
Bab 56
Aku sebenarnya takut untuk menceritakan berita itu kepada Roger. namun ternyata ia cukup pengertian.
"Hanya ada satu cara untuk menangani hal ini dan cara in adalah menjadi pragmatis." Roger melangkah mengelilingi ruangannya. "Teleponlah orang bagian pemasaran itu..."
"Phil," sahutku mengingatkan dirinya.
"Ya, Phil. Dan bujuk dia hal ini." agar membiarkanmu menangani."
"Hal itu lebih mudah diucapkan daripada..." Sebelum aku selesai menjelaskan, Roger sudah menyela penjelasanku.
"Kaulah yang mengetahui masalah ini dan perusahaan itu luar-dalam. Jika kau tidak bisa membujuknya, pada saat mereka bertemu media Webster Black, koran-koran akan meliput berita ini dan semuanya akan terlambat. Jika mereka membiarkan kita mengelola urusan pers mereka selama empat puluh delapan jam ke depan, kemungkinan besar hasilnya positif. Setelah drama ini selesai, kita bisa mencari di mana kebocoran itu terjadi... tapi bukan sebelumnya. Mari kita menghadapi masalahnya lebih dulu."
"Oke. Aku tidak tahu akan seperti apa reaksinya, tapi aku akan mencoba melakukan yang terbaik," ujarku menyemangati diri.
"Sementara itu, aku akan menelepon... siapa namanya, si kepala eksekutif?" tanya Roger.
"Janine."
"Oh ya, Janine, dan aku akan mencoba memperlancar semuanya."
"Kau tahu bukan aku yang membocorkan berita ini, kan, Roger?"
Roger mengernyit. "Tidak masuk akal kalau kau membocorkannya. Hanya orang yang ingin mati yang akan dengan sengaja menciptakan citra buruk di hadapan pers bagi klien mereka sendiri. Selain itu, aku percaya padamu."
Aku menghela napas. "Terima kasih, Roger. Aku berharap mereka akan percaya juga."
Bosku dan aku menghabiskan hari itu dengan menelepon dan mengadakan rapat dengan sang klien dan seorang reporter dari media Gazette.
Untungnya, Roger berhasil membujuk Janine Nixon untuk tetap bersama kami sampai masalah ini berakhir dan setelah itu, ia berjanji, akan dilakukan penyelidikan menyeluruh. Kami akan memutar otak, Roger meyakinkan Janine. Aku berharap bukan otakku yang ia maksud.
Sedangkan tentang berita itu, sayangnya tidak ada cara kami dapat mencegah publikasi yang dilakukan oleh media Gazette. Mengapa mereka harus menahan diri mengingat berita tersebut akan mendapat perhatian masyarakat?
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa ada dua hal ditegaskan dalam artikel tersebut. Pertama, bahwa perusahaan fashion Peach Gear tidak tahu apa-apa mengenai keadaan ini dan ketika mereka mulai bekerja dengan perusahaan yang bersangkutan. Kedua, segera setelah mereka tahu, mereka menghubungi Aliansi Perdagangan Beretika, yang untungnya, telah setuju untuk memberiku masukan dengan kutipan yang cemerlang yang bisa kugunakan dalam siaran persku dan sekarang kedua pihak sedang bekerja sama untuk membantu anak-anak yang terlibat. Singkatnya, mereka melakukan segalanya yang dengan benar.
Tentu saja tidak akan semudah itu. Berita dari media Gazette besok hanya akan menjadi awal dari hiruk-pikuk aktivitas media, lokal dan nasional. Hanya berpikir tentang hal itu saja cukup membuatku ingin berbaring di ruangan gelap dan tidak keluar sampai minggu depan.
"Sepertinya kau mengalami hari yang sibuk," komentar Drew. Ia mengambil sebotol cologne dari laci mejanya dan menyemprot dirinya banyak-banyak, cukup untuk mengusir untuk mengusir seekor lalat yang menghinggap di mana pun ia berada.
"Ya," aku menggeram, mengangkat teleponku lagi. "Ada yang bisa kubantu?"
"Tidak ada, terima kasih."
"Aku hanya punya sedikit waktu luang sebelum pertemuanku dengan pihak Ernst Sumner. Mereka cukup senang dengan kita saat ini. Kau sudah melihat berita yang dimuat di halaman bisnis?"
Drew memegang koran itu dengan bangga. Jadi akhirnya beritanya tentang Ernst Sumner sudah diterbitkan. Artikel itu lumayan panjang untuk topik yang menarik pembaca ketahui di halaman depan.
"Selamat," kataku.
Ia tersenyum. "Jika kau ingin mendapatkan tip..."
"Drew, maafkan aku. aku memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Oh, ya. Kudengar kau sedang mengalami masalah."
Aku baru memencet setengah nomor ponsel Phil Edward untuk mendapatkan update kedua belas hari itu, namun lagi-lagi aku terganggu kali ini oleh Lily.
"Menurutmu aku terlalu muda untuk suntik Botox, Jane?" Ia menjatuhkan tiga surat di mejaku.
"Berapa usiamu?" tanyaku kebingungan.
"Dua puluh tiga."
"Tidak." Aku menatap ke arah wajahnya yang ngeri.
"Aku baru saja membaca tentang betapa baiknya melakukan suntik Botox sebagai pencegahan... oh Tuhan, kau sedang sibuk!" Ekspresi pengertian muncul dari raut wajahnya.
"Maaf, Lily, Aku bukannya tidak mau mendengarkan." Sebenarnya, aku memang tidak mendengarkan. "Hanya saja..."
"Kau sedang butuh konsentrasi, aku tahu itu," ia menyela "Jangan khawatir, aku akan menemuimu nanti."
"Tentu saja. Kau bisa menceritakan semuanya tentang pacar barumu. Kau sangat tertutup tentang dirinya."
"Apa?" tukas Drew, pura-pura ngeri. "Lily punya pacar baru? Bagaimana denganku? Apakah aku harus terus bermimpi?"
"Drew Smith, kau ada-ada saja!" Lily tertawa dan berjalan terhuyung-huyung menuju mesin fotokopi, mengerling genit.
Aku menghubungi nomor Phil untuk ketiga kalinya, berharap gangguan tadi dapat mengatasi rasa mualku yang tiba-tiba menghampiri.
...****************...
Hari yang sangat melelahkan. Karena Castello keluar malam ini, aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu yang ada. Aku mengambil waktu untuk beristirahat sejenak, lalu mengambil pembersih bulu kaki, mengecat kukuku, mengoleskan pewarna kulit agar kecokelatan, bahkan aku berusaha mengaplikasikan bulu mata palsu semi permanen. Aku menyelesaikan tiga baris dengan sukses hingga menempel pada kelopak mata, tapi dengan begitu banyak lem sampai aku tampak seperti menderita katarak.
Ketika aku pergi tidur, aku puas dengan aktivitas mempercantik diri yang kulakukan, dan terus memikirkan acara besok malam. Aku sempat tertidur sebentar, dan terbangun setelah pukul dua ketika Castello datang. Aku menggunakan kesempatan ini untuk pergi ke toilet dan bertemu dengannya di lorong.
Castello terlihat begitu tampan di penghujung malam ini. Ia tampak sedikit kusut-dasinya longgar dan tuksedonya melorot di lengannya dan kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka ketika kami saling berhadapan. Mataku tertarik ke jakunnya.
"Malam yang indah?" sapaku.
"Lebih indah daripada yang kubayangkan."
"Oh, bagus. Jadi, kencanmu melebihi apa yang kau harapkan?"
Ia tersenyum manis tapi tidak menjawab.
"Oh, aku lupa," godaku. "Itu bukan kencan, ya kan?"
Ia hanya tertawa untuk menanggapi pertanyaanku yang terlontar.
"Hanya saja, baumu seperti orang yang baru berciuman dengan lawan jenis," lanjutku.
"Aku tersanjung, Jane. Kau mengalahkan indra penciuman anjing pelacak."
"Jangan coba mengingkarinya."
"Tidak. Kencanku sangat menyenangkan, terima kasih."
"Bagus," jawabku. "Apakah dia tahu playboy macam apa kau beberapa hari ini?"
Castello berdecak. "Sudah sana... pergilah dan nikmati waktu tidurmu," katanya kepadaku sambil menguap. "Besok kau boleh menginterogasiku tentang hal itu... jika memang harus."
Salah satu dari sedikit kelebihanku dari Castello adalah memasak. Aku memang bukan seorang chef handal. Tapi ada beberapa hal dalam memasak yang membuatku senang.
Malam ini, dengan berbagai pertimbangan, aku akan membuat Caribbean Monkfish Stew, yang sebelumnya sudah pernah kubuat, tapi aku tahu Castello sangat menyukainya. Aku bangun pagi-pagi untuk membeli bahan-bahannya, kupastikan mendapatkan ikan yang segar di pasar.
Aku membeli beberapa botol wine dengan kualitas baik, seikat bunga peony untuk diletakkan di ambang jendela, dan beberapa lilin untuk menggantikan lilin yang sudah mencair, ini sangat mirip dengan puing-puing vulkanik ketimbang hiasan rumah.
Castello keluar rumah hampir sepanjang hari dan ia mengirim sebuah pesan pendek padaku saat waktu makan siang.
"Malam ini jadi, kan?"
Aku langsung menjawab pesan itu, "Ya. Bagaimana denganmu? Asa usulan yang lebih baik?"
"Tidak. Itu sudah bagus. Baiklah. Sampai bertemu malam nanti jam tujuh tiga puluh," pesannya.
...****************...
Tbc