CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 14



BAB 14


“Wah, dia ramah sekali, ya?” ujarku saat kami sudah berada di luar.


“Hmm,” sahut Castello menanggapi dengan deheman.


“Matanya bagus. Semoga saja dia segera menelponku,” gumamku yang masih dapat di dengar oleh Castello.


“Menurutku, tempat usahanya itu sedikit membosankan, dan kau pasti akan kesulitan untuk mempromosikan tempat usahanya itu,” ujar Castello.


“Kau tahu, aku cukup mahir dalam bidang kerjaku. Kau tak perlu khawatir,” sahutku kesal.


“Aku bukannya meragukan hal itu, tapi kurasa kau tak akan sanggup untuk menyulap tempat usahanya itu.”


“Justru tempat usaha dan yang mempunyai masalah seperti itu yang membutuhkan jasa kami,” sahutku kesal. “Tapi bisa jadi bukan hanya bisnisnya saja, kemungkinan dia sedikit tertarik padaku,” lanjutku sedikit menarik ujung bibirku ke atas.


“Hah? Apa kau bercanda?”


“Kenapa sepertinya kau kurang suka dengan adanya lawan jenis yang tertarik padaku? Oh, ya ampun, kau tahu sendiri kalau aku memiliki kehidupan dalam asmara yang kurang beruntung. Seharusnya kau bisa mensupportku dalam hal ini,” cetusku.


“Maaf. Kau benar. Semoga kau dan Paul langgeng sampai memliki kehidupan yang kau inginkan."


“Dia saja belum menelponku, bagaimana bisa...,”


Belum selesai aku berbicara, dering ponselku terdengar sangat berisik. Aku segera mengambil ponselku yang berada di dalam tas. Kulihat layar depan dan tertera nomor baru. Aku berinisiatif untuk mengangkatnya saja.


“Halo, Jane di sini.”


“Halo, Jane. Ini Paul,” ujar suara yang terdengar di ujung telepon.


Seketika mataku membelalak lebar, terkejut dengan nyatanya paul yang begitu cepat untuk meneleponku.


“Aku ingin membicarakan tentang strategi humas dengan serius. Bagaimana kalau kita membicarakan ini sambil minum bersama minggu depan?” tawarnya.


“Emm, baiklah,” ucapku singkat. Kami sedikit berbasa-basi di telepon sekitar dua menitan. Berhubung aku dan Castello masih dalam perjalanan, maka kami sepakat untuk melanjutkan perbincangan ini di lain waktu.


...----------------...


Aku heran kenapa rumah kedua orangtuaku hampir tak pernah berubah selama bertahun-tahun. Mami memang mengganti pintu kawat dengan kerai bambu dari Ikea dan pemanas ruangan biasa dengan “nyala api sungguhan”, tapi rumah itu masih menyimpan sejuta pernak-pernik usang dari masa lalu yang sama sekali tak pernah dibuang. Mami masih menyimpan sabun limited edition yang berbentuk manusia. Aku tak begitu tahu siapa yang dimaksud, yang pasti itu artis lawas. Dan parahnya itu tak pernah dipakai sampai sekarang ini. Selain itu ada juga lukisan abstrak dari tahun 1911. Lukisan itu kini telah dipajang di ruang tamu. Sejujurnya aku pun tak mengerti makna dari lukisan itu. Dan juga ornamen-ornamen lainnya yang kebanyakan di dapat dari hadiah pernikahan.


“Lihat siapa yang datang? Pasti si juru bicara keluarga,” ujar Mami saat aku memasuki ruangan keluarga. Aku hanya mampir untuk melihat keadaan kedua orang tuaku karena memang sudah cukup lama aku tak main ke rumah orang tuaku.


Seperti biasa, Mami sedang berdiri dan mengelap perabotan yang sebenarnya sudah sedemikian bersih sampai-sampai pengidap asma pun bisa sembuh dari penyakitnya. “Apa kau sibuk sehingga berminggu-minggu tak mengunjungi kami?” tanyanya.


“Aku memang sedang sibuk sekali akhir-akhir ini. Maka dari itu aku tak sempat mengunjungi kalian, maafkan aku,” ujarku. “Astaga, apa itu?” lanjutku bertanya.


Itu pertanyaan yang sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena sudah jelas mereka punya televisi baru di dalam ruangan keluarga yang hanya berukuran tiga kali tiga setengah meter. Televisi terlihat lebih besar dari ukuran yang biasa aku lihat di bioskop lokal.


“Bagus, kan?” Ayah tersenyum dan sekilas mengalihkan pandangannya dari remote control.


“Lumayan. Apa tidak kebesaran?” tanyaku.


“Ini merupakan barang bagus, dan harganya terbilang mahal,” ujar Ayah yang membelinya tanpa rencana.


“Bukan terbilang, tapi memang sangat mahal!” ujar Mami menyela. “Dan kau tahu, Jane. Kurasa ayahmu lupa bahwa kita bukan orang kaya yang memliki uang yang banyak untuk menghamburkan uang sebanyak untuk membeli sebuah televisi,” jelas Mami lagi dengan sindirannya yang pedasnya.


Mami memang memiliki mulut yang terbilang pedas apabila berkata-kata, mengalahkan cabe jalapeno, entahlah kurasa itu tak terlalu pedas karena aku memang tak menyukai masakan ataupun makanan pedas, jadi maafkan aku apabila aku salah. Itu yang aku kenal soal Mamiku. Kalau saja ada jurusan kuliah ironi kehidupan, ia pasti sudah menjadi professor di sana. Anehnya, ayah tidak pernah meanggap bahkan tak menyadari hal itu dan mengabaikannya begitu saja.


“Yah, aku bukannya mengeluh dan tak menikmati apa pun dari ayahmu. Menghabiskan waktu akhir pekan di Paris, karangan bunga dua minggu sekali, juga sampanye bermerek Cristal yang nikmat,” jelas Mami.


Ayah yang mendengar itu hanya mengabaikan ocehan mami.


“Tinggal dengan ayahmu seperti mempunyai super hero pribadi,” lanjut Mami lagi. “Kau ingin secangkir teh panas?”


Mami dan aku lantas masuk ke area dapur. Alih-alih hanya membuat teh, ia malah segera menyibukkan diri. Mami mulai menyemprot, mengoles, dan membersihkan permukaan dapur dengan berbagai macam cairan pembersih yang membuatku curiga bahwa dia di endors oleh pabrikan Johnson & Johnson.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah aku rajin dalam bekerja?” tanyanya sambil menuangkan air dari teko dengan satu tangan dan memoles bagian atas kompor dengan tangan lainnya.


“Tentu saja. Pekerjaanku sejauh ini baik-baik saja. Mami tahu aku menyukai pekerjaanku, kan?” tegasku.


“Tapi kau tak bisa menganggap enteng pekerjaanmu itu. Gadis muda sepertimu, dengan penghasilanmu saat ini sungguh berbeda dengan zamanku dahulu.”


“Seperti membicarakan abad ke dua puluh saja,” ucapku.


Mami menyeringai. “Maksudku, kau ini beruntung memiliki pekerjaan seperti itu. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti dirimu ini.”


Aku hanya memutar bola mataku ke atas.


“Aku serius. Kau tidak mungkin mendapatkan fasilitas mobil perusahaan dan macam-macam tunjangan jika hanya bekerja sebagai jasa pembersih.”


Aku mengernyitkan alis dengan perasaan bersalah. “Aku tahu.”


Mami menyayangi Dave dan aku. Ia akan melakukan segalanya untuk kami, dan kenangan masa kecil kami penuh dengan limpahan kasih sayang yang tak terhingga darinya sperti saat membelikan hadiah ulang tahun kedelapan belasku, dan juga perjalanannya bersama Dave ke sebuah festival.


Mami akhirnya duduk di kursi dapur sambil menyesap tehnya. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Castello?”


“Baik-baik saja. Aku sedang melakukan permak terhadap dirinya,” ujarku senang.


“Apa? Kau pasti bercanda, kan?” tanyanya tak percaya.


“Serius. Sekarang dia terlihat lebih keren dari pada yang sebelumnya setelah rambutnya dipotong. Coba mami melihatnya dengan baju barunya. Pokoknya dia berubah total.”


“Berubah sejauh apa?” Mami tampak menyipitkan matanya.


“Berubah total. Setidaknya dia tidak memakai kacamatanya lagi tetapi dia memakai kontak lens untuk penampilan barunya. Julian juga bilang kalau tubuhnya segagah kuda jantan.”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku, ya seperti itulah, Mami,” ujarku gelagapan.


Mami terdiam sejenak sambil mencerna penjelasanku barusan. “Apa dia sudah cukup tampan untuk jadi pacarmu?”


“Hah? Aku tak akan mungkin berpacaran dengannya, Mami. Titik,” cetusku tegas.


“Kenapa tidak? Dia pemuda yang baik, lebih baik daripada beberapa pemuda yang pernah kau kenalkan dulu.” Mami memberikan pendapatnya mengenai Castello.


“Terima kasih atas pendapatmu yang jujur, Mam.”


Mami lantas merangkulku dan tersenyum. “Baiklah. Lupakan saja, Jane. Jika kau memang seorang gadis yang beruntung dan kau bisa memainkan kartumu dengan benar, mungkin kelak kau bisa mendapatkan pria yang semanis ayahmu. Aku bersumpah akan hal itu.”


...****************...


tbc