepada Adira.


Tak ketinggalan kedipan menggoda Chris sematkan. Kedipan yang mampu membuat tubuh Adira bereaksi panas. Menjadi gadis beruntung yang dipilih pria tampan dan pintar seperti Chris adalah hal yang tidak pernah melintas di pikiran Adira. Ia ingat betul saat pertama kali menginjakkan kaki di J.O Company, ada banyak pasang mata terutama mata gadis-gadis yang memperhatikan Chris. Sempat saat berbincang-bincang, Adira mendengar gadis-gadis itu ingin menjadi pacar Chris walaupun cuman beberapa jam saja. Karena itu dengan semua pesona Chris di mata gadis-gadis, Adira merasa sedikit beruntung.


"Wajah kamu mulai tumbuh rambut. Mau aku bersihkan?" tawar Adira. Ia lebih suka melihat wajah Chris bersih tanpa brewok. Walaupun sebenarnya keseksian Chris lebih tumpah saat wajahnya ditumbuhi rambut tipis. Tapi saat berciuman terasa tusukan tajam dan Adira tidak suka itu.


Di balkon, Chris duduk pasrah di atas kursi kayu. Sedangkan Adira mulai mengolesi Shaving foam untuk mengurangi iritasi di wajah Chris saat dicukur nanti.


"Duduk disini" titah Chris menepuk paha kerasnya.


Tanpa penolakan, Adira duduk dalam pangkuan Chris kemudian perlahan mulai mencukur rambut di wajah Chris.


"Adira"


"Hmmm"


"Seberapa besar kamu menyukaiku?"


"Aku tidak bisa mengukurnya karena terlalu besar" jawab Adira apa adanya.


"Jika aku tidak ada, apa kamu akan menyukai pria lain?"


"Kamu sudah berjanji akan selalu menjagaku. Jadi kamu tidak bisa kemana-mana" kata Adira menghentikan aktivitasnya dan menatap dalam sepasang retina Chris. "Bukan hanya suka tapi aku akan menikah dan memiliki anak dari pria lain jika kamu meninggalkanku" ucapan Adira terdengar mengancam.


Deg!


Jantung Chris berhenti berdetak beberapa detik. Apakah ucapan Adira serius? Adira bersanding bersama pria lain, itu akan sangat menyakitkan. Jika suatu saat jantungnya berhenti berdetak. Apakah Adira juga akan berhenti mencintainya? Itu bisa saja terjadi mengingat saat ini di kepalanya bersarang penyakit yang mematikan.


"Adira. Jangan lakukan itu. Jangan menyukai pria lain jika aku tidak ada" pinta Chris serius juga menuntut.


"Iya. Aku tidak tahu tapi untuk saat ini aku tidak berpikir tentang pria lain selain kamu"


Chris tersenyum memaksa. Rasa takut dengan kematian membuatnya sulit tersenyum lepas.


"Kamu juga tidak boleh memiliki anak dari pria lain. Miliki anak dari aku saja"


"Tentu saja" sahut Adira cepat diiringi senyuman kecil. Adira dapat merasakan betapa Chris sangat menginginkan dirinya. Ucapan aneh Chris membuatnya sempat berpikir curiga. Tapi dengan rasa sebesar itu, rasanya tidak mungkin Chris akan meninggalkannya.


...-----------------...


Chris mencuri waktu di sela jam makan siangnya. Tanpa sepengetahuan Adira, ia pergi ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan kankernya. Apakah melunak atau justru semakin menganas?


Setelah berbaring di atas ranjang, tubuh Chris di dorong perlahan memasukki ruang CT scan. Selang beberapa saat, mata Chris terbelalak. Apa yang dokter sampaikan di luar ekspektasinya? Dokter mengatakan apa yang tidak pernah ingin ia dengar. Ternyata kankernya berkembang pesat menjadi stadium tiga. Kemoterapi menyakitkan yang Chris lakukan kemarin tidak banyak membantu. Itu untuk meminimalisir bukan menyembuhkan secara total. Tindakan operasi harus segera dilakukan agar kanker itu tidak semakin parah.


Chris berjalan gontai. Tatapannya sayu dan pikirannya kosong melompong. Hanya ada orang yang membuatnya tetap bertahan sampai detik ini, Adira. Dan jika dilakukan operasi, kemungkinan orang itu akan ia lupakan. Semua kenangan, mungkin saja sirna. Bukan hanya kemungkinan itu. Tapi kemungkinan lain tentang nyawanya. Bisa saja ia tidak selamat. Beberapa artikel yang sempat ia baca tentang orang yang melakukan operasi kanker otak membuat nyalinya down. Karena ada diantara mereka yang meninggal. Dalam kata lain, penyakit itu bisa saja memberi efek kematian meskipun telah dilakukan tindakan operasi.


...--------------...


"Siapa kamu? Salah aku apa? Aku tidak kenal kamu. Kenapa kamu mau membunuhku?" teriak Adira memberontak.


"Adira, aku sakit. Aku sekarat"