
Bab 60
Aku membaca entah di mana bahwa tahanan yang divonis hukuman mati dan ternyata kemudian terbukti tidak bersalah, memiliki peluang di atas rata-rata untuk terjerat masalah yang terkait dengan alkohol setelah mereka dibebaskan. Setelah hari ini aku tahu mengapa. Oke, masalahku memang tidak setara dengan masalah mereka. Namun, setelah salah dituduh membocorkan berita tentang Peach Gear, aku bergegas ke pub dengan begitu cepat sehingga aku nyaris mengalahkan rekor dunia yang tercatat di dalam lari sprint 100 meter.
"Kau tampak bersemangat," kata Castello, saat kami berbelok di tikungan. "Mereka tidak akan kehabisan minuman."
"Aku baru saja mengalami beberapa hari yang penuh tekanan. Aku tidak mau ambil risiko."
Setidaknya sesuatu yang baik telah datang dalam minggu ini. Bibirku yang kaku telah melunak dan Castello dan aku bersikap hampir seperti dulu. Semuanya akan menjadi seperti dulu-jika saja Castello berpakaian seperti gaya yang dulu dan berat badanku turun beberapa kilogram.
"Aku menebak dari bungkusan besar taoge dalam lemari es bahwa kau sudah kembali menjalani dietmu," katanya, seolah-olah membaca pikiranku.
"Iya, tapi bukan diet yang lama. Kali ini aku melengkapinya dengan pil diet herbal super dahsyat untuk meningkatkan metabolismeku. Aku heran aku belum juga tampak seperti Paris Hilton,"
Castello tersenyum, menggeleng.
"Aku juga mulai menggunakan alat pijat bokong, nyaris terus-menerus, untuk memperkuat otot gluteus maximus-ku," tuturku.
"Oh, ya? Bukankah itu membosankan, melakukannya nyaris terus-menerus?"
"Sama sekali tidak."
"Bukankah itu akan membuatmu sulit berkonsentrasi?"
"Tidak juga. Meskipun aku hampir menabrak taksi malam ini saat aku mencapai dua ratus dua puluh pijatan.".
"Berapa?" Matanya melebar.
"Lalu lintasnya kacau," aku menjelaskan dan kami berdua tertawa terbahak-bahak.
Pub lokal itu tampak seperti sebuah gedung perusahaan tua yang antik. Sebuah bangunan yang dulunya mengesankan yang kemegahannya sekarang sedikit memudar. Tempat itu sering dikunjungi oleh campuran berbagai pengunjung yang kebanyakan kaum tua, para profesional muda, para gadis staf supermarket lokal dan anggota pilososfi asosiasi kota ini.
Castello pergi ke bar. Ia kembali dengan membawa minuman kami dan duduk di sampingku. Saat lengannya menyentuh lenganku, sensasi seperti sengatan listrik mengalir melalui pembuluh darahku dan aku melakukan yang terbaik untuk menyembunyikan reaksiku.
Jadi, semuanya belum sepenuhnya kembali normal. Olok-olokan kami sudah kembali. Percakapan kami seheboh biasanya. Namun, jika aku jujur, perasaanku untuk Castello, perasaanku yang tumbuh tidak hanya sekadar perasaan sebagai seorang teman. Tidak lagi.
Tantangan untuk tinggal serumah dengan pria yang menarik, atletis, keren, dan karismatik terlalu banyak, walaupun pria itu adalah Castello. Aku telah menyerah pada hormonku. Aku mengaku kalau aku seringkali membayangkan perutnya yang rata.
"Kau tidak akan percaya siapa yang kulihat di bar," kata Castello sambil menyesap bir dari gelasnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Andy Park."
"Pembawa acara News Night?"
"Bukan, anak yang sering bersama dengan kita saat masih sekolah," jelasnya.
"Oh... anak yang..." aku sambil meraba ingatanku.
"... mencuri celana panjangku di Colomendy," Castello menyelesaikannya.
"Bocah yang mengerikan," seruku. "Aku tidak yakin aku bisa mengenalinya."
"Dia mengenakan pakaian yang keren dan potongan rambut mahal, tapi itu pasti Andy... aku yakin itu."
"Apakah kau mengatakan sesuatu padanya?"
"Seperti apa? Apakah kau mencuri celana seseorang baru-baru ini?""
Aku mengangkat bahu. "Itu pertanyaan yang wajar."
Castello tersenyum dan meminum birnya seteguk. "Pokoknya, aku punya kabar baik untukmu. Aku sudah mendaftarkan kita untuk ikut kuis."
"Oh, bagus sekali. Aku mahir dalam bermain kuis." Castello tidak mengatakan apa-apa.
"Jangan sinis begitu. Kuis saat Natal itu pengecualian. Aku sedang tidak sehat."
"Kau hanya mengalami bisul."
"Biar kuluruskan," katanya. "Kau bilang kau hanya bisa melakukan yang terbaik ketika kau setengah marah?"
"Seperti ketika bermain biliar," aku meyakinkannya, sambil meneguk segelas wine. "Aku tidak bisa menyodok apa pun kecuali jika aku benar-benar juling."
Pembawa acara kuis memberi kami peringatan lima menit dan aku hendak pergi ke toilet ketika tampak bayangan memanjang di atas meja kami dan aku mendongak. Ternyata Drew.
Aku hendak menyapa, namun Castello bicara lebih dulu. "Halo, Andy. Kau Andy, kan? Andy Park?"
Seketika aku mengernyit ke arah Castello. Begitu pula dengan Drew. "Andy?" ulangku.
"Aku tidak salah, kan?" tanya Castello. "Kau sekolah di Calder Bank High School?"
"Ini bukan Andy," kataku. Aku mendongak dan melihat bahwa leher Drew telah berubah warna menjadi merah.
"Dan kau?" Drew melotot ke arah Castello.
"Castello. Kau mencuri celanaku di Colomendy. Bukan berarti aku akan menuntutmu," sahut Castello sambil tertawa. "Itu sudah lama. Apa saja kesibukanmu sampai hari ini?"
Aku duduk, terpana, tidak bisa menutup mulutku. "Tunggu sebentar," aku menyela.
"Drew, jadi kau ini Andy Park? Apakah itu benar?"
"Aku sudah tidak menyebut diriku Andy selama bertahun-tahun," sahut Drew dengan cemberut.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Castello. "Maksudku, selain ketika kita semua masih satu sekolah?"
"Kami bekerja di tempat yang sama," kataku pada Castello. "Cast, ini Drew Smith."
Ekspresi paham muncul di wajah Castello. "Drew. Yah.... aku sudah mendengar banyak tentangmu."
"Aku yakin semuanya tentang yang baik-baik saja. Jadi, kau Castello? Aku ingat kau. Kau anak yang aneh... kuharap kau tidak keberatan aku berkata begitu." Drew tertawa, agar ucapannya terdengar sebagai olok-olok dan bukan sebagai racun yang menjijikkan. Namun, Castello tidak menanggapinya.
"Jadi, kau sudah tahu kalau kita pernah satu sekolah, Drew?" tanyaku. "Kenapa kau tidak bilang?"
"Itu tidak penting."
"Mungkin memang tidak penting," ujarku pelan, "tapi sungguh aneh kalau..."
"Kulihat kalian ikut kuis pub," Drew menyela. "Sebaiknya kalian waspada." Drew menyeringai. "Timku adalah kekuatan yang harus diperhitungkan."
"Iya," jawabku.
"Kau sangat rendah hati, Drew."
"Aku hanya ingin mengatakan kondisi yang sebenarnya. Aku sudah berada dalam tim pemenang Kuis Pub Tahun Ini untuk wilayah Northwest..."
"... selama tiga tahun berturut-turut, aku tahu," kataku.
Ketika Drew atau Andy atau siapa pun dirinya menghilang kembali ke mejanya, di tempat ia duduk dengan tiga orang yang lain, aku berpaling kepada Castello.
"Aku masih heran mengapa aku tidak mengenalinya," kataku, masih tertegun. "Aku telah bekerja dengan orang itu selama dua tahun dan tidak pernah menyadari bahwa Drew Smith dan Andy Park adalah orang yang sama."
"Kurasa dia berumur sebelas tahun saat terakhir kau bertemu dengannya. Menurutmu, mengapa dia tidak pernah mengatakan apa-apa?" tanya Castello.
"Karena Drew Smith suka memberi kesan bahwa dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kaya raya. bahwa dia menjadi siswa di sekolah yang sama dengan kita tidak akan cocok dengan citranya."
"Betapa menyedihkannya. Seolah-olah itu sangat penting," Castello meringis.
Aku meneguk wine-ku. "Yang jelas, itu bukan prioritasku malam ini."
"Jadi, apa prioritasmu?" tanya Castello.
"Mengalahkan Drew dan teman-temannya dalam kuis pun. Ayo, kuisnya akan dimulai sebentar lagi."
...****************...
Tbc