
Bab 27
Lebih dari itu semua, aku amat sangat kelelahan. Tanda-tanda awal jurang perbedaan antara kebolehan Paul dan aku muncul pada sepuluh menit pertama tatkala ia melaju cepat dan aku susah payah di belakangnya berusaha menyusul, yang jelas tak bisa kulakukan. Paul terus-menerus berhenti demi menungguku. Setiap kali aku menyusulnya, aku benar-benar membutuhkan istirahat, namun karena sudah menunggu rata-rata tiga menit, ia selalu inginsegera melanjutkan lagi, artinya aku terlalu lelah untuk kembali menyusul sehingga lingkaran setan itu terus berlanjut.
“Apa kau baik-baik saja, Nak?” suara yang terdengar perhatian bertanya ketika aku berhenti untuk beristirahat.
Aku mendongak dan melihat seorang pendaki. Kelihatannya dia sudah berumur tujuh puluhan tahun.
“Oh, iya!” Aku tersengal-sengal, rasanya dadaku akan segera hangus.
“Pelan-pelan saja, ya?” imbuh pendaki itu seray atersenyum prihatin kepadaku. “Kau akan segera sampai. Cukup berat memang medan trayeknya, bahkan untuk kami yangsudah bertahun-tahun melewatinya.”
“Oh, tidak masalah. Aku bersama, emm seseorang yang ahli di dalam bidang ini.” Aku sambil tersenyum. Aku mendongak dan sama sekali tak melihat Paul.
“Baiklah. Kalau begitu semoga berhasil.”
Pria itu melanjutkan perjalanan, aku menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkan botol air dari ranselku. Air sedingin es mengalir di tenggorokkanku tapi aku tak peduli karena kehausan. Sejujurnya aku mengharapkan kopi yang ada di ranselnya Paul, tapi ia bilang tak boleh sampai nanti capai puncak.
Matahari berhenti bersinar sejak tadi dan gumpalan salju yang cantik di bawah sana sudah berubah menjadi es di tempat ini. Selain keletihan dan kedinginan, aku terpeleset berkali-kali dan nyaris membuat kakiku patah. Mungkin sudah dua belas kali sekarang. Aku mulai merasa menyesal dalam hal ini, dan berharap kakiku patah saja agar aku bisa diterbangkan turun dari gunung ini.
Aku memasukkan kembali botolku ke dalam ransel dan berusaha mengumpulkan segenap sisa-sia kekuatanku.
“Jane! Kau ikut tidak?” teriak Paul yang ternyata turun lagi ntuk mencariku.
Paul memang sehari sebelumnya sudah menelepon dan mengajak untuk mendaki bukit Crinkle Crage. Jujur, aku belum pernah mendengar gunung ini sama sekali. Tapi untuk pengalamanku juga, aku mengiyakan rencana ini.
“Emm, maafkan aku, aku cedera,” kataku, pura-pura menguat-nguatkan diri menghadapi kemalangan ini.
Paul tampak sangat bersalah akan hal ini. Ia turun dan berhenti di batu di atasku. “Oh, Tuhanku. Apa yang terjadi? Biarkan aku memeriksanya.”
“Kakiku terasa sangat sakit. Sepertinya ini terkilir. Tidak begitu serius, tapi membuatku lebih pelan daripada biasanya.”
Paul langsung memegang kakiku, “Tidak bengkak,” ujarnya. “Kita sudah hampir sampai atas, jadi malu kalau kita harus turun sekarang.”
Aku tak bisa menahan jengkel. Cederaku memang cuma pura-pura, tapi seharusnya ia lebih bersimpatik. Sambil bersungut-sungut, aku mengikutinya mendaki ke puncak gunung, yang sekarang jauh lebih licin, berbahaya, gelap dan sama sekali tak menyenangkan.
“Ini adalah titik pertama jalur heubungan bukit. Aku suka sekali melewati bagian ini. Sangat menantang. Ayolah..,” katanya menerangkan dan mengajak.
Aku memandang ke arah celah jurang, dengan tebing menurun yang curam . tempat ini sangat menantang untuk Indiana Jones, bukan aku.
“Emm, kurasa bukan ide yang bagus untuk mendaki lagi dengan cederaku ini,” kataku kepadanya.
“Aku yakin kau akan baik-baik saja. Kau sudah pernah melakukannya, kan?” Sungguh aku yakin sekali kalau dia menampilkan wajahnya yang membuatku tenang. Paul terus memanjat bebatuan seperti sudah biasa melakukannya sewaktu tidur, lalu berbalik. “Ayo, Jane.., kau pasti bisa!”
Ia mengepalkan tangan dan menghantamkannya ke udara. Seksi atau tidak, ia tetap membuatku jengkel. “Ayo, Jane.. semangat!”
Aku terseok-seok ke bagian bawah tebing batu lalu lmelihat ke bawah. Hatiku membeku karena ketakutan dan meski dingin, titik-titik keringat membasahi keningku. Aku ingin berteriak dan menangis saja rasanya.
Aku ragu-ragu melangkahkan kakiku yang kurang panjang. Gemetaran, kau mencoba meletakkan tanganku di atas sebongkah batu kecil untuk menegakkan tubuhku, tapi es di batu itu terlepas. Satu-satunya cara agar aku bisa menyebrangi celah ini adalah dengan melompat. Aku menghiruo udara dalam-dalam, memejamkan mata dan mengatakan kepada diriku sendiri agar memnemukan keberanian entah dari mana. Aku lalu melompat. Bukannya mendarat di seberang dengan mululs seperti Paul lakukan, kakiku malah terhunyung-hunyung dan aku jatuh tersungkur dengan kedua tangan terulur ke depan. Saking gemetarannya, kakiku tak mampu mencegah pipiku yang membentur permukaan batu dengan suara gesekan yang menyakitkan.
“JANE!” teriak Paul. “Oh my, kau baik-baik saja?” Paul membantuku berdiri.
“Cuma sedikit. Ayo, kita harus terus sebelum gelap.” Paul masih meneruskan keinginannya.
...****************...
Ketika kami mencapai kaki gunung, jam menunjukkan pukul empat tiga puluh lima dan aku merasa seperti salah satu penumpang Titanic yangdiselamatkan setelah empat belas jam berada di rakit dengan kaki-kaki terendam terlalu lama dalam air beku.
Kaki tanganku mungkin terbuaut dari tembaga. Dari suara keriat-keriut di dalam sepatu botku, aku yakin aku sedang mengalami kaki beku. Tubuhku remuk akibat berkali-kali terpeleset saat kami tergesa-gesa turun dari gunung karena khawatir hari segera gelap. Aku melangkah gontai menuju ke Pub Old dan langsung ke kamar kecil, hal yang ingin kulakukan selama dua seperempat jam. Kaki-kaki serasa patah saat kubuka celana panjangku, rasanya tiga lapis kulitku ikut terkelupas bersamanya.
Ketika aku keluar dari bilik toilet untuk mencuci tangan, aku melihat wajahnya di cermin dengan rambut seperti habis diguyur air selokan London di pergantian abad terdahulu. Anehnya, aku paling tidak bisa cuek dengan keadaan seperti ini. Aku langsung mengeluarkan lip balm dan mengusapkannya ke bibirku sebelum kembali ke bar.
“Segelas bir dan semangkuk sup,” ujar Paul tersenyum yang sudah mendekat ke arahnya. Paul mengajakku duduk di sampingnya. “Kau pasti takkan menolak.”
Ia menunduk menyendok supnya dan menyeruput dalam-dalam. Kebalikan dariku, Paul tampak penuh energik, pipinya yang merona dan tampak puas. Mirip pria-pria bajingan*.
Aku mengambil sendokku dan menyeruput supku. Harus kuakui supnya enak. Namun di saat-saat seperti ini aku bisa saja menghabiskan semangkuk sup itu.
“Baiklah. Ceritakan padaku, Jane,” kata Paul yang bersandar kembali ke kursinya. “Apa benar kau baru saja mendaki salah satu bukit Scaffel dengan sekelompok pendaki handal?”
“Sudah agak lama aku tak mendaki, tapi kaki ini sebenarnya masalah utamanya. Sudah bertingkah sejak awal pendakian tadi... itulah mengapa aku lambat sekali. Tadinya aku tak ingin bilang,” gumamku.
“Kasihan,” komentarnya.
Aku mendongak untuk melihat apakah Paul sedang bermaksud mengejek. Tampaknya tidak terjadi sesuatu. Ia malah tersenyum.
“Aku tak akan keberatan memeriksa kakimu nanti,” Paul mengerling.
Tiba-tiba aku ingat pada apa yang membuatku sangat menyukainya. Kerlingan matanya yang menggoda itu. Sepasang mata yang bersinar. Senyum yang amat sangat menawan dan menggoda.
“Bagaimana menurutmu?” lanjutnya nakal.
“Aku tidak menjajakan diri dan membiarkan sembarang pria memeriksa kakiku,” jawabku.
“Aku harap juga begitu. Tapi aku benar-benar ingin memeriksanya,” ujarnya.
Sup itu membuat tubuhku hangat setelah menghabiskan sup.
“Kita harusnya memesan kamar di sini untuk bermalam,” usulnya.
“Memangnya aku gadis macam apa kalau setuju bermalam dengan seseorang di kencan kedua.”
“Apakah itu artinya kau tak ingin denganku? Aku harap kau mau,” ujar Paul.
Aku sangat malas untuk menanggapi apa kata Paul. Aku pun terlonjak, dan mencari-cari kunci mobil. “Oh My, mana kunci mobilnya?” tanyaku.
...****************...
tbc