
Bab 72
Tak lama ponselku berdering, dan tertera dilayar bahwa Dave yang meneleponku. Suaranya memburu tak beraturan seperti terjadi sesuatu terhadap dirinya.
"Dave...," belum selesai aku bertanya, dia langsung berteriak di seberang sana.
"Jane...," dia memekik namaku seperti kehabisan napas. "Kau harus datang ke sini. SEKARANG!!"
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Ayah dan Mami. Ayah .... Mami... Rumah mereka terbakar, Jane. Cepat....!!!"
Sambungan telepon itu langsung terputus tanpa adanya kata perpisahan. Aku terlonjak kaget mendengar kabar ini. Segera aku mengemas semua barang dan bersiap meninggalkan mereka semua. Aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, Castello segera bangkit dan langsung mengikutiku tanpa banyak bertanya.
Castello meninggalkan mobilnya di luar rumah Mami, da langsung melompat keluar. Udara penuh asap tebal dan ketakutan sangat terasa tatkala para tetangga dengan wajah abu-abu berkerumun di sana. Ada petugas pemadam kebakaran di mana-mana, berlari-lari, dan berteriak-teriak. Aku berdiri di depan rumah dan berusaha bernapas dengan susah payah ketika api berkobar dari tiga jendela dan asap bergelombang membubung ke langit malam. "Di mana mereka?"
"Masih di dalam sana," Dave berteriak dengan suara serak, matanya sembap karena air mata. "Aku mencoba masuk, tetapi ruangan itu penuh dengan asap dan..." Secara spontanitas, aku bergegas menuju ke rumah itu,
Namun Castello menahan dan menarikku ke belakang. "Biarkan ahlinya yang melakukannya." Castello langsung menarikku ke dalam pelukannya. Memelukku erat-erat sementara para petugas pemadam kebakaran yang dilengkapi dengan alat bantu pernapasan masuk ke rumah.
Perintah diteriakkan dan dengan segera rumah itu disiram dengan busa dan air. Aku merasakan embusan harapan atas kenyataan bahwa sesuatu yang berani dan tegas sedang dilakukan. Namun tidak peduli berapa banyak orang mencoba memadamkan apinya, setelah beberapa saat api terus berkobar.
Aku tidak sanggup menghadapi hal ini, Cast..." Aku menangis sembari bersandar ke dadanya, sangat menginginkan pelukannya agar perasaan ini lenyap entah bagaimana caranya. "Aku tidak tahan."
Dave berdiri di samping kami, tangannya menutupi wajahnya.
"Mereka pasti ada di sana?" aku bertanya untuk keenam kalinya.
"Aku sudah mencoba menghubungi kedua ponsel mereka berulang-ulang," jawab Dave. "Tidak ada jawaban."
Sesosok bayangan muncul di ambang pintu. Saat ia mendekat, ia hampir tidak bisa dikenali di dalam asap, aku berjalan ke depan. "AYAH!" aku berteriak putus asa.
Namun, itu bukan Ayah. Itu petugas pemadam kebakaran, orang yang tadi masuk. Beberapa detik kemudian ia diikuti oleh rekannya yang muncul dari dalam rumah, hitam karena asap.
"Bagaimana?" aku bertanya, dan ia menggeleng. "Oh, Tuhan!" aku menjerit. Aku berbalik kepada Dave dan jatuh ke dalam pelukannya. Dengan sangat terpukul, aku dan kakakku menangis bersama, sesuatu yang belum pernah kami lakukan selama ini.
"Jane," Castello menyentuh bahuku. Namun aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak bisa bergerak ataupun berpikir.
"Jane," Castello sekali lagi memanggil dengan lembut, memegang lenganku, menarikku.
Aku mencoba mendongak, namun tidak bisa. "Apa?" Aku terisak.
"Lihat."
Aku mengangkat wajahku yang dibanjiri air mata dari bahu kakakku.
"Di sana." Castelli menunjuk ke pintu.
Saat kami menatap ke dalam asap, aku melihat gerakan di ambang pintu. Pada awalnya gerakan itu tidak mungkin dilihat, hanya garis di kejauhan. Bisa jadi bukan apa-apa.
Ternyata benar-benar ada gerakan, dan itu bayangan seseorang... bukan, dua orang, salah satunya menggendong yang lain. Saat sosok itu terhuyung-huyung ke depan, harapan naik di dadaku. Seorang petugas pemadam kebakaran mungkin telah menyelamatkan Mami.
Oh Tuhan, semoga benar begitu. Semoga benar begitu. "Oh, Tuhan," gumam Dave. "Apakah itu...?"
Ayah memapah Mami dalam pelukannya, tubuh Mami terkulai di tubuh Ayah dengan lemas. Kami berlari ke depan. didahului oleh paramedis. Saat Ayah jatuh berlutut. Mami masih sadar, tapi hampir pingsan.
"Rawatlah Carolyn dulu," Ayah mendesah saat paramedis mulai bekerja "Kumohon. Rawatlah istriku."
Saat Mami diangkat ke tandu, ayah berdiri condong ke depan dan menggenggam tangan Mami. Ayah membungkuk dan menekankan bibirnya ke bibir Mami. Mami pun membuka mata dan terbatuk dengan kesakitan.
"Terima kasih," katanya.
"Untuk apa?" bisik Ayah.
"Menyelamatkan nyawaku." jawab Manu dengan suara serak.
Ayah tersenyum sambil mengusap wajahnya dengan lengan baju yang berminyak. "Aku mencintaimu, Carolyn. Aku tahu aku tidak sering mengatakannya, tapi aku mencintaimu."
Mami mengangguk dan menutup matanya kembali, terlihat damai. Jantungku tersentak. Mami... Oh Tuhan, Mam...
Satu matanya terbuka kembali, Mami menatap Ayah.. "Kau tahu apa yang harus dilakukan kalau lain kali kau ingin membuktikannya? Cobalah memberiku bunga."
...****************...
Meskipun hampir dua puluh empat jam yang lalu berhadapan
dengan maut, ibuku kelihatan segar kembali. Ibuku membuka bungkus cokelat dan memasukkannya ke mulut. "Setiap orang di Dynasty punya jacuzzi... tetapi tak ada yang rumahnya terbakar."
Julian lantas tersenyum lalu mengulurkan kepadaku kaleng Cadbury's Roses yang setengah kosong.
"Tidak, terima kasih," jawabku.
Tubuh ibuku pasti lebih terbuat dari bahan yang lebih berkualitas ketimbang aku. Sementara ia dengan nikmatnya melahap cokelat, aku merasa kepalaku digetok sekeras-kerasnya dengan besi panas.
Ini bukan hanya buntut peristiwa kebakaran, kendati kejadian itu saja cukup membuatku merasa terpukul. Pikiranku juga kalut karena teringat sahabatku, yang kini sedang dalam perjalanan ke Bandara Manchester, penuh harapan dan mimpi tentang hal-hal yang akan terjadi pada dua belas bulan ke depan.
Aku berharap Castelli tidak terlalu jengkel karena aku buru-buru pergi, tetapi aku memiliki alasan yang baik, meskipun waktu berkunjung baru akan dimulai jam setengah dua belas. Dengan segala trik dan upaya Julian yang berhasil menyuap para perawat dengan setengah kaleng cokelat milik Mami supaya kami diizinkan masuk lebih awal.
Pagi ini aku sudah melihat tasnya Castello sudah di dekat pintu, sudah dikemas, dan siap untuk keberangkatannya satu jam lagi. Aku seharusnya pergi bersamanya ke bandara untuk mengantarnya pergi, namun ketika aku bangun pagi ini, aku tahu bahwa aku tidak sanggup melakukannya. Aku tidak akan tahan menyaksikannya dan Erin berangkat bersama tanpa menangis dan merusak semuanya.
Kuambil buku catatan dan pena dari tasku, aku mulai menulis secepat mungkin. Aku tidak punya banyak waktu sampai Castello kembali.
Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu ke bandara, tetapi jika aku tidak menjenguk pada jam setengah sepuluh, aku tidak bisa bertemu dengan Mami, dan dia lebih membatahkan aku setelah apa yang terjadi. Aku tahu kau akan mengerti. Semoga perjalananmu luar biasa, tapi jangan lupakan aku, oke? Aku akan sangat merindukanmu. Aku tidak bercanda tentang menginginkan kartu pos dari setiap perjalanmu di berbagai negara lain.
Selamat jalan, Sahabatku, Castello.
Salam, Jane. xx
Aku pun bergegas meletakkannya di atas tasnya yang tersampir di dekat pintu, dan buru-buru pergi dari rumah.
...****************...
Tbc