
Bab 52
Aku berdoa semoga Cast tidak ke mana-mana ketika aku tiba di rumah pukul sebelas lewat. Aku benar- benar ingin membicarakan apa yang terjadi malam ini dan hanya Castello satu-satunya orang yang bisa diajak bicara. Di samping kenyataan bahwa Julian dan Erin sedang di luar, mereka juga bukan pendengar yang baik seperti Castello. Bukannya tidak menghargai mereka, tapi memang tidak ada yang sebaik dirinya. Setelah kejadian memalukan malam ini, aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku dengan serius.
Aku mengingatkan diriku, bahwa saat ini, Castello tidak akan ada di rumah pada malam Minggu. Intinya, aku tidak mau berharap banyak.
Ketika aku memencet tombol password di pintu dan mendorongnya agar terbuka, aku melihat mantel Castello tergantung di rak di lorong, di sebelah mantelku. Pemandangan itu hampir membuat jantungku melompat karena senangnya. Akhirnya Castello ada di rumah dan aku tahu aku akan baik-baik saja.
Kunci mobilnya ada di meja samping, di sebelah ponselnya. Aku mengambilnya dan melihat screensaver-nya, fotoku dan fotonya yang diambil secara sembarangan di pantai pada musim panas yang lalu. Aku tidak dapat menahan senyum, meskipun aku sudah melihatnya ribuan kali. Terima kasih Tuhan, aku memiliki Castello yang selalu berada disampingku dan selalu ada kalau aku membutuhkan dirinya.
Aku menuju ruang tamu, dengan asumsi ia sedang menonton televisi, dan aku mendorong pintu terbuka. Aku tidak bisa menahan kaget melihat pemandangan yang ada di depanku.
Untungnya, mereka berpakaian lengkap. Namun, posisi Cast dan wanita itu, siapa pun dia, begitu intim seakan-akan wanita itu sedang melakukan hal yang tak senonoh di sana.
Castello berbaring telentang, dengan berbantalkan kedua tangannya, sehingga bisepnya kelihatan menonjol Sedangkan Ibliss Betina itu dengan rambut ikalnya yang hitam berkilau dan roknya yang terangkat tinggi hingga pangkal pahanya, bersandar di atas dada Castello dengan kedua kakinya terjalin kencang di sekitar tubuh Castello. Si wanita menatapnya, dengan ekspresi kekaguman penuh nafsuu. Di tangan Castello ada sebuah buku tua yang sedang di bacanya.
"Jantungku berdetak kencang dengan adanya dirimu di sampingku," gumam Castello dengan senyum jenaka, "dalam setiap denyutnya, dan takkan membiarkan aku berhenti. Seri hasrat mulai ter..."
Castello berhenti dan mendongak. "Oh Jane. Aku tidak melihatmu di situ."
Si wanita penggoda menarik roknya ke bawah. Syukurlah aku tidak lagi harus melihat ****** ***** hiramaya yang berenda (yang tampak murah, mau tak mau aku juga memperhatikan).
"Hai. Maaf mengganggu. Aku Jane. Senang bertemu denganmu."
Dengan wajah berseri-seri, aku berdiri dengan mengulurkan tangan kepada wanita itu, bertekad untuk tidak memperlihatkan kebencianku terhadap dirinya.
"Hai!" wanita itu menjawab dengan ceria, duduk dan merapikan blusnya. "Aku Davina. Castello bercerita banyak tentang dirimu."
Wanita itu cantik, dengan senyum yang menawan dan tubuh langsing dengan sepasang onderdil yang besar seolah- olah bisa dipakai sebagai bantal.
"Kuharap dia menceritakan yang baik-baik saja." Aku menarik napas dan sedikit membusungkan dada.
"Tentu saja," kata Castello dengan tenang. Kemudian kami saling bertatapan, tersenyum dengan sopan.
"Kalian memiliki tempat yang indah di sini," kata Davina canggung.
"Oh, ini?" sahutku. "Maafkan aku harus mengatakan ini. Sebenarnya ini adalah kamar apartemenku. Dan kamar Castello tepat disebelah kamarku. Dia memang selalu memanfaatkan kamarku lebih sering daripada kamarnya sendiri. Dan yah, kami sudah lumayan lama di sini. Iya, kan, Castello?"
"Empat tahun."
Kami masih saling memandang, kemudian tersenyum lebar.
"Kau pulang lebih cepat," kata Castello ke arahku. "Apa semuanya baik-baik saja?"
"Oh." Aku melihat jam tanganku dan berpura-pura tidak memperhatikan waktu. "Ah, iya. Baik."
"Apa kau berkencan?"
"Hmm? Berkencan? Yeah, semacam itulah. Tidak juga. Aku pergi dengan orang-orang dari tempat kerja. Acara itu membosankan, jujur saja."
"Kenapa kau pulang cepat?" tanya Castello.
"Aku merasa tidak enak badan." Aku membuat kebohongan lain.
Castello hanya menanggapi dengan mimik wajah yang membentuk kata 'oh'
"Sedikit... mual," aku berimprovisasi. "Mualnya cukup parah sebenarnya. Tak bisa kubayangkan kenapa aku bisa mual begini. Mungkin saja aku masuk angin."
Aku menatapnya dengan gusar.
"Sungguh mengerikan," lanjutnya. "Dia mengatakan persis seperti apa yang kau katakan bahwa dia merasa mual tapi tidak bisa membayangkan apa penyebabnya. Tiga hari kemudian dia baru tahu penyebabnya."
"Aku tidak hamil," ujarku datar.
"Kau yakin?" tanya Davina, terlihat benar-benar prihatin, "Perutmu terasa kembung?"
"Tidak," jawabku tegas.
"Kau tahu, aku tidak pernah menyangka temanku akan hamil, ternyata dia memang hamil. Aku akan memeriksa dua kali bila aku yang mengalami."
"Sungguh, aku tidak hamil." Aku tertawa, seriang mungkin.
"Kau bisa mendapatkan alat tes kehamilan di supermarket... harganya tak sampai sepuluh pound tapi cukup berharga untuk ketenangan pikiran," usul wanita itu lagi.
"Aku tidak membutuhkan ketenangan pikiran... Karena aku tidak hamil," kataku.
Davina menatapku penuh iba. "Hanya saja, jika kau benar-benar hamil, kau bisa menghadapinya dengan baik sejak awal. Dengan begitu, kau bisa menentukan pilihanmu secara terbuka. Sikap penolakan adalah hal terburuk... itulah yang mereka katakan."
"Sejujurnya," aku menegaskan, merasa agak tertekan sekarang, "aku yakin seratus persen aku tidak hamil."
"Well, itulah yang dipikirkan Lucinda, tapi..."
Belum selesai ia berbicara, aku langsung memotongnya. "Hei, dengar, ya!" Aku sedikit menjerit, melemparkan tanganku ke atas. "Kehidupan sekssku bagai bocah umur sembilan tahun, jadi kecuali bisa terjadi pembuahan tanpa melakukan hal itu, AKU TIDAK HAMIL! APA KAU PAHAM?"
Ruangan seketika menjadi hening. Davina tercengang. Castello bergerak-gerak tidak nyaman.
Mungkin sebaiknya kami pergi." Castello berdiri dan meraih tangan Davina. "Aku berencana untuk menunjukkan kepada Davina..."
Castello menghentikan ucapannya ketika menyadari bahwa aku mungkin tidak ingin tahu apa yang hendak ditunjukkannya kepada Davina.
"Tidak usah, aku yang akan pergi dari hadapan kalian." Aku keluar dari ruangan itu tanpa berpikir panjang dan membuat kegaduhan untuk kedua sepasang kekasih itu. "Maaf, aku... aku minta maaf."
Ketika aku sampai di kamar tidurku dan melemparkan diriku ke tempat tidur, aku menatap celah di langit-langit, benar-benar merasa tertekan. Semenit kemudian, ada ketukan di pintu.
"Masuklah," kataku, sambil duduk.
Castello masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Bukankah kau punya tamu?" tanyaku saat ia duduk di ujung tempat tidur. "Davina akan baik-baik saja selama dua menit. Apa ada sesuatu yang terjadi malam ini?"
"Cast, tidak usah kau tanyakan," kataku, dan segera menyesali ucapanku karena aku sangat ingin membicarakannya. "Aku mengalami kencan yang buruk. Yang terburuk. Aku hampir membunuh seseorang."
"Kau serius?" Castello terbelalak dengan mata yang melebar. "Apa yang kau lakukan?"
Aku menceritakan dengan detail semua kejadian yang mengerikan itu dan ia duduk, mendengarkan dengan sabar dan penuh simpati seperti biasa.
"Hal terburuknya adalah," kataku, "semuanya berjalan baik sebelum bencana kuku Palsu itu. Dia bahkan mengajakku untuk main anggar dengannya..." Suaraku menghilang.
"Dan...?"
...****************...
tbc