CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 67



Bab 67


Aku menghirup aroma melati yang biasanya kusukai, tapi kini membuatku ingin memuntahkan seluruh yang ada di dalam perutku saat ini.


"Jadi," Castello tersenyum, "aku sudah membuat keputusan."


"Oh?"


"Aku akan pergi dengannya."


Wajah Castello dipenuhi kegembiraan dan kebahagiaan. Saat aku mengangkat gelas wine-ku ke bibirku, aku bisa mendengarnya bergemeretak beradu dengan gigiku.


"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Castello dengan cepat.


Aku menelan ludah dalam upaya menyembunyikan emosiku. "Tidak masalah," kataku dengan susah payah.


"Jujur saja, Jane," lanjutnya, "tidak mungkin aku bisa meninggalkanmu dalam kesulitan. Kau bisa mengandalkanku selama yang kau inginkan."


"Aku... aku tahu. Tidak apa-apa." Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku tahu kau akan mengerti."


Castello membungkuk dan memelukku. Saat lengannya merangkul bahuku, aku melawan air mataku dan mencoba mengendalikan diri. Ketika ia akhirnya melepaskanku, ia menepiskan sehelai rambut dari wajahku dan menatap mataku.


"Hei," katanya dengan lembut. "Kau tidak marah, kan?"


Aku menggeleng, membenarkan pertanyaan yang ia lontarkan, bahwa aku tidak seperti yang ia kira.


"Oh, Jane," Castello berseru, memelukku lagi. "Kau punya Julian yang bisa menjagamu sementara aku pergi. Kau akan baik-baik saja."


"Berapa lama kau akan pergi?"


"Satu tahun."


Dua kata yang sederhana. Namun kata-kata itu serasa menikam perutku dua kali.


"Mungkin lebih lama," ia melanjutkan. "Kita akan saling berhubungan lewat telepon."


"Satu tahun?" ulangku dengan suara serak.


"Ini semua berkat dirimu," bisiknya sambil membelai rambutku lagi. Aku mendongak, rasa sakit di dadaku semakin parah.


"Aku?"


Ia menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak pernah bisa melakukan semua ini jika kau tidak memberiku rasa percaya diri. Jujur saja, Jane... kau adalah teman terbaik di dunia."


...****************...


Aku duduk di tepi tempat tidurku, sendirian, sementara Castello dan Erin membeli ransel baru, dan dengan tenang aku membolak-balik halaman-halaman buku yang kubeli dari sepuluh tahun yang lalu.


Aku mengeluarkan buku itu karena dalam film, ketika sang pahlawan wanita sedang mengalami masalah cinta, ia meraih buku alamatnya dan memunculkan sebaris kelinci percobaan yang keren dari masa lalunya, Harapanku tentu tidak setinggi itu, namun pasti ada seseorang yang bisa aku ajak berkencan.


Aku membuka halaman pertama, di mana ada tujuh tercatat. Aku tidak percaya aku baru sampai di huruf A dan ada begitu banyak nama. Baiklah... Aku mulai membacanya satu per satu yang tertera di dalamnya.


Pada saat aku selesai membaca buku itu satu jam setengah kemudian, aku bahkan lebih tertekan lagi. Apakah kehidupan di masa dewasaku benar-benar parah?


Aku duduk tegak dan memaksakan diri untuk berpikir positif. Yang jelas, aku punya tanda bintang di sebelah nama sebelas pria yang kupikir layak dicoba lagi. Bukan karena aku ingat mereka sebagai contoh kedewasaan yang luar biasa, atau bahwa kami berteman dengan baik. Dengan pria-pria itu aku tidak bertingkah bodoh. Setidaknya.


Aku mengangkat telepon, jantungku berdebar, dan aku menghubungi nomor Austin. Aku tak sabar untuk berbicara dengannya lagi, dan hal itu membuatku membayangkan bokongnya. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, jadi mungkin ia punya nomor baru, namun...


"Halo"


Aku tidak mengenali suaranya dengan segera. "Hai." kataku gugup. "Apa Austin ada?"


"Aku sendiri."


"Jane?" selanya.


"Iya, dan..."


"Tentu saja aku ingat."


"Oh," cetusku terkejut. "Aku tidak menduga sebelumnya. Kukira karena sudah begitu lama kita tidak bertemu..."


"Jane sayang, aku tak pernah bisa melupakanmu." Caranya mengatakan itu membuatku merasa tidak nyaman.


"Benarkah?"


Tujuh Puluh Sembilan


"Aku masih menceritakan kisah tentang malam ketika kita pergi makan di rumah makan cina yang tenang," ia melanjutkan. "Para dokter membuatku khawatir pada awalnya saat mereka berkata bahwa penglihatanku mungkin tidak akan kembali."


Ingatan tentang hal itu muncul kembali dalam kilasan yang memuakkan.


"Mereka belum pernah melihat seseorang ditusuk matanya dengan sumpit."


Aku menahan napas, saat ingatan itu terungkap dalam suatu tayangan berwarna yang sangat jernih.


"Kurasa aku tidak benar-benar menusukmu, Austin." kataku, berharap kemarahanku menutupi rasa maluku. Ia selalu suka melebih-lebihkan sesuatu, dan agaknya sampai sekarang masih. "Aku tidak mencoba mengelak dari tanggung Jawab atau apa, tetapi kejadian itu lebih merupakan... ketidaksengajaan. Dan dengan sangat mudah bisa terjadi kepada siapa saja."


"Jangan khawatir, Jane, aku tidak akan menuntutmu. Mataku sudah pulih lagi setelah beberapa hari, maksudku beberapa Minggu. Kaburnya penglihatanku akhirnya menghilang dan mataku ini sejernih hujan sekarang. Dan kalau mengingat kau pernah menghabiskan seluruh hidupmu di Asia Timur kurasa kau pasti sudah ahli menggunakan sumpit."


"Mm, ya." gumamku. "Tapi aku sudah lama tidak menggunakan sumpit dan..."


"Lelucon itu salah satu hal pertama yang kuberitahukan kepada istriku pada malam aku berkenalan dengannya. Istriku mengatakan bahwa cerita itulah yang membuatnya tertarik padaku. Dia langsung tahu aku punya selera humor yang hebat."


Beberapa sambungan telepon berikutnya bahkan tidak tahu kabarnya. Para pria yang kutelepon itu sekarang sudah memiliki istri atau tidak bisa melupakan cerita horor saat berhubungan denganku, atau seperti Austin keduanya. Dengan enggan, aku memutuskan untuk menyerah. Orang-orang di masa laluku jelas lebih baik ditinggalkan saja.


Tiga hari kemudian, aku menerima telepon. Aku heran karena telepon itu membangkitkan semangatku. Sebutlah aku seorang optimis yang bodoh, namun suatu upaya untuk menjalin hubungan yang tidak melibatkan Castello bisa menjadi penawar yang kubutuhkan.


...****************...


Paul tidak setampan yang kuingat, namun hal itu tidak membuatku menyerah dengan perilakunya malam ini yang sangat mendekati sempurna sehingga ia harus menulis buku tentang etiket berkencan. Sejak kami tiba di klub komedi setengah jam yang lalu, aku tidak bisa menemukan kekurangannya bahkan ia memuji pilihan gaunku, bertanya tentang pekerjaanku, melompat ke bar setiap kali aku mencoba melakukannya. Ia membuatku merasa menarik pada saat aku merasa sama menarik untunya. Untuk itu, aku berutang banyak padanya.


Lima menit sebelum babak pertama dimulai, ia berbalik dan tersenyum. "Aku merasa seperti orang bodoh, Jane."


"Oh. Kenapa?"


"Karena tidak meneleponmu setelah acara Grand National. Kau pasti berpikir bahwa aku menyebalkan."


"Well... iya," aku membenarkan, namun tanpa perasaan dendam.


Paul tampak tersipu. "Aku selalu punya masalah dengan komitmen," ia menjelaskan. "Setiap kali seorang wanita menyukaiku, aku merasa perlu menjaga jarak... untuk mengambil napas."


"Jangan khawatir, Paul." Aku tertawa dengan lembut. "Kau tidak mematahkan hatiku," ujarku lagi.


"Aku tahu." Tersirat di wajahnya yang tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. "Intinya, aku sudah mengatasinya. Kau tenang saja, ok," lanjutnya.


"Mengatasi apa?" tanyaku.


"Mengatasi komitmenku," ujarnya.


Aku menganggukkan kepala, dan tersenyum ke arahnya. Ikut senang dengan apa yang telah dilakukannya.


...****************...


Tbc