CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 9



Bab 9


Setelah memberesi dandananku, menambahkan maskara di bulu mataku, aku kembali ke meja di mana Jack duduk di sana dengan tangan terangkat satu yang berada di salah satu telinganya.


“Jangan, aku... aku sedang sibuk.” Jack meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapku malu. “Itu tadi ibuku.”


“Oh. Apakah semuanya bailk-baik saja?”


“Yah, semuanya baik-baik saja,” ujarnya. “kadang-kadang ibuku agak manja. Kau tahulah, seperti ibu-ibu lainnya.”


Sebenarnya ibuku lebih aprah lagi, tapi aku hanya mengangguk sopan dan tersenyum manis.


“Ngomong-ngomong, sampai di mana kita tadi?” lanjutnya. “Oh, yah, efek...,”


Bunyi ponsel yang berada di atas meja tiba-tiba berdering dan Jack menghentikan ucapannya. “Maaf, ya. Aku harus mengangkatnya dulu.”


“Iya, silakan saja.”


Jack menjawab panggilan ponselnya dan mulai berbicara di meja, tapi ketika suara di seberang sana mulai terdengar kesal, Jack segera berdiri dan memberi isyarat bahwa ia akan keluar sebentar. Aku pun hanya duduk di sisi jendela, sambil memegang gelas wine-ku dan melihat Jack yang berjalan mondar-mandir sambil terus-menerus melambaikan tangannya sampai-sampai ia terlihat seperti sedang mencoba untuk terbang. Sungguh terlihat frustasi menurutku.


Setelah enam atau delapan menit, ia mengakhiri pembicaraannya, menghela napas dalam lalu masuk kembali. “Maaf sekali atas gangguan yang kau alami untuk ini.”


“Tidak apa-apa. Santai saja,” jawabku dengan tersenyum ramah.


“Bukankah waktu itu kau bilang kau penggemar berat teather avant grade?”


Sial. Masa aku bilang begitu? “Sebenarnya aku penggemar biasa saja.”


Jack terlihat kecewa.


“Setidaknya aku telah menontonnya sebanyak lima kali.” Aku tergelak menanggapinya.


Wajahnya kembali berseri, “Wow. Kau dan aku punya banyak kesamaan.”


“Ah, masa” Aku mencondongkan badanku ke depan dan menatap matanya dengan lekat.


“Kau wanita yang luar biasa, Jane,” ujarnya senang.


Aku tersenyum padanya karena segalanya berjalan dengan teramat mulus. Oke, aku mungkin harus belajar dulu sebelum kencan kedua kami nantinya. Aku bisa mengingat beberapa hal.


“Kau tahu, beberapa minggu lagi di Kota M akan ada pertunjukan drama..., oh, sebentar...”


Ponselnya berbunyi lagi. Sambil menggeleng-geleng sebal, Jack pun menjawab panggilan itu.


Akhirnya Jack menyela dan berkata sambil mendesah, “Oke, Mam, oke. Tunggu sebentar.”


Ia menangkupkan telapak tangannya ke ponsel lalu melirik ke arahku. “Mmm, Jane, maafkan aku. Aku janji tak akan lama.”


Dua jam berikutnya, Ibu Jack sudah meneleponnya sebanyak delapan kali dan karena aku tak punya teman untuk berbicara, maka aku pun berpikir sejenak untuk menghibur diriku dengan minuman yang ada di hadapanku saat ini. Sekarang kepalaku menjadi pusing, dan parahnya, perkataan Jack yang dari awal sampai detik ini semua membingungkan dan semakin tak jelas. Sekarang ia sedang menjelaskan drama yang pernah ditontonya di Barcelona. Rasanya seperti mendengarkan radio rusak saja.


“Yang kusukai adalah kemampuan uniknya dalam menganalisis begitu banyak unsur fisik. Dan kau tahu, itu sama sekali tidak mudah, Jane!”


Setetes wine merah mengalir keluar dari sudut bibirku.


“Jack,” bisikku..


Jack dengan asyiknya meneruskan ceritanya tanpan henti, sampai-sampai aku sudah beberapa kali mengulang namanya.


“JACK!” Aku berseru sambil meletakkan gelasku. Aku sudah merasakan pusing yang teramat.


Jack yang mendengar itu langsung tersadar, nampak terkejut. Mendadak lidahku kelu aku pun segera berdiri.


“Ada apa?” tanyanya.


Aku menghabiskan minumanku, meraih tasku yang berada di kursi, lalu mengapitnya.


“Aku minta maaf, tapi aku harus segera pergi,” tukasku.


Ia mengernyit, “Pergi?”


Aku segera menganggukkan kepalaku. “Kencan malam ini sangat menyenangkan, Jack, tapi sayangnya aku harus pergi dan aku merasa..,” aku tak bisa menemukan alasan yang tepat untuk mengakhiri ini.


“Kau sakit?” tanyanya lagi.


Aku segera mengangkat jariku dan menjentikkannya, dan menunjuk kepadanya. “Sakit. Itu dia, sakit. Aku memang merasa agak sakit.”


Ia lantas berdiri untuk menarikkan kursi untukku. Wajahnya yang kecewa membuatku merasa tidak bersalah akan kencan ini, tapi ponselnya kembali berdering.


Jack melepaskan kursiku lalu berdiri membelakangiku saat dia menjawab telepon itu. “Halo, Mam,” jawabnya.


Aku pun segera berjalan sempoyongan menuju ke pintu keluar dengan tekad yang bulat, meninggalkan dirinya seorang diri sana yang sedang berbicara dengan ponselnya.


...****************...


bye jack!