
Bab 62
Aku tidak dapat tidur setelah itu. Dan bukan hanya itu saja, karena peristiwa malam itu berputar-putar di otakku, bertekad untuk membuatku tetap terjaga. Bukan gara-gara sensasi yang kudapatkan, sambil mengingat kembali saat tatapan mata Castello bertemu dengan tatapan mataku. Dan tentu saja bukan karena apa pun yang dikatakan dan dilakukan Drew Smith, bahkan setelah Castello menghajarnya.
Aku tersadar. Suatu kesadaran yang butuh dua puluh tahun lebih untuk timbul. Aku bukan hanya menyayangi Castello. Ia bukan sekadar temanku, sahabatku, tapi aku bahkan tidak hanya menyukainya, tidak lagi. Aku berubah menjadi wanita seutuhnya yang menginginkan lelaki dalam hidupku. Aku mencintainya. Dari dalam lubuk hatiku, aku mencintainya. Castello adalah satu-satunya yang kuinginkan.
Jadi aku membuat keputusan untuk tidak ada keraguan lagi. Aku tidak mau menjadi pengecut lagi. Aku akan mengatakan kepada sahabatku itu bahwa aku mencintainya dan memang begitulah adanya tanpa dibuat-buat. Pertanyaannya adalah kapan?
Keesokan harinya aku disibukkan oleh pemikiran ini sepanjang hari, hampir sepanjang hari, karena ada juga masalah yang masih kutangani, yaitu Peach Gear.
Aku pulang saat malam hari dengan gugup, dan ketika kulihat bahwa aku tiba sebelum Castello pulang. Aku mengelus dadaku untuk menghilangkan kegugupan yang aku rasakan, dan aku menyibukkan diri di dalam kamar mandi untuk bersolek habis-habisan. Castello mungkin pernah bertemu denganku ribuan kali saat aku mengenakan pengeriting rambut, atau saat aku mengoleskan claymask. Namun hari ini aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan aku ingin tampil cantik untuk kesempatan ini.
Setelah setengah jam di kamar mandi, kulitku sudah mengilap, lembap seolah-olah dunia akan kiamat, lalu aku mendengar dentingan kunci miliknya yang diletakkan di meja ruang tengah.
Aku membuka pintu saat ia bergegas ke dapur dan aku mengikutinya, jantungku berdebar-debar. "Ca...Cast...," aku tergagap saat tiba di pintu.
"Oh, hai, Jane," sahutnya dengan bingung, mencari-cari dalam lemari di bawah wastafel.
"Apakah kau punya waktu sepuluh menit?"
Pembuluh darahku penuh dengan adrenalin. Castelli meraih setrika dan mencolokkannya ke stopkontak. "Jangan sekarang," katanya menyesal. "Aku benar-benar terlambat."
"Oh." Hatiku menciut. "Kau akan berkencan."
Ia mengambil papan setrika dan sibuk dengan papan itu sampai papan itu tegak. Lalu ia melemparkan kemeja Hugo Boss-nya ke atasnya, kemeja berwarna gelap yang kupilih untuknya.
"Aku tidak tahu apakah ini kencan," Castello mengaku, dengan panik menyetrika lengan kemejanya. Aku meneliti ekspresinya. Apakah ia menginginkan pertemuan itu menjadi kencan?
"Apakah ini wanita yang sama yang telah kau ajak jalan beberapa kali itu?" aku bertanya acuh tak acuh. "Yang kau sangkal saat aku bertanya apakah kau berkencan dengannya?"
Castello mengangguk. "Aku hanya membantah bahwa kami berkencan karena tidak ada yang pernah terjadi di antara kami. Aku tidak yakin hal itu akan terjadi. Menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Dua minggu yang lalu aku pasti akan menyuruhnya melakukan inisiatif dan memastikan ada sesuatu yang terjadi. Namun sekarang bukanlah dua minggu yang lalu. Banyak hal telah berubah.
"Sudah hampir sebulan kau bertemu dengannya, kan?" Aku menggigit-gigit bibirku.
Castello berhenti sesaat dan mendongak, terkejut. "Benar. Bagaimana menurutmu?"
Aku mengangguk, hanya merasa sedikit bersalah. “Jika memang benar-benar ada kecocokan, sesuatu pasti sudah terjadi sekarang."
"Hmm." Castello mempertimbangkan hal itu. "Baiklah, aku akan menemuinya lagi malam ini. Mungkin jika sesuatu tidak terjadi malam ini aku akan berhenti berusaha. Tapi jika ada sesuatu, aku akan terus."
Aku terpaku di tempatku, sementara setrika itu meluncur di atas kemejanya. Apakah aku harus mengatakannya sekarang? Apakah aku harus mengatakan kepadanya untuk melupakan wanita lain itu, melupakan semua wanita lainnya-karena AKU, aku Jane Swift ini telah jatuh hati kepadanya? Mencintainya?
"Kedengarannya bagus, kan?" tanya Castello tiba-tiba.
"Yah, aku... mungkin ada sesuatu yang harus kukatakan dulu kepadamu." Jantungku menggedor-gedor tulang rusukku.
"Oh, sial." Castello mengangkat kemejanya dan memeriksanya di bawah cahaya. "Ada noda di kerah. Di mana kain itu?"
"Cast, aku..."
Saat ia dengan panik mengusap noda itu dari kemejanya, mencabut kabel setrika dan menuju ke pintu, aku tahu hal itu tidak akan terjadi.
"Aku benar-benar harus buru-buru," katanya, lalu tampak ragu. "Maaf, Jane. Apakah ada yang penting? Kalau memang penting aku bisa..."
"Tidak, Cast," aku menyela. "Hal ini bisa ditunda.'
"Bagus." Ia tersenyum. "Aku akan menemuimu besok."
Sepuluh menit kemudian, Castello berlari keluar apartemenku. Aku berjalan ke ruang tengah dan menghirup aromanya, aroma krim cukurnya yang tersisa membuat indraku membara.
'Tuhan, bantu aku. Kabulkan doaku, agar tak terjadi apa pun terhadap Castello yang menjalankan kencannya malam ini. Kumohon, jangan biarkan sesuatu hal terjadi...'
...****************...
Ketika Castello tidak pulang aku tahu bahwa doaku tidak terkejut karena telah memanjatkan doa ini. Aku bahkan menunggu dirinya pulang dengan doa yang telah kupanjatkan.
Sekarang jam sepuluh pagi dan satu-satunya kesimpulan yang bisa kuambil hanyalah bahwa dirinya sudah resmi memiliki pacar baru.
Aku menelepon Julian, mencoba tidak merengek ketika ia mengangkat telepon. "Aku butuh terapi belanja," kataku.
"Apa kau berkencan tadi malam?" tanyanya.
"Apa yang membuatmu berkata begitu?"
"Kau terdengar tertekan."
"Tidak kali ini. Kau mau pergi denganku untuk belanja atau tidak?"
"Maaf, Honey. Justin dan aku akan pergi malam ini," katanya dengan menyesal. "Restoran kecil yang bagus di Yorkshire Dale. Sejenis tempat yang biasanya kuanggap neraka."
"Oh. Baiklah, selamat bersenang-senang."
"Ada apa, sebenarnya? Tidak bisa cerita lewat telepon?"
"Aku baik-baik saja, jujur."
"Kau yakin?"
"100% yakin."
"Bagaimana kalau kita bertemu sambil makan siang minggu depan?"
"Sempurna," kataku, berusaha terdengar riang. "Selamat menikmati akhir pekan yang menyenangkan."
"Kau juga, Honey," katanya.
Aku menutup telepon dan mencoba menghubungi Erin, namun ponselnya langsung dialihkan ke pesan suara.
"Hai, Erin," kataku. "Kuharap kau baik-baik saja. Sudah lama kita tidak bertemu dan... yah, aku bertanya-tanya apakah kau mau bertemu hari ini? Kau tahu di mana aku, jadi teleponlah aku. Daah."
Erin tidak membalas teleponku, tetapi mengirimkan sebuah pesan kepadaku saat makan siang.
"Maaf Jane, aku tidak bisa pergi denganmu hari ini. Akan kutelepon kau nanti!"
Aku pun menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Teman-temanku sibuk dengan pasangan masing-masing. Tapi aku tidak tahu dengan Erin, apakah dirinya melakukan kencan atau apa. Aku tak tahu. Aku pun memutuskan untuk pergi sendirian saja.
Belanja sendirian memang pengalaman yang hampa. Bukan karena aku tidak pernah melakukannya, namun hari ini situasinya berbeda.
Aku mengatasi ketidakhadiran teman belanja ini dengan berbelanja dengan kalap, dan satu jam setelah kedatanganku di pusat kota, aku menenteng tas yang cukup untuk meluncurkan merek pakaianku sendiri. Aku mungkin tampak menyedihkan, namun setidaknya aku akan berpakaian bagus dan menyedihkan. Aku berusaha keras kembali ke tempat parkir sebelum aku mengambil risiko kebangkrutan total, dan aku baru akan melangkah ke dalam lift ketika aku melihat mereka.
Castello dan Erin. Sahabat lelaki-ku dan teman wanita-ku.
Bersama-sama. Bergandengan tangan, tertawa.
...****************...
Tbc