CASTELLO VS JANE

CASTELLO VS JANE
Bab 58



Bab 58


Mulut kami saling menyelami, lidahh kami saling menjelajahi sementara aku merasa lemah karena gairaah. Pada awalnya ciuman itu lembut dan tidak tergesa-gesa, kemudian menjadi bergairaah dan tak terkendali. Berciuuman dengan Castello adalah sesuatu yang tidak seperti apa yang pernah kualami. Pikiranku berputar dengan kenikmatan, menemukan bagian yang baru dan agung dari pria ini yang begitu akrab dengan diriku namun ternyata aku belum mengenalnya dengan sepenuh hati.


Kami berciuuman, terus, dan terus berciuuman. Aku terengah-engah, mendongak dan merasakan mulutnya sudah berpindah tempat tepat di leherku. Ia membelaiku dengan sapuan yang lembut, terus turun ke tulang selangkaku. Jari- jarinya meluncur ke bawah di bahuku terbuka. Aku yang terkesiap saat ia mendorong vest top-ku dengan lembut ke bawah, membuatku kembali merasakan gaiirah yang selama ini hilang.


Lalu Castello membungkuk dan aku pun melihat bibirnya yang sementara aku mengeerang dengan penuh kenikmatan. Aku melengkungkan punggungku, tubuhku meledak. penuh dengan semua sesak dan kerinduan. Akhirnya Castello mengangkat kepalanya untuk menciuum bibirku kembali. Aku meluncur dengan cepat dengan menuju dunia mimpi yang memuncak, dunia kabut penuh dengan n****. Kemudian aku membuka mataku dan melihat bahwa Castello telah bergerak menjauh.


"Ada apa?" bisikku.


"Haruskah kita melakukan ini, Jane?" ia terengah. "Haruskah kita benar-benar melakukan ini?"


Mataku terbuka lebar, mengamati wajahnya. Jawabannya adalah tidak, kami tidak seharusnya melakukan ini. Tentu saja kami benar-benar tidak boleh melakukan ini. Bertahun-tahun kami melewatkan waktu bersama dan kami sedang mempertaruhkan semua itu.


"Aku tidak tahu," aku mengaku, logikaku berperang dengan nafsuuku saat ini.


Namun, hanya itulah yang diperlukan. Castello pergi menjauh, mengangkat tali braaku kembali ke tempatnya. Ia menelan ludah dengan kurang percaya diri.


"Aku menginginkanmu, Jane." Matanya tidak dapat menatap mataku. "Aku benar-benar menginginkanmu. Tapi ini akan membuat persahabatan kita tidak mungkin lagi diteruskan."


"Cast, itu tidak akan…..” Belum selesai Jane berbicara tapi Castello sudah menyelanya.


"Tentu saja itu akan terjadi." Castello memaksakan dirinya untuk menatap mataku. "Kau tahu itu akan terjadi."


Sekarang aku yang menelan salivaku sendiri. Lalu aku mengangguk, dengan penuh semangat, menyilangkan lengan di depan dadaku dengan malu.


"Keputusan yang bagus," kataku. Aku terbatuk, meluruskan vest top-ku lagi dan berdiri, bingung. "Sebaiknya aku tidur."


Castello mengangguk. "Aku juga."


Aku berbalik dan hendak pergi ketika aku mendengar suaranya.


"Jane," katanya mendesak.


Aku berbalik dan menatap Castello, namun ia jelas tidak tahu harus berkata apa. Sekarang, aku hampir menangis dan aku ingin keluar dari sini.


"Selamat tidur," gumamku, lalu melarikan diri ke dalam kamarku dan menutupnya.


...****************...


Aku pernah mengalami pagi hari yang buruk, namun tak satu pun yang mendekati hari ini. Ini mengerikan. Aku berbaring di tempat tidur selama waktu yang terasa seperti berjam-jam, mendengarkan langkah Castello di dalam apartemenku itu dan berharap agar ia pergi sebelum aku harus bangun. Sayangnya, ia tidak segera pergi. Ketika aku berguling dengan gelisah, menggigit kuku, bergerak-gerak gugup, aku mulai berharap bahwa empat tahun lalu, ketika kami pindah ke rumah ini, aku memilih kamar tidur dengan tangga darurat.


Akhirnya, aku bangun, berpakaian dan ketika aku mendengar Castello menekan tombol pada cerek listrik dan menyimpulkan bahwa ia berada di dapur, aku menyelinap ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.


Bahkan bagian itu dari ritual pagiku masih jauh dari positif. Saat aku menggapai wastafel, sekilas aku bertanya-tanya mengapa cairan pembersih antibakteri yang biasa kugunakan kemarin untuk membersihkan toilet duduk, berada di tempat yang seharusnya ditempati cairan pembersih wajahku.


Aku sadari penyebabnya ketika aku melirik ke cermin dan melihat wajahku yang tampak seolah-olah aku baru saja menjalani pencangkokan kulit. Oh, Tuhan.


Hanya aku, Jane (lupa namanya), yang mendorong agar teman terbaikku menggesek-gesekkan wajahnya ke dadaku, dan menghapus riasan wajahku dengan cairan pembersih rumah tangga di malam yang sama. Bagaimana caraku untuk memperbaikinya?


Aku membasuh wajahku, mengernyit saat air membuat kulitku terasa sakit. Air mata terbentuk di mataku dan aku memaksakan diri untuk berpaling dari cermin.


Aku berharap ia tidak ingin pindah apartemen karenanya. Aku berharap ia tidak menganggapku perempuan murahan atau hal negatif lainnya. Aku sangat berharap ia tidak berpikir bahwa onderdilku tidak terlalu kecil.


"Jane? Apa kau baik-baik saja di sana?" Suara itu menggema di seluruh penjuru.


Aku menjatuhkan sikat gigi elektrikku dan benda itu bergemerencing di lantai, menyemprotkan pasta gigi ke atas alas toilet dan salah satu kaki celana jinsku.


"Mm... ya!" teriakku dengan segera.


Aku meluruskan punggungku, dan sebelum aku punya kesempatan untuk berpikir aku berjalan ke pintu kamar mandi dan membukanya.


"Pagi!"


Aku berjalan melewati Castello ke dapur dan menaruh ketel di atas kompor


Ia mengikutiku. "Selamat pagi," jawabnya, terdengar benar-benar tenang.


Aku tidak memandangnya cukup lama untuk melihat ekspresi wajahnya, meskipun aku sangat ingin melakukannya. Aku bahkan tidak mengerlingnya sama sekali. Aku sengaja menyibukkan diri dengan mencari-cari sesuatu di dalam lemari dapur. Apa saja.


"Apa yang kau cari?" tanya Castello akhirnya. "Ada banyak teh di situ," lanjutnya sambil memperhatikanku dari kejauhan.


"Hmm?" Aku tidak ingin mengeluarkan kepalaku dari lemari. "Aku ingin minum secangkir Earl Grey (teh hitam)."


"Kukira kau benci Earl Grey."


"Dulu memang begitu. Sekarang aku suka."


"Oh," katanya.


Akhirnya aku menemukan sebuah kotak tua berisi kantong-kantong teh Earl Grey dan mulai menata ulang lemari barang pecah-belah itu.


"Apa kau juga mau?" tanyaku dengan nada riang.


"Kau sajalah," kata Castello. "Meskipun aku lebih suka kita berbincang sambil minum teh."


"Baiklah," ujarku. Oh, Tuhan. Cast duduk di meja makan dan menungguku melakukan hal yang sama. Sebaliknya, aku membungkuk di lemari di bawah tempat cuci piring dan mulai mengaduk-aduk isinya, tidak tahu persis mengapa.


"Jane..."


Aku ambil sebotol Cif, pembersih peralatan dapur dan seisinya dan menjentikkan bagian atasnya dengan sengaja, menuangkan sedikit pada selembar kain dan mulai menggosok keran dapur. "Hmm?" kataku, tak mau berhenti meskipun otot dilenganku terasa seolah-olah akan terbakar.


"Jane, kenapa kau tidak duduk di sini?"


"Sebentar." ujarku.


...****************...


Tbc