CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 48



Bab 48


Akhir pekan bersama Racel, demikian aku, Julian, dan Erin menyebutnya, ternyata hanya sebuah permulaan.


Akhir pekan berikutnya setelah akhir pekan bersama Racel, Castello berkencan dengan seorang pelayan restoran bernama Jasmine. Hal tersebut berlangsung selama beberapa hari. Hari Sabtu setelah itu, ia berkencan dengan guru olahraga bernama Diana. Diana hanya bertahan satu malam, kemudian Castello kembali bersama Racel. Tapi hanya pada hari Selasa, Kamis, dan Jumat. Pada hari Sabtu, seorang analis keuangan bernama Wendy muncul entah dari mana. Wendy menginap sampai hari Senin di kamar Castello, ketika Racel muncul lagi. Tapi hanya untuk satu malam, karena Castello kembali bersama Jasmine di malam berikutnya, sementara aku pergi untuk menghindari panggilan telepon dari wanita lainnya. Dan begitulah yang terjadi.


Dalam sekitar tiga minggu setelah Grand National, aku susah bertemu dengan Castello. Ketika bertemu, kalau tidak hendak keluar dengan seorang wanita, ia tentu mengajak mereka pulang, dan mereka menutup diri di kamarnya, selama berjam-jam dan lebih sering lagi berhari-hari.


Di awal bulan Mei, aku sampai pada kesimpulan bahwa Castello memutuskan akan menjalin hubungan romantis tanpa suatu ikatan, seumur hidupnya, dengan sembarang wanita. Aku tahu, itulah inti dari Project Castello, tapi aku tidak membayangkan teman satu flatku itu berubah menjadi Hugh Hefner, mendadak menjadi seorang aktor terkenal.


Mungkin aku melebih-lebihkan. Secara teknis aku hanya melihatnya bersama empat wanita, tapi itu sudah lebih dari cukup. Tentu saja aku merasa tidak nyaman, dengan gagasan bahwa kamar tidur Castello, yang dulu hanya dipenuhi buku-buku medis yang membosankan, sekarang digunakan sebagai arena percumbuan. Aku semakin tidak nyaman dengan kenyataan bahwa aku sangat tidak suka dengan semua ini. Alasannya bukan karena aku jatuh cinta pada Cast. Itu hanya perasaan sesaat pada hari Grand National yang bisa terjadi pada siapa saja setelah minum tujuh gelas wine Pinot Grigio.


Aku pasti iri. Ketika kami berada di bar piano, Paul tampaknya menghilang dari muka bumi dan aku belum mendengar kabarnya lagi sejak itu. Bukan karena aku menganggap Paul cinta sejatiku, tapi bisakah aku tidak dicampakkan seperti ini sekali saja? Lebih buruk lagi, aku belum berkencan satu kali pun sejak itu, meskipun sebuah kencan yang gagal. Kehidupan cintaku seperti padang pasir yang kering, gersang, tak berpenghuni. Dan gengsiku terasa jatuh.


"Ibumu menelepon tadi malam," kataku ketika Castello di dapur. Hari ini Sabtu pagi dan aku sedang duduk di meja membaca koran sambil mencicipi roti bakar yang rasanya bagai terbuat dari serbuk gergaji yang dipadatkan, sekalipun dinamakan roti yang bisa bikin langsing. Castello keluar lagi tadi malam, hanya Tuhan yang tahu dengan siapa ia pergi.


"Oh, ya?" Castello menyalakan kompor untuk merebus air. "Apakah ibuku mengobrol denganmu? Dia pasti bercerita tentang perjalanannya ke Papua Nugini."


"Kira-kira dua puluh lima menit, tapi aku tidak keberatan. Aku suka ibumu... dia bisa bicara sebanyak yang dia suka."


"Kau tidak bertepuk sebelah tangan... ibuku juga menyukaimu. Meskipun kau pernah memutuskan sambungan telepon ketika ibuku berbicara tentang hutan rawa air tawar."


"Aku tidak pernah begitu." Aku tersenyum, mendongak untuk pertama kalinya.


Castello mengenakan celana jins Levi's yang dipakai secara terburu-buru dengan kancing yang salah pasang. Dan tanpa T-shirt. Melihat tubuhnya, yang belum pernah kulihat hingga sekarang ini, membuat wajahku memerah. Aku menjatuhkan pandanganku dan pura-pura asyik dengan bacaanku yang bercerita tentang pengembangbiakan seekor anjing.


"Kau punya acara hari ini?" aku bertanya dengan nada yang terlalu ceria. "Aku akan bertemu dengan Julian dan Erin untuk makan siang jika kau ingin bergabung dengan kami."


"Oh tidak, tidak usah," katanya, sambil menuangkan air panas ke dalam teko kemudian membuka lemari tempat cangkir. "Aku sibuk."


Aku melihat ia memegang dua cangkir dan aku langsung mengerti. "Oh, kau sedang bersama seseorang." Leherku terasa lebih panas lagi.


"Ya," sahutnya dengan canggung. "Diana. Kau kenal dia, si guru olahraga."


"Oh," kataku, dengan senyum yang dipaksakan. "Oke... sampai nanti." Castello tersenyum, mengambil teko kopinya.


"Yap. Sampai jumpa." Aku melambaikan tangan terhadap dirinya.


Dua jam kemudian ketika aku bertemu dengan teman perempuanku untuk makan siang dan menceritakan peristiwa tadi, Julian menyambut dengan rasa sukacita yang tak terkendali ketika mendengar bahwa seseorang yang betah berselibat selama dua puluh tahun akhirnya punya harapan juga.


"Apa yang kita rayakan?" gumamku.


"Apa yang kita rayakan?" Julian mengulangi ucapanku seolah-olah aku sudah kehilangan akal sehat.


"Kita akan merayakan kesuksesan fenomenal Castello yang terlahir kembali. Kita rayakan kegeniusan kita bersama. Kita merayakan fakta bahwa Henry telah berhasil bercinta dengan seseorang sekali ini."


"Tidak hanya sekali," aku menjelaskan dengan wajah sedih. "Dia selalu melakukannya sekarang. Itu menjadi hobi barunya saat ini. Dia harus menuliskannya dalam CV-nya di samping membaca dan bermain piano."


"Dia sangat menarik belakangan ini," lanjut Erin riang. "Sulit dipercaya efek dari beberapa baju baru dan model rambutnya yang baru."


"Ini semua tentang kepercayaan diri," tambah Julian. dengan penuh keyakinan. "Ini bukan hanya tentang penampilan Castello yang baru, ini bukan tentang potongan rambut barunya dan kenyataan bahwa dia telah membuang kacamatanya yang tampak mengerikan itu. Ini tentang bahwa dia memancarkan kepercayaan diri. Dia sungguh sekksi. Benar kan, Jane?"


"Kurasa begitu." Aku mengangkat bahu. Sebenarnya, berusaha untuk menyangkal bahwa Castello teramat sekksi sama seperti mencoba menyangkal bahwa manusia butuh oksigen, tapi aku merasa tidak nyaman untuk membicarakannya.


"Baiklah, cukup tentang Catelli," aku berkata pada Julian. "Bagaimana dengan kau dan Justin? Bagaimana ceritamu dengan dia saat ini?"


"Sungguh luar biasa," jawab Julian, matanya berbinar- binar. "Kami sudah bersama selama lebih dari tiga bulan... dan dia masih luar biasa."


"Apakah itu cinta?" Erin mengedipkan matanya, sambil menyeringai.


Julian menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia tampak ragu. "Yah... aku harus pikir panjang tentang yang satu itu."


Erin mengedipkan matanya padaku, seperti mengatakan sesuatu yang tak diketahui oleh Julian, dan hanya dirinya sendiri yang tahu tentang Justin.


"Ada apa?" tanya Julian. "Ada apa ini, kalian tampak berkonspirasi?"


"Oh, tidak," goda Erin. "Kau akan menyadari hal itu, cepat atau lambat."


Julian tertawa dan meninjuku, ia tidak pernah kelihatan sebahagia ini. Sudah jelas, terang benderang. Tapi ada sesuatu tentang Justin yang menggangguku. Hanya saja aku tidak bisa memastikan apa itu.


Kami bertiga melanjutkan acara kami, makan-makan bersama dan melanjutkan saling bertukar cerita satu sama lain. Julian dan Erin bertanya bagaimana aku dengan Paul, tetapi aku hanya tersenyum getir dan mengangkat kedua bahuku. Tanda bahwa aku masih tak tahu, bagaimana dengan hubunganku.


...****************...


tbc