Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Memendam Rindu



Hari ini Adira sengaja berangkat ke kantor sedikit terlambat karena memang rencananya ia hanya akan mengantar surat pengunduran dirinya saja. Setelah itu mengambil beberapa barang miliknya lalu pergi. Tekad Adira sudah bulat. Ini cara satu-satunya agar ia bisa melupakan Chris. Jika terus bertemu setiap hari makan perasaannya pada Chris tidak akan pernah hilang. Adira tahu ini tidak akan mudah. Rasa cintanya untuk Chris sudah tertanam kokoh di tempatnya bahkan tanaman yang dicabutpun tetap akan meninggalkan akar-akar kecil. Begitupun dengan perasaannya. Chris tidak akan hilang seratus persen dari lubuk hatinya. Tapi setidaknya dengan tidak bertemu setiap hari, rasa itu pelan-palan akan memudar.


"Ra, kamu kok telat banget datangnya?" tanya Lisa tak sabar bahkan Adira belum sempat duduk.


Adira tidak merespon. Ia hanya diam sembari mulai mengemas beberapa alat tulis miliknya.


"Sa, aku akan....


"Kamu tahu gak, Ra?" sambar Lisa memotong ucapan Adira.


"Apa?"


"Pak Chris mengundurkan diri"


Sontak mata Adira membelalak. Jantungnya berdetak kencang. Kabar dari Lisa benar-benar membuatnya kehabisan kata. Adira pun berlari kecil menuju ruangan Chris. Dan benar saja, ruangan itu sudah kosong. Meja di depannya sudah bersih. Mendadak tubuh Adira terhuyun ke lantai. Perasaannya berkecamuk di aduk-aduk layaknya adonan kue.


"Apa yang kamu lakukan?" gumam Adira.


Beberapa kali Adira mencoba menghubungi Chris tapi jawabannya tetap sama.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


Hanya kalimat itu yang merespon panggilan Adira pada Chris.


Di lain tempat di sebuah rumah sakit, Chris tampak membisu memandang layar ponselnya yang tidak berhenti menyala. Panggilan Adira harus ia abaikan karena mulai hari ini ia akan menjalani kemoterapi. Chris takut jika ia mendengar suara Adira maka ia akan mengubah keputusannya lagi. Ia sudah menunda terlalu lama dan jika terus ditunda maka kankernya akan semakin parah. Chris memilih tindakan kemoterapi daripada operasi karena ia masih takut, ingatannya tentang Adira akan hilang setelah dilakukan operasi.


"Lebih baik aku saja yang pergi. Aku tahu kamu lebih membutuhkan pekerjaan itu. Aku harap kamu selalu bahagia, Adira" ucap Chris tulus dalam hati.


"Pak Chris sudah siap?"


"Siap dok" jawab Chris yakin sambil tersenyum tipis.


Hari-hari berlalu begitu saja tanpa kesan yang membekas. Adira mengurungkan niatnya dan tetap bekerja di J.O Company. Kursi yang ditinggalkan Chris sampai sekarang belum ada penggantinya. Ruangan itu masih kosong dan senyap tanpa penghuni. Bagi Adira menjalani hari tanpa Chris adalah hari yang sangat sulit. Chris adalah semangatnya. Chris adalah tempatnya bercerita. Chris adalah tempatnya memeluk kasih sayang. Dan kini tempat itu hilang seperti ditelan bumi. Karena sampai hari inipun, Adira tetap tidak bisa menghubungi Chris. Pria itu benar-benar menghilang dari kehidupannya.


Ya, ini memang yang Adira inginkan. Ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria yang menabrak ayahnya itu tapi kenapa batinnya justru perlahan semakin menderita setelah tidak bertemu lagi dengan sang pujaan hati. Adira memendam rindu yang teramat dalam. Ia ingin bertemu dengan Chris. Lalu menanyakan kenapa kamu melakukan ini?


Rintik hujan menarik Adira kembali ke dunia yang sebenarnya. Khayalan indahnya sirna seketika. Adira tersenyum getir seiring air hujan yang semakin deras menetes ke bumi. Daun-daun yang tadinya mulai layu kini kembali segar disirimi air hujan. Kakinya melangkah keluar lalu berdiri tegap di tengah halaman rumah. Tangannya yang tidak terlalu panjang dibentang lebar. Matanya tertutup rapat meresapi air hujan menghujam setiap bagian tubuhnya.


"Ayah, aku sangat merindukannya" ucap Adira lirih. Tubuhnya bersimpuh di tanah dengan isak tangis ditengah derasnya hujan.


...-------------------...


Pagi ini Chris bangun dengan kondisi yang lebih baik dari kemarin. Proses kemoterapi yang panjang menguras energinya. Rasa sakit yang luar biasa efek dari kemoterapi yang ia jalani kini menjadi makanannya sehari-hari. Ini sudah resiko jika ingin sembuh tapi entahlah, Chris tidak tahu apakah tindakan ini cukup mujarab. Yang ia tahu ia akan sembuh. Dan setelah sembuh, memeluk Adira adalah hal pertama yang akan Chris lakukan setelah rentetan kemoterapi selesai.


"Dok, berapa lama lagi? Aku sudah bosan di rumah sakit" keluh Chris membuka matanya berat.


"Sebentar lagi" balas dokter dengan jawaban yang sama setiap kali Chris bertanya.


Chris mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia tersenyum kecil. Jhon datang lagi. Ya, Jhon satu-satunya orang yang tahu tentang penyakit Chris. Dan itupun tidak sengaja. Jhon yang saat itu mau menebus obat untuk luka di beberapa bagian tubuhnya akibat dari pukulan papa Emilly tanpa sengaja melihat Chris keluar dari ruangan dokter spesialis. Setelah tahu Chris mengidap penyakit ganas, Jhon semakin diliputi rasa bersalah pada teman karibnya itu. Ia pun berjanji akan melakukan apapun untuk temannya itu termasuk merahasiakan tentang penyakit Chris pada Adira.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Jhon basa basi. Tanpa ditanyapun ia dapat melihatnya sendiri, kondisi Chris belum cukup baik.


"Kwetiau goreng seafood" aroma khas dari kwetiau di tangan Jhon membuat Chris tidak tahan ingin mencicipinya namun peringatan dokter agar tidak makan makanan dari luar membuat Chris hanya bisa mengelus dada.


Jhon pun terkekeh geli melihat Chris menelan saliva. Ia memang sengaja menggoda temannya itu agar Chris lebih semangat lagi untuk sembuh agar bisa mencicipi segala makanan kesukaannya seperti dulu lagi.


"Gak enakkan sakit? Kamu jadi gak bisa makan makanan seperti ini lagi. Makanya buruan sembuh"


"Sialan, teman gak ada akhlak" caci Chris mendelik.


"Kamu masih belum memberitahu Adira? Apa aku saja yang memberitahunya?" tanya Jhon sembari memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Aku sengaja tidak menjawab panggilannya agar dia tidak tahu. Awas saja kalau kamu memberitahunya" ancam Chris melototi Jhon yang duduk di sisi ranjangnya. " Terus kenapa kamu tidak dipecat pak David? Kamu bilang kamu dipukul habis-habisan" tanya Chris penasaran. Yang Chris tahu, David adalah sosok yang tidak akan menaruh belas kasihan pada orang yang telah mengusik kehidupannya terutama untuk putri kesayangannya.


"Entahlah, aku juga tidak paham. Mungkin Emilly mengancam papanya agar tidak memecatku"


"Terus gimana hubungan kamu dengan Emilly?" sahut Chris.


"Hubungan apa? Kami tidak pernah punya hubungan. Itu hanya nafsu semata"


"Yakin?" sahut Chris tidak percaya.


Jhon diam sejenak. Sebenarnya ia ingin jujur jika ia juga menyimpan rasa lebih untuk Adira, wanita yang dicintai Chris. Itulah kenapa Jhon bimbang dengan perasaannya pada Emilly. Saat pertama kali menyentuh Emilly, Jhon yakin perasaannya ada disana. Tapi semakin kesini perasaannya justru cendrung ke Adira.


"Tidak Jhon jangan katakan. Kamu akan menjadi pengkhianat untuk kedua kalinya. Adira hanya untuk Chris. Mereka saling mencintai. Sudah cukup kamu menyakiti Chris" Jhon berperang dengan batinnya.


Tok! Tok! Tok!


Adira mengetuk pintu apartement Chris berulang. Ia tidak tahu apakah Chris ada di dalam. Yang jelas hatinya tidak dapat lagi memendam rindu. Hanya sebentar saja. Setelah melihat Chris, ia akan segera pergi.


"Semoga Chris ada didalam" harap Adira gelisah.


"Oh iya lupa. Kan ada bel. Ngapain aku ngetuk pintu" ucap Adira merasa konyol.


Adira pun menekan bel panjang.


Krekkk


Pintu kayu itu terbuka lebar menampilkan sosok yang Adira harapkan. Hatinya berdebar keras tidak tahu harus bicara apa. Ia hanya menatap Chris dalam diam begitupun sebaliknya.


"Ada apa?" tanya Chris memecahkan keheningan. Ia menyilangkan tangan di dada lalu bersender di sisi pintu.


Adira gugup setengah mati. Setelah hampir satu bulan tidak bertemu, ia merasa seperti bertemu orang baru.


"Aku sudah selesai. Permisi" ucap Adira berbalik badan namun tangan kekar itu menariknya ke belakang.


Chris menarik paksa tangan Adira dan membawahnya masuk. Ia menempelkan tubuh ramping itu di dinding.


"Kita belum memulainya. Bagaimana bisa kamu bilang sudah selesai" ucap Chris berbisik tepat di depan telinga Adira.