CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 64



Bab 64


Jam makan siang berakhir, meskipun buah zaitunnya segar dan hidangan utamanya benar-benar lezat, aku senang tak lama lagi bisa segera kembali ke meja kerjaku. Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatianku dari perasaanku terhadap sahaatku dan duduk bersama seorang wanita yang baru mengisi hidupnya bukanlah cara yang tepat.


Kami pun melakukan pembayaran dan sedang dalam perjalanan ke pintu. Saat itulah aku melihatnya. Aku terkesiap seperti hyena yang menderita asma.


"Ada apa?" tanya Erin, buru-buru menempel ke punggungku. Erin terpaku dan aku tahu ia melihatnya juga.


"Apa yang kalian lakukan? Brngsek*." Aku melirik Julian. Bahkan jika aku ingin mengalihkannya agar tidak menyaksikan Justin mencumbu telinga wanita berambut pirang itu, aku tidak tega melakukannya.


Aku tidak tahu Julian akan menangis atau tidak. Namun ia menyeringai memperlihatkan giginya, menyodorkan tas tangannya ke lenganku dan berjalan ke arah mereka. Justin berhenti menciumi teman wanitanya. Saat pria itu mendongak dan melihat wanitanya, ia seperti berhadapan dengan Godzilla.


"Sial... Julian. Begini... aku bisa jelaskan," ujar Justin mengangkat kedua tangannya untuk menghentikan aksi Julian.


"Kau bisa jelaskan?"


Justin menarik tangannya dari teman wanitanya. "Mmm... mmm..."


"Kurasa kata kau cari adalah tidak," tukas Julian, yang sudah jelas dia tidak ingin mendengar penjelasan apa pun. Sebaliknya, Julian berbalik ke arah seorang pelayan dan menepuk bahunya.


"Maaf, apakah itu tiramisu?" Pelayan itu melihat nampannya.


"Emm, iya."


"Untuk siapa itu?"


"Wanita yang duduk di sudut," ujar pelayan itu.


"Madam?" Julian berteriak.


Justin, si rambut pirang, dan kami semua bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya.


"Madam, saya sangat menyesal tentang hal ini," lanjut Julian dengan sopan. "Saya perlu meminjam tiramisu Anda."


Julian menggapai nampan itu, memasukkan tangannya ke mangkuk dan menyendok sedikit isinya. Kue tiramisu yang berlumuran mascarpone dan brendi menetes ke bawah lengannya. Sekarang kami tahu apa yang akan ia lakukan. Namun, ada nuansa seni dalam cara Julian mengoleskannya ke wajah Justin, dengan keterampilan seorang pematung yang ahli. Setelah selesai, Julian berdiri kembali dan memeriksa hasil kerjanya. Justin sepenuhnya terdiam.


Pria itu kini menjadi Manusia Tiramisu. Julian menjilati jarinya. "Itu bisa menjadi hidangan penutup yang paling memuaskan yang pernah kumakan."


Aku tahu walaupun Julian bertindak seperti itu, ia sebenarnya sedih mengetahui hal itu. Saat aku menemaninya kembali ke kantor, Julian terus-menerus mengancam akan membunuh orang. Yah, terutama Justin, namun beberapa pejalan kaki yang tidak memberikan jalan dengan cukup cepat juga menjadi sasaran.


"Pengecut!" desisnya lirih, berjalan di depanku saat aku berjuang untuk mengikutinya. "Bedeebah. Kurang ajar. B*rengsek."


"Justin memang seperti itu," aku menyetujui dengan serengah-engah.


"Kau lihat pelacur yang bersamanya tadi?" Julian berbalik dan membuatku terkejut. Aku berhenti tepat pada waktunya untuk menghindari bertabrakan dengannya.


"Aku melihatnya." Sebenarnya, wanita yang bersama Justin tidak terlihat seperti pelacur. Wanita itu tampak begitu terhormat dan sama terkejutnya seperti Julian.


"Pengecut!" Julian berkata berulang-ulang, terus begitu sepanjang jalan. "Bedeebah, bangs..."


"Julian, tenang dulu," cetusku. Julian berhenti dan berbalik. Bibirnya gemetar, matanya berkaca-kaca.


"Kemarilah," ujarku dengan lembut, meletakkan tanganku di sekelilingnya dan menariknya ke dalam pelukanku.


"Jane, apa yang harus kulakukan?" Julian terisak.


Aku memasukkan tanganku ke tasku untuk mencari tisu. Sayangnya, isi tasku seperti barang jualan campur aduk di Tardis. Aku dapat merasakan kotak bedak, satu set kunci, sebuah botol miniatur sampo Molten Brown. sekotak Elastoplast, enam perata kuku, empat tali rambut, dua belas sebuah tabung krim untuk kaki atlet, daftar pena, dan sebuah jam alarm perjalanan. Namun, tidak ada tisu. Aku mengelus lengan Julian sebagai gantinya.


"Aku jatuh cinta padanya," bisik Julian sambil menangis. "Aku cinta padanya. Oh, aku masih cinta padanya. Apa yang harus kulakukan?"


Aku membalikkannya dan menggandeng lengannya saat kami berjalan terus sampai Castle Street. "Apa yang perlu kau lakukan adalah menangis," kataku.


"Kau akan menyebutnya pengecut, beedebah, bereengsek. Kau akan membencinya dan mencintainya dalam porsi yang sama. Kau akan menangis lagi. Pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa ada pria lain yang lebih layak mendapatkan cintamu."


"Oh, Tuhan. Apakah itu seharusnya membuatku merasa lebih baik?"


"Apa yang kau harapkan?"


"Kau tidak boodoh," kataku dengan lembut. "Kau jatuh cinta. Tidak ada yang bodooh tentang itu."


"Aku jatuh cinta pada seorang pengecut... yang hobi selingkuh." Kosakata Julian dalam masalah ini tidak biasanya minimalis.


"Kau jelas tidak tahu itu sebelumnya, Julian."


Julian kemudian meluruskan punggungnya dan menghapus air matanya. "Yah, kau benar." Itu kemajuan, namun Julian masih tampak seolah-olah ia baru saja melakukan permak wajah saat mati listrik. "Aku tidak akan pernah lagi jatuh cinta."


"Kau tidak mungkin serius."


"Oh ya, aku serius," katanya menantang. "Sembarang bercinta jauh lebih mudah."


Tapi sangat tidak memuaskan secara emosional. Hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahunya.


Kami berbelok ke Victoria Street, tidak peduli bahwa kami sudah empat puluh lima menit terlambat setelah makan siang.


...****************...


Aku tahu Julian sedang galau karena ia terlihat mengerikan. Biasanya Julian tampak begitu jauh dari mengerikan. Ketika ia datang ke flatku untuk mengantarkan dokumen pekerjaan, matanya merah, kulitnya kusam dan bagian bookong celana olahraganya begitu kendur sehingga seolah-olah ia bisa mencuri makanan dari toko dan menyimpan cariannya itu di dalamnya.


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun," katanya sambil mengulurkan map. "Aku tahu aku tampak seperti sampah."


"Tidak, kau tidak seperti itu." Aku mencoba terdengar meyakinkan. "Memang sedikit lebih... kasar daripada biasanya, tapi sama sekali tidak mungkin kau tampak seperti..."


"Jane, aku tampak seperti sampah." Julian menyela. "Jangan khawatir. Aku bisa menerimanya." Ia berjalan keruang tamu dan menjatuhkan diri ke sofa.


"Kuambilkan teh, ya?" aku menawari. Julian menjawabku dengan tatapannya.


"Baiklah, wine saja."


Aku berbalik dan berjalan ke dapur. Ketika aku kembali, ia menatap dengan sedih ke luar jendela dan aku merasakan tikaman belas kasihan.


Julian biasanya begitu optimis. Pengalaman dengan Justin jelas-jelas telah memukulnya dengan begitu telak.


"Bagaimana perasaanmu?" tanyaku, menyerahkan segelas wine kepadanya.


"Baik," sahutnya, mencoba terlihat cerah.


Aku menatapnya dengan ragu.


Ia mengangkat bahu. "Aku merasa bahwa aku tampak...seperti sampah."


"Oh, ayolah Julian." Aku berjalan ke arahnya dan memeluknya.


"Mengapa orang mau jatuh cinta jika mereka akan berakhir seperti ini?" tanyanya datar.


"Tidak selalu berakhir seperti ini," kataku dengan lembut.


"Oh, ya? Aku akan memegang kata-katamu, tapi aku tidak akan mencoba untuk mencaritahu lagi. Aku jera berhubungan dengan laki-laki."


Ini seperti melihat Gordon Ramsay mengatakan bahwa ia akan berhenti mengumpat.


"Apa?" kata Julian dengan polosnya menatap wajahku.


"Tidak ada apa-apa. Begini, aku tahu mudah bagiku untuk mengatakannya, tapi semua ini akan jadi mengerikan jika kau menilai setiap orang seperti Justin dan membiarkan satu pengalaman buruk menentukan semua hubungan di masa depanmu. Mengapa menyulitkan dirimu sendiri hanya gara-gara seorang pria?"


Julian tersenyum sedih. "Kau tahu, Jane, salah satu hal yang selalu kukagumi dari dirimu adalah optimismemu yang tak terbatas."


"Hah," erangku.


"Aku serius. Semua pengalaman mengerikan yang kau alami dengan para lelaki... semua itu tidak pernah menghentikanmu, kan?"


...****************...


Tbc