
Bab 73
"Apakah memang jacuzzi yang menimbulkan kebakaran?" tanyaku.
"Iya, kelihatannya begitu." Mami mengunyah kacang kenari sampai remuk. "Ada sudutnya yang bocor dan kayanya itulah yang membuat hubungan pendek arus listrik di rumah. Pemadam kebakaran akan menyusun laporannya, tapi sejauh ini begitulah yang dikatakan."
Aku tersenyum dan mengangkat kedua jempolku ke atas menunjukkan bahwa kalau dirinya hebat. Meskipun dokter berkata kepadaku tentang pendapatnya dengan rasa terkejut ibuku masih belum sepenuhnya hilang.
"Terlepas dari itu semua, bagaimana dengan rumah yang sudah terbakar, Mam?" tanyaku.
"Memang sedih sekali melihat rumah itu terbakar, dan kau tahu kami sudah tinggal di situ sejak kami menikah. Apa kau bersedia untuk menampung kami selama beberapa bulan? Aku yakin pihak asuransi akan membayar biaya hotel, tapi birokrasi mereka begitu berbelit ...,"
Mataku langsung terbelalak. Aku memang sangat bersyukur kalau orangtuaku masih hidup dari kebakaran itu, tapi aku lebih suka mereka tidak mengacak rumahku. "Aku akan membicarakannya dengan Julian dulu. Di sana hanya ada dua kamar tidur," jelasku lagi.
"Kita akan mencari solusinya," sahut Julian dan tak urung aku mengagumi kepeduliannya. Atau sifatnya yang naif.
Terdengar ketukan di pintu dan ketika kami menoleh, ternyata yang datang Ayah. Ayahku masih mengenakan piyama tadi malam. Kendati secara fisik dokter menyatakan ayahku akan pulih sepenuhnya, tetapi ia kelihatan lesu. Akan tetapi sambil mendekat, ia mengeluarkan seikat bunga dari balik punggungnya. Rangkaian bunga itu besarnya hanya seperempat buket bunga dari Jasper (Bos baru ibuku), tetapi itu bukan masalah besar.
"Kusangka aku tidak akan mengalami hari semacam ini," kata Mami, lalu menempelkan hidungnya ke sekuntum bunga hortensia.
Ayah terpaku dengan matanya yang basah dipenuhi oleh air mata. "Maafkan aku, Sayangku."
"Maaf untuk apa?" Mami bertanya.
"Untuk semua kesalahanku. Maafkan aku," ujar Ayah.
Aku dan Julian bertukar pandang dan memutuskan untuk keluar dengan diam-diam dari ruangan itu.
Ayah yang melihat kami pun langsung berkata, "Jangan keluar, aku tidak akan lama. Konsultanku sudah datang, dan aku ke sini sebentar untuk memberikan bunga kepada mamimu. Aku akan menemui kalian lagi nanti."
Setelah berkata demikian, Ayahku langsung keluar. Memang, ayahku adalah pahlawan.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"tanya Julian.
"Tiga puluh dua tahun," sahut Mami sembari menegakkan sekuntum bunga dari Ayah yang layu.
"Kalian sungguh hebat. Sedangkan aku dan Jane tidak seberuntung denganmu. Akhir-akhir ini kehidupan cinta kami...,"
Belum selesai melanjutkan perkataan, mamiku menatap ke arahku.
"Jadi, kau belum memberitahukannya kepada Castello?" tanya Mami.
"Apa maksudnya? Memberitahu Castello apa?" tanya Julian yang tak tahan dengan kepanikannya.
Aku menyeringai dan menepuk punggung Julian. "Tenang saja. Ini sangat rahasia. Dan Mami, terima kasih."
"Kau masih menganggap ini sebuah rahasia? Intinya kau sudah bertindak sejauh apa? Apakah kau sudah memberitahunya atau belum?" tanya Mami lagi.
"Aku... Emm....," aku tak bisa menjawabnya. Sementara Julian hanya kebingungan dari semua yang dibicarakan oleh anak dan ibunya.
"Jane, jam berapa Castello akan berangkat?" tanya Mami.
Aku menatap tanganku yang masih bertaut satu sama lainnya. "Hari ini. Sekarang juga. Castello sedang dalam perjalanan ke bandara."
Julian masih saja penasaran, "Kau harus mengatakan apa kepadanya, Jane?"
"Beritahu Julian, Jane," perintah Mami menginterupsi.
"Apa?" sergah Julian yang sudah tidak sabar untuk mengetahui hal itu. Namun berbeda denganku, aku malah bingung untuk mengatakan hal itu.
"Jane mencintai Castello." Mami bersedekap di pembaringan.
"Apa?" Julian terkejut mendengarnya dan menepuk jidatnya sendiri. Mengutuk diri sendiri dengan kebodohan bahwa dia lupa juga memberitahukan sesuatu kepada sahabatnya ini.
"Astaga, mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku?" tanya Julian.
"Merusak bagaimana?" tanya Julian.
"Erin jatuh cinta pada Castello, seperti katamu. Bahkan seandainya aku curang dan berusaha merebut Castello... dan tentu saja itu tidak akan kulakukan... apa gunanya aku memberitahumu? Aku hanya akan membebanimu dengan informasi padahal kau tidak bisa berbuat apa-apa."
"Hah!" Julian mengusap-usap wajahnya. "Kacau, kacau."
"Memang," jawabku. "Maksudku bukan urusanmu dengan Castello," ia menyela, tidak sabar.
"Lalu apa?"
Julian menghela napas, lalu melempar tatapannya ke luar jendela. "Kau ingat ketika aku berkata bahwa aku menyangka Erin jatuh cinta pada Castello?"
Aku pun menganggukkan kepala.
"Ternyata aku salah!"
Perlu sedetik bagiku untuk memahami ucapannya. "Maksudmu?"
"Erin menyukai Castello," Julian menjelaskan. "Maksudku, semua orang memang menyukainya, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi, Erin jatuh cinta pada Darren."
"Darren?"
Julian mengangguk. "Kau ingat ketika kita singgah untuk minum setelah kita pergi ke apartemen, dan aku bilang Erin terdengar aneh di telepon?"
"Kau menyangka dia gugup."
"Dia tidak gugup," ujar Julian. "Erin sedang penuh gaiirah. Dia sedang bingung harus berbuat apa."
Aku mengernyit. "Aku tahu Erin menaruh hati pada Darren sewaktu kuliah, tapi itu kan sudah berabad-abad yang lalu. Dia sendiri yang bilang kalau itu sudah masa lalu."
"Yah, ternyata cintanya timbul lagi."
"Lalu, bagaimana dengan Castello?" Aku menahan diri agar tidak berteriak. "Dia berangkat keliling dunia bersama Erin, dan menyangka segalanya berjalan dengan lancar."
Julian berdecak. "Kau belum mengerti juga, Jane."
"Belum mengerti apa?"
Julian menatapku seakan-akan aku dungu sekali. "Mana mungkin Castello memilih Erin kalau dia menganggap ada peluang bersamamu? Erin sudah tahu sejak dulu. Mungkin tanpa sadar, itulah yang membuatnya mengalihkan perhatiannya kepada Darren... buat jaga-jaga."
Aku tercengang. "Apa yang membuatmu berpendapat seperti itu?"
"Jelas sekali, kan." Julian menghela napas. "Dari mana aku harus mulai? Dari cara Castelli menatapmu. Caranya melindungimu dari marabahaya. Caranya... Pokoknya dari semuanya. Dia sudah dua puluh tahun lebih mencintai dirimu, Jane!"
Aku terduduk, mencoba agar kepalaku tidak berputar tujuh keliling. "Kau tidak pernah mengatakannya kepadaku."
"Begini, Jane." Julian langsung melirik jam ditangannya. "Kau sekarang memiliki waktu tidak lebih dari satu seperempat jam sebelum pesawat itu take off. Jadi pertanyaanku adalah, apa tepatnya yang akan kau lakukan?"
Mami memgamati aku dan Julian sembari memakan tiga batang cokelat. Dan itu terlihat seperti seekor tupai yang rakus.
"Sudah, Jane. Jangan buang waktumu. Kejarlah cintamu. Aku akan menunggu kabar baik di sini," perintah Mami terhadapku kemudian ia berpaling ke arah Julian, "Kau bisa menemani Jane untuk pergi ke bandara, Jul?"
"Tidak apa-apa, Mam. Aku bisa berangkat sendiri. Julian biarkan dia di sini untuk menjagamu," ucapku dengan tergesah-gesah. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
Mami dan Julian melihat kepergianku yang sedikit berlari untuk menuju di mana letaknya mobilku.
...****************...
Tbc