Don'T Kiss Me

Don'T Kiss Me
Aku Minta Maaf



Plakk


Tamparan keras singgah di pipi Adira. Matanya berbinar. Tubuhnyapun goyah namun saat akan jatuh, Chris sudah ada di belakangnnya. Pria itu dengan sigap meraih tubuh kekasih hatinya. Sementara itu, Adira melotot heran. Sejak kapan Chris datang?


"Siapa kamu?" tanya ibu Adira seraya menarik kasar lengan putrinya.


Cengkraman ibunya membuat Adira meringis perih.


"Saya Chris, atasan Adira di kantor. Adira ini anak ibukan? Pantaskah seorang ibu melakukan ini?"


Wanita kasar itu membisu dengan dada bergerak naik turun cepat. Matanya mendelik tidak suka dengan sikap lancang Chris.


"Seorang ibu itu mengasihi anaknya. Mengurus anaknya. Mencintai anaknya dan memenuhi kebutuhan anaknya. Apa ibu sudah melakukan itu?" sambung Chris dengan pertanyaan beruntun.


Ibu Adira diam seribu bahasa. Ia tidak bicara sedikitpun. Ucapan Chris menohok batinnya.


"Cukup. Aku tidak butuh pembelaan kamu" ucap Adira ketus. Perasaannya berkecamuk. Sulit menjelaskannya. Kehadiran Chris semakin memperburuk suasana hatinya yang sedang kacau.


Adira melebarkan langkahnya meninggalkan rumah masa kecilnya yang memiliki banyak kenangan manis bersama sang ayah di masa lalu itu.


"Kamu mau kemana?" Chris menghadang langkah kekasihnya itu.


"Gak usah ikutin aku" ucap Adira.


"Aku akan selalu ada bersama kamu"


"Kamu ngapain ngikutin aku kesini? Mau jadi pahlawan?"


"Ngapain?" kedua sudut bibir Chris tertarik ke atas menampilkan senyum getirnya. "Aku khawatir sama kamu karena aku tahu hubungan kamu dengan ibu kamu tidak baik...


"Lalu kamu pikir kamu pantas bicara seperti itu padanya? Kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu" sebenarnya bukan ini yang ingin Adira katakan. Namun saat ini pikirannya terlalu kalut.


"Apanya yang repot? Aku gak merasa seperti itu. Aku ini pacar kamu. Aku mau melindungi kamu, menjaga kamu. Apa itu salah?" tanya Chris tidak mengerti. Kenapa jadi dirinya yang kena amukan kemarahan Adira?


"Tidak usah ikut campur urusan aku. Kamu tidak berhak melakukan itu" sambar Adira tegas.


Chris membisu cukup lama. Situasi apa ini? Hubungan apa yang sedang ia jalani? Perkataan Adira seakan menjelaskan jika tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.


"Lalu kamu anggap aku ini apa?"


Sontak pertanyaan Chris membuat Adira tersentak. Kenapa ia terus mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya diutarakan terutama pada Chris, pria yang ia cintai. Itu wajar bahkan sangat wajar jika Chris peduli padanya.


"Saat ini aku tidak membutuhkan kamu" ujar Adira sembari melambaikan tangan pada taksi yang melaju ke arahnya.


Chris memandang nanar taksi yang membawah Adira. Dadanya seperti dipukul teramat kuat. Ucapannya Adira membuatnya berpikir keras. Apakah keberadaannya selama ini sebatas barang kesukaan bagi Adira? Yang diinginkan saat sedang dibutuhkan.


Di dalam mobil, Adira tidak berhenti menangis. Bukan karena permasalahannya dengan sang ibu. Tapi ia menyesali kenapa ia membawah Chris dalam masalah internalnya. Ia malu pria yang disukainya itu harus melihat keadaannya yang seperti ini. Selama ini ia menyembunyikan rapat dan berharap dengan sikap cerianya, orang akan berpikir bahwa dirinya selalu dalam kondisi hati yang baik.


Namun orang yang ia harapkan tidak pernah tahu kesusahannya justru tahu lebih dulu. Adira kini takut Chris akan menjauhinya. Ia menyadari kehidupan Chris terlalu sempurna untuk berada disisinya.


"Maaf, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan itu" gumam Adira lirih.


Selang menit kemudian,


"Hah...sekarang aku harus bagaimana? Apa aku minta maaf saja? Gimana kalau Chris marah terus minta putus? Aahh Adira kenapa sih kamu harus ngomong gitu?" terkadang Adira merasa jika ia mempunyai dua kepribadian. Ia bisa sangat bahagia dan sedih dalam rentan waktu yang sangat dekat. Seperti perasaannya saat in. Ia ingin sekali bertemu Chris sekarang juga padahal baru beberapa menit yang lalu ia mengatakan tidak membutuhkan kekasihnya itu.


Malam semakin larut. Mobil Chris masih terparkir tidak jauh dari rumah Adira. Dan tanpa Adira sadari, Chris terus mengikutinya diam-diam. Karena meskipun kecewa, Chris tidak bisa membiarkan Adira pulang sendiri.


Menuju pukul 22.00, Chris menghidupkan mesin mobilnya setelah melihat lampu kamar Adira mati memastikan wanitanya telah memajamkan mata.


...-----------------...


Adira berusaha tetap fokus dengan pekerjaannya namun wajah kecewa Chris kemarin membuat pikirannya terbagi. Ia menyesal dan ingin minta maaf namun sialnya sampai sekarang Chris belum juga datang. Adira tidak tahu dimana keberadaan atasannya itu. Ingin menelpon tapi rasanya kurang etis meminta maaf melalui telepon. Ia ingin mengatakannya langsung.


Adira melamun lama dan tidak menyadari Chris melintas melewati meja kerjanya.


"Ra, itu pak Chris sudah datang" ucap Lisa sambil mengugah pundak Adira.


Adira tersentak. Bahunya bergedik refleks. Bisa-bisanya ia melamun sampai tidak menyadari kedatangan orang yang ditunggu sejak pagi tadi. Adira kemudian berdiri namun kembali duduk. Ia ragu, takut Chris akan menolak permintaan maafnya dan bisa saja Chris memintanya untuk menjauh seperti yang ia takuti.


"Selamat siap pak. Ini model desain yang pak Chris minta kemarin. Desainnya belum jadi 100%. Itu baru gambarannya saja pak" jelas Adira menyodorkan desainnya pada Chris.


"Maksud saya itu baru gambarannya saja pak. Saya mau minta pendapat pak Chris dulu, kira-kira....


"Bawah ini keluar" sambar Chris dengan mimik datarnya. Ia lalu melempar desain itu kepada Adira.


Sikap Chris sangat dingin. Apa ini waktu yang tepat untuk minta maaf? Nyali Adira semakin mengkerut. Sepertinya ia telah membangunkan singa yang sedang tidur.


"Akan saya selesaikan desainnya secepatnya pak. Saya permisi pak"


"Adira, lain kalau masuk ketuk pintu dulu" pinta Chris mengingatkan karena tadi Adira menyelusup masuk tanpa mengetuk pintu.


Adira meraih botol minum yang tergeletak di ujung sudut meja kerjanya. Ia menggunakan bagian atas botol untuk menopang wajahnya. Kepala sedikit pusing. Tubuhnya terasa lelah sekali. Belum selesai permasalahan dengan ibunya, kini ditambah Chris. Bedanya masalahnya dengan Chris murni karena kesalahannya.


"Maya aku ke atas dulu ya. Mau istirahat bentar" ucap Adira lesuh.


"Kamu kenapa Ra, sakit?"


"Gak sakit kok cuman pusing doang. Kalau ada yang nyari, bilang aku di atas ya"


"Ya udah istirahat sana. Kayaknya kamu sakit deh" ucap Maya khawatir melihat wajah Adira yang tak bercahaya. Biasanya teman karibnya itu selalu ceria dengan wajah yang fresh.


Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, Adira merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa sekujur tubuh lemah tak bertenaga.


"Ayah, sepertinya aku sakit yah tapi tidak ada yang mengurusku" Adira merubah posisi telentangnya jadi miring ke kanan. "Kemarin ibu sangat kejam dan ayah tahukan cowok yang sering aku ceritakan, tadi sikapnya sangat menyebalkan. Aku malas minta maaf" ucap Adira cemberut begitu mengingat wajah dingin Chris.


Chris menyatukan kesepuluh jemarinya lalu menarik tangannya ke atas untuk meregangkan otot tangannya yang kaku. Ia melebarkan matanya mengintip dari balik dinding kaca melihat Adira tidak ada di meja kerjanya. Chris pun melepaskan jas abu-abunya lalu keluar dari ruangannya.


"Maya, Adira kemana?"


"Oh Adira ke atas pak. Kepalanya pusing jadi dia istirahat sebentar"


Chris berdiri tepat di depan Adira yang sedang tertidur. Ia menempelkan telapak tangannya di kening Adira.


"Lumayan panas" gumam Chris. Ia kemudian melepaskan sepatunya lalu berbaring di kasur yang sama. Tangannya ia lingkarkan di pinggang Adira memeluk kekasihnnya dari belakang.


Tak lama Adira menggerakkan tubuhnya merasakan ada seseorang sedang memeluknya.


"Pak Chris. Kamu ngapain meluk aku gini? Ntar kalau ada yang lihat gimana?" ucap Adira panik. Ia berusaha menyingkirkan tangan Chris dari pinggangnya.


"Aku sudah mengunci pintunya jadi tidak akan ada yang masuk"


"Terus cctv gimana?"


"Cctv disini rusak" jawab Chris mengeratkan dekapannya.


"Wah kamu memang selalu teliti" puji Adira kagum.


"Sekarang tidur lagi. Aku akan memelukmu seperti ini biar kamu cepat sembuh"


"Siapa yang sakit? Aku baik-baik saja kok" ucap Adira kekeh dengan gengsinya yang tinggi. "Tadi kamu sangat menyebalkan"


"Kemarin kamu juga sangat menyebalkan" sahut Chris membalas.


"Aku minta maaf"


"Aku juga minta maaf" sambung Chris mengatakan kalimat yang sama.


"Aku tidak bermaksud mengatakan itu. Aku malu karena kamu melihat keadaanku yang kemarin. Aku kan sudah...


Chris mendaratkan kecupan singkat di bibir kesukaannya itu.


"Aku akan menciummu sampai tertidur jika kamu terus bicara" ucap Chris menatap intim netra di hadapannya.


Adira membisu. Ia harus menuruti perintah atasannya itu jika tidak ingin bibirnya dilahap habis. Adira pun tersenyum manis memancarkan rona di wajahnya. Wajahnya bergerak maju lalu mengecup balik bibir sang pujaan.


Di sudut tersembunyi Lisa membungkam mulutnya rapat. Ia tidak boleh bergerak apalagi bersuara.


"Jadi benar kecurigaanku selama ini. Pak Chris dan Adira ada hubungan spesial" gumam Lisa sulit untuk percaya atas apa yang barusan ia dengar. Ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mesranya Chris memeluk Adira.